Anda di halaman 1dari 23

mustafamsi_68@yahoo.co.

id

Pengertian harta: Menurut etimologi: segala sesuatu yang dimiliki

orang, dan yang belum dimiliki tidak disebut harta (burung di angkasa, ikan di laut, kayu di hutan). Hanafiah: Harta adalah segala sesuatu yang naluri manusia cenderung kepadanya dan dapat disimpan sampai batas waktu diperlukan ( ) Syafiiyah: sesuatu yang dapat dimanfaatkan, atau sesuatu yang berharga dan dapat dijual-belikan ( )

Menurut Hanabilah: sesuatu yang boleh

dimanfaatkan secara mutlak atau dalam segala situasi () Menurut Jumhur ulama selain Hanafiah: sesuatu yang bernilai material di antara manusia, dan secara syara boleh dimanfaatkan dalam kondisi normal atau pilihan, dan tidak dalam kondisi sulit atau darurat ( ) Ulama kontemporer: (1) al-Zarqa ialah setiap materi yang memiliki nilai yang beredar di kalangan manusia; (2) Syalabi ialah sesuatu yang dapat dikuasai, dapat disimpan, serta dapat diambil manfaatnya menurut kebiasaan

Dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan

bahwa unsur harta, ialah: (1) bersifat materi (berwujud), (2) dapat disimpan untuk dimiliki (qabil li al-tamlik), (3) dapat dimanfaatkan (qabil li al-intifa), (4) Uruf (kebiasaan) masyarakat memandangnya sebagai harta Apakah manfaat termasuk harta? Menurut Jumhur ulama, termasuk harta, karena benda itu tidak dikehendaki zatnya tetapi manfaatnya. Tetapi menurut Hanafiah, tidak termasuk harta, karena ia benda yang tidak tetap dalam 2 zaman, selalu berubah antara keberadaanya dan ketiadaannya. Apakah hutang termasuk harta? Menurut Jumhur, ia merupakan harta. Menurut Hanafiah, ia bukan harta secara de facto, tetapi ia harta secara de jure.

HARTA DALAM AL-QURAN & SUNNAH


:Dalam al-Quran ( 1. Harta sebagai hiasan hidup ) : 64 ( 2. Harta sebagai fitnah/ujian ) : 51 ( 3. Kecintaan thd. harta adalah fitrah manusia ) : 41

Dalam al-Sunnah Celaka para penghamba harta ( .: ) Celaka bagi penghamba dinar dan dirham dan toga atau pakaian; jika diberi ia akan merasa bangga dan bila tidak diberi ia marah.

PERINTAH MENCARI HARTA 1. ( Carilah apa yang diberikan Allah untuk kehidupan akhiratmu, tetapi jangan sekali-kali lupa bagianmu dalam hidup di dunia, maka beruatlah kebajikan sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.)

2. 15 :( Dia-lah yang telah menjadikan bumi itu mudah bagimu, maka berjalanlah di segala penjuru dan makanlah sebagian rezeki-Nya, dan kepadaNya kalian kembali.) FUNGSI HARTA DALAM ISLAM 1. Untuk kesempurnaan ibadah mahdhah 2. Memelihara dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah sebab kefakiran mendekatkan pada kufur 3. Meneruskan estafeta kehidupan agar tidak meninggalkan generasi lemah

4.
5. 6.

Menyelaraskan kehidupan dunia dan akhirat Bekal mencari dan mengembangkan ilmu Harmonisasi kehidupan sosial kemasyarakatan, yang kaya membantu si miskin dan sebaliknya

PEMBAGIAN HARTA
1. Mal Mutaqawwim (MM) (harta berharga dan halal dimanfaatkan), semua benda kecuali yang dinash keharamannya; dan Mal Ghairu Mutaqawwim (MGM) (harta tidak berharga dan tidak halal dimanfaatkan), seperti: bangkai, babi, kotoran manusia, minuman keras, dsb.

Konsekuensi hukumnya: (1) umat Islam haram

menjadikan mal ghairu mutaqawwim sebagai obyek transaksi. Namun, boleh bila ada indikasi kuat bahwa tujuan transaksi tidak untuk hal yang dilarang syara: jual-beli bangkai untuk makanan buaya peliharaan. (2) perusakan atas MGM tidak berakibat adanya hak menuntut ganti rugi. Hanafiah berpendapat merusak MGM ahl aldzimmah harus mengganti dengan harganya. Bila yang merusakkan dzimmi lainnya, harus mengganti dengan serupa. Imam Malik mengganti harganya baik muslim maupun dzimmi yang merusak. Syafii dan Ahmad, tidak menggantinya.

2. Mal Uqar (MU) (harta tetap atau tidak bergerak): rumah, kebun, sawah, dsb. dan Mal Manqul (MM) (harta tidak tetap atau bergerak): mobil, uang, kuda, sapi, dsb. Konsekuensi hukumnya: (1) hubungan ketetanggaan terhadap mal uqar menimbulkan hak syufah, (2) mal uqar bisa menjadi obyek wakaf (kesepakatan ulama); (Hanafiah) wakaf mal ghairu uqar harus tidak bisa dipisahkan dari mal uqar, (3) orang yang diberi wasiat memelihara harta anak kecil tidak boleh menjual mal uqarnya (kecuali terpaksa dengan ijin hakim); sedang terhadap mal manqul boleh menjual untuk kepentingan pemeliharaan tanpa ijin,

(4) Abu Hanifah dan Abu Yusuf, ghasab tidak bisa

terhadap mal uqar sebab manfaat tidak menjadi unsur harta; namun menurut jumhur ulama ghasab terhadap mal uqar bisa terjadi, sebab manfaat menjadi unsur penting dalam harta; (5) Dalam transaksi jual-beli, menurut Abu Hanifah dan Abu Yusuf: pembeli mal uqar boleh memanfaatkan meskipun belum ada penyerahan; menurut Syafii tidak boleh sebelum diserahkan. Adapun terhadap Mal Manqul mereka sepakat tidak boleh memanfaatkan sebelum diserahkan, (6) dalam kondisi taflis (pailit), lelang dilakukan terhadap Mal Manqul dahulu, jika belum mencukupi baru terhadap mal uqar, (7) hak irtifaq (pemanfaatan harta tidak bergerak untuk kepentingan harta tidak bergerak milik orang lain) hanya terjadi pada harta tidak bergerak (mal uqar).

3. Mal Mitsliy (harta yang memiliki padanan atau persamaan tanpa mempertimbangkan adanya perbedaan satuan jenisnya: biasanya harta yang bisa ditimbang, ditakar, dan dihitung kuantitasnya). Kebanyakan komoditas (barang dagangan) tergolong jenis ini: buah-buahan, sayur-mayur, garment, dsb.; Mal Qimiy (harta yang tidak memiliki persamaan atau padanan atau harta yang berpadanan tetapi perbedaan kualitas sangat diperhitungkan, misalnya: perhiasan, binatang piaraan, naskah kuno, barang antik, dll.)

Konsekuensi hukumnya: (1) sistem jual-beli barter

atas mal qimiy tidak memungkinkan terjadi riba alfadhl, karena jenis satuannya berbeda; terhadap mal mitsliy sebaliknya, (2) dalam perserikatan mal mitsliy, masing-masing pihak bisa mengambil bagiannya tanpa hadirnya pihak lain; dalam mal qimiy tidak boleh mengambil bagiannya tanpa kehadiran pihak lain, (3) perusakan terhadap mal mitsliy bisa dituntut ganti rugi dengan barang sejenis; sedang terhadap mal qimiy ganti kerugian dengan menghitung harganya.

4. Mal Istimaliy (dapat dimanfaatkan berulangkali tanpa menimbulkan perubahan/kerusakan zatnya atau berkurang nilainya: kebun, pakaian, perhiasan, dll.) & Mal Istihlakiy (menurut kebiasaan bila dipakai akan menimbulkan kerusakan zatnya atau berkurang nilainya: makanan, minuman, korek api, dll.). Mal istihlakiy dibagi menjadi dua: (a) istihlakiy haqiqiy (harta yang benar-benar habis atau berkurang bendanya setelah dipakai: korek api, makanan, sabun, dll.), (b) istihlakiy huquqiy (harta yang secara hukum bersifat habis sekali pakai, tetapi faktanya bendanya masih utuh: uang, kertas tulis, dll.)

Konsekuensi hukumnya:

(1) Mal istihlakiy tidak bisa dijadikan obyek transaksi yang tujuannya untuk digunakan tanpa adanya kerusakan zatnya: sewa-menyewa, pinjam-meminjam; sedangkan mal istimaliy bisa menjadi obyek transaksi tersebut. Para ulama mengatakan: semua benda yang dapat diambil manfaatnya tanpa merusak zatnya bisa menjadi obyek sewa-menyewa (2) kedua jenis tersebut bisa menjadi obyek akad yang tujuannya untuk konsumsi dan pemakaian sekaligus, seperti jual-beli; (3) pinjammeminjam atas mal istihlakiy seperti: uang dan makanan pada umumnya tidak dikatakan pinjam-meminjam tetapi pada hakikatnya adalah akad utang-piutang; meskipun tradisi biasanya mengatakannya pinjam-meminjam.

5. Mal mamluk: harta yang statusnya milik seseorang /badan hukum yang tidak boleh dikuasai orang lain kecuali dengan akad yang sah; mal mahjur: harta yang menurut syara tidak dapat dimiliki/diserahkan kepada orang lain krn sudah diwakafkan untuk kepentingan umum: jalan, masjid, makam, dll; mal mubah: harta bebas tidak termasuk dalam kedua kategori di atas dan dapat dikuasai siapa saja sesuai kesanggupannya (ihraz al-mubahat): ikan di laut, rumput, binatang buruan di hutan, dll. Pengecualian terhadap Mal mahjur: ketika tidak difungsikan lagi boleh dipindah tangankan dengan akad yang sah; demikian pula berdasarkan manfaat bisa diperjual-belikan karena alasan biaya pemeliharaan terlalu mahal dan tidak sebanding dengan hasil atau nilai manfaatnya

6. Mal ashl (MA) ialah harta benda yang dapat menghasilkan harta lain; dan mal tsamrah (MTs) ialah harta benda yang tumbuh atau dihasilkan dari mal ashl tanpa menimbulkan kerusakan padanya. Kebun merupakan mal ashl, sedang buah-buahan adalah mal tsamrah. Konsekuensi hukumnya: (1) harta wakaf MA tidak bisa dimiliki/ditasharrufkan menjadi milik perorangan, tetapi hasilnya MTs bisa; (2) harta untuk kepentingan umum: jalan, pasar tidak dapat dimiliki seseorang, tetapi hasil/manfaatnya boleh dimiliki. 7. Mal Qismah (MQ) ialah harta yang dapat dibagi tanpa merusak/mengurangi manfaat bagian-2nya: emas batangan, daging, dll; Mal Ghairu al-Qismah (MGQ) ialah harta yang tidak dapat dibagi tanpa menimbulkan kerusakan: gelas, kursi, uang kertas/logam, dll.

Konsekuensi hukumnya: (1) perselisihan thd mal qismah yang menjadi milik bersama diselesaikan oleh hakim melalui qismatu al-tafriq; perselisihan atas mal ghairu al-qismah dilakukan melalui pembagian atas dasar kerelaan masing-masing pihak; (2) kongsi thd. MGQ yang belum ditentukan bagian masing-masing, pemilik bagian tsb. boleh melimpahkan pemilikannya kepada orang lain; tidak demikian halnya dengan MQ, peralihan milik harus sesudah ditentukan bagiannya; (3) biaya perawatan atas MQ yang berupa harta tetap yang dimiliki secara kongsi yang dikeluarkan tanpa sepengetahuan pihak lain berlaku sebagai pembiayaan sukarela, dan tidak bisa dimintakan ganti rugi; tetapi terhadap MGQ bisa dimintakan ganti ruginya.

8. Mal Khash (harta pribadi) harta yang dimiliki secara

pribadi dan orang lain tidak bisa menguasai atau memanfaatkannya kecuali dengan ijin pemiliknya; sedang Mal Amm (harta masyarakat umum) harta yang menjadi milik umum yang sejak semula dimaksudkan untuk kemaslahatan bersama. Dengan dalih untuk kepentingan umum negara dapat menguasai sumber alam: laut, tambang, hutan, tanah. Mal Khash bisa berubah menjadi Mal Amm dan sebaliknya karena sebab: (1) kehendak pemiliknya: wakaf tanah untuk masjid; demikian pula pemerintah bisa melelang harta umum sehingga menjadi milik pribadi; (2) karena ketetapan syara atau pemerintah tanah pribadi bisa menjadi fasilitas umum (UUPA).

Konsekuensi

hukumnya: (1) mal khash bisa ditasharrufkan pemiliknya secara bebas melalui caracara syari; (2) seseorang yang menggunakan mal amm untuk kepentingan pribadi tanpa kesepakatan pihak yang berwenang, dapat dituntut ganti rugi; (3) mal amm tidak dapat dibebaskan siapapun dengan ganti rugi, kecuali demi kepentingan umum yang lebih besar. * Yang dimaksud dengan cara-cara syariy ialah cara-cara yang dibenarkan dan tidak bertentangan dengan syara seperti untuk bangunan lokalisasi, tempat perjudian, membangun pabrik minuman keras, dll karena hal-hal tersebut dilarang oleh syara.

9. Al-Nuqud ialah mata uang emas, perak, kertas, dsb. Sedang Al-Arudl ialah semua harta yang tidak termasuk mata uang, misalnya: tanaman, hewan ternak, rumah, dsb. Konsekuensi hukumnya: dalam Bab Zakat, mata uang wajib dizakati karena termasuk harta berkembang. Sedang al-arudl ada 2 macam: (a) arudl qunyah, seperti: peralatan rumah, perkakas untuk bekerja, dsb. Benda-benda tersebut tidak wajib dizakati (b) arudl al-tijarah (barang dagangan), seperti: kain, baju, benda tetap yang diperdagangkan. Benda-benda tersebut wajib dizakati

10. al-Mal al-Zhahir, ialah harta benda yang tidak bisa disembunyikan, seperti: tanaman, buah-buahan, dan hewan ternak. Sedang al-Mal al-Bathin, ialah harta benda yang bisa disembunyikan, seperti: uang dan barang dagangan. Konsekuensi hukumnya: dalam Bab Zakat, al-mal alzhahir, zakatnya bisa dipaksakan oleh penguasa dan sulit dihindari. Karena nampak bagi kaum fakir, maka kalau tidak dizakati akan melukai hati mereka. Sedang al-mal al-bathin, zakatnya digantungkan sepenuhnya kepada kualitas keberagamaan pemiliknya, dan mereka bisa menghindar dari kewajiban zakat karena bendanya hanya mereka yang tahu.

SEKIAN
TERIMA KASIH

Anda mungkin juga menyukai