Anda di halaman 1dari 19

POST TRAUMATIC STRESS DISORDER (PTSD)

Firman Gustina 023

Peristiwa-peristiwa traumatik dapat terjadi dalam kehidupan seseorang tanpa dapat diprediksi sebelumnya dan tanpa adanya persiapan apapun. Setiap orang memiliki reaksi yang berbeda ketika dihadapkan pada peristiwa traumatik seperti ini. Pada beberapa orang, peristiwa traumatik ini membuatnya menjadi trauma.

Tidak mampu menjalankan kesehariannya seperti biasa (sebelum peristiwa tersebut terjadi), bayangan akan peristiwa tersebut senantiasa kembali dalam ingatannya dan mengusiknya, juga merasa tak mampu mengatasinya
Mereka yang mengalami hal demikian mungkin mengalami apa yang disebut dengan Post Traumatic Stress Disorder (PTSD).

Post-traumatic stress disorder dapat mempengaruhi mereka yang secara pribadi yang mengalami bencana atau musibah besar, mereka yang menjadi saksi atas kejadian tersebut, dan mereka yang membantu dalam kejadian tersebut, termasuk pekerja sosial dan petugas keamanan. Bahkan hal ini dapat terjadi di kalangan teman atau kerabat dari orang yang mengalami trauma (Smith & Segal. 2008).

Post Traumatic Stress Disorder adalah gangguan kecemasan yang dapat terbentuk dari sebuah peristiwa atau pengalaman yang menakutkan/mengerikan, sulit dan tidak menyenangkan dimana terdapat penganiayaan fisik atau perasaan terancam (American Psychological Association, 2004).

Post-traumatic stress disorder (PTSD) adalah sebuah gangguan yang dapat terbentuk dari peristiwa traumatik yang mengancam keselamatan anda atau membuat anda merasa tidak berdaya (Smith & Segal, 2008).

Peristiwa yang dapat dikategorikan sebagai peristiwa traumatik pada umumnya mengandung tiga buah elemen sebagai berikut

1.

2.

3.

Kejadian tersebut tidak dapat diprediksi (It was unexpected) Orang yang mengalami kejadian tersebut tidak siap dihadapkan pada kondisi / kejadian demikian (The person was unprepared) Tidak ada yang dapat dilakukan oleh orang tersebut untuk mencegah terjadinya peristiwa tersebut (There was nothing the person could do to prevent it from happening)

Peristiwa traumatik yang dapat mengarah kepada

munculnya PTSD termasuk:

Perang (War) Pemerkosaan (Rape) Bencana alam (Natural disasters) Kecelakaan mobil / Pesawat (A car or plane crash) Penculikan (Kidnapping) Penyerangan fisik (Violent assault) Penyiksaan seksual / fisik (Sexual or physical abuse) Prosedur medikal - terutama pada anak-anak (Medical procedures - especially in kids)

17 simptom PTSD telah dapat diidentifikasi dan ditulis dalam the 4th edition of the Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-IV).

Dibagi menjadi 3 bagian : 1. Merasakan kembali peristiwa traumatik tersebut (Re-Experiencing Symptoms) 2. Menghindar (Avoidance Symptoms) 3. Waspada (Hyperarousal Symptoms)

1. Merasakan kembali peristiwa traumatik tersebut (Re-Experiencing Symptoms)

Secara berkelanjutan memiliki pikiran atau ingatan yang tidak menyenangkan mengenai peristiwa traumatik tersebut (Frequently having upsetting thoughts or memories about a traumatic event). Mengalami mimpi buruk yang terus menerus berulang (Having recurrent nightmares). Bertindak atau merasakan seakan-akan peristiwa traumatik tersebut akan terulang kembali, terkadang ini disebut sebagai "flashback" (Acting or feeling as though the traumatic event were happening again, sometimes called a "flashback"). Memiliki perasaan menderita yang kuat ketika teringat kembali peristiwa traumatik tersebut (Having very strong feelings of distress when reminded of the traumatic event). Terjadi respon fisikal, seperti jantung berdetak kencang atau berkeringat ketika teringat akan peristiwa traumatik tersebut (Being physically responsive, such as experiencing a surge in your heart rate or sweating, to reminders of the traumatic event).

2.

Menghindar (Avoidance Symptoms)

Berusaha keras untuk menghindari pikiran, perasaan atau pembicaraan mengenai peristiwa traumatik tersebut (Making an effort to avoid thoughts, feelings, or conversations about the traumatic event). Berusaha keras untuk menghindari tempat atau orang-orang yang dapat mengingatkan kembali akan peristiwa traumatik tersebut (Making an effort to avoid places or people that remind you of the traumatic event). Sulit untuk mengingat kembali bagian penting dari peristiwa traumatik tersebut (Having a difficult time remembering important parts of the traumatic event). Kehilangan ketertarikan atas aktifitas positif yang penting (A loss of interest in important, once positive, activities). Merasa "jauh" atau seperti ada jarak dengan orang lain (Feeling distant from others). Mengalami kesulitan untuk merasakan perasaan-perasaan positif, seperti kesenangan / kebahagiaan atau cinta / kasih sayang ( Experiencing difficulties having positive feelings, such as happiness or love). Merasakan seakan-akan hidup anda seperti terputus ditengah-tengah anda tidak berharap untuk dapat kembali menjalani hidup dengan normal, menikah dan memiliki karir (Feeling as though your life may be cut short you dont expect to live a normal life span, get married, have a career).

3. Waspada (Hyperarousal Symptoms)

Sulit untuk tidur atau tidur tapi dengan gelisah (Having a difficult time falling or staying asleep). Mudah / lekas marah atau meledak-ledak (Feeling more irritable or having outbursts of anger). Memiliki kesulitan untuk berkonsentrasi (Having difficulty concentrating). Selalu merasa seperti sedang diawasi atau merasa seakan-akan bahaya mengincar di setiap sudut "Feeling constantly "on guard" or like danger is lurking around every corner". Menjadi gelisah, tidak tenang, atau mudah "terpicu" / sangat "waspada" (Being "jumpy" or easily startled).

A: Exposure to a traumatic event This must have involved both (a) loss of "physical integrity", or risk of serious injury or death, to self or others, and (b) a response to the event that involved intense fear, horror or helplessness (or in children, the response must involve disorganized or agitated behavior). (The DSM-IV-TR criterion differs substantially from the previous DSM-III-R stressor criterion, which specified the traumatic event should be of a type that would cause "significant symptoms of distress in almost anyone," and that the event was "outside the range of usual human experience."[65]) [edit] B: Persistent re-experiencing One or more of these must be present in the victim: flashback memories, recurring distressing dreams, subjective reexperiencing of the traumatic event(s), or intense negative psychological or physiological response to any objective or subjective reminder of the traumatic event(s).

[edit] C: Persistent avoidance and emotional numbing This involves a sufficient level of: avoidance of stimuli associated with the trauma, such as certain thoughts or feelings, or talking about the event(s); avoidance of behaviors, places, or people that might lead to distressing memories; inability to recall major parts of the trauma(s), or decreased involvement in significant life activities; decreased capacity (down to complete inability) to feel certain feelings; an expectation that one's future will be somehow constrained in ways not normal to other people. [edit] D: Persistent symptoms of increased arousal not present before These are all physiological response issues, such as difficulty falling or staying asleep, or problems with anger, concentration, or hypervigilance. [edit] E: Duration of symptoms for more than 1 month If all other criteria are present, but 30 days have not elapsed, the individual is diagnosed with Acute stress disorder. [edit] F: Significant impairment The symptoms reported must lead to "clinically significant distress or impairment" of major domains of life activity, such as social relations, occupational activities, or other "important areas of functioning".[66]

Penanganan

Psikoterapi : terapi perilaku, desensitisasi, hipnoterapi. Antidepresan Antiansietas

Anda mungkin juga menyukai