Anda di halaman 1dari 30

HEMODIALISA

DEFINISI
Hemodialisis didefinisikan sebagai pergerakan larutan dan air dari darah pasien melewati membran semipermeabel (alat dialisis) ke dalam dialisat.

INDIKASI
Azotemia simtomatitis berupa esfalopati Toksin yang dapat di dialisis (keracunan obat)

Perikarditis uremia

Hiperkalemia berat
Kelebihan cairan yang tidak responsif dengan deuritik(edema pulmonal) Asidosis yang tidak dapat diatasi

KONTRAINDIKASI
Hipotensi yang tidak rensponsif terhadap presor

Penyakit stadium terminal


Sindrom otak organic

TUJUAN
Mengambil zat-zat nitrogen yang toksik dari dalam darah dan mengeluarkan air yang berlebihan.

PRINSIP-PRINSIP YANG MENDASARI HEMODIALISIS


berpindahnya zat karena adanya perbedaan kadar didalam darah, makin banyak yang berpindah kedialisat berpindahnya zat dan air karena perbedaan hidrostatik didalam darah dan dialisat

berpindahnya air karena tenaga kimiawi yaitu perbedaan osmolitas dan dialisa

Tindakan dialisis memerlukan jalan masuk yang bebas dan dapat diulang- ulang dalam sirkulasi pasien yang dapat memberikan aliran darah 150-500 mL/ menit. Idealnya : ketika bersihan kreatinin turun dibawah sekitar 25 mL/ menit.

Kateter vena subklavia dan jugularis interna adl tempat yang banyak digunakan untuk jalan masuk vaskuler temporer.

Kateter modern mempunyai dua lumen untuk aliran darah dua arah.
Kateter temporer dipasang untuk dialisis emergensi dan berguna sampai jalan masuk yang permanen telah siap digunakan. Kateter dari bahan silikon dimasukan subkutan dan dijahit pada tempatnya, dapat dibiarkan ( selama 48 jam)

Fistula Arteri- Vena

Dapat digunakan bertahun-tahun Fistula dibuat dengan anastomosis melalui pembedahan dari suatu arteri dan vena, umumnya pada arteri radialis ke vena sefalika. Setelah kira- kira 1 bulan, vena akan membesar, dan matang ( menjadi arteri), dan kemudian digunakan untuk 2 sisi jarum (ke dan dari alat dialsis). .

Graft Arteri- Vena

digunakan graft dari alam, sapi atau lebih disukai politetrafluroetilen ( seperti gore- Tex) untuk membentuk suatu hubungan dari arteri ke vena.

Penilaian Jalur Masuk Vaskular

Jika sirkulasi > 10-15%, dianjurkan untuk selanjutnya menilai jalan masuk dengan fistulogram. Fistulogram sangat bermanfaat dalam memeriksa jalan masuk, dan pada terdapatnya angioplasti stenosis dapat mengoreksi ketidak normalannya.

KOMPONEN & CARA KERJA HEMODIALISA

Listrik Air yang diolah atau dimurnikan dengan cara:

Filtrasi Softening Deionisasi Reverense osmosis Saluran pembuangan cairan (drainage) Rinse Desinfeksi dan pemanasan Dialyse

Pencampuran dialisat: Yaitu dialisat pekat (concetrate) dan air yang sudah diolah dengan perbandingan 1:34 Batch system: dialisis sudah dicampur lebih dahulu sebelum HD dimulai. Propotioning system: Asetat Bikarbonat Komposisi dialisa Natrium =135 145 mg/l Kalium = 0 4,0 mg/l

Calsium = 2,5 3,5 mg/l


Magnesium = 0,5 2,0 mg/l Khlorida = 98 112 mg/l Asetat atau bikarbonat = 33 25 mg/l

Dextrose = 2500 mg/l

1) Dialiser (ginjal buatan)


Kapiler (hollow fiber) Paralel plate

Coil
Sediaan dialiser: 1) 2) 3) Pemakaian baru atau pertama Basah Kering

2) Selang darah : arteri dan vena (AVBL) priming : Pengisian pertama sirkulasi ekstrakorporeal Tujuan : Mengisi = filing Membilas = rinsing Membasahai atau melembabkan = soaking Perlengkapan : Dialiser ( ginjal buatan) AVBL Set infus NaCl (cairan fisiologis) 500 cc (2-3 kolf) Spuit 1 cc Heparin injeksi (+2000 unit) Klem Penampung cairan (wadah) Kapas alkohol

PERSIAPAN :
Keluarkan alat dari pembungkus (dialiser, AVBL, slang infuse, NaCL)

Tempatkan dialeser pada tempatnya (Holder) dengan posisi inlet diatas (merah) dan outlet dibawah (biru)
Hubungkan slang dialisist ke dialiser: Inlet dari dibawah (to kidney) Outlet dari atas (from kidney) Kecepatan dialisis (QD) +500 cc/ menit) Berikan tekanan negative+ 100cc/ menit Biarkan proses ini berlangsung 10 menit. (soaking)

PROSEDUR KERJA
Keluarkan peralatan dari pembungkusnya ( dialiser, AVHL, selang infuse Nacl) Tempatkan dialiser pada tempatnya ( holder) dengan posisi inlet diatas (merah) outlet dibawah ( biru) Hubungkan selang dialisit ke dialiser Inlet dari dibawah (to kidney) Outlet dari atas (from kidney) Kecepatan dialisis (qd) =500 cc/ menit) Berikan tekanan negative (negative pressure) 100cc/ menit Biarkan proses ini berlangsung 10 menit. (soaking) Pasang ABL, tempatkan segmen pumb pada pompa darah (blood pump) dengan baik Pasang VBL dan bubble trap (perangkap udara) dengan posisi tegak ( vertical)

Dengan tecnik aseptic, buka penutup (pelindung yang terdapat diujung ABL dan tempatkan pada dialiser) (inlet). Demikian juga dengan VBL Hubungkan selang monitor tekanan arteri (arterial pressure) dan selang monitor tekanan vena (venous pressure) Setiap 100 cc NaCl, masukkan 2000 heparin dalam k olf (2000 /11). Cairan ini gunanya untuk membilas dan mengisi sirkulasi ekstrakorporel. Siapkan Nacl 1 kolf lagi (500 cc) untuk digunakan selama HD bilamana diperlukan, dan sebagai pembilas pada waktu pengakiran HD Hubungkan Nacl melalui set infuse keABL, yakinkan pada setiap set infuse dari udara dengan cara mengisi terlebih dahulu Tempatkan ujung VBL kedalam penampung. Hindarkan kontaminasi dengan penampung dan jangan sampai terendam cairan yang keluar

Putar dialiser dan peralatannya sehingga inlet dibawah, outlet diatas ( posisi terbalik)

Buka semua klem termasuk klem infus


Lakukan pengisian dan pembilasan sirkulasi ekstakkoporel dengan cara: Jalankan pompa darah dengan kecepatan (qb) 100 cc/mnt Perangkap udara (bubble traf) diisi bagian

Untuk mengeluarkan udara lakukan tekanan udara secara intermiten dengan menggunakan klem pada VBL (tekanan tidak boleh lebih dari 200mm Hg)
Teruskan priming sampai NaCL habis 1 liter dan sirkulasi bebas dari udara yang sudah kolf yang baru (500 cc) Ganti kolf NaCL yang sudah kosong dengan kolf yang baru (500 cc) Matikan pompa darah, klem kedua ujung AVBL, kemudian hubungkan kedua ujung dengan konektor, semua klem di buka

Lakukan sirkulasi selama 5 menit dengan Qb 200 cc/ mnt Matikan pompa darah, kembalikan dialiser ke posisi semula Periksa fungsi peralatan yang lain sebelum HD di mulai, seperti misalnya: Temperature dialisat Konduktifitas Aliran (flow) Monitor tekanan Detector udara dan kebocoran darah

Persiapan pasien
1) Timbang berat badan pasien ( bila memungkin) 2) Tidur telentang dan berikan posisi yang nyaman

3) Ukur tekanan darah atau, nadi, suhu, pernapasan


4) Observasi kesedaran dan keluhan pasien dan berikan perawatan mental 5) Terangkan secara gratis besar prosedur yang akan dilakukan 6) Menyiapkan sarana hubungan sirkulasi

PERLENGKAPAN
Jarum punksi: Jarum metal ( AV, fistula G.16,15,14)
Desinfektan (alcohol bethadin) Klem arteri (mosquito)2 buah. Klem desifektan Bak kecil +mangkuk kecil. Duk (biasa,split,bolong) Sarung tangan Plester Pengalas karet atau plastic Wadah pengukur cairan Botol pemeriksa darah

Jarum dengan catheter (IV catheter G.16, 15, 14) 1-1 inchi.
NaCl ( untuk pengenceran) Heparin injeksi Anestesi local (lidocain,procain) Spuit 1cc, 20 cc, 30 cc. Kassa

Persiapan

1) Tentukan tempat punksi atau periksa tempat shut atau catheter di pasang dan di buka balutan.
2) Alas dengan pengalas karet/plastic. 3) Atur posisi. 4) Kumpulkan peralatan dan dekatkan pada pasien. 5) Siapkan heparin injeksi.

PROSEDUR
Pakai sarung tangan Desinfeksi daerah daerah yang akan punksi dengan betadin dan alcohol

Letakkan duk sebagai pengalas dan penutup


Punksi outlet(vena), yaitu jalan masuk nya darah ke dalam tubuh K/P lakukan anestesi local. Ambil darah untuk pemeriksaan lab (bila di perlukan).

Bolus heparin injeksi yang sudah di encerkan dengan nacl(dosis awal)


Fiksasi dan tempat punksi di tutup kasa.

Desinfeksi kanula, konektor dan daerah dimana shunt terpasang. Letakan duk,sebagai pengalas dan penutup Klem kedua kanul(arteri dan vena), sebelum nya di alas dengan kasa. Lepaskan atau bukakan konektor aliranya lancar Cek kedua kanula apakah lancar. Ambil darah untuk pemeriksaan laboraturium(jika di perlukan) Bolus heparin injeksi yang sudah di encerkan dengan Nacl (dosis awal). Piksasi dan tutup daerah exit site Konektor di bersihkan dengan NaCl dan di simpan dalam bak

Desinfeksi daerah lipatan paha dan daerah outlet akan di punksi. Letakan duk sebagai pengalas dan penutup Fungsi outle(vena) yaitu jalan masuk nya darah ke dalam tubuh, k/t lakukan anastesis local. Ambil darah untuk pemeriksaan laboraturieum(bila di perlukan). Bolus heparin injeksi yang sudah di encerkan dengan nacl (dosis awal). Piksasi dan tempat punksi di tutup denggan kassa. Punksi inlet(vena pemoralis), yaitu tempat jalan keluar nya darah dari tubuh, dengan cara lakukan anastesi infiltrasi sambil mencari vena pemoralis. Vena pemoralis di punksi secara perkotaneos dengan jarum punksi (av fistula).

Mengalirkan darah ke dalam sirkulasi ekstrakorporeal Hubungkan ABL dengan inlet(punksi Inlet atau kanula arteri. Ujung ABL di suci hamakanterlebih dahulu. Tempat ujung VBL di dalam wadah pengukur. Perhatikan jangan sampai terkontaminasi. Buka klem AVBL, kanula arteri , klem selang infuse di tutup, klem kanula vena tetap tertutup. Darah di alirkan ke dalam sirkulasi denganmenggunakan pompa darah(QB+100 CC/menit) dan cairan primin terdorong keluar.

Cairan priming di tamping di wadah pengukur


Biarkan darah memasuki sirkulasi sampai cairan buble trap VBL berwarna merah muda. Pompa darah di matikan VBL di klem.

KOMPLIKASI HEMODIALISIS

Hipotensi Kram otot Sindrom ketikdakseimbangan dialisis Hipoksemia Aritmia Perdarahan Penyakit yg berhubungan dgn transfusi Penyakit metabolisme tulang Penyakit ginjal kistik didapat Perikarditis Anemia dan Eritropoietin Manusia Rekombinan

PEMIKIRAN LAIN DLM MERAWAT PASIEN DIALISIS


Asupan cairan harus dibatasi hingga 1-1,5 L/hari untuk menghindari kelebihan cairan, karena pasien-pasien ini biasanya oliguria. Pengikat posfat seperti kalsium karbonat, kalsium asetat, dan aluminium hidroksida harus diberikan secara bersama makanan.

Berbagai obat-obatan, seperti antibiotic dan antiaritmia hilang oleh hemodialisis. Oleh karena itu, sering kali diperlukan perubahan dosis, dosis tambahan dan pemantauan kadarnya dalam darah. Keadaan ini dapat merupakan masalah utma pada pasien ayng menjalani hemofiltrasi.
Pasien-pasien ini seringkali menggunakan medikasi intravena, seperti eritropoietin manusia rekombinan dan vitamin D, sebagai pasien rawat jalan. Pengobatan ini harus diteruskan bila pasien masuk rumah sakit. Antacid yang mengandung magnesium dan laksan, atau enema dengan dasar posfor (fleets) Jika diperlukan transfusi darah, maka harus diberikan selama dialkukan hemidialisis untuk mencegah kelebihan cairan dan hiperkalemia. Karena pasien-pasien ini mangalami imunosupresi dan seringkali hipotermia, terdapat ambang rendah untuk kerja intensif jika pasien mempunyai gejala yang mendukung infeksi.

PENDIDIKAN PASIEN
Rasional dan tujuan terapi dialisis Hubungan antara obat-obat yang diresepkan dan dialisis Efek samping obat dan pedoman kapan harus memberikan dokter mengenai efek samping tersebuft Perawatan akses vaskuler Dasar pemikiran untuk diet dan pembatasan cairan; konsekuensi akibat kegagalan dalam mematuhi pembatasan ini Strategi untuk pendeteksian, penatalaksanaan dan pengurangan gejala pruritus, neuropati serta gejala-gejala lainnya Penatalaksanaan komplikasi dialisis yang lain dan efek samping terapi

Anda mungkin juga menyukai