Anda di halaman 1dari 41

Pengujian Bahan Disusun oleh:

Arin Merliana 2710100041

Teknik Material dan Metalurgi FTI ITS 2010

UJI TARIK ( TENSILE TEST )


Uji tarik mungkin adalah cara pengujian bahan yang paling mendasar. Pengujian ini sangat sederhana, tidak mahal dan sudah mengalami standarisasi di seluruh dunia, misalnya di Amerika dengan ASTM (American Standart Testing and Material) E8 dan Jepang dengan JIS (Japanese Industrial Standard) 2241.

Dengan menarik suatu bahan maka bisa diketahui bagaimana suatu bahan bereaksi terhadap tenaga tarikan dan mengetahui sejauh mana material itu bertambah panjang. Alat eksperimen untuk uji tarik ini harus memiliki cengkeraman (grip) yang kuat dan kekakuan yang tinggi (highly stiff). Brand terkenal untuk alat uji tarik antara lain adalah antara lain adalah Shimadzu, Instron dan Dartec.

Mesin Uji Tarik


Dilihat dari cara pemberian beban atau gaya tarik pada batang uji maka mesin uji tarik dapat dibedakan menjadi 2 yaitu : 1. Mesin uji tarik mekanik. 2. Mesin uji tarik hidrolik. Mesin uji tarik mekanik, pemberian gaya tarik diperoleh melalui sistem mekanik rodaroda gigi yang digerakkan dengan tangan ataupun dengan motor listrik. Kapasitas mesin uji tarik mekanik ini biasanya relatif rendah dibandingkan dengan mesin hidrolik. Mesin uji tarik hidrolik. gaya tarik dihasilkan oleh tekanan minyak didalam silindernya. Kapasitas mesin hidrolik relatif besar dan biasanya mesin ini universal sehingga dapat digunakan untuk melaksanakan beberapa macam pengujian diantaranya : - Pengujian tarik - Pengujian tekan - Pengujian geser - Pengujian lengkung

Gambar Mesin Uji Tarik

Bentuk dan Ukuran Batang Uji


Batang uji harus mengikuti standar-standar tertentu. Dilihat dari bentuk dan jenis bahan, batang uji tarik dapat digolongkan menjadi 2 yaitu : 1. Batang Uji Proporsional Yang dimaksud dengan batang uji proporsional adalah panjang batang uji ditentukan dengan mempergunakan rumus : Keterangan : Lo = panjang batang uji k = konstanta So = luas penampang batang uji Konstanta (k) untuk baja dan baja tuang adalah 5,65 untuk logam bukan besi adalah 5,65 atau 11,3 dan besi tuang mampu tempa adalah 3,39

Gambar ukuran batang uji

Khusus untuk batang uji dengan penampang bulat diberlakukan juga sistem Dp, yaitu perbandingan antara diameter dan batang uji. Sesuai dengan standar industri Indonesia (SII), sistem Dp yang dipakai adalah Dp 10, Dp 5 dan Dp 3. Dp 10 artinya bahwa panjang batang uji (Lo) adalah 10 x diameter. Ukuran ini juga adalah pendekatan dari konstanta k = 11,3. Dp 5 artinya bahwa panjang batang uji (Lo) adalah 5 x diameter atau pendekatan dari k = 5,65 dan Dp 3 artinya bahwa Lo = 3 x diameter atau pendekatan dari k = 3,39. Berikut ini dilengkapi juga dengan tabel standar batang uji berdasarkan SII. 0148 76. Tabel la untuk Dp 5 dan Dp 10 Bentuk :

Batang uji bulat dengan kepala berbahu

Tabel batang uji bulat

2. Batang Uji Non Proporsional

Ukuran dalam mm

Prosedur Uji Tarik


Sebelum di uji tarik spesimen melalui proses heat treatment. Prosedurnya: 1. Spesimen dimasukkan ke dalam tungku pemanas (furnace), kemudian tungku pemanas di set pada temperatur 850oC, setelah temperatur tungku pemanas mencapai 850oC, spesimen ditahan selama 40 menit dalam suhu tersebut. 2. Setelah tertahan selama 40 menit dalam temperatur 850oC, specimen dikeluarkan dari tungku pemanas dan didinginkan diudara luar hingga mencapai suhu kamar (proses normalizing). 3. Kemudian dilanjutkan dengan proses tempering yakni dengan langkah awal mengeset tungku pemanas pada temperatur 600oC lalu ditahan dengan variasi waktu 20 menit (specimen A), 30 menit (specimen B), dan 45 menit (specimen C).

Hasil dan Analisa Data Hasil Pengujian Struktur Mikro.

Gambar Struktur Mikro dari Raw Material

Gambar Struktur Mikro dari Specimen A Gambar Struktur Mikro dari Specimen C

Gambar Struktur Mikro dari Specimen B

Gambar Alat uji tarik dan dimensi spesimennya

Diagram Alir TeganganRegangan Teknik Hasil Pengujian Tarik

Uji Kekerasan
Uji kekerasan merupakan pengujian yang dengan mudah dapat mengetahui gambaran sifat mekanik suatu material. Kekerasan (Hardness) adalah salah satu sifat mekanik (Mechanical properties) dari suatu material. Kekerasan suatu material harus diketahui khususnya untuk material yang dalam penggunaanya akan mangalami pergesekan (frictional force) dan deformasi plastis. Deformasi plastis merupakan suatu keadaan dari suatu material ketika material tersebut diberikan gaya maka struktur mikro dari material tersebut sudah tidak bisa kembali ke bentuk asal artinya material tersebut tidak dapat kembali ke bentuknya semula. Lebih ringkasnya kekerasan didefinisikan

Metoda Pengujian Kekerasan

Pada pengujian kekerasan dengan metoda penekanan, penekan kecil (identor) ditekankan pada permukaan bahan yang akan diuji dengan penekanan tertentu. Kedalaman atau hasil penekanan merupakan fungsi dari nilai kekerasan, makin lunak suatu bahan makin luas dan makin dalam

Di dalam aplikasi manufaktur, material dilakukan pengujian dengan dua pertimbangan yaitu untuk mengetahui karakteristik suatu material baru dan melihat mutu untuk memastikan suatu material memiliki spesifikasi kualitas tertentu. Didunia teknik, umumnya pengujian kekerasan menggunakan 4 macam metode pengujian kekerasan, yakni :

1. Brinnel (HB / BHN)

Uji kekerasan brinnel dirumuskan denga Pengujian kekerasan dengan metode Brinnel bertujuan untuk menentukan kekerasan suatu material dalam bentuk daya tahan material terhadap bola baja (identor) yang ditekankan pada permukaan material uji tersebut (spesimen). Idealnya, pengujian Brinnel diperuntukan untuk material yang memiliki permukaan yang kasar dengan uji kekuatan berkisar 500-3000 kgf. Identor (Bola baja) biasanya telah dikeraskan dan diplating ataupun terbuat dari bahan Karbida Tungsten.

Prinsip Uji Kekerasan Brinell

Gambar Mesin Brinell

2. Rockwell (HR / RHN)


Pengujian kekerasan dengan metode Rockwell bertujuan menentukan kekerasan suatu material dalam bentuk daya tahan material terhadap indentor berupa bola baja ataupun kerucut intan yang ditekankan pada permukaan material uji tersebut.

Prosedur Pengujian
Untuk mencari besarnya nilai kekerasan dengan menggunakan metode Rockwell dijelaskan pada gambar dibawah, yaitu pada langkah 1 benda uji ditekan oleh indentor dengan beban minor (Minor Load F0) setelah itu ditekan dengan beban mayor (major Load F1) pada langkah 2, dan pada langkah 3 beban mayor diambil sehingga yang tersisa adalah minor load dimana pada kondisi 3 ini indentor ditahan seperti kondisi pada saat total load F yang terlihat pada Gambar dibawah.

Besarnya minor load maupun major load tergantung dari jenis material yang akan di uji, jenis-jenisnya bisa dilihat pada Tabel 1. Dibawah ini merupakan rumus yang digunakan untuk mencari besarnya kekerasan dengan metode Rockwell. HR = E - e Keterangan : F0 = Beban Minor(Minor Load) (kgf), F1= Beban Mayor(Major Load) (kgf) F = Total beban (kgf), e= Jarak antara kondisi 1 dan kondisi 3 yang dibagi dengan 0.002 mm E = Jarak antara indentor saat diberi minor load dan zero reference line yang untuk tiap jenis indentor berbeda-beda yang bias dilihat pada table 1 HR = Besarnya nilai kekerasan dengan

Gambar Mesin Rockwell

3. Vikers (HV / VHN)


Pengujian kekerasan dengan metode Vickers bertujuan menentukan kekerasan suatu material dalam yaitu daya tahan material terhadap indentor intan yang cukup kecil dan mempunyai bentuk geometri berbentuk piramid seperti ditunjukkan pada gambar 3. Beban yang dikenakan juga jauh lebih kecil dibanding dengan pengujian rockwell dan brinel yaitu antara 1 sampai 1000 gram. Angka kekerasan Vickers (HV) didefinisikan sebagai hasil bagi (koefisien) dari beban uji (F) dengan luas permukaan bekas luka tekan (injakan) dari indentor(diagonalnya) (A) yang dikalikan dengan sin (136/2). Rumus untuk menentukan besarnya nilai kekerasan

Rumusan:

Keterangan: HV = Angka kekerasan Vickers F = Beban (kgf) d = diagonal

Gambar Mesin vickers

4. Micro Hardness (knoop hardness)

Gambar mesin micro hardness

UJI KEJUT ( IMPACT TEST )


Uji impak adalah pengujian dengan menggunakan pembebanan yang cepat (rapid loading). Pada uji impak terjadi proses penyerapan energi yang besar ketika beban menumbuk spesimen. Energi yang diserap material ini dapat dihitung dengan menggunakan prinsip perbedaan energi potensial. Tetapi kalau di mesin ujinya sudah nunjukin energi yang dapat diserap material,

Standar ASTM (American Standart Testing and Material) Uji Impak

Macam Pengujian Impak


1. Charpy 2. Izod Perbedaan charpy dengan izod adalah peletakan spesimen. Pengujian dengan menggunkan charpy lebih akurat karena pada izod, pemegang spesimen juga turut menyerap energi, sehingga energi yang terukur bukanlah energi yang mampu di serap material seutuhnya.

Faktor yang mempengaruhi kegagalan material pada pengujian impak Notch


Notch pada material akan menyebabkan terjadinya konsentrasi tegangan pada daerah yang lancip sehingga material lebih mudah patah. Selain itu notch juga akan menimbulkan triaxial stress. Triaxial stress ini sangat berbahaya karena tidak akan terjadi deformasi plastis dna menyebabkan material menjadi getas. Sehingga tidak ada tanda-tanda bahwa material akan mengalami kegagalan. Temperatur Pada temperatur tinggi material akan getas karena pengaruh vibrasi elektronnya yang semakin rendah, begitupun sebaliknya. Strainrate Jika pembebanan diberikan pada strain rate yang biasabiasa saja, maka material akan sempat mengalami deformasi plastis, karena pergerakan atomnya (dislokasi). Dislokasi akan bergerak menuju ke batas butir lalu kemudian patah. Namun pada uji impak, strain rate yang diberikan sangat tinggi sehingga dislokasi tidak sempat bergerak, apalagi terjadi deformasi plastis, sehingga

Kemudian, dari hasil percobaan akan didapatkan energi dan temperatur. Dari data tersebut, kita akan buat diagram harga impak terhadap temperatur. Energi akan berbanding lurus dengan harga impak. Kemudian kita akan mendapakan temperatur transisi. Temperatur transisi adalah range temperature dimana sifat material dapat berubah dari getas ke ulet jika material dipanaskan. Temperatur transisi ini bergantung pada berbagai hal, salah satunya aspek metalurgi material, yaitu kadar karbon. Material dengan kadar karbon yang tinggi akan semakin getas, dan harga impaknya kecil, sehingga temperatur transisinya lebih besar. Temperatur transisi akan mempengaruhi ketahanan material terhadap perubahan suhu. Jika temperatur transisinya kecil maka material tersebut tidak tahan terhadap perubahan suhu.

Uji Fatigue
Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui kekuatan bahan menahan pembebanan dinamis, ketahanan bahan diukur terhadap jumlah siklus yang mampu ditahan benda uji sampai benda uji tersebut patah, setara dengan berapa lama bahan tersebut mampu bertahan merima pembebanan dinamis. Beban yang diterima benda uji dibedakan atas beban tarik , beban lengkung, lengkung yang berputar dan puntiran. Berdasarkan penelitiannya, Wohler menemukan bahwa, untuk memperoleh usia pakai yang lebih panjang, maka pebebanan dinamis harus lebih rendah dari

Gambar Mesin Uji Fatigue

Prosedur Uji Fatigue


Benda uji berpenampang bulat (poros) ditempatkan pada bagian pemegang benda uji yang dapat berputar . Pada bagian tengah panjang benda uji ditempatkan beban radial/tegak lurus terhadap sumbu benda uji (menggantung), yang dilengkapi bantalan. Pada saat benda uji diputar oleh putaran motor listrik, maka poros akan menerima beban dinamis secara kontinyu. Pada kedua sisi poros akan menerima pembebanan yang berbeda, sisi atas menerima tekanan, sisi bawah menerima tarikan ,keadaan ini akan berubah terus menerus, sehingga poros akan menerima tegangan dinamis positip dan negatif yang sama besar, dan akhirnya akan patah tanpa terjadi pengecilan penampang Putaran motor tidak boleh melebihi 10.000 rpm.

Hasil Uji Fatigue


Apabila pengujian sampai 107 siklus benda uji belum patah, maka bahan tsb akantahan pula untuk jumlah siklus yang lebih besar, sebab pada titik tersbut garis grafk wohler sudah datar. Hasil percobaan ini memberikan informasi lebih akurat, disebabkan dalam kenyataan dalam kontruksi sebenarnya lebih sring terjadi pembebanan dinamis, seperti

Kondisi Material Baja Pegas setelah uji tarik