Anda di halaman 1dari 27

Sesie IV

Pembagian Anastesi
Anastesi Lokal : Penggunaan obat analgetik lokal untuk menghambat hantaran saraf sensorik, sehingga impuls nyeri dari suatu bagian tubuh diblokir untuk sementara (reversible), fungsi motorik dapat terpengaruh sebagian atau seluruhnya dan dalam keadaan penderita tetap sadar.. 2. Anastesi Umum : Obat yang mampu menghambat konduksi saraf atau tindakan meniadakan nyeri secara sentral dan reversible.
1.

Anastesi Lokal
Anastesi Lokal yang Ideal adalah 1. Tidak mengiritasi/merusak jaringan dimana obat ini diberikan. 2. Tidak merusak jaringan secara permanen. 3. Batas keamanan lebar. 4. Mula kerja harus sependek mungkin. 5. Durasi kerja harus cukup lama. 6. Larut air, stabil dalam larutan. 7. Dapat disterilkan tanpa mengalami perubahan.

Klasifikasi Anastesi Lokal


Berdasarkan Struktur Kimia : 2. Berdasarkan penggunaan klinik.
1.

Berdasarkan Struktur Kimia


A. Memiliki 3 gugus yaitu 1. Aromatik menunjukan sifat lipofil molekul obat, 2. Intermediet (penghubung), 3. Gugus Amin memberi sifat hidrofil pada obat

Berdasarkan Struktur Kimia


B. Anestetika lokal digolongkan menjadi : 1. Senyawa ester (prokain, tetrakain, benzokain, kokain, klorprokain). Mula kerja lambat, Lama kerja pendek, Sedikit menembus jaringan. 2. Senyawa amida (lidokain, etidokain, dibukain, mepivakain, prilokain, ropivakain). Mula kerja cepat, Lama kerja lama, Lebih banyak menembus jaringan Potensi Obat : Short, Medium, Long Acting

Berdasarkan penggunaan klinik


1.

2.

3. 4. 5.

An infiltrasi & blok : Prokain, klorprokain, lidokain, mopivakain, bupivakain, prilokain, tetrakain. Pada kedokteran gigi : butetamin, isobukain, pirokain,meprilkain, dll. An permukaan : benzokain, butakain, benoksinat, butilaminobenzoat, kokain, dibukain, piperokain, dll. An spinal : tetrakain, prokain, dibukain, lidokain, dll. An epidural dan kaudal : lidokain, prilokain, mepivakain, dll An intravena : Lidokain, prokain

Metode Pemberian
a.

Blok saraf sentral : 1. An Spinal : disuntikan kedalam ruang subaracnoid shg mencapai akar saraf spinal. Tempat penyuntikan harus dipilih yg dapat menghambat penyebaran saraf pada area operasi. 2. An Epidural Merupakan anastesi blok yg luas, peyuntikan kedalam ruang epidural, anastesi bagian saraf diperluas, obat tidak akan masuk kedalam ruang subaracnoid shg terhindar dr reaksi sakit kepala dan gejala neurologik lainnya

Metode Pemberian
b. Blok saraf tepi :
1.

2.

3.
4.

An Permukaan/topical : bentuk sediaan larutan, salep krim/serbuk. Diberikan langsung pd tempat yg di anastesi contoh : permukaan mukosa, kulit yg luka, ulkus atau luka bakar, untuk menghilangkan rasa sakit. Sedang proses penyembuhan luka tidak terganggu. An Infiltrasi : dipakai u/ An ujung saraf akibat adanya kontak langsung dgn obat (suntikan intradermal/SC). Penyuntikan SC disekeliling daerah yg akan di operasi shg terjadi blokade saraf sensorik secara efektif. An Blok : disuntik secara tertutup pd saraf utama yg mempersarafi area yg akan dianastesi An IV : biasanya dipakai untuk keperluan anastesi umum

Mekanisme Kerja
Blokade Kanal Na+ Pean Permeabelitas membran istirahat & Pot Aksi hambatan dan pembentukan impuls saraf

Farmakodinamika
AL menghambat konduksi/timbulnya impuls saraf

dan tempat kerja utamanya di mambran sel. Potensial aksi saraf tjd krn adanya peningkatan permeabelitas membran bagi ion Na+ akibat adanya depolarisasi ringan pd membran. Proses ini dipengaruhi AL. Jd bertambahnya efek AL, ambang rangsang membran meningkat, ekstabilitas berkurang dan kelancaran konduksi terhambat.

Anlok kerja sistemik


Efek kardiovaskuler : lidokain dipakai sbg antiaritmia dan telah diketahui efeknya pada jantung.
Efek SSP : secara umum AL tidak mempunyai efek pada SSP, peningkatan dosis dapat menyebabkan efek eksitasi berupa konvulsi dan bahkan depresi pernapasan.

Vasokonstriktor

Farmakokinetika
Kecepatan onset anestetika lokal ditentukan oleh : a. Kadar obat dan potensinya. b. Jumlah pengikatan obat oleh protein dan pengikatan obat ke jaringan lokal. c. Kecepatan metabolisme. d. Perfusi jaringan tempat penyuntikan obat.

Farmakokinetika
Pemberian vasokonstriktor (epinefrin) + anestetika

lokal dapat menurunkan aliran darah lokal dan mengurangi absorpsi sistemik. Vasokonstriktor tidak boleh digunakan pada daerah dengan sirkulasi kolateral yang sedikit dan pada jari tangan atau kaki. Golongan ester (prokain, tetrakain) dihidrolisis cepat menjadi produk yang tidak aktif oleh kolinesterase plasma dan esterase hati. Bupivakain terikat secara ekstensif pada protein plasma.

Efek Samping
Efek sistem saraf pusat : depresi, stimulasi, atau

keduanya, tergantung jalur saraf yang dipengaruhi anestetika lokal. Overdosis anestetika lokal dapat menyebabkan :
Penurunan transmisi impuls pada neuromuscular junction dan sinaps ganglion b. Mengakibatkan kelemahan dan paralisis otot.
a.

Anastesi Umum
Hilangnya rasa sakit secara sentral disertai hilangnya

kesadaran (reversibel) Anastesi umum ideal


Sedasi 2. Analgesik 3. Relasksasi
1.

Pemberian anastesi 1. Absorbsi rektum 2. Parenteral (IV & IM) 3. Inhalasi

Mekanisme kerja
Berdasarkan perkiraan bahwa anastesi umum dapat

membentuk hidrat-hidrat dengan air yg stabil dibawah pengaruh protein-protein SSP. Hidrat gas ini mungkin dapat merintangi transmisi rangsangan di sinaps dan dengan demikian mengakibatkan anastesia.

Anastesi Umum
Anastesi umum dapat menekan SSP secara bertingkat

dan berturut2 meliputi :


a.

menghentikan

aktifitas

bagiannya

Analgesia : kesadaran berkurang, rasa nyeri hilang, diakhiri dgn hilangnya reflek bulu mata. b. Eksitasi / taraf induksi : Kesadaran hilang & timbul kegelisahan, hilang reflek menelan dan kelopak mata. c. Anastesia : Pernapasan dangkal, cepat, teratur seperti keadaan tidur, gerakan & reflex mata hilang, otot mjd lemas. d. Sumsum tulang lumpuh (paralisis) : mulai kegagalan pernapasan kemudian segera diikuti kegagalan sirkulasi

Premedikasi dan Posmedikasi


Tujuan Premedikasi :

a. Meniadakan kegelisahan : sering digunakan morfin / petidin juga sedatif spt klorpromazin, diazepam/tiopental. b. Menghentikan sekresi ludah dan dahak yg dapat mengakibatkan kejang2 berbahaya ditenggorokan,obat yg digunakan atropin & skopolamin (bersama morfin). c. Memperkuat efek anastetik, shg anastetikum bekerja lebih dalam dan/dosisnya dapat diturunkan. d. Memperkuat relaksasi otot : diberikan tubokurarin dan galamin Tujuan Posmedikasi : untuk menghilangkan efek samping seperti gelisah dan mual. Biasanya digunakan klorpromazin atau ondansetron

Cara Penggunaan
1.

Anastetika inhalasi (N2O, halotan, enfluran, isofluran & sevofluran) : Diberikan sebagai uap melalui saluran pernapasan.
Keuntungan resopsi cepat melalui paru2, eksresi melalui gelembung paru(alveoli), pemberian mudah dipantau dan setiap waktu dapat dihentikan.

2.

Anastesi intravena (tiopental, diazepam, propofol, midazolam, ketamin) : dapat diberi dalam bentuk suppositoria tapi resopsinya kurang teratur. Obat ini digunakan untuk mendahului (induksi) anastesi total / memeliharanya, jg sebagai anastesi pd pembedahan singkat

Teknik pemberian obat inhalasi


Sistem terbuka : Cairan terbang (eter, kloroform),

diteteskan ke atas sehelai kain kasa dibawah suatu kap dari kawat yg menutupi mulut dan hidung pasien. Cara ini kurang ekonomis, gas yg di ekshalasi dapat mengganggu lingkungan antara lain dapat menyebabkan abortus pada perawat yg hamil, yg bekerja di ruang operasi.

Lanjutan..
Sistem tertutup : Suatu mesin khusus menyalurkan

campuran gas dgn O2 kedalam kap, dmn sejumlah CO2 dari ekshalasi dimasukan kembali. Fungsinya untuk mengisi kembali kebutuhan O2 basal, sedangkan fungsi CO2 a/ memperdalam pernapasan dan mencegah timbulnya apnoea (napas henti). Insuflasi : Gas/uap ditiupkan kedalam mulut, tenggorokan / trakeadgn perantara suatu mesin. Cara ini berguna pd pembedahan yg tidak menggunakan kap, misal pd pembedahan pengeluaran amandel.

Obat-obat AU
Eter : Khasiat analgetik dan anastesi kuat dgn relaksasi otot baik. ES : meningkatkan sekresi ludah dan bronchi sedangkan pengeluaran urin mengurang 2. Trikloretilen : Khasiat anastesi lemah dan lebih ringan dari kloroform, tapi kerjanya lebih lambat dan sifat analgesiknya lebih kuat dan toksisitasnya lebih ringan. Sekaran obat ini tidak digunakan lagi kecuali untuk pembedahan singkat di kedokteran gigi dan kebidanan.
1.

Lanjutan..
3
4

5.

Nitrogenoksida(N2O) : sifat analgesik kuat, anastesi lemah tidak memiliki sifat relaksasi otot. Hanya digunakan untuk anastesi singkat dalam kedokteran gigi dan kebidanan. ES : hipoksia, anemia megaloblaster. Halotan : Khasiat anastesinya sangat kuat, analgetiknya rendah dan daya relaksasi otot ringan. Sebaiknya Halotan digunankan dalam dosis rendah dan dikombinasi dgn suatu relaksan otot (galamin/suksametonium). ES : menekan pernapasan, aritmia, hipotensi. Enfluran : Khasiat anastetik inhalasi kuat yg digunakan pd berbagai pembedahan, jg sebagai analgetik pd persalinan, memiliki daya relaksasi otot dan analgetik yg baik, dibanding dgn halotan zat ini tidak begitu mendepresi SSP. ES : hipotensi, depresi pernapasan, aritmia, merangsang SSP, hipotermi(menggigil), mual, muntah.

Obat-obat AU
6. Propofol : digunakan untuk induksi dan pemeliharaan anastetik umum, setelah injeksi IV obat ini disalurkan dgn cepat ke otak, jantung, hati, ginjal kemudian disusul redistribusi ke otot, kulit, tulang dan lemak. ES : sesak napas, depresi sistem kardiovaskuler, eksitasi ringan. Setelah siuman timbul mual,muntah, nyeri kepala. 7. Ketamin : Digunakan pd pembedahan singkat dan untuk induksi anastesi. ES : Hipertensi, kejang2 sekresi lur berlebih, mendepresi jantung dan paru2. 8. Tiopental : Digunakan sebagai anastesi injeksi, efeknya baik dan singkat (5), mulai kerja cepat juga pemulihannya cepat. Efek analgetik dan relaksasi ototnya kurang kuat. ES : Depresi pernapasan

Lanjutan..
9. Midazolam : Khasiat hipnotis, anxiolitis, relaksasi

otot, antikonvulsi. ES : depresi pernapasan dapat fatal, nyeri pada tempat injeksi. 10. Droperidol : Khasiat antidopamin kuat, antiseretonin lemah. Obat ini digunakan sbg antipsikotik dan untuk premedikasi/induksi dari anastesi dan biasanya dikombinasi dgn analgetik opioid. ES : Eksitasi, hipotensi ringan. Pada dosis tinggi akan timbul kekakuan otot dan melewati plasenta.

Terima Kasih