Anda di halaman 1dari 43

DASAR-DASAR ANESTESIA Basic Concept on Anestesia

Lecture 11
Dasr-dasar Anestesi untuk Operasi TURP

Dasar-Dasar Anestesi pada Transurethral Resection of Prostate


Kursus Dasar-Dasar Anestesi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran RS.Hasan Sadikin-Bandung 2011

Pendahuluan
Prostat adalah organ seksual sekunder (sekretori),membungkus/melingkari uretra,dipersyarafi oleh: Saraf simpatik (T11-L12) Saraf parasimpatis (S2-S4) BPH (Benign Prostat Hypertrophy) Dihydrotestosteron (DHT),suatu metabolit testosteron adalah mediator pertumbuhan prostat Perkiraan 50% laki-laki memiliki bukti histologis BPH pada usia 50-60 tahun dan 75% pada usia 80 tahun.pada 40- 50% dari pasien tersebut,BPH menjadi bermakna secara klinis. E.M Hart;Anaesthesia for Prostatectomy www.anaesthesia.uk.com/world anaesthesia (6-11-2009)

Pendahuluan (lanjutan)
Terapi Terapi obat dapat digunakan sebagai pilihan pertama,biasanya dengan inhibitor spesifik dari 5 alpha reductase atau uro-alfa bloker selektif Terapi bedah standar meliputi; Transurethral Rasection of Prostate (TURP) Transurethral Incision of Prostate (TUIP) dan Open Prostatectomy. Tidak ada perbedaan yang terlihat dalam angka kematian antara TURP dan open prostatektomi

Transurethral Resection of Prostat


Dengan menyisipkan rectoscope

Evaluasi Pre-operatif
Riwayat Penyakit dan Pemeriksaan meliputi sistim; Kardiovaskuler :hipertensi,IHD,aritmia (obat-obatan?) PD,ECG,CXR,BG,BS,Elect,Coagulation? Paru-Paru :CHF,Respd PD,LFT,Exercise tolerance Ginjal / Metab :Obstruropathy,UTI BUN,Cr,Urinalysis Otot / sendi :Degeneratifd

Pilihan Anestesi : An umum (AU) / regional (AR)


Mortalitas dan komplikasi postop tidak ada perbedaan antara AR dg AU (MI,PE,CVA,RF,Ventilation) Mortalitas pada 30 hari pasca operasi tidak ada perbedaan antara AR dg AU Anestesi umum (AU) : bila pasca operasi diprkirakan perlu dukungan ventilasi ? Hermodinamik AU : bila ditemukan indikasi kontra Anestesi Regional (AR) AU : bila ditemukan gangguan kesadaran / kepribadian AU : bila menolak dengan AR

REGIONAL ANESTHESIA pada TURP


Dilakukan pada > 70% pasien yang menjalani TURP di USA Kelebihannya bila di bandingkan dengan anestesi umum; 1. Lebih dapat di toleransi oleh pasien tua 2. Tidak terjadi depresi nafas dibanding dengan anestesi umum. Beberapa studi menemukan bahwa posisi lithotomy berlebihan pada TURP dengan anestesi umum dapat menurunkan tekanan oksigen darah arteri sebesar 26,9%

Tanda-tanda gejala Water intoxication dan fluid overload dapat diketahui secara dini Penurunan angka kejadian DVT, dan perdarahan selama operasi, dan tetap memelihara normal fungsi trombosit dan koagulasi Sistem neuroendokrin serta respon kekebalan tubuh diprtahankan dalam keadaan tetap baik dibanding setelah anestesi umum Dilakukan selama tidak ada indikasi kontra

Spinal anesthesia pada TURP


Secara umum lebih disukai dari pada anestesi epidural Tehnik lebih mudah Tidak terjadi blok sensorik yg parsial seperti pada anestesi epidural Anestesi yg adekuat, relaksasi pelvic floor dan perineum durasi operasi yang tidak terlalu lama.

Blok sensoris level T10 diperlukan untuk menghilangkan ketidak nyamanan yg disebabkan oleh distensi kandung kemih (syaraf simpatis dari T11-L2) Blok sensoris diatas level T9 tidak dianjurkan karena capsular sign, (nyeri perforasi dari kapsul prostat) tidak akan tampak, dan agar tidak terjadi gangguan aktivitas otot pernafasan pada pasien dengan penyakit paru restriktif dalam mempertahankan ventilasi yang adekuat

Kombinasi anestesi spinal epidural lebih disukai, karena dapat menghambat peningkatan konsentrasi plasma glukosa selama operasi dan mencegah hilangnya protein pada hari pertama pasca operasi. Pada studi tentang terjadinya iskemia miokard perioperatif pasien yg menjalani TURP, dengan Holter monitoring, tidak ada perbedaan antara anestesi umum atau spinal

Anestesi caudal / blok sakral dapat dilakukan pada pasien dengan resiko tinggi, terutama utk dg teknik laser prostatectomy Penambahan short acting opiate pada obat anestesi lokal dapat memperbaiki kualitas analgesi dan menurunkan dosis obat anestesi lokal (tabel.1)

Operasi TURP membawa resiko tinggi, semua pasien hendaknya diambil darah untuk cross matching Antikoagulan harus dihentikan sebelum operasi, bila diperlukan dapat di ganti dengan heparin intravena Peningkatan mobiditas ditemukan pada pasien dengan lama reseksi melebihi 90 menit, ukuran kelenjar yang lebih besar dari 45 gram, retensi urin akut, dan usia lebih tuamdari 80 tahun.

Dosis Anestetik lokal untuk anesthesi regional Sumber; EM Hart; Univ Hospital of Leicester NHS Trust.UK
Anaesthetic Spinal anaesthesia Local anesthetic 0,5% hyperbaric (heavy) bupivacaine Dose without fentanyl 2,5 ml Dose with fentanyl 2,0 ml Dose of fentanyl 20 ucg

0,5 % isobaric bupivacaine


2% lignocaine 5% hyperbaric (heavy) lignocaine

3 ml
2 ml 1,5 ml

2,5 ml
1,5 ml 1 ml

20ucg
20 ucg 20 Ucg

Epidural Anaesthesia

0,5 % bupivacaine
2% lignocaine (can add 1:200.000

20 ml
20 ml

15 ml
15 ml

100 ucg
100 ucg

Caudal anaesthesia

0,5 % bupivacaine 2% lignocaine (can add 1:200000 adrenaline

25 ml 25 ml

20 ml 20 ml

100 ucg 100 ucg

Komplikasi TURP
SIRKULASI OVERLOAD, HIPOOSMOALITAS,HIPONATREMIA:
Rata-rata tingkat penyerapan cairan selama TURP adalah 20-200 mL/menit Hingga 70% cairan irigasi ditemukan terakumulasi di interstitial (edema paru/serebi) Untuk setiap 100mL cairan memasuki interstitial juga membawa 10-15 meq Natrium. HIPOTENSI
Akibat dari water intox CHF,MI<Anemia,hiponatremi

Beberapa mekanisme menyebabkan hiponatremia


Absorpsi cairan irigasi yang berlebihan Hilangnya natrium dari situs reseksi prostat kekantong cairan irigasi terakumulasi dalam periprostatic dan ruang retroperitoneal Jumlah yg lebih besar dari glisin merangsang pelepasan atrium natriuretik peptida, yg kemudian akan merangsang terjadinya natriuresis Gejala water intoxication bila Natrium plasma turun hingga 15-20 mEq/L dibawah nilai normal.a.l kejang,koma,posisi deseberasi

Gejala-gejala dari hiponatremia


Bila (Na+)120< mEq / L;hipotensi,mengurangi kontraktilitas otot jantung. Bila (Na+)<115 mEq / L; bradikardia,pelebaran QRS komplek,VES,inversi gelombang T. Bila (Na+)100 meq / L;kejang,koma,VT,VF,henti jantung. koreksi: Defisit = nilai normal(Na+) nilai(Na+) yang didapat x volume cairan tubuh.(Cairan tubuh =60% BB)

Keracunan glycine
Glycine adalah suatu inhibitor neurotransmitter mirip GABA pada medula spinalis dan otak Nilai normal serum glysin adalah 13-17 mg / lt Glysin yg diabsorbsi berlebihan dlm sirkulasi bersifat toxis terhadap jantung (depresi atau inversi gelombang T) dan terhadap retina (glycolate formaldehida)menyebabkan gangguan visual Terapi arginin, dapat menekan efek depresi jantung Glysin dapat menyebabkan ensefalopati dan kejang karena efek potensiasi dengan NIMDA (suatu excitatory neurotransmitter)

Keracunan amonia
Nilai normal 15-35 micromol /L, Toksis bila >500 mmd/L Metabolit dari glysin; amonia, glycolate, dan oxalat Biasanya dikonversi menjadi urea di hatimelalui siklus ornithin, bila pd pasien terdapat devisiensi arginin dapat menyebabkan akumulasi amonia Menekan pelepasan norepinefrin dan dopamin di otak (menyebabkan enselopati) Gejala;mual,muntah sampai koma Pemberian rutin arginin tidak dianjurkan (arginin endogen)

Coagulopathies
Akibat dari adanya aktifator plasminogen dalam sirkulasi berasal dari jaringan prostat,menyebabkan terjadinya fibrinolisis primer terapi dengan aminocaproic acid DIC di cetuskan oleh absorbsi sistemik jaringan prostat(trhomboplstin), menyebabkan fibrinolisis sekunder. DIC dapat di deteksi dari pemeriksaan darah ; penurunan Thrombosit, peningkatan kadar Fibrin Degradation Product( FDP>150 mg/dl), dan penurunan kadar fibrinogen plasma (400 mg/dl) Terapi ; PRC,Trombosit, Cryoprecipitates, FFP. (Heparin Kontroversial)

Tindakan pencegahan terjadinya sindroma TURP


Resection time, tidak lebih dari 60-90 menit Size of prostate tidak lebih dari 45 mg Integrity of prostatic capsule Jumlah dan besarnya sinus venosus yg terbuka Ketinggian dari cairan irigasi sebaiknya tidak lebih dari 60 cm,dengan kecepatan lk 300ml permenit selama reseksi Infus NaCI fis,sejak awal dan selama reseksi Melakukan anestesi regional tanpa atau dengan sedasi ringan

Terapi pasien sindroma TURP ;


Ahiri/selesaikan operasi sesegera mungkin Furosemid, 20 mg i.v Oksigenasi,intubasi,dan IPPV (pada edema paru) Analisa gas darah dan analisa natrium serum Hyponatremia; Naci 3%-5% kecepatan tdk>100 ml/jam Kejang ; diazepam,midazolam, atau barbiturat Bila diyakini ada perdarahan;amino-caproic acid, dan pemeriksaan penegakan diagnosa DIC Pmasangan/pemakaian monitor invasif

Prosedur Invasif minimal


Laser prostatectomy Dilakukan dengan berbagai jenis laser dan panjang gelombang (VLAP,ILC,PVP,dll) Mengurangi resiko komplikasi; pendarahan,absorbsi cairan irigasi,retrogade ejaculation,impotensi,dan inkontinen Keuntungan / kerugian sangat tergantung teknik,durasi,kejadian retensiurin / lamanya kateterisasi Sampai saat ini sangat jarang dilakukan karena tetap TURP lebih efektif

Ringkasan
TURP merupakan tehnik operasi pilihan (tergantung fasilitas lokal) Pemahaman tentang patofisiologi sindroma TURP Anestesi regional dipercaya dapat mengurangi resiko terjadinya sindroma TURP Gabungan anestesi spinal dengan anestesi epidural dengan kateter memberikan banyak keuntungan Anestesi umum dapat juga digunakan, pada pasien dengan indikasi kontra anestesi regional atau pasien dengan dukungan hemodinamik / ventilasi

DASAR-DASAR ANESTESIA Basic Concept on Anestesia


Lecture 15 Dasar-dasar Anestesi untuk Operasi Mata

ANESTESI PADA BEDAH MATA ANAK


Rafiq Boesoirie

Kursus Dasar-Dasar Anestesi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran RS.Hasan Sadikin-Bandung 2011

KEBUTUHAN ANESTESI UMUM


TINDAKAN BEDAH PROSEDUR PEMERIKSAAN
TONOMETRI FUNDUSKOPI VISUAL EVOKED POTENSIALS (VEP)

PRINSIP DASAR ANESTESI PEDIATRIK PEMAHAMAN:


FISIOLOGI MATA PATOLOGI MATA FARMAKOLOGI

KLASIFIKASI BEDAH MATA(1)


BEDAH MATA EKSTRAOKULAR
PALPEBRA KONJUNGTIVA PERMUKAAN KORNEA SISTEM LAKRIMALIS OTOT EKSTRA OKULAR BOLA MATA & ORBITA

KLASIFIKASI BEDAH MATA(2)


BEDAH MATA INTRA OKULAR
SEGMEN ANTERIOR
KORNEA IRIS & BILIK MATA DEPAN LENSA & KATARAK TRABEKULEKTOMI

SEGMEN POSTERIOR
VITREOUS RETINA

FISIOLOGI MATA
TEKANAN INTRA OKULAR (TIO)
TEKANAN ISI BOLA MATA => DINDING BOLA MATA NORMAL : 10-20 mmHg FAKTOR-FAKTOR YANG MENINGKATKAN TIO
GANGGUAN DRAINASE HUMOR AKUOS PENEKANAN EKSTERNAL BOLA MATA BENDUNGAN VENA MATA

ASPEK BEDAH MATA UNTUK PERHATIAN ANESTESI


ANESTESI DAN TEKANAN INTRA OKULAR
OBAT ANESTESI MENURUNKAN TIO,KEC. SUKSAMETONIUM DAN KETAMIN PENEKANAN MASTER PADA MATA LARINGOSKOPI & INTUBASI ANALGESIA INADEKUAT ME/TIO BATUK,MUNTAH

ASPEK BEDAH MATA UNTUK PERHATIAN ANESTESI


AKINESIA : BERKURANGNYA TONUS OTOT EKSTRAOKULAR DILATASI PUPIL
AKSES ORGAN DI BELAKANG IRIS DI PENGARUHI OBAT ANESTESI

EFEK SISTEMIK OBAT (PRA & DURANTE OP)


MANTIOL TETES MATA LEBIH MENONJOL PADA ANAK-ANAK PENCEGAHAN ABSEORPSI SISTEMIK PENEKANAN DUKTUS NASOLAKRIMALIS SELAMA 5 MENIT SETELAH PENETESAN OBAT

PERSIAPAN PRA BEDAH


PRINSIP ~ AIESTESI PEDRIATIK LAIN IDENTIFIKASI KEMUNGKINAN GANGGUAN SISTEMIK METABOLIK YANG MENYERTAI PATOLOGI MATA KOMUNIKASI ANESTESI-OPERATOR-ORANG TUA PASIEN-PASIEN PERTIMBANGKAN MANFAAT-RESIKO OPERASI PERTIMBANGKAN UNTUK MENANGGUHKAN OPERASI BILA ADA INFEKSI SALURAN NAPAS ATAS

ANESTESI BEDAH EKSTRA OKULAR


PERHATIAN TERHADAP REFLEKS OKULO KARDIAK STRABISMUS & ENUKLEASI => WASPADAI MALIGNANT HYPERTHERMIA REPAIR PTOSIS => WASPADAI PENYAKIT SISTEMIK YG SERING MENYERTAI

BEDAH INTRA OKULAR


CEGAH PE/TIO DILATASI PUPIL
SEMOOTH INDUCTION PENEKANAN MASKER THD MATA KEDALAMAN ANESTESI CUKUP EKSTUBASI CEGAH BATUK
PASCA BEDAH - CEGAH BATUK,MUAL & MUNTAH - ANALGETIK PASCA BEDAH BILA PERLU

AKINESIA

OPERASI VITREORETINA
HATI-HATI SAAT PENYUNTIKAN GAS INTRAVITERIAL(SF6,C3H8,02) SF6 + N20 PENINGKATAN TIO
OKLUSI ARTERI RETINA KEBUTAAN

STOP N20 15 MENIT SEBELUM PENYUNTIKAN GAS

KESIMPULAN
PRINSIP DASAR ANESTESI PEDIATRIK PEMAHAMAN:
FISIOLOGI MATA PATOLOGI MATA FARMAKOLOGI

KERJASAMA YG BAIK ANESTESI-OPERATOR PERTIMBANGKAN ANTARA RISIKO & MANFAAT OPERASI