Anda di halaman 1dari 56

ELEKTRIFIKASI BADAI PETIR

By: Hanung Natendra S - 23210105 Widya Anggoro Putro - 23210106 Bambang Cahyono - 23210109

Referensi
The Institution of Energy and Technology, London, United Kingdom. Power and Energy Series, The Lightning Flash

Chapter 1 Charge Structure and Geographical Variation of Thunderclouds by Earle Williams


Chapter 2 Thunderstorm Electrification Mechanism by Rohan Jayaratne

Thunderstorm

Petir, guruh, cumulonimbus


Hujan Es Salju Angin Kencang Hujan Deras Tidak Hujan sama sekali

Formasi Awan

Awan di atmosfer terdiri dari tetesan air dan kristal es. Partikel padat dan cair > panjang gelombang cahaya yang dapat dilihat. Udara terkena sinar matahari dipermukaan bumi dan naik ke atas Udara mengalami supersaturasi menjadi uap air. Lifted Condensation Level (1 km)

Awan Petir

Pemisahan muatan listrik : Tumbukan antara graupel dengan kristal es atau dengan partikel graupel lainnya. Partikel graupel terbentuk ketika butiran cairan yang super dingin ditambah dengan butiran es dan membeku sehingga ukurannya bertambah

Struktur Muatan Awan Petir

Metode pengindera jarak jauh Teori G.C. Simpson (pengukuran muatan menggunakan balon) dan C.T.R. Wilson (mengukur jarak petir, perubahan medan elektrostatik saat terjadi petir, mengukur besar dan polaritas muatan) Simpson = Mengukur kerapatan muatan ruang, Wilson = Menentukan besaran muatan yang ditransfer oleh rangkaian petir

Struktur Muatan Awan Petir

wilson

Struktur Muatan Awan Petir

Variasi Geografis Awan Petir

Bentuk, ukuran, intensitas awan petir bervariasi dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Pertimbangan kondisi lingkungan adalah:
Ketersediaan uap air Ketidakstabilan atmosfer Jarak vertikal dari awan apung Ketinggian daerah fasa campuran Konsentrasi aerosol Efek daratan vs lautan

Variasi Geografis Awan Petir

Variasi Geografis Awan Petir


Ketersediaan

uap air Energi dari awan petir berasal dari energi laten panas yang dilepas ketika uap air berubah menjadi bentuk cair atau padat lewat proses kondensasi, deposisi uap dan pembekuan. Perbedaan temperatur tergantung pada konsentrasi uap air pada kondisi saturasi

Variasi Geografis Awan Petir


Ketidakstabilan atmosfer Gerakan vertikal dari udara disebabkan oleh gaya awan apung akibat adanya perbedaan temperatur, konsentrasi uap air dan kondensasi antara udara naik dan turun dan lingkungannya. CAPE yang besar atmosfer akan menghasilkan updraft yang besar dan badai aktif elektrik yang kuat. Updraft yang besar akan mengakibatkan endapan pada daerah fasa campuran di awan dan pengaruh dari pemisahan muatan menjadi besar. CAPE yang besar diakibatkan pemanasan permukaan, pada daratan lebih mudah panas.

Variasi Geografis Awan Petir


Panjang Vertikal dari awan apung Air parcels mengalami gaya apung ke atas pada jarak vertikal yang lebih besar, sehingga kecepatannya meningkat dan akan menghasilkan badai petir Ketinggian dimana gaya apung ke atas sama dengan nol dinamakan Level of Neutral Buoyancy (di bawah tropopause) Ketinggian tropopause Tropik 17 km Midlatitude summer 12-13 km Midlatitude winter 6-7 km

Variasi Geografis Awan Petir


Ketinggian

daerah fasa

campuran
Dibatasi 0C dan -40C Tinggi pada musim panas 4-5 km dan semakin dekat pada musim dingin
Konsentrasi

aerosol

Variasi Geografis Awan Petir


Efek Daratan vs Lautan Pemanasan daratan CAPE Updraft Teori konvektif

Variasi Geografis Awan Petir

Mekanisme elektrifikasi badai petir


Teori elektrifikasi muatan masih menjadi misteri yang harus dipecahkan. Sir John Mason mengidentifikasikan bahwa elektrifikasi badai petir sebagai satu dari tiga problem yang belum sempurna untuk dipecahkan dalam ilmu fisika awan

Mekanisme pembentukan badai petir (Contd)


Mason + Moore & Vonnegut : Ketinggian awan harus > 3-4 km. Semakin tinggi awan memproduksi lebih banyak frekuensi terjadinya petir. Walaupun petir dapat terjadi di warm clouds, proses elektrifikasi yang kuat diobservasi hanya jika awan melebihi freezing level Daerah elektrifikasi awanbadai hampir selalu berhubungan dengan ice & supercooled water

Mekanisme pembentukan badai petir (Contd)

Mason + Moore & Vonnegut (contd): Elektrifikasi yang kuat terjadi ketika awan memperlihatkan aktivitas konveksi secara cepat dan vertikal Pembentukan muatan dan proses pemisahannya erat berhubungan dengan proses pembentukan hujan Sambaran pertama petir sering terjadi sekitar 12-20 min setelah penampakan partikel hujan. Durasi rata-rata pembentukan petir dari satu awan badai sekitar 30 min

Mekanisme pembentukan badai petir (Contd)


Mason + Moore & Vonnegut (contd): Lokasi pusat muatan ditentukan oleh temperatur, bukannya ketinggian awan. Nilai muatan yang terkandung sekitar 20-30C Tahap awan matang , medan elektrik sebesar 400 kV/m dapat terjadi. Penjelasan diatas menyimpulkan bahwa proses elektrifikasi terjadi pada kondisi es diawan walaupun beberapa kali pernah terjadi pada suhu yang lebih hangat (>0C)

Mekanisme pembentukan badai petir (Contd)

Mekanisme Induksi
Salah satu teori lama yang paling populer Bergantung pada medan listrik vertikal yang ada untuk menginduksikan muatan polarisasi dalam partikel Partikel yang lebih kecil dibawah partikel yang lebih besar, partikel dengan muatan yang berlawanan terpisah dan muatannya menaikkan medan listrik

Mekanisme Induksi (Pict)

Mekanisme Induksi (Contd)


Elster&Geitel : tetes air yang jatuh dan menumbuk droplet dan terpolarisasi akibat adanya medan listrik vertikal. Muller-Hillebrand : menghitung magnitude dari muatan terpisah ketika 2 partikel berinteraksi dalam medan listrik (dengan parameter : radius,waktu kontak,titik pertemuan) Jennings : mekanisme induksi droplet hanya menghasilkan medan pecahan dari medan listrik keseluruhan (antara air-air) Latham&Mason : menjelaskan tentang kemungkinan transfer muatan induksi ketika kristal es memantul antar es-es

Mekanisme Induksi (Contd)


Aufdermaur&Johnson : menunjukkan bahwa droplet yang sangat dingin dapat mengeluarkan muatan dari butir es dalam medan listrik radial. Pada medan listrik radial, butir es memiliki perbedaan potensial terkait dengan lingkungan sehingga tumbukan sesaat disetiap titik dipermukaan memisahkan sejumlah muatan yang sama. Gaskell : menemukan bahwa droplet beku yang memantul dari butir es dalam medan listrik memisahkan muatan yang tidak dapat dijelaskan secara sederhana dalam bentuk muatan induktif Illingworth&Caranti : Konduktivitas es terlalu rendah untuk transfer muatan lengkap oleh proses induktif selama waktu kontak partikel es (secara tipikal, <1s)

Mekanisme Induksi (Contd)

Kesimpulan mekanisme induksi : Proses transfer muatan dapat dipahami Magnitude transfer muatan bisa dihitung Model yang digunakan oleh masingmasing peneliti berbeda-beda dan juga hasil yang didapatkan, sehingga kesulitan untuk menggabungkan antar hasil uji.

Mekanisme Konveksi
Pertama kali diteliti oleh Grenet, dilanjutkan oleh Vonnegut Teorinya berdasarkan pergerakan partikel ion di atmosfir secara kuat ke arah atas didalam awan badai dan dengan kompensasi ion diluar awan yang bergerak turun Ion Positif yang dihasilkan oleh muatan ditanah bergerak naik hingga ke permukaan awan bagian atas. Kemudian menyebabkan sedikit ion negatif menyisip di bagian atas dan banyak ion negatif bergerak turun kebawah untuk menghasilkan kembali ion positif di tanah.

Mekanisme Konveksi (Pict)

Mekanisme Konveksi
-

Kesimpulan mekanisme konveksi : Ada pertanyaan dari Chalmers bahwa ion negatif seharusnya juga ikut terbawa bersamaan dengan ion positif saat pergerakan keatas. Standler & Winn juga menunjukkan total point discharge current terlalu kecil untuk menghasilkan petir. Wormell juga menunjukkan bahwa konsentrasi ion tidak cukup untuk meng generate ion berikut untuk siklus selanjutnya. Ada juga yang meragukan mengenai proses waktu dimana point discharge tidak terjadi jika medan yang menginduksi tanah tidak mencapai 800 V/m dan lebih jauh lagi, ion positif butuh waktu untuk mencapai bagian atas awan. Sehingga : Teori konveksi gagal untuk menjelaskan proses awal elektrifikasi awan badai petir.

Teori Selective Ion Capture


Diperkenalkan oleh Wilson Tetes hujan yang turun terpolarisasi akibat adanya medan listrik vertikal ke arah bawah. Menghasilkan muatan sisa yang menentukan jenis muatan awan badai petir Wormell menyanggahnya bahwa konsentrasi ion di atmosfer tidak cukup untuk menyebabkan adanya muatan sisa.

Teori Drop Breakup


Tetes air jatuh yang tidak bermuatan dalam medan listrik vertikal kearah bawah akan terpolarisasi menjadi ion positif di bawah hemisphere dan ion negatif diatas hemisphere. Jika tetes air yang jatuh tersebut pecah sepanjang equator, akan menghasilkan fragmen sebesar 0,3 nC masing-masing droplet. Matthews dan Mason menunjukkan bahwa muatan yang terpisah meningkatkan medan listrik dan fragmen yang lebih besar bermuatan positif. Mereka berkesimpulan bahwa muatan positif yang lebih kecil berada dalam titik engah awan badai. Problem utama mengenai teori ini bahwa tetes air yang besar tidak dapat pecah dengan mudah hanya jika hal tersebut bersinggungan dengan tetes yang lain. Selanjutnya, tetes air jatuh tidak selalu pecah di equator sehingga mengurangi jumlah muatan yang terpisah.

Teori Melting of Ice


Dinger&Gunn + Drake : Ketika es mencair, menghasilkan muatan positif netto Iribane + Mason : Muatan dipisahkan oleh gelembung udara kecil pada bagian permukaan saat proses peleburan es Akan tetapi, polaritas dari muatan positif dalam proses peleburan es tidak dijelaskan yang membuat teori ini susah diterima oleh para ahli yang lain

Percobaan Pengembunan (Riming Experiment)


Hipotesa Baker dkk mampu menjelaskan tanda transfer muatan yang terjadi antara 2 partikel es yang berinteraksi sehubungan dengan laju pertumbuhan relatif tanpa adanya pengembunan. Percobaan dilakukan pertama kali oleh Reynolds dkk memutar sebuah bola logam tertutup es melalui awan yang sangat dingin dan kristal es dalam freezer yang dapat didinginkan ke -25 C. Bola memperoleh:

Muatan listrik negatif ketika kadar air awan tinggi Muatan positif ketika kadar air awan rendah. Dalam kasus terakhir, tanda bisa dibalik untuk negatif dengan memanaskan bola dengan lampu.

Percobaan Pengembunan (Riming Experiment)

Takahashi memutar batang berdiameter 3mm melalui suatu tetesan awan yang sangat dingin dan kristal es pada kecepatan 9m/dtk, menunjukkan bahwa tanda dan besar muatan yang diperoleh di batang dipengaruhi oleh temperatur dan kadar air di awan.
Temperatur sekitar -10C muatan di batang (+) di semua kadar air awan Temperatur lebih rendah muatan(+) pada kadar air tinggi dan rendah, tapi

Percobaan Pengembunan (Riming Experiment)

Studi serupa dilakukan oleh Jayaratne, menunjukkan bahwa butir graupel mengikuti interaksi kristal es:
Memberikan muatan positif pada temperatur dan kadar air tinggi di awan Muatan negatif pada temperatur dan kadar air lebih rendah

Muatan yang diperoleh dari kejadian pemantulan kristal es dengan butir graupel yang bergerak pada kecepatan 3m/detik melalui mixed cloud.

Pada kadar air 1gr/m3 perubahan tanda muatan terjadi di temperatur 20C. Gambar di samping juga menjelaskan bahwa temperatur pembalikan muatan akan tinggi pada kadar air rendah.
Kadar air 0.2g/m3 temperatur pembalikan muatan 10C.

Percobaan Pengembunan (Riming Experiment)

Penelitian Jayaratne tersebut juga digunakan untuk menjelaskan kehadiran struktur muatan tripolar klasik di awan petir.
Pada temperatur di atas temperatur pembalikan tanda muatan graupel akan memiliki muatan (+) dan kristal rebound akan membawa muatan negatif pada updraughts. Di bagian atas awan, pada temperatur rendah kristal akan membawa muatan (+) membentuk pusat muatan (+) di bagian atas awan. Butiran yang jatuh membawa muatan (-) dan ditambah dengan kristal es dari bawah, membentuk pusat muatan (-) pada temperatur pembalikan tanda.

Percobaan Pengembunan (Riming Experiment)

Baker dkk mengembangkan studi Jayaratne sampai suhu 35C perubahan tanda terjadi pada suhu 18C
Kadar air di awan = 0.3 gr/m3 Rata-rata ukuran kristal = 40 m Konsentrasi kristal = 50/ml Kecepatan = 3m/detik

Pertumbuhan Rata-Rata Relatif dan Lapisan Air (liquid like layer)

Percobaan charging kristal es/graupel, Baker (1987)


menjelaskan muatan dengan tanda terbalik dalam faktor pertumbuhan relatif rata-rata partikel yang berinteraksi.

Target pengembunan :
menangkap butiran air yang sangat dingin Butiran air juga bertambah akibat proses diffusi dari penguapan lingkungan.

Pertumbuhan Rata-Rata Relatif dan Lapisan Air (liquid like layer)

Kristal es kecil dalam awan yang tumbuh


terjadi karena proses diffusi dari penguapan lingkungan

Waktu proses pembekuan butiran air pada permukaan embun tergantung pada suhu;
pada suhu yang rendah: pembekuan butiran cepat, hanya ada sedikit uap yang terlepas pada suhu yang lebih tinggi lebih banyak uap terlepas

Pertumbuhan Rata-Rata Relatif dan Lapisan Air (liquid like layer)

Baker dan Dash (1989) :


mencari mekanisme yang menyebabkan bertambahnya tingkat pertumbuhan rata-rata muatan yang berpindah mendapatkan bahwa orientasi molekul dipermukaan menyebabkan kelebihan ion negatif dalam lapisan yang mengalami pencairan yang kacau pada permukaan es.

Muatan dipermukaan tergantung pada pertumbuhan rata-rata; partikel yang tumbuh dengan cepat
mempunyai lapisan dengan permukaan yang lebih tipis mempunyai lebih banyak muatan negatif saat

Potensial Kontak Charging

Caranti dan Illingworth pengembunan pada permukaan es mempunyai potential yang lebih negatif dibandingkan dengan permukaan yang tidak mengalami pengembunan.
Potensial kontak menjadi lebih negatif dengan menurunnya suhu hingga mencapai harga yang sebenarnya sekitar -400 mV pada suhu sekitar 20 0C. Hipotesa mereka kristal es bertumbukan dengan permukaan yang mengembun menyebabkan charging negatif pada awan karena perbedaan potensial kontak antara kristal dan permukaan yang mengembun.

Potensial Kontak Charging

Caranti (1985) menemukan perubahan pada potential kontak berhubungan dengan perubahan penguapan. Avila dan Caranti (1991, 1992) percobaan yang menggunakan butiran es yang berinteraksi dengan permukaan yang mengalami pengembunan
mekanisme potensial kontak tidak dapat aktif karena kedua permukaan yang berinteraksi yang mempunyai potensial kontak yang sama telah dibentuk akibat proses pembekuan yang cepat dari air yang sangat dingin.

Pengaruh ukuran droplet

Percobaan Jayaratne and Saunders spektrum ukuran droplet berperan penting dalam menentukan tanda muatan yang terpisah selama tabrakan antara graupel dan kristal es (percobaan dilakukan dengan rata-rata diameter droplet awan 10 m diperbesar sampai 30 m). Jayaratne dan Saunders mengulangi percobaan menggunakan ukuran droplet lebih kecil ( diameter kurang dari 4m)
Diperoleh hasil, pada suhu 10C graupel bermuatan (-). Dengan spektrum ini, maka pengaruh muatan-temperatur pembalikan muatan akan berubah dibandingkan dengan menggunakan ukuran sebelumnya

Dari percobaan Avila dkk, menunjukkan hal yang berbeda.


Muatan graupel negatif pada semua temperatur jika ukuran spektrum droplet dibuat jauh lebih besar dari 30 m

Pengaruh ukuran droplet


Terhadap laju pertumbuhan relatif partikel (1)

Droplet besar memerlukan waktu lebih lama untuk membeku


memberikan kristal waktu lebih lama untuk menemukan area pertubuhan yang cepat di permukaan graupel Efek ini dapat memprediksi tanda pengisian muatan graupel dengan ukuran droplet

Pengaruh ukuran droplet


Terhadap laju pertumbuhan relatif partikel (2)

Droplet dengan ukuran lebih besar lebih menyebar dan membeku seperti hemispheres;, sementara droplet ukuran lebih kecil lebih terkonsentrasi dan membeku seperti spheres dan sering membentuk struktur seperti rantai.
Area pertemuan graupel dan droplet meningkat seiring ukuran droplet droplet lebih besar memberikan kondukti panas lebih besar Pada ambient temperatur sama, droplet lebih besar akan membuat partikel graupel lebih hangat Efek ini dapat memprediksi tanda pengisian muatan graupel dengan ukuran droplet besar/kecil

Schematic diagram showing the structure of rime formed by small droplets.

Pengaruh ukuran droplet


Terhadap laju pertumbuhan relatif partikel (3-4)

Pada jumlah yang sama, droplet ukuran kecil akan menghasilkan area pertumbuhan lebih besar di permukaan graupel.
Pada temperatur dan laju pertambahan pengembunan yang sama, kristal akan memiliki kesempatan lebih besar untuk menemukan area pertumbuhan

Droplet ukuran besar mempunyai area permukaan lebih kecil dibandingkan droplet kecil pada massa yang sama. Pada temperatur dan laju pertambahan pengembunan yang sama, droplet besar menyediakan uap ke permukaan graupel lebih sedikit.

Efek ini dapat memprediksi tanda pengisian muatan graupel (-)/(+)dengan ukuran droplet besar/kecil

Pengaruh ukuran droplet


Terhadap laju pertumbuhan relatif partikel (5)

Efek ukuran droplet awan terhadap laju pertumbuhan kristal es (lebih kecil, lebih cepat):
Laju pertumbuhan kristal meningkat jika droplet lebih banyak Pada kadar air yang sama, flux penguapan lebih besar pada droplet kecil (karena mempunyai area lebih besar) Pertumbuhan kristal lebih cepat di awan dengan droplet kecil Laju pertambahan embun sama (droplet kecil memiliki efisiensi tabrakan lebih kecil)

Pertumbuhan kristal yang lebih cepat memberikan muatan lebih (-) berdasarkan hipotesa laju pertumbuhan relatif

Pengaruh Chemical Impurities

Kotoran kimia mempunyai efek yang besar pada tanda transfer muatan saat tabrakan antar es:
NaCl pada embun graupel bermuatan (-) Garam amonium graupel bermuatan (+)

Investigasi Jayaratne dkk :


Besarnya pengisian meningkat tajam seiring penurunan temperatur.

Pengisian muatan setiap tabrakan kristal sebagai fungsi temperatur. Awam mengandung cairan asam sulfat dan NaCl

Saat ini, belum ada penjelasan yang masuk akal tentang perbedaan pengisian muatan tersebut

Pengaruh Chemical Impurities


Mobilitas ion di air dan es berbeda-beda. Contoh: ion Cl- lebih mudah berdifusi ke es dibandingkan ion Na+.
Sehingga pemukaan es yang terkontaminasi NaCl, akan bermuatan (+) di sekitar lapisan kuasi-cair. Hal ini berdampak kristal es akan menghilangkan muatan (+) pada lapisan ini sehingga graupel bermuatan (-)

Demikian juga dengan ion NH4+ yang bergabung di dalam es


memberikan muatan positif selama interaksi kristal es.

Pengaruh Chemical Impurities

Pengaruh chemical impurities dalam menentukan tanda dan besar muatan yang terpisah saat terjadi tabrakan antar partikel es :
masih merupakan suatu misteri belum dapat dijelaskan dengan suatu hipotesa.

Sangat masuk akal apabila membayangkan badai petir di beberapa lokasi geografis yang berbeda akan mengandung inti kondensasi awan berupa macammacam zat kimia, seperti kelebihan garam di awan daerah pantai dan maupun laut. Badai petir di seluruh dunia menunjukkan struktur muatan yang mirip. Pertanyaan-pertanyaan ini menimbulkan kesulitan besar untuk menjelaskan elektrifikasi badai dalam hal mekanisme pengisian es-es non-konduktif.

Efek-Efek Medan Listrik Thunderstorm

Medan listrik yang berkembang dalam thunderstorm (hujan angin disertai petir dan guruh) mencapai orde 100 kV/m

Medan ini cukup tinggi untuk mempengaruhi perilaku awan dan partikel-partikel endapan (precipitation particles).

Richards dan Dawson (1971) menaikkan tetes air pada terowongan angin (wind tunnel) dan menerapkan medan listrik vertikal yang menyebabkan distorsi tetesan.
Untuk tetes radius 3mm, medan kritis sekitar 900 kV/m.

Efek-Efek Medan Listrik Thunderstorm


Griffith dan Latham (1972) menunjukkan bahwa pada level tekanan 500-mbar, medan kritis turun menjadi 550 kV/m. Medan kritis paling rendah dicatat oleh Crabb dan Latham (1974), yang menumbukan pasangan tetes air radius 2,7 mm dan 0,65 mm dengan kecepatan relatif 5,8 m/s.

Mendeteksi corona pada medan sampai serendah 250 kV/m menunjukkan bahwa interaksi partikel dapat memulai petir.

Medan listrik pada thunderstorm dapat mengubah kecepatan jatuh partikel-partikel bermuatan

Penutup

Masih ada masalah-masalah mengenai elektrifikasi thunderstorm yang belum terungkap, misalnya:
Apakah jelas bahwa materi permukaan, yang bisa mengangkut muatan, dialihkan selama proses kontak? Masalah lain yang perlu dijelaskan adalah pengamatan Curran dan Rust (1992) bahwa thunderstorm pengendapan rendah menghasilkan pukulan petir positif ke tanah (ground).

Usaha Yang Dilakukan


Eksperimen untuk simulasi situasi awal riil sedekat mungkin penting untuk mengisi informasi dari studi-studi lapangan. Penggunaan model-model numerik, misalnya, Dye et. al. (1986), Lantham dan Dye (1989), dan Norville et. al (1991) menggunakan awan CCOPE yang diteliti secara cermat di Montana untuk menguji elektrifikasi melalui cara tumbukan kristal/graupel dengan model satu-dimensi. Helsdon dan Farley (1987) menggunakan awan yang sama dalam model dinamis tiga-dimensi yang meliputi pemuatan dengan banyak proses. Studi-studi dengan radar Doppler pesawat dan balon selanjutnya dibutuhkan, bersama dengan teknik penginderaan jarak jauh berbasis-ground .