Anda di halaman 1dari 20

Mekanisme yang mengontrol imun

Aman Nurjaman Eni Lestari Gina Windari Ninuk Ika Nova Elizabeth Sinambela Sariyati Gunawan Widjaja

Sistem imun dikontrol oleh 5 faktor antara lain :


1.

Regulasi oleh antigen Respon imun tergantung dari dosis, waktu pemberian dan sifat antigen. Bila antigen mempunyai imunogenitas rendah, gabungan dengan ajuvan dapat meningkatkan respon imun. Antigen yang imunogenik tidak akan menimbulkan respon imun bila tidak sampai jaringan limfoid.

2. Regulasi oleh antibodi Pembentukan antibodi berakhir dalam feedback inhibition. Timbulnya antibodi IgG berakhir dalam shut-off dan sintesis IgM. Hal ini diduga terjadi karena adanya kompetisi antigen dan reseptor untuk IgG pada permukaan sel B. demikian pula bila kadar antibodi meningkat, kadar antigen akan menurun.

3. Toleransi Toleransi imunologik yaitu sistem yang tidak atau kurang dapat mengekspresikan imunitas humoral atau selular terhadap satu atau lebih aantigen spesifik. Adanya toleransi spesifik terhadap sel antigen memungkinkan kita dapat hidup, tumbuh dan berkembang. Ada beberapa faktor eksogen yang dapat merusak toleransi. Akibatnya dapat berbahaya, tergantung dari derajat kerusakan toleransi. Penyakit autoimun adalah akibat hilangnya self tolerance.

Toleransi tidak diinginkan terhadap infeksi, tetapi sangat diperlukan pada transplantasi. Yang perlu diketahui toleransi adalah antigen spesifik dan harus dibedakan dari nonresponsif pada sistem imun yang terganggu/rusak.

Jenis dan faktor 1. Toleransi neonatal Neonatus hewan sangat rentan terhadap induksi toleransi oleh karena sistem imunnya belum berkembang. 2. Self-tolerance Diduga disebabkan oleh clonal detection dari sel sistem imun selama masa neonatal. Limfosit baru yang belum matang dengan sendirinya akan dihancurkan.

3. Toleransi sentral Ialah induksi toleransi sewaktu limfosit ada dalam perkembangan. Sel T yang self-reaktif akan dihancurkan dalam timus sedang sel B yang self-reaktif dihancurkan dalam sumsum tulang 4. Toleransi perifer Merupakan mekanisme yang diperlukan untuk mempertahankan toleransi terhadap antigen yang tidak ditemukan dalam organ limfoid primer atau terjadi bila ada reseptor dengan afinitas rendah

5. Toleransi sel B Pada umumnya sel imatur lebih rentan terhadap induksi toleransi dibanding sel yang matang dan toleransi dapat ditimbulkan dengan dosis antigen lebih kecil. Sel b mengalami apoptosis dalam sumsum tulang atau jaringan limfoid sekunder. Dalam sumsum tulang sel auto-reaktif dapat terlepas dari self deletion. Sel B dapat juga menjadi anergik terhadap antigen bila tidak mendapat cukup sinyal untuk diaktifkan denga sempurna. Sel tersebut akan menekan produksi IgM permukaan sedangkan IgD dipertahankan.

6. Toleransi sel T Menginduksi toleransi sel T lebih mudah dan toleransi yang timbul lebih lama dibanding dengan sel B. sel T imatur dihancurkan selama perkembangannya dalam timus meskipun sel dengan lowavidity dapat hidup. Sel T yang matang dapat dibuat anergik yang tergantung dari bagaimana antigen dipresentasikan. Tidak adanya sinyal kostimulator dari sel APC dapat menginduksi toleransi.

7. Superantigen Superantigen adalah antigen yang berhubungan sangat efektif dengan molekul MHC dan dapat menginduksi clonal deletion sel T. 8. Toleransi high-zone dan low-zone Toleransi lebih baik diinduksi dengan antigen dosis tinggi(high-zone) yang akan menginduksi toleransi sel B. beberapa antigen dosis subimunogenik (low-zone) dapat menimbulkan toleransi populasi sel T.

9. Enhancment Dalam enhancment termasuk induksi toleransi pada transplantasi untuk meningkatkan hidup jaringan yang dicangkokkan.

4.

Peranan sel-sel asesori dalam toleransi APC dan makrofag merupakan sel-sel pertama yang bekerja dalam respon imun. Bila antigen sampai di makrofag, imunitas akan diperoleh. Bila tidak terlewati, akan terjadi beberapa toleransi.rusaknya makrofag oleh bberbagai bahan yang terjadi sebelum antigen diberikan, dapat menimbulkan toleransi. Toleransi dapat dengan mudah ditimbulkan pada bayi baru lahir yang tidak atau sedikit memiliki makrofag.

5. regulasi sistem imun neuroendokrin Ada bukti-bukti yang menunjukkan susunan saraf berpengaruh atas fungsi sistem imun baik langsung atau tidak langsung melalui sistem endokrin.

A. Inervasi jaringan limfoid Timus, limpa dan kelenjar limfe menerima inervasi simpatetik non adrenergik; mengontrol aliran darah melalui jaringan limfoid, jadi mempengaruhi arus limfosit. Denervasi kelenjar limfoid dapat memodulasi respon imun.

B. Hipofisa/aksis adrenal Stres dapat mempengaruhi pelepaasan hormon adrenokotrtikotropik (ACTH) dari hipofisa. Hal ini akan melepaskan glukokortikoid yang bekerja imunosupresif. Juga limfosit memproduksi steroid sebagai respon terhadap corticotrophin-releasing factors; medula adrenal melepas katekolamin yang dapat mengubah gambaran migrasi leukosit dan respon limfosit.

C. Endokrin dan regulasi neuropeptida Limfosit memiliki reseptor terhadap banyak hormon seperti insulin, tiroksin, growth hormone dan somatostatin. Hormon-hormon tersebut dan enkephalin, endorfin dilepas selama stres., memodulasi fungsi sel T dan B yang kompleks yang tergantung dari kadar mediator.

Contoh pengontrolan imun terhadap serangan organisme patogen

Secara khas infeksi parasit merangsang lebih dari satu mekanisme pertahanan imunologik, yaitu kedua respon imun humoral dan selular. Namun yang menonjol ditentukan oleh jenis parasitnya sendiri. Infeksi parasit pada umumnya bersifat kronis, sebagai konsekuensinya maka dalam tubuh selalu terdapat antigen parasit yang beredar sehingga akibatnya terjadi perangsangan terus menerus. Reaksi antibody dan antigen parasit akan membentuk kompleks imun. Kadar kelas immunoglobulin juga sangat khas bagi parasit tertentu. Misalnya IgM khas pada penyakit malaria dan trypanosomiasis, sedang IgG dalam malaria dan IgE dalam infeksi cacing. Pada umumnya respon imun seluler lebih efektif untuk menghadapi protozoa yang hidup intraselule, sebaliknya antibody lebih efektif untuk parasit ekstraseluler baik dalam darah maupun dalam cairan jaringan. Hal ini disebabkan oleh karena antibody tidak dapat melintasi membrane sel inang untuk mencapai parasit yang berada dalam sel.

Mekanisme yang mengontrol system imun dipengaruhi oleh 5 faktor utama yakni: 1. Regulasi oleh antibody 2. Regulasi oleh antigen 3. Toleransi 4. Peranan sel-sel sensori dalam toleransi 5. Regulasi system imun neuroendokrin Mikroorganisme dan parasit patogen dalam tubuh direspon secara berbeda, sebagai contoh pada infeksi oleh virus yang lebih banyak berperan dalam proses imun adalah interferon, sedang pada infeksi oleh bakteri yang berperan pada imunitas adalah antibody, sel T dan makrofag.

DAFTAR PUSTAKA Baratawidjaja, Kamen garna. 2002. Imunologi dasar edisi kelima. Jakarta: Balai Penerbit Pustaka UI. Subowo.1993.Imunologi Klinik.Bandung: Penerbit Angkasa