Anda di halaman 1dari 16

Eka Prasepti Darusman

Presentasi DM Radiologi

ABSES PARU

ABSES PARU
Abses paru adalah suatu kavitas dalam jaringan paru yang berisi material purulen berisikan sel radang akibat proses nekrotik parenkim paru oleh proses infeksi. Bila diameter kavitas < 2 cm dan jumlahnya banyak (multiple small abses) dinamakan necrotising pneumonia.

ABSES PARU
Kebanyakan abses paru muncul sebagai komplikasi dari pneumonia aspirasi akibat bakteri anaerob di mulut. Penderita abses paru biasanya memiliki masalah periodontal (jaringan di sekitar gigi). Sejumlah bakteri yang berasal dari celah gusi sampai ke saluran pernafasan bawah dan menimbulkan infeksi.
Jika bakteri tersebut tidak dapat dimusnahkan oleh mekanisme pertahanan tubuh, maka akan terjadi pneumonia aspirasi dan dalam waktu 7-14 hari kemudian berkembang menjadi nekrosis (kematian jaringan), yang berakhir dengan pembentukan abses.

ETIOLOGI
Pendapat dari Prof. dr. Hood Alsagaff (2006) tentang penyebab abses paru sesuai dengan urutan frekuensi adalah:
1. Infeksi yang timbul dari saluran nafas (aspirasi) 2. Sebagai penyulit dari beberapa tipe pneumonia tertentu 3. Perluasan abses subdiafragmatika 4. Berasal dari luka traumatik paru 5. Infark paru yang terinfeksi

Bakteri penyebab abses paru


Pada 89% kasus, penyebabnya adalah bakteri anaerob. Yang paling sering adalah Peptostreptococcus, Bacteroides, Fusobacterium dan Microaerophilic streptococcus.
Organisme lainnya yang tidak terlalu sering menyebabkan abses paru adalah Staphylococcus aureus, Streptococcus pyogenes, Streptococcus pneumonia, Klebsiella pneumonia, Haemophilus influenza, spesies Actinomyces dan Nocardia, serta Basil gram negatif.

Non-bakteri penyebab abses paru


Penyebab non-bakteri juga bisa menyebabkan abses paru, diantaranya: Parasit (Paragonimus, Entamoeba) Jamur (Aspergillus, Cryptococcus, Histoplasma, Blastomyces, Coccidioides) Mycobacteria

gejala abses paru


Gejala awalnya menyerupai pneumonia yaitu kelelahan, hilang nafsu makan, berat badan menurun, berkeringat, demam, dan batuk berdahak.
Dahaknya bisa mengandung darah. Dahak seringkali berbau busuk karena bakteri dari mulut atau tenggorokan cenderung menghasilkan bau busuk. Ketika bernafas, penderita juga bisa merasakan nyeri dada, terutama jika telah terjadi peradangan pada pleura.

Patofisiologi
Merupakan proses lanjut pneumonia inhalasi bakteria pada penderita dengan faktor predisposisi. Bakteri mengadakan multiplikasi dan merusak parenkim paru dengan proses nekrosis. Bila berhubungan dengan bronkus, maka terbentuklah air fluid level bakteria masuk kedalam parenkim paru selain inhalasi bisa juga dengan penyebaran hematogen (septik emboli) atau dengan perluasan langsung dari proses abses ditempat lain misal abses hepar. Kavitas yang mengalami infeksi. Pada beberapa penderita tuberkolosis dengan kavitas, akibat inhalasi bakteri mengalami proses peradangan supurasi. Pada penderita emphisema paru atau polikisrik paru yang mengalami infeksi sekunder.

Patofisiologi
Obstruksi bronkus dapat menyebabkan pneumonia berlajut sampai proses abses paru. Hal ini sering terjadi pada obstruksi karena kanker bronkogenik. Gejala yang sama juga terlihat pada aspirasi benda asing yang belum keluar. Kadang-kadang dijumpai juga pada obstruksi karena pembesaran kelenjar limphe peribronkial. Pembentukan kavitas pada kanker paru. Pertumbuhan massa kanker bronkogenik yang cepat tidak diimbangi peningkatan suplai pembuluh darah, sehingga terjadi likuifikasi nekrosis sentral. Bila terjadi infeksi dapat terbentuk abses.

diagnosis abses paru


Pada foto thorak terdapat kavitas dengan dinding tebal dengan tanda-tanda konsolidasi disekelilingnya. Kavitas ini bisa multipel atau tunggal dengan ukuran 2 20 cm. Gambaran ini lebih sering dijumpai pada paru kanan dari pada paru kiri. Bila terdapat hubungan dengan bronkus maka tampak sebagai rongga dengan bentuk yang tidak beraturan dan di dalamnya tampak perbatasan udara dan cairan (Air fluid level). Tetapi bila tidak ada hubungan maka hanya dijumpai tandatanda konsolidasi.

Abses paru akibat aspirasi paling sering menyerang segmen posterior paru lobus atas atau segmen superior paru lobus bawah. Ketebalan dinding abses paru bervariasi, bisa tipis ataupun tebal, batasnya bisa jelas maupun samar-samar. Dindingnya mungkin licin atau kasar. Gambaran yang lebih jelas bisa terlihat pada CT scan.

Foto Thorax Posisi Lateral, tampak adanya cavitas dengan air-fluid level yang merupakan karakteristik dari abses paru. (1)

(A) Abses paru yang besar dengan air-fluid level di bagian distal pada suatu karsinoma hilus. Lobus kanan atas kolaps disertai dengan emfisema sebagai kompensasi. (B) Tampakpenebalan pada fissura obliq yang bersebelahan dengan abses (panah). (2)

Abses setelah pneumonia.Penderita ini dengan pneumonia akut pada segmen posterior lobus kanan atas, terbentuk area translusen di bagian sentral (terlihat jelas pada foto lateral). Tampak gambaran abses dengan dinding tebal yang irreguler dan air-fluid level. (3)

dapus
1. Kamangar N, Sather CC, Sharma S. Lung abscess. [online] 2012 okt 1 [cited 2011 April 7]. Available from: URL: http://emedicine.medscape.com/article/299425-overview Murfitt J, Robinson PJA, Jenkins JPR, Whitehouse RW, Wright AR. The normal chest: Methods ofinfestigations and differential diagnosis. In: Sutton D, editor. Textbook of radiology and imaging. UK: Elsevier Sience; 2003. p.20 Palmer PES, Cockshott WP, Hegedus V, Samuel E, editors. Abses paru bakterial. Dalam: Petunjukmembaca foto untuk dokter umum (Manual of radiographic interpretation for general practitioners). Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 1995. hal.56

2.

3.