Anda di halaman 1dari 138

UROGENITAL

Dr. Rivani kuriawan

ANATOMI

GINJAL
Ginjal merupakan organ yang berbentuk kacang Panjang 11,5cm, lebar 5-8cm, dan tebal 3cm Organ retroperitoneal di antara prosesus xiphoideus dan krista iliaka pada pelvis Pole atas 1cm mendekati garis tengah Antara vertebra Th 12 sampai vertebra L3 pada pasien yang stenik Ginjal kanan memiliki posisi yang lebih rendah 1cm Ekskursi ginjal akibat pernafasan adalah sekitar 2,5c Perubahan posisi dari berbaring ke tegak < 5cm Ginjal kiri lebih kecil

Ginjal diliputi oleh kapsula fibrosa Ginjal terdiri dari dua bagian, yaitu bagian luar (korteks) dan bagian dalam (medula Medula terdiri dari 8-18 struktur konikal yang disebut piramida ginjal Korteks menyusup di antara piramida tersebut membentuk kolumna ginjal Hilus tempat keluar pembuluh darah, pembuluh limfe, saraf, dan ureter. Piramida ginjal kumpulan tubulus muara pada papila ginjal berhubungan dengan kaliks minor 4-13 kaliks minor membentuk 2-3 kaliks mayor. Kaliks mayor membentuk pelvis renalis. Pelvis renalis menyempit membentuk ureter

Suplai Darah : st - Renal arteri : 1 lumbal vertebrae > Dorsal Ventral - Renal vena : Parallel renal arteri

Ginjal memiliki berbagai fungsi, antara lain:1,2 (1)Mengeluarkan produk kreatinin) dari darah. sisa (urea dan

(2)Mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit. (3)Mensekresi zat-zat (renin) mempengaruhi tekanan darah. (5)Mensekresi hormon eritopoietin. yang

(4)Mengatur keseimbangan asam basa tubuh.

URETER
Ureter memiliki diameter bervariasi dari 1mm sampai 1cm. Tiga tempat penyempitan normal yaitu:

1.Pelvoureter junction (PUJ).


2.Pada pelvic brim dimana pembuluh darah iliaka melintas ureter. 3.Vesicoureter junction (VUJ). Tempat batu sering tertahan. Ureter panjang 25-30cm Retroperitoneum. Pada pelvis : Convex ke posterior dan lateral Pada vertebra ischium belok kedepan dan ke medial

VESIKA URINARIA
Vesica urinaria kantung muskulomembranosa berfungsi sebagai reservoir urin. Terletak di posterior dan superior dari simfisis pubis. Bagian fundus berbatasan dengan ampula rektum pada pria dan berbatasan dengan atas dari canalis vagina pada wanita. Trigonum adalah area muskular dibentuk oleh muara ureter kanan dan kiri serta saluran keluar ke uretra. Vesica urinaria dalam keadaan kosong terletak di rongga pelvis. Vesica urinaria penuh, bagian atas dari vesica urinaria akan terangkat ke rongga abdomen.

VU dewasa menampung 350-500cc urin ketika terisi penuh. Keinginan miksi timbul saat vesica urinaria terisi 250cc.2 Kapasitas vesica urinaria pada anak-anak dapat dihitung dengan rumus:3,4 Kapasitas vesica urinaria = (Umur[dalam tahun] + 2) x 30cc

URETRA
Pria Uretra dibagi menjadi uretra anterior dan uretra posterior Uretra anterior dibagi menjadi uretra pars kavernosa dan pars bulbosa, Uretra posterior dibagi menjadi uretra pars membranosa dan uretra pars prostatika Uretra anterior dari meatus eksternus berjalan sepanjang corpus spongiosum.

Distal uretra pars kavernosa pada glans penis membentuk fossa navikularis dengan panjang 1-1,5cm Pars prostatika panjang sekitar 3,5cm Uretra pars membranosa memiliki panjang sekitar 1-1,5cm

Wanita Uretra wanita panjang 4cm Berjalan dari bladder neck pada perbatasan uretrovesica ke vestibulum membentuk meatus eksterna antara labia minora.

PROSEDUR UROGENITAL

Prosedur Urogenital
Urografi Intravena / IVP Pielografi Retrograd Pielografi Antegrad Uretrografi Sistografi Uretrosistografi Uretrografi Bipolar Voiding Cystourethrography Histerosalfingografi

UROGRAFI INTRAVENA / IVP


Urografi intravena (intravenous urography) nama lain urografi ekskretori (excretory urography) dan pielografi intravena (intravenous pyelography) Memperlihatkan kaliks minor, kaliks mayor, pelvis renalis, ureter, dan vesica urinaria Juga bersifat fungsional menilai fungsi

Indikasi
Evaluasi massa abdomen, kista ginjal, dan tumor ginjal. Urolitiasis (batu atau kalkuli pada ginjal atau traktus urinarius) Pielonefritis (infeksi traktus urinarius atas yang dapat bersifat akut maupun kronis) Glomerulonefritis Hidronefrosis (dilatasi abnormal dari system pelvokalises) Evaluasi trauma Evaluasi preoperatif dari fungsi, lokasi, ukuran, dan bentuk dari ginjal dan ureter Hipertensi renal

Kontraindikasi
Alergi terhadap zat kontras Asma Anuria Gagal ginjal (peningkatan kreatinin serum) Penyakit kardiovaskuler Gangguan fungsi hati yang berat Diabetes mellitus (meningkatkan risiko nefropati yang diinduksi zat kontras)

Kontraindikasi
Sickle cell disease (meningkatkan risiko nefropati yang diinduksi zat kontras) Multiple myeloma (meningkatkan risiko nefropati yang diinduksi zat kontras) Pheochromocytoma (meningkatkan risiko krisis hipertensi) Pasien yang meminum obat metformin harus dihentikan 48 jam sebelum pemeriksaan dan jadwal berikutnya ditunda juga 48 jam setelah pemeriksaan mencegah terjadinya asidosis laktat jika pasien tersebut mengalami nefropati yang diinduksi zat kontras Ibu hamil

Persiapan pemeriksaan UIV : Dua hari sebelum pemeriksaan, makan bubur kecap saja. Pasien puasa makan pk. 20.00 Pasien minum bisacodyl (dulcolax) sebanyak 2 tablet pada pk. 20.00, pk. 21.00, pk. 22.00, dan pk. 23.00. Bisacodyl suppositoria per anus pk.05.00 hari berikutnya. Datang pk.07.30 untuk pendaftaran dan pemeriksaan UIV.

Saluran pencernaan harus bersih dari udara dan feses. BAK sebelum pemeriksaan. VU penuh ruptur jika digunakan teknik kompresi. Urin mendilusi zat kontras Persiapan : pembatasan diet dan laksatif. Puasa makanan dan minuman 8 jam sebelum pemeriksaan. Laksatif . Kecuali diare berat, perdarahan masif, obstruksi, dan peradangan seperti appendisitis. Tidak merokok, tidak mengunyah permen karet, dan tidak terlalu banyak berbicara Bayi dan anak-anak tidak dilakukan persiapan Informed consent

Volume zat kontras yang digunakan sekitar 30-100 cc bergantung pada berat badan pasien. Pada dewasa biasanya 50 cc zat kontras, sementara pada anakanak 1cc/kg berat badan

Prosedur
Foto polos abdomen : melihat kelainan sebelum ada zat kontras, menilai persiapan pasien, pengaturan KV dan mAS serta posisi. Tes alergi zat kontras Injeksi zat kontras. Durasi berkisar antara 30 detik sampai 1 menit. Kompresi dilakukan saat injeksi zat kontras selesai (jika tidak terdapat kontraindikasi.)

Teknik kompresi meningkatkan pengisian sistem pelvokalises dan ureter proksimal. Teknik kompresi tidak boleh dilakukan jika : Kecurigaan terhadap batu ureter atau massa abdomen (sulit membedakan efek kompresi dengan efek tahanan akibat batu) Aneurisma aorta abdominalis (dapat mengakibatkan ruptur). Pasien baru menjalani operasi abdomen. Nyeri perut yang hebat. Trauma abdomen akut Posisi Trendelenburg sebagai alternatif teknik kompresi

Ambil foto serial pada waktu: Segera setelah injeksi zat kontras selesai (Menit ke-1 sampai ke3) Fase nefrogram . Memperlihatkan parenkim ginjal Menit ke-5. Melihat fase ekskresi ginjal, mulai tampak menit ke-2 sampai menit ke-8 bergantung pada status hidrasi pasien, kecepatan zat kontras diinjeksikan serta adanya kelainan pada ginjal. Menit ke-15. Sistem pelvokalises. Kompresi dapat dilepas jika sistem pelvokalises sudah tampak dengan jelas. Menit ke-30. Foto setelah kompresi dilepas, melihat keseluruhan traktus urinarius dari ginjal hingga vesica urinaria. Menit ke-45 atau ke-60. Foto ini melihat vesica urinaria dalam keadaan penuh. Jika vesica urinaria telah penuh, dilakukan foto pasca miksi.

Expertise
Hal yang dinilai adalah :
Fase nefrogram Fungsi eksresi Pasase kontras Besar, bentuk dan posisi ginjal Sistem pelvokalises, ureter, dan vesica urinaria Luput lesi dan bayangan tambahan juga perlu diperhatikan

Komplikasi
Alergi zat kontras Nefropati yang diinduksi zat kontras

PIELOGRAFI RETROGRAD
Pielografi retrograd pemeriksaan nonfungsional menilai traktus urinarius dengan zat kontras secara retrograd (berlawanan dengan arah urin) ke sistem pelvokalises melalui kateter ureter. Pemeriksaan pielografi retrograd bersifat nonfungsional Bertujuan untuk menentukan lokasi obstruksi

Indikasi
Memperlihatkan lokasi, panjang, dan batas bawah dari suatu obstruksi Memperkirakan penyebab obstruksi Memperlihatkan sistem pelvokalises jika tidak dapat dilakukan dengan urografi intravena (pada kasus gagal ginjal atau alergi zat kontras intravena)

Kontraindikasi
Infeksi akut traktus urinarius Alergi zat kontras Ibu hamil

Persiapan
Pemasangan kateter ureter melalui orifisium vesikoureter dipandu oleh sistoskopi Pasien diminta untuk minum beberapa jam sebelum pemeriksaan agar terdapat volume urin yang cukup untuk pengambilan spesimen jika diperlukan Informed consent

Prosedur
Kateter ureter terpasang, spesimen urin dapat diambil untuk pemeriksaan laboratorium. Foto AP sebelum pemberian zat kontras. Zat kontras diinjeksikan dengan panduan fluoroskopi. Sekitar 3-5cc biasanya cukup untuk menggambarkan sistem pelvokalises yang normal. Hentikan injeksi zat kontras jika pasien merasa nyeri atau merasa sensasi penuh di pinggang. Posisi kepala dapat direndahkan 10-15 derajat agar zat kontras mengisi sistem pelvokalises. Setelah sistem pelvokalises diperiksa, maka posisi kepala dapat ditinggikan agar zat kontras memasuki ureter.

Posisi foto yang diambil adalah posisi AP RPO (untuk melihat sistem pelvokalises ginjal kiri secara en profile dan ginjal kanan secara en face) LPO (untuk melihat sistem pelvokalises ginjal kanan secara en profile dan ginjal kiri secara en face) Lateral (untuk melihat PUJ pada pasien dengan hidronefrosis) Kateter ureter dapat ditinggalkan di pelvis renalis setelah pemeriksaan untuk drainase pada kasus obstruksi.

Expertise
Nilai pasase kontras Anatomi dari sistem pelvokalises serta ureter Perhatikan adanya luput lesi dan bayangan tambahan Jika ada obstruksi, tentukan batas atas dan batas bawah dari obstruksi tersebut

Gambar 1. Anatomi traktus urinarius dengan pemeriksaan pielografi retrograd.1 A. Kaliks minor B. Kaliks mayor C. Pelvis renalis D. Pelvoureter junction (PUJ) E. Ureter proksimal F. Ureter distal G. Vesica urinaria

Retrograde pyelography pada collecting system kiri terlihat moderate hydronephrosis dan hydroureter .

Komplikasi
Alergi zat kontras (risiko masih lebih kecil dari alergi zat kontras intravena) Pielitis kimiawi (akibat zat kontras yang tetap tertahan di sistem pelvokalises) Ekstravasasi akibat overdistensi dari sistem pelvokalises Infeksi Trauma iatrogenik pada traktus urinarius

PIELOGRAFI ANTEGRAD
Pielografi antegrad pemeriksaan nonfungsional menilai traktus urinarius dengan zat kontras secara antegrad (searah dengan arah urin) ke sistem pelvokalises melalui kateter nefrostomi. Pemeriksaan ini bertujuan menentukan lokasi obstruksi

Indikasi
Memperlihatkan lokasi dari suatu obstruksi. Memperlihatkan sistem pelvokalises jika tidak dapat dilakukan dengan urografi intravena (pada kasus gagal ginjal atau alergi zat kontras intravena), pielografi retrograd Sebagai bagian dari pemeriksaan nefrostomi perkutan.

Kontraindikasi
Infeksi akut traktus urinarius. Alergi zat kontras. Ibu hamil. Diastasis hemoragika. Kemungkinan penyakit ginjal hidatidosa.

Persiapan
Pemasangan kateter nefrostomi dipandu oleh ultrasonografi atau fluoroskopi Informed consent

Prosedur
Foto AP sebelum pemberian zat kontras. Zat kontras diinjeksikan dengan panduan fluoroskopi. Zat kontras dimasukkan ke dalam selang nefrostomi sampai anatomi dari sistem pelvokalises terlihat. Hentikan pemberian zat kontras, ketika pasien merasa sakit atau sensasi penuh di pinggang. Zat kontras yang tertahan pada kasus-kasus obstruksi harus dikeluarkan agar tidak menyebabkan pielitis kimiawi.

Posisi foto yang diambil adalah posisi AP RPO (untuk melihat sistem pelvokalises ginjal kiri secara en profile dan ginjal kanan secara en face) LPO (untuk melihat sistem pelvokalises ginjal kanan secara en profile dan ginjal kiri secara en face) Lateral (untuk melihat PUJ pada pasien dengan hidronefrosis)

Expertise
Nilai pasase kontras Anatomi dari sistem pelvokalises serta ureter Perhatikan adanya luput lesi, bayangan tambahan, dan ekstravasasi kontras

Komplikasi
Alergi zat kontras (risiko masih lebih kecil dari alergi zat kontras intravena). Pielitis kimiawi (akibat zat kontras yang tetap tertahan di sistem pelvokalises). Perdarahan perirenal dan intrarenal. Hematuria. Pneumotoraks. Infeksi. Nyeri. Urinoma. Fistula arteriovena. Luka tusuk pada organ sekitar.

URETRORAFI RETROGRAD
Uretrografi retrograd atau ascending urethrography pemeriksaan radiologi menggunakan zat kontras menilai keadaan uretra pria. Zat kontras diinjeksikan secara retrograd dari uretra bagian distal ke bagian proksimal

Indikasi
Ruptur uretra. Striktur uretra. Kelainan kongenital. Abses periuretra atau abses prostat. Fistula yang berhubungan dengan uretra. Divertikula uretra. Obstruksi uretra. Hematuria dengan kecurigaan ruptur uretra. Infeksi saluran kemih yang berulang. Aliran urin yang menurun. Tumor pada uretra.

Kontraindikasi
Infeksi saluran kemih akut

Persiapan
Informed consent Pasien diposisikan berbaring miring 35-400.

Penis diletakkan ke lateral di atas paha bagian proksimal dengan traksi yang adekuat
Plaster untuk melakukan traksi pada penis. Traksi diperlukan agar uretra dapat dinilai dengan baik

Prosedur
Dilakukan traksi pada penis, (Usahakan agar uretra tidak superposisi dengan tulang). Jika penis ditraksi ke lateral kanan, maka fleksikan lutut kanan sehingga kaki kanan berada di bawah paha kiri, lakukan hal yang sebaliknya jika penis ditraksi ke lateral kiri. Gunakan teknik aseptik pada saat pemasangan kateter (ukuran 16-18F pada orang dewasa). Masukkan ujung kateter pada fossa navikularis (sekitar 1,5cm) dan gembungkan balon dengan 1-1,5cc air.

Prosedur
Tidak disarankan untuk menggunakan lubrikasi karena menyebabkan ujung kateter mudah terlepas. Sekitar 20-30cc zat kontras water soluble yang mengandung iodium dengan konsentrasi 300 mg/mL diinjeksikan. Usahakan agar tidak ada udara yang masuk dengan menegakkan spuit saat injeksi kontras. Jika terdapat udara, aspirasi zat kontras yang telah masuk dan masukkan kembali zat kontras dengan posisi spuit tegak. Ambil foto kembali setelah pengisian kontras selesai dilakukan

Expertise
Hal yang perlu dinilai adalah : pasase kontras Besar, bentuk dan posisi dari uretra dan kelainannya Luput lesi, bayangan tambahan, dan ekstravasasi kontras juga harus dinilai

Urethral trauma

Calculi with urethral stricture

Komplikasi
Infeksi saluran kemih Trauma uretra

SISTOGRAFI RETROGRADE
Sistografi retrograd pemeriksaan radiologi dengan zat kontras dimasukkan melalui kateter ke dalam vesica urinaria. Pemeriksaan ini bersifat non-fungsional. Disebut retrograd karena zat kontras dimasukkan melawan arah urin

Indikasi
Infeksi saluran kemih yang berulang. Suspek ruptur buli. Batu. Tumor. Peradangan. Divertikula. Fistula yang berhubungan dengan vesica urinaria. Integritas anastomosis atau jahitan pasca operasi. Inkontinensia. Hematuria. Menilai volume urin pasca miksi.

Kontraindikasi Kehamilan Ruptur uretra

Persiapan
Pasien mengosongkan vesica urinaria sebelum pemeriksaan agar zat kontras tidak mengalami dilusi. Miksi sebelum pemasangan kateter diperlukan informasi volume sisa urin pasca miksi dapat diperoleh. Informed consent

Prosedur
Pasien diminta mengosongkan urin sebelum pemasangan kateter. Gunakan teknik aseptik pada saat pemasangan kateter. Ujung kateter dimasukkan ke dalam vesica urinaria. Tampung urin yang keluar dan catat volumenya. Masukkan zat kontras melalui kateter. Zat kontras yang dimasukkan adalah zat kontras water soluble yang mengandung iodium dengan konsentrasi 150 mg/mL. Foto AP dan obliq

Sistografi Retrograde

Uretrosistografi Retrograd
Uretrosistografi retrograd pemeriksaan radiologi menggunakan kontras menilai uretra dan vesica urinaria. Zat kontras dimasukkan secara retrograd melalui orifisium uretra eksternus. Merupakan kombinasi pemeriksaan uretrografi retrograd dan pemeriksaan sistografi retrograd.

Uretrosistografi Bipolar
Uretrografi bipolar pemeriksaan radiologi menggunakan zat kontras menilai uretra dari aspek distal dan dari proksimal. Zat kontras diinjeksikan secara retrograd dari uretra bagian distal ke proksimal. Zat kontras juga diinjeksikan melalui kateter sistostomi mengisi vesica urinaria pasien diminta untuk BAK sehingga zat kontras akan mengisi uretra dari aspek proksimal.

Indikasi Menilai batas proksimal dan batas distal dari suatu obstruksi (striktur, batu, tumor) di uretra.

Kontraindikasi Alergi zat kontras

Prosedur Pasien diposisikan , traksi pada penis Masukkan ujung kateter pada fossa navikularis. Sekitar 20-30cc zat kontras water soluble diinjeksikan hingga mencapai batas distal dari obstruksi. Ambil foto setelah pengisian kontras selesai dilakukan. Batas distal obstruksi terlihat dari pemeriksaan tahap pertama ini.

Berikutnya sistografi melalui kateter sistostomi menentukan batas proksimal dari obstruksi. Zat kontras yang dimasukkan adalah zat kontras water soluble Setelah vesica urinaria terisi penuh, ambil foto. Pasien diminta untuk miksi. Bladder neck akan terbuka dan zat kontras akan masuk ke uretra. Batas proksimal dari obstruksi dapat terlihat dari pemeriksaan tahap kedua ini. Ambil foto kembali.

Komplikasi Ruptur uretra atau vesica urinaria. Alergi. Sistitis yang diinduksi zat kontras.

Voiding Cystourethrography
Nama lain micturating cystourethrography. Menilai katup vesikoureter

Indikasi Kecurigaan refluks vesikoureter. Mencari faktor predisposisi infeksi saluran kemih berulang pada anak-anak. Menilai uretra saat miksi. Stress incontinence. Hidronefrosis.

Kontraindikasi Infeksi saluran kemih akut

. Prosedur3 Kateter dihubungkan dengan infus set berisi kontras, teteskan kontras VU terisi secara gravitas (menyerupai keadaan fisiologis normal) Ketinggian botol infus tidak lebih dari 100cm Tetesan melambat hingga berhenti jika VU terisi penuh. Melalui fluoroskopi, perhatikan refluks vesikoureter Jika refluks pengisian zat kontras dihentikan. Ambil foto pada posisi AP, RPO, dan LPO.

Jika refluks belum terjadi , tetesan infus sudah berhentiKlem kateter urin. Minta agar pasien miksi. Pada pasien anak yang tidak bisa diminta untuk miksi, rangsangan dengan kapas alkohol yang dioleskan di daerah suprapubis Perhatikan refluks vesikoureter saat pasien miksi.

HSG
Adalah pemeriksaan yang akurat untuk menilai uterus dan patensi tuba. Waktu pemeriksaan : pada hari ke 9-10 sesudah haid mulai Bahan kontras : Lipiodol ultrafluid Urografin 60% (meglumin diatrizoate 60% atau sodium diatrizoate 10%) Endografin (meglumine iodipamide) Diginol viscous (sodium acetrizoate puls dextran) Salpix (sodium acetrizoate plus polyvinyl pyrolidone) Isopaque (metrizoate)

Indikasi : Indikasi utamanya adalah infertilitas baik primer maupun sekunder, untuk melihat patensi tuba - paten : terjadi pelimpahan kontras ke dalam rongga peritoneum Untuk menentukan apakah IUD masih ada dalam kavum uteri Perdarahan pervaginam sedikit, misalnya karena mioma uteri, polip endometrium, adenomatorus Abortus habitualis dalam trisemester kedua

Sesudah sectio caesaria - untuk melihat parut-parut pada serviks dan uterus Tumor maligna kavum uteri Graviditas ekstra-uterin yang lanjut Sebelum Inseminasi buatan - untuk melihat apakah ada kelainan pada traktus genitalis

Kontraindikasi : Proses-proses inflamasi akut pada abdomen Pada hamil muda Perdarahan pervaginam yang berat Infeksi vagina Setelah kuretase atau dilatasi kanalis servikalis Penyakit ginjal dan jantung Sebelum dan sesudah menstruas

Komplikasi : Nyeri Infeksi Reaksi vasovagal Intravasasi vena Reaksi alergi terhadap kontras media

Prosedur HSG
Waktu optimum adalah hari ke 9-10 setelah haid karena diperkirakan pada waktu tersebut uterus sudah tenang. Sejak awal menstruasi sampai pemeriksaan pasien dilarang coitus. Dilakukan pembuatan foto polos posisi litotomi dengan atau tanpa fluoroskopi untuk mengetahui adanya tumor Dipasang spekulum, portio dijepit dimasukkan kontras melalui kanula.

Kontras dimasukkan ke rongga(intra caviter) kontras yang digunakan dapat berupa kontras ionik yang jarang menimbulkan alergi. Kontras yang dimasukkan pertama 5cc Perhatikan, apakah kontras masuk ke peritoneum atau tidak (peritoneal spill), atau terjadi obstruksi seperti misalnya fibrosis post infeksi sehingga kontras tampak menggembung (hydrosalphynx). Dilakukan pemotretan saat kontras masuk ke tuba dan saat peritoneal spill dengan posisi AP dan Oblik.

HSG normal Kanalis servikalis 3-4 cm (1/3 panjang uterus), bentuknya lonjong Ismus antara kavum uteri dan kanalis servikalis lebih sempit Ostium uteri internum tampak seperti penyempitan pendek Kavum uteri berbentuk segitiga, sisi dan fundus uteri lurus atau konkaf

Fundus kadang-kadang konfeks dan lebih lebar daripada panjang uterus Jarak kornu kanan dan kiri rata-rata 3,5 cm Sfingter kornu berbentuk seperti bawang Apeks kornu langsung berkanjut pada ismus tuba yang nampak seperti garis potlot pada radiogram dan jalannya bergelombang kemudian melebar sebagai ampula tuba

Tubal disease Penyebab oklusi tuba : PID,endometriosis,postpuerperal infection,tuberculosis

HSG showing a normal uterus and blocked tubes No "spill" of dye is seen at the ends of the tubes Both tubes are also slightly dilated and fluid filled -hydrosalpinx

Salpingitis

Polyp