Anda di halaman 1dari 17

Case Report

INVERTED PAPILLOMA Oleh CHAIRUL ADILLA ARDY 0818011011

Pembimbing dr. Hadjiman Yotosoedarmo. Sp. THT dr. Rully Satriawan

Kepaniteraan Klinik RSUD A. Yani Metro Fakultas Kedokteran Universitas Lampung Juli 2012

Anamnesa Keluhan utama

Keluhan tambahan Riwayat Perjalanan Penyakit: Pasien merasakan keluhan terdapat benjolan pada hidung kanan yang dirasakan sudah sejak 1 tahun yang lalu. Benjolan awalnya kecil dan kelamaan semakin membesar serta menyumbat hidung pasien. Keluhan dirasakan terus menerus dan makin lama makin memberat. Hidung tersumbat dirasakan hanya sebelah kanan yang tidak dipengaruhi oleh perubahan cuaca atau debu. Benjolan tersebut tidak dirasakan nyeri maupun gatal. Penciuman pasien dirasakan sedikit berkurang. Keluarga pasien menyangkal bersin-bersin, hidung berdarah, hidung meler maupun mencium bau-bauan yang busuk. Tidak ada keluhan rasa menelan ingus. Nyeri pada daerah muka tidak dirasakan. Pasien menyangkal terdapat keluhan pada telinga berupa pendengaran berkurang, mendengar bunyibunyian, sakit pada telinga maupun keluar cairan pada telinga. Pasien juga menyangkal terdapat benjolan pada leher. Selama 1 tahun ini, pasien tidak pernah berobat sebelumnya. Dikarenakan pasien merasa keluhannya tidak membaik kemudiann pasienb datang berobat ke RSAY.

: Benjolan pada hidung kanan sejak 1 tahun yang lalu : Hidung kanan tersumbat

Riwayat Penyakit Dahulu: Pasien pernah mengalami keluhan yang sama pada hidung kanannya dan telah dilakukan operasi pada tahun 2003 di RSAM. Pasien menyangkal memiliki riwayat darah tinggi Pasien menyangkal memiliki riwayat kencing manis Pasien menyangkal memiliki benjolan di tempat lain.

Riawayat Penyakit Keluarga: Tidak ada keluarga yang mengalami hal serupa

Pemeriksaan Fisik: Status Generalis

: Dalam Batas Normal

Status THT : Telinga Daun Telinga : dalam batas normal Liang Telinga : dalam batas normal Belakang Telinga : dalam batas normal Membran Timpani : dalam batas normal Tes Pendengaran : dalam batas normal Hidung Hidung Bagian Luar : Dalam batas normal Pem. Rhinoskopi Anterior : Pada kavum nasi dextra ditemukan massa lunak, bergranul, multiple, permukaan tidak rata, berwarna merah muda pucat, hampir menutupi seluruh kavum nasi dextra. Pemeriksaan Sinus Paranasal : Tidak dilakukan Pemeriksaan Rhinoskopi Posterior : Tidak dilakukan

Tenggorokan Dalam batas normal Leher Kelenjar limfe submandibula: tidak teraba membesar Kelenjar limfe servikal: tidak teraba membesar

Pemeriksaan Penunjang >>Pemeriksaan laboratorium Hb : 14,6 g% Ht : 44 % Leukosit : 7600/mm Trombosit: 252.000/mm GDS : 109 mg/dl >>Pemeriksaan Biopsi >>Pemeriksaan Histopatologi Didapatkan hasil sebagai berikut : Gambaran mikroskopis : Tampak sediaan massa tumor terdiri dari kelompok sel-sel bentuk bulat oval, poligonal berkelompokkelompok tersusun inverted Kesimpulan : Inverted papilloma Tidak ditemukan sel malignancy

Pemeriksaan Anjuran Pemeriksaan CT Scan Diagnosa Kerja Inverted Papilloma kavum nasi dextra

Diagnosis Banding Polip nasi Papilloma skuamosa Angiofibroma Keganasan

Penatalaksanaan Medikamentosa
Ceftriaxone 2 x 1 gr (iv) Asam mefenamat 3 x 500 mg CTM 3 x 2 mg Vitamin C

Operatif Pada tanggal 18 Juli 2012 telah dilakukan operasi ekstripasi dan eksplorasi dalam narkose umum dengan tindakan bedah berupa unsinektomi dan etmoidektomi posterior. Prognosa Ad vitam : ad bonam Ad functionam : ad bonam Ad sanationam : ad bonam

INVERTED PAPILLOMA
Defenisi Inverted papiloma tumor jinak, hiperplasi epitel yang tumbuh dan masuk ke dalam jaringan stroma di bawahnya membentuk kripte, membrana basalis tetap utuh. >> mempunyai kemampuan untuk merusak jaringan sekitarnya >> cenderung kambuh >> ganas karsinoma epidermoid

EPIDEMIOLOGI >> jarang ditemukan, timbul hanya sekitar 10% di sinonasal. >> 35-60 tahun, laki-laki : perempuan 2:1 sampai 3:1. >> tempat tersering timbul dinding lateral hidung dan jarang vestibulum, septum, dasar nasofaring, sinus spenoid dan sinus frontal ETIOLOGI >> alergi >> inflamasi kronik >> Karsinogen >> infeksi virus papiloma

DIAGNOSIS DAN EVALUASI Gejala sumbatan hidung unilateral, sakit kepala, epistaksis, nyeri wajah, bengkak periorbita, rinore purulent, sinusitis kronik, alergi, hiposmia, gangguan penglihatan dan meningitis. Gold standar untuk evaluasi Pem. endoskopik dan CT Scan hidung dan sinus paranasal Asal Konka media dan dinding medial sinus maksila Karakteristik klinis : 1) cenderung timbul kembali. 2) Tumor mempunyai kapasitas destruksi pada jaringan dan struktur sekitarnya. 3). Tumor mempunyai kecenderungan menjadi ganas Pemeriksaan fisik massa polipoid unilateral, ireguler dan rapuh, mudah berdarah. Warna papiloma merah keabu-abuan dan mengisi kavum nasi, meluas ke vestibulum juga ke nasofaring. Septum sering terdesak .

HISTOPATOLOGI 3 subtipe tipe inverted, tipe fungiform (everted) dan tipe silindrikal. Makroskopik terlihat seperti polip, ttp lebih keras dan lebih vaskular , tonjolan bergranular, variasi warna dari merah, merah muda sampai pucat. Mikroskopik penebalan epitelial, invasi kedalam dasar dari stroma. Tumor mengisi ruang bawah mukosa yaitu daerah subepitelial dan terus membentuk hubungan ke permukaan epitelial pertumbuhan papiloma inverted. RADIOLOGI Untuk menentukan perluasan penyakit dan keterlibatan struktur yang Tomografi komputer potongan aksial dan koronal >>Dapat dibedakan lesi papilomatous dengan penebalan mukoperiosteal, atau polip. >>derajat kerusakan tulang. CT Scan >>untuk mendeteksi perkiraan asal tumor

PENATALAKSANAAN >> terapi medikmentosa, >> radioterapi >> terapi operasi paling dianjurkan Krouse mengembangkan sistem staging berdasarkan temuan radiologi dan endoskopi preoperasi.
I. Tumor terbatas pada satu sisi kavum nasi tanpa perluasan ke sinus paranasal. II. Tumor melibatkan dinding medial sinus maksila, sinus etmoid dan/atau komplek ostiomeatal III. Tumor meluas ke superior, inferior, posterior, anterior atau dinding lateral sinus maksila, sinus frontal atau sinus spenoid IV. Tumor perluasan ke ekstrasinonasal atau tumor berubah ganas.

Perencanaan tindakan pembedahan sesuai staging I dapat diangkat secara endoskopik tanpa reseksi tulang. II secara endoskopik dengan mereseksi stuktur tulang. III endoskopi dipakai jika visualisasi memungkinkan, pendekatan maksilektomi medial bisa digunakan. IV open surgical untuk mendapatkan maksimal eksposur

KOMPLIKASI Pendekatan eksternal >> perdarahan pasca operasi, >> edema periorbita, >> epifora, diplopia, >> infeksi dan bocornya liquor cerebrospinalis (LCS) segera setelah operasi.

Pendekatan endoskopik Komplikasi mayor 1. Kematian 2. Perdarahan intrakranial 3. Kebutaan 4. Diplopia 5. Meningitis 6. Perdarahan masif 7. Hematom orbita 8. Kebocoran LCS

Komplikasi minor 1. Sinekia 2. Emfisema orbita 3. Nyeri gigi atau hipestesia 4. Eksaserbasi asma 5. Epifora 6. Hiposmia/anosmia 7. Penurunan visus

REKURENSI >> 0-78%, tergantung jenis operasi dan kesempurnaan reseksi. >> rinotomi lateral dan maksilektomi medial lebih rendah dibanding setelah dilakukan eksisi transnasal dengan operasi Caldwel-luc atau hanya dengan eksisi transnasal

TERIMA KASIH

Anda mungkin juga menyukai