Anda di halaman 1dari 22

Miokarditis Difteri

Pembimbing: dr. Priyono BS. Sp.A. Dipresentasikan Oleh: Mohammad Andy S 1010221051 Selasa, 7 Februari 2012

1/30/2013

BAB I PENDAHULUAN

1/30/2013

Pendahuluan
Pada awal tahun 1980-an terjadi peningkatan insidensi kasus difteria pada negara bekas Uni Soviet karena kekacauan program imunisasi Pada tahun 1990-an masih terjadi epidemic yang besar di Rusia dan Ukraina. Pada tahun 2000-an epidemic difteria masih terjadi dan menjalar ke negara-negara tetangga. Biasanya menyerang remaja dan orang dewasa

1/30/2013

Pendahuluan (contd )
Di Ekuador, AS, pada tahun 1993-1994 terjadi ledakan kasus sebesar 200 kasus, yang 50%-nya adalah anak berusia 15 tahun atau lebih. Dari tahun 1980 sampai 2010, 55 kasus difteri dilaporkan. Sebagian besar kasus (77%) menyerang usia 15 tahun,empat dari lima kasus fatal terjadi di kalangan anak-anak yang tidak divaksinasi

1/30/2013

Pendahuluan (contd )
Angka mortalitas berkisar 5-10%, sedangkan angka kematian di Indonesia menurut laporan Parwati S. Basuki yang didapatkan dari rumah sakit di kota Jakarta(RSCM), Bandung(RSHS), Makasar(RSWS), Semarang(RSK), dan Palembang(RSMH) rata-rata sebesar 15%. Di Indonesia, dari data lima rumah sakit di Jakarta, Bandung, Makassar, Semarang, dan Palembang. Selama tahun 1991-1996, dari 473 pasien difteria, terdapat 45% usia balita, 27% usia kurang dari 1 tahun, 24% usia 5-9 tahun, dan 4% usia diatas 10 tahun. (Parwati S.Basuki )

1/30/2013

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

1/30/2013

Definisi difteri
Difteri adalah suatu infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri penghasil toksik Corynebacterium diphteriae (Iwansain.2008). Difteri sangat menular, sangat berbahaya pada anak anak terutama menyerang saluran pernafasan bagian atas, penularannya melalui percikan ludah dari orang yang membawa kuman ke orang lain yang sehat (Sulianti Suroso. 2004).

1/30/2013

Etiologi difteri
Penyebabnya adalah Corynebacterium diphteriae. Ditularkan melalui percikan ludah yang berasal dari batuk penderita atau benda maupun makanan yang telah terkontaminasi oleh bakteri. Berkembangbiak pada / disekitar selaput lendir mulut atau tenggorokan dan menyebabkan peradangan. Pewarnaan sediaan langsung dapat dilakukan dengan biru metilen atau biru toluidin. Basil ini dapat ditemukan dengan sediaan langsung dari lesi.

1/30/2013

Sifat bakteri Corynebacterium diphteriae : Gram positif Aerob Polimorf Tidak bergerak Tidak berspora Membentuk psedomembran yang sukar diangkat, mudah berdarah, dan berwarna putih keabu-abuan yang meliputi daerah yang terkena.terdiri dari fibrin, leukosit, jaringan nekrotik dan kuman. Mengeluarkan eksotoksin yang sangat ganas dan dapat meracuni jaringan setelah beberapa jam diserap dan memberikan gambaran perubahan jaringan yang khas terutama pada otot jantung, ginjal dan jaringan saraf.

1/30/2013

Tingkat Infeksi
Infeksi ringan bila pseudomembran hanya terdapat pada mukosa hidung dengan gejala hanya nyeri menelan. Infeksi sedang bila pseudomembran telah menyaring sampai faring, sampai menimbulkan pembengkakan pada laring. Infeksi berat bila terjadi sumbatan nafas yang berat disertai dengan gejala komplikasi seperti miokarditis, paralysis dan nefritis
1/30/2013 10

Patofisiologi
Basil hidup dan berkembangbiak pada traktus respiratorius bagian atas terutama bila terdapat peradangan kronis pada tonsil, sinus, dll Selain itu dapat juga pada vulva, kulit, mata, walaupun jarang terjadi. Pada tempat-tempat tersebut basil membentuk pseudomembran dan melepaskan eksotoksin. Pseudomembran timbul lokal kemudian menjalar kefaring, tonsil, laring, dan saluran nafas atas. Kelenjar getah bening sekitarnya akan membengkak dan mengandung toksin.
1/30/2013 11

Patofisiologi
Eksotoksin bila mengenai otot jantung akan menyebabkan miokarditis toksik atau jika mengenai jaringan saraf perifer sehingga timbul paralysis terutama otot-otot pernafasan. Toksin juga dapat menimbulkan nekrosis fokal pada hati dan ginjal, yang dapat menimbulkan nefritis interstitialis Pasien difteria selalu dirawat dirumah sakit karena mempunyai resiko terjadi komplikasi seperti mioarditis atau sumbatan jalan nafas (Ngastiyah, 1997).
1/30/2013 12

Manifestasi klinis
Demam tinggi ( > 38 C) Denyut jantung cepat Lesu dan lemah Menggigil Mual muntah Nyeri saat menelan dan anoreksia Pucat Pembengkakan kelenjar limfa dileher Sakit kepala Pembengkakan kelenjar limfa dileher Sesak nafas
13

1/30/2013

Miokarditis difteri
Sering timbul akibat komplikasi difteri tetapi dapat juga terjadi pada bentuk ringan. komplikasi terhadap penyakit jantung pada anak diperkirakan 10-20%. Makin luas lesi local dan makin terlambat pemberian oksitosin, miokarditis makin sering terjadi. Faktor lain yang mempengaruhi terjadinya miokarditis yaitu virulensi kuman. Melemahnya jantung atau adanya aritmia menunjukan gejala-gejala miokarditis.
1/30/2013 14

Manifestasi klinis MD
1. Keluhan Pokok Demam Nyeri dada mirip angina pektoris dan perikarditis Palpitasi Sesak napas 2.Tanda Penting Takikardi Kardomegali (cepat terjadi) Bunyi jantung melemah Irama gallop; Tanda-tanda gagal jantung, terutama gagal jantung kanan.
1/30/2013 15

Miokarditis difteri
3.Pemeriksaan Khusus Pemeriksaan EKG: Tidak khas ST-T changes inferior Gangguan konduksi jantung Foto Toraks: Tidak khas Pembesaran jantung dengan efusi perikard atau pleura. Ekokardiografi: Pembesaran jantung kiri Dapat di bedakan dengan kardiomiopati hipertrofi dan mitral stenosis.
1/30/2013 16

kelainan EKG pada miokarditis difteri : (Maimunah dkk 1965) Gangguan kondiksi . Kerusakan miokard: perubahan gelombang T yang disertai dengan atau tanpa deviasi segmen ST. Aritmia: sinus takikardia atau bradikardia.

1/30/2013

17

Manajemen
Pengobatan khusus penyakit difteri bertujuan untuk menetralisir toksin dan membunuh basil dengan antibiotika (Penicilin Procain, Eritromisin, Ertromysin, Amoksisilin, Rifampicin, Klindamisin, tetrasiklin). Pengobatan penderita difteria ini yaitu dengan pemberian Anti Difteria Serum (ADS) 20.000 unit intra muskuler bila membrannya hanya terbatas tonsil saja, tetapi jika membrannya sudah meluas diberikan ADS 80.000-100.000 unit.
1/30/2013 18

Manajemen
Sebelum pemberian serum dilakukan sensitif test. Antibiotik pilihan adalah penicilin 50.000 unit/kgBB/hari diberikan samapi 3 hari setelah panas turun. Antibiotik alternatif lainnya adalah erythromicyn 3040 mg/KgBB/hari selama 14 hari.

1/30/2013

19

Penanggulangan melalui pemberian imunisasi DPT (Dipteri Pertusis Tetanus) dimana vakisin DPT adalah vaksin yang terdiri dari toxoid difteri dan tetanus yang dimurnikan serta bakteri pertusis yang telah diinaktifkan. Imunisasi DPT diberikan untuk pemberian kekebalan secara simultan terhadap difteri, pertusis dan tetanus, diberikan pertama pada bayi umur 2 bulan, dosis selanjutnya diberikan dengan interval paling cepat 1 bulan DPT pada bayi diberikan tiga kali yaitu DPT1, DPT2 dan DPT 3. Imunisasi lainnya yaitu DT (Dipteri Pertusis) merupakan imunisasi ulangan yang biasanya diberikan pada anak sekolah dasar kelas satu.
1/30/2013 20

Prognosis
Menurut Ngastiyah (2005) prognosis tergantung pada : Umur pasien, makin muda usianya makin jelek prognosisnya. Perjalanan penyakit, makin terlambat diketemukan makin buruk keadaanya. Letak lesi difteria, bila dihidung tergolong ringan. Keadaan umum pasien, bila keadaan gizinya buruk, juga buruk. Terdapat komplikasi miokarditis sangat memperburuk prognosis. Pengobatan terlambat pemberian ADS, prognosis makin buruk.
1/30/2013 21

DAFTAR PUSTAKA
Nelson. Ilmu kesehatan anak volume 3. Samik wahab editors. Jakarta: Penerbit buku kedokteran EGC. 2000. http://medicastore.com/penyakit/930/Difteri.html Jauhari,nurudin. 2008. Imunisasi Difteri. Mansjoer, Arif, dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2. Jakarta: Media Aesculapius. Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit. Jakarta: EGC Rampengan, H.T, dkk. 1993. Penyakit Infeksi Tropik Pada Anak. Jakarta : EGC Sulianti Suroso. 2004. Pengaruh Imunisasi pada anak.www.infeksi.com dr. Mira Novia http://www.surabaya-ehealth.org/artikel/dapattimbulkan-kematian-jika-tidak-ditangani-dengan-segera 2010 Febby Hapsari Prastiten. http://febbyhapsari.wordpress.com/2011/03/20/difteri-sebagai-contohfood-and-water-borne-disease/ FKM UNDIP

1/30/2013

22