Anda di halaman 1dari 23

KELOMPOK PERTUSIS IZZAH DIENILLAH SARAGIH (101000013) FEBRIA OCTASARI (101000050) FRANSISKA R SIMBOLON (101000078) Departemen Epidemiologi-FKM USU

2012 1

Latar Belakang

Di Negara yang sedang berkembang termasuk Indonesia, sebelum ditemukannya vaksin, angka kejadian dan kematian akibat menderita pertusis cukup tinggi.Ternyata 80% anak-anak dibawah umur 5 tahun pernah terserang penyakit pertusis, sedangkan untuk orang dewasa sekitar 20% dari jumlah penduduk total. Dengan kemajuan perkembangan antibiotic dan program imunisasi maka mortalitas dan morbiditas penyakit ini mulai menurun.Namun demikian penyakit ini masih merupakan salah satu masalah kesehatan terutama mengenai bayi- bayi dibawah umur.

Departemen Epidemiologi-FKM USU 2012

Pendahuluan

Pertusis atau batuk rejan (whooping cough) adalah suatu penyakit menular akut pada saluran pernapasan yang banyak menyerang anak balita (terutama umur 2-3 tahun) dengan kematian yang tertinggi pada anak usia di bawah satu tahun yang disebabkan infeksi BORDETELLA PERTUSIS. Wabah pertusis yang pertama yaitu pada abad ke-16, dan organisme pertama kali diisolasi pada tahun 1906. Pertusis masih merupakan masalah kesehatan besar di antara anak-anak di negara-negara berkembang, dengan 294.000 kematian akibat penyakit pada tahun 2002 Di Indonsia, penyakit ini menempati urutan ke tiga penyebab kematian pada anak balita. Merupakan salah satu penyakit yang paling menular yang dapat menimbulkan attack rate sebesar 80-100% pada penduduk yang rentan.
Departemen Epidemiologi-FKM USU 2012
3

ETIOLOGI

Pertusis pertama kali dapat di isolasi pada tahun 1900 oleh Bordet dan Gengou, kemudian pada tahun 1906 kuman pertusis baru dapat dikembangkan dalam media buatan. Penyebab pertusis adalah Bordetella pertusis termasuk kokobasilus; Gram negative ukuran panjang 0,5 1 um dan diameter 0,2 0,3 um, Tidak bergerak dan tidak berspora Berkapsul Bisa didapatkan dengan melakukan swab pada daerah nasofaring penderita pertusis yang kemudian ditanamEpidemiologi-FKM USU 2012 pada Departemen

CARA PENULARAN

Penularan pertusis terutama melalui kontak langsung dengan selaput lendir saluran pernapasan dari orang yang terinfeksi lewat udara (droplet), kemungkinan juga penularan terjadi melalui percikan ludah. Transmisi jarang terjadi melalui kontak dengan barang dari orang yang terinfeksi.
Departemen Epidemiologi-FKM USU 2012
5

Patogenesis

Pertusis pada dasarnya merupakan suatu penyakit yang dimediasi toksin. Bakteri melekat pada silia sel epitel pernafasan, menghasilkan racun yang melumpuhkan silia, dan menyebabkan radang saluran pernafasan, yang mengganggu dengan pembukaan sekresi paru. Antigen muncul untuk mengganggu pertahanan tuan rumah. Departemen Masa inkubasi yaitu 6-20 hari, Epidemiologi-FKM USU 2012 6

GEJALA
a.

Dalam perjalanannya, pertusis meliputi beberapa stadium, yaitu: Tahap kataral (mulai terjadi secara bertahap dalam waktu 7-10 hari setelah terinfeksi) Gejalanya menyerupai flu ringan: - Bersin-bersin - Mata berair - Nafsu makan berkurang - Lesu - Batuk (pada awalnya hanya timbul di malam hari kemudian terjadi sepanjang hari). Sangat menular pada stadium kataral awal sebelum stadium paroxysmal USU 2012 7 Departemen Epidemiologi-FKM

b.

Stadium Paroksisma / Spasmotik Batuk berat yg singkat dan rangkaian 5 20 batuk tanpa bernafas. Muka bisa menjadi merah, sianosis & edema, vena-vena leher melebar, mata menonjol & lidah terjulur Setelah rangkaian batuk tanpa bernafas itu,pasien menarik nafas keras dengan suara

whoop yang melengking tinggi merupai suara burung laut

Kemudian proses tersebut dapat terulang lagi.

Departemen Epidemiologi-FKM USU 2012

PERTUSIS PADA BAYI DAN ANAK

Departemen Epidemiologi-FKM USU 2012

c.

Stadium konvalensi
Batuk masih ada, tetapi serangan rangkaian batuk serta whoop makin berkurang (frekwensi &beratnya) Tidak ada muntah-muntah lagi. Akhirnya batukpun makin berkurang sampai tiada Stadium kambuh kembali, dimana selama waktu satu tahun sejak penyembuhan dimulai adakalanya batuk rejan ini muncul kembali.

d.

Departemen Epidemiologi-FKM USU 201210

Complication

Komplikasi yang paling umum, dan penyebab Kematian terkait pertusis merupakan pneumonia . Komplikasi neurologis seperti kejang dan encephalopathy (gangguan baur otak) dapat terjadi sebagai hasilnya hipoksia (penurunan suplai oksigen) dari batuk, atau mungkin dari toksin.
Departemen Epidemiologi-FKM USU 2012 11

Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan berikut: Pembiakan lendir hidung dan mulut Pembiakan apus tenggorokan Pemeriksaan darah lengkap (terjadi peningkatan jumlah sel darah putih yang ditandai dengan sejumlah besar limfosit) Pemeriksaan serologis untuk Bordetella pertussis
Departemen Epidemiologi-FKM USU 201212

Epidemiologi
Distribusi Berdasarkan orang

umumnya

menyerang anak-anak berumur di bawah 5 tahun. Pertusis terjadi di seluruh dunia. Pertusis tidak memiliki pola musiman yang berbeda.
Departemen Epidemiologi-FKM USU 201213

Berdasarkan tempat

Berdasarkan waktu

frekuensi
Pertussis Deaths in the United States, 2004-2006
Age at onset

<3 mos 2004 2005 24

>3 mos 3

Total 27

32
13

7
3

39
16

2006

Total 69 (84%)
CDC, unpublished data, 2007

13(16%)

82(100%)

Determinan Host : Penyakit ini dapat ditemukan pada semua umur,mulai dari bayi sampai dewasa. Lebih banyak menyerang anak balita dengan kematian yang tertinggi pada anak usia di bawah satu tahun .

Agent

: Bordetella pertusis

Environment : Lingkungan yang buruk dengan sanitasi yang rendah dapat menunjang terjadinya penyakit pertusis
Departemen Epidemiologi-FKM USU 201215

Kerentanan dan Kekebalan

Anak-anak yang tidak diimunisasi umumnya rentan terhadap infeksi. Sekali serangan biasanya menimbulkan kekebalan dalam waktu yang lama. Di Amerika Serikat kasus yang terjadi pada remaja atau orang dewasa yang sebelumnya sudah pernah diimunisasi disebabkan oleh penurunan imunitas dan berperan sebagi sumber infeksi bagi anakanak yang belum diimunisasi.
Departemen Epidemiologi-FKM USU 201216

Pencegahan

Kegiatan penyuluhan kepada masyarakat terutama kepada para orang tua tentang bahaya dari pertusis Imunisasi aktif diberikan kepada bayi dan anak-anak. WHO menyarankan sebaiknya anak pada usia satu tahun telah mendapatkan imunisasi dasar DPT sebanyak 3 dosis dengan interval sekurang-kurangnya 4 minggu dan booster diberikan pada usia 15 - 18 bulan dan 4 - 6 tahun untuk mempertahankan nilai proteksinya Departemen Epidemiologi-FKM USU 2012

17

Pengawasan penderita, kontak dan lingkungan sekitarnya

Laporan kepada instansi kesehatan setempat Untuk kasus yang diketahui dengan pasti dilakukan isolasi. Lakukan karantina terhadap kontak yang tidak pernah diimunisasi atau yang tidak diimunisasi lengkap. Lakukan pencarian kasus secara dini.

18

Program Pemberantasan

Pemberian imunisasi dasar pada umur 3 - 6 bulan dan booster pada umur satu tahun dengan cakupan imunisasi sebesar 90% . Investigasi kasus pertusis dengan segera Pelacakan kasus yang dilakukan pada kontak yaitu sekitar rumah pnderita, dan orang lain yang diduga kontak dengan penderita.

Departemen Epidemiologi-FKM USU 201219

Lanjutan...

Anak-anak yang terpapar seharusnya diobservasi selama 14 hari setelah kontak terakhir dengan penderita Pemberian obat profilaksis (Erythromycin prophylaxis) imunisasi aktif secara luas (missal) dengan Diphtheria Toxoid (DT). Imunisasi dilakukan pada waktu bayi dengan vaksin yang mengandung diphtheria toxoid, tetanus toxoid, antigen "acellular pertussis: (DtaP, yang digunakan di Amerika Serikat) atau vaksin yang mengandung "whole cell pertusis" (DTP).
20

21

Daftar pustaka

Rampengan T.H , Laurents I.R, Penyakit Infeksi Tropik Pada Anak. Edisi 1, Cetakan III.Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 1997. Hal 20 -33. http://www.smallcrab.com/kesehatan/760mengenal-penyakit-para-pertussis http://www.litbang.depkes.go.id/~djunaedi/docu mentation/vol.32_No.2/imunisasi.pdf http://www.penyakitmenular.info/userfiles/Bullet in%20SKD%20W31%202009(2).pdf http://www.pediatrics.aappublications.org/cgi/co ntent/full/115/5/1422
Departemen Epidemiologi-FKM USU 201222

23

Anda mungkin juga menyukai