Anda di halaman 1dari 50

Case Presentation Morbus Hansen ( Kusta )

Pembimbing dr. Rudianto sutarman Sp.KK disusun oleh: anne maylita djemat 030.07.026

Identitas
Nama : Tn. Sudihardi Jenis Kelamin: Laki-laki Umur : 37 Tahun Alamat : Cilegon Suku bangsa : Jawa Pekerjaan : Pelaut Pembayaran : Umum Tanggal Pemeriksaan : 4 September 2012

Anamnesis ( dilakukan autoanamnesis pada


tanggal 4 september 2012 pukul 10.30 )
Terdapat benjolan dilengan kanan dan kiri, wajah , dada , serta punggung yang disertai dengan rasa baal sejak 1 bulan SMRS

Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien laki-laki berusia 37 tahun datang dengan keluhan terdapat benjolan dilengan kanan dan kiri, wajah , dada , serta punggung atas

sejak 1 bulan SMRS. Os mengaku awalnya hanya berupa bintikbintik kemerahan yang kemudian timbul menjadi benjolan dan terdapat rasa baal pada benjolannya tersebut. Os tidak mengeluhkan

adanya gatal dan juga panas. Os berkerja sebagai seorang pelaut,


dan mengaku baru- baru ini pergi ke Papua.

Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien belum pernah mengalami penyakit seperti ini sebelumnya.

Riwayat hipertensi, DM, disangkal pasien.

Riwayat Penyakit Keluarga


Tidak ada keluarga yang pernah mengalami penyakit yang sama dengan pasien Riwayat atopi pada keluarga disangkal

Riwayat lingkungan
Disekitar tempat tinggal tidak ada yang mengalami

sakit seperti ini Di lingkungan perkerjaan tidak ada yang mengalami sakit seperti ini namun os menyatakan baru berpergian ke Papua kurang lebih 1 bulan lalu

Riwayat Pengobatan
Pasien kurang lebih sebulan sebelum berobat ke poli kulit RSUD Cilegon pernah memeriksakan penyakit ini ke klinik

dan diberikan obat:


Gentamicin cr Hidrokortison cr 3 jenis obat minum ( harus dihabiskan )

Pemeriksaan Fisik
STATUS GENERALISATA Keadaan Umum : Baik Kesadaran : Compos Mentis Tekanan Darah : Tidak Dilakukan Nadi : 88x/menit reguler Respirasi : 20 x/menit teratur Suhu : Afebris

Kepala Mata KGB THT

: madarosis (-) Fascies leonina (-), madarosis (: Konjungtiva Anemis (-), Sklera Ikterik (-) : Tidak ada pembesaran KGB : infiltrat telinga (+)

), saddle nose (-), lagoftalmus (-)

Thoraks
-Cor : BJ I/II reguler, Murmur (-) Gallop (-) -Pulmo : SN Vesikuler di kedua lapang paru, ronkhi (-/-),wheezing (-/-)

Abdomen
Ekstremitas

: supel, datar, bising usus (+) normal


: akral hangat, tidak ada edema dan sianosis

dikeempat ekstremitas

Pemeriksaan tambahan
Pemeriksaan saraf tepi N. Auricularis magnus: menebal D/S (+), nyeri D/S (-) N. Ulnaris: menebal D/S (-), nyeri D/S (-) N. Peroneus lateralis: menebal D/S (-), nyeri D/S (-) Fungsi saraf tepi a.Sensorik Sensasi raba: terganggu di dalam lesi dan tidak di luar lesi Sensasi nyeri: terganggu pada lesi Sensasi suhu: terganggu di dalam lesi b.Motorik Mata: lagoftalmus (-) Ekstremitas superior: tahanan sedang Ekstremitas inferior: tahanan sedang

c.Otonom

Kulit tampak kering dan retak-retak (fisura), ekstremitas inferior tampak oedema

Status Dermatologis
Pada

wajah terdapat plakat eritematous Pada dada terdapat adanya plakat eritematous Pada lengan dekstra dan sinestra terdapat plakat eritematous Pada tungkai bawah kanan terdapat plakat eritematous

Diagnosis Banding
Morbus

hansen Erupsi obat Tinea korporis

Pemeriksaan Penunjang
LABORATORIUM

Test lepra (negatif) SGOT/SGPT 29/35 mg/dl Ur / Cr 23,4- 0,6 mg/dl

DIAGNOSIS KERJA
Morbus

hansen multibasiler tipe borderline tuberkuloid

PENATALAKSANAAN
Obat dan dosis regimen MDT-MB,lesi >5 buah,selama 1 tahun
Dapson Dewasa Anak anak (10-14 th) 100 mg/hr 50 mg/hr Rimfamisin 600 mg/ bl,diawasi 450 mg/ bl,diawasi Klofazimin 50 mg/hr dan 300mg/bl diawasi 50 mg/hari dan 150mg/bl diawasi

Prognosis
Ad vitam Ad fungsionam Ad sanationam Ad cosmeticum : ad bonam : ad bonam : dubia ad bonam : ad bonam

Tinjauan Pustaka

Morbus Hansen ( Lepra / Kusta )

Definisi
Adalah penyakit kronis yang disebabkan oleh infeksi mycobacterium leprae yang pertama menyerang saraf tepi , selanjutnya dapat menyerang kulit, mukosa mulut , saluran nafas bagian atas, sistem retikuloendotelial , mata , otot, tulang dan testis.

Sinonim
Kusta , Lepra

Epidemiologi
Cara penularaan bisa melalui kontak langsung yang lama dan erat , bisa juga melalui inhalasi . Kusta bukan penyakit keturunan.Kuman dapat ditemukan dikulit, rambut, kelenjar keringat dan air susu ibu , serta dapat juga ditemukan melalui sputum yang berasal dari traktus respiratorius atas.

Etiologi
M. Leprae atau kuman Hansen adalah kuman penyebab penyakit kusta yang ditemukan oleh sarjana dari Norwegia GH Armauer Hansen pada tahun 1873. Kuman ini bersifat tahan asam , berbentuk batang dengan ukuran 1-8 , lebar 0,20,5 , biasanya berkelompok , hidup dalam sel terutama jaringan yang bersuhu dingin dan tidak dapat diukur dengan media buatan. Kuman ini juga menyebabkan infeksi sistemik pada binatang Armadio.

Patogenesis

Cara masuk kuman lepra kedalam tubuh belum diketahui secara pasti, tetapi yang tersering adalah melalui kulit yang lecet pada bagian tubuh yang bersuhu dingin dan melalui mukosa nasal.

Pengaruh M.leprae terdadap kulit bergantung dari imunitas seseorang , kemampuan hidup m.leprae pada suhu yang rendah, waktu regenerasi yang lama serta sifat kuman yang avirulen dan non toksis

M.leprae merupakan parasit obligat intraselular yang terutama terdapat pada sel magrofag disekitar pembuluh darah

superfisial pada dermis dan sel Schwaan di jaringan saraf.

Bila kuman M.leprae masuk ke dalam tubuh maka tubuh akan bereaksi mengeluarkan magrofag untuk memfagositosisnya

Kusta tipe LL terjadi kelumpuhan imunitas selular, sehingga magrofag tidak mampu menghancurkan kuman , kemudian kuman akan bermultiplikasi dengan

bebas yang seterusnya akan merusak jaringan.

Kusta tipe TT memiliki kemampuan fungsi imunitas selular tinggi, sehingga magrofag sanggup menghancurkan kuman. Tetapi setelah semua kuman di

fagositosis , magrofag akan berubah menjadi sel epiteloid yang tidak bergerak
dan aktif dan bersatu menjadi sel datia langerhans. Bila tidak segera diatasi akan menimbulkan kerusakan saraf dan jaringan sekitarnya

Sel schwann merupakan target untuk pertumbuhan kuman M.leprae , disamping itu sel schwann berfungsi sebagai dimielinisasi dan hanya sedikit fungsinya sebagai fagositosis. Jadi bila terjadi gangguan imunitas tubuh pada sel schwann, kuman dapat bermigrasi dan beraktivasi. Akibatnya regenasi saraf berkurang dan terjadi kerusakan saraf yang progesif.

Klasifikasi
1.

Klasifikasi madrid

Intermediate ( I )
Tuberkuloid ( T ) Borderline- dimorphous ( B ) Lepromatosa ( L )

2. -

Klasifikasi ridley and jopling Tuberkuloid ( TT ) Borderline tuberkuloid ( BT )

Mid- Borderline( BB )
Borderline lepromatous ( BL ) Lepromatosa ( L )

3. -

Klasifikasi WHO dan modifikasi WHO Pausibasilar ( PB )

Hanya kusta tipe I , TT dan sebagian besar BT dengan BTA negatif menurut kriteria
Ridley dan Jopling atau tipe I dan T menurut klasifikasi Madrid
-

Multibasiler ( MB )

Termasuk kusta tipe LL,BL,BB dan sebagian BT menurut kriteria Ridley dan Jopling atau B dan L menurut Mdrid dan semua tipe kusta dengan BTA positif

4. Pada pasien dengan pengobatan :


-

Bila pada awal diagnosis tipe MB, tetap diobati sebagai MB apapun hasil pemeriksaan BTA-nya saat ini Bila pada awal diagnosis tipe PB, harus dibuat klasifikasi baru bedasarkan gambaran klinis dan hasil BTA saat ini.

Perbedaan tipe PB dan MB menurut WHO PB 1. Lesi kulit ( makula yang datar , papul yang meninggi , infiltrat, plak eritem, nodus ) 1-5 lesi Hipopigmentasi/ eritema Distribusi tidak simetris >5 lesi Distribusi lebih simetris Hilangnya sensasi kurang jelas Banyak cabang saraf MB

2. Kerusakan saraf Hilangnya sensasi (menyebabkan yang jelas hilangnya Hanya satu cabang sensasi/kelemahan otot saraf yang dipersyarafi oleh saraf yang terkena)

Gejala klinis tipe PB


Karakteristik Tuberkuloid ( TT ) Borderline tuberculoid ( BT ) Intermediate (I)

Lesi Tipe

Menurut WHO ( gambaran klinis tipe PB )


Makula atau makula dibatasi infiltrat Makula dibatasi infiltrat saja beberapa atau satu dengan lesi satelit asimetris Makula

Jumlah
Distribusi Permukaan sensibilitas BTA Pada lesi kulit Tes lepromin

Satu atau beberapa


Terlokalisasi & Asimetris Kering, skuama hilang

Satu dengan lesi satelit


Asimetris Kering, skuama hilang

Satu atau beberapa


Bervariasi Dapat halus agak berkilat Agak terganggu

negatif Positif kuat(3+)

Negatif atau 1+ Postif (2+)

Biasanya negatif Meragukan(1+)

Gejala klinis tipe MB


Karakteristik Lepromatosa (LL) Borderline Lepromatosa( BL ) mid borderline ( BB )

Lesi Tipe

Menurut WHO ( gambaran klinis tipe PB )


Makula,infiltrat difus,papul, nodus Makula ,plak,papul Plak,lesi berbentuk kubah,lesi punched out

Jumlah

Banyak,disribusi luas,tidak ada kulit sehat


Simetris Halus dan berkilap Tidak terganggu

Banyak,tapi kulit sehat masih ada


Cenderung simetris Halus dan berkilap Sedikit berkurang

Beberapa,kulit sehat +

Distribusi Permukaan Sensibilitas BTA Pada lesi kulit Pada hembusan hidung Tes lepromin

Asimetris Sedikit berkilap dan beberapa lesi kering Berkurang

Banyak (globi) Banyak (globi) negatif

Banyak Biasanya tidak ada negatif

Agak banyak Tidak ada Biasanya negatif, dapat juga positif

Reaksi Kusta
Merupakan episode hipersensitivitas akut terhadap antigen basil yang menimbulkan gangguan keseimbangan imunitas yang telah ada. Reaksi tipe 1 disebabkan karena hipersensitifitas selular Reaksi tipe 2 disebabkan karena hipersensitifitas humoral

Reaksi tipe 1
Organ yang diserang Kulit Reaksi ringan Lesi kulit yang ada menjadi lebih eritematosa Reaksi berat Lesi kulit yang ada menjadi lebih eritematosa. Timbul lesi baru yang kadang disertasi panas dan malaise. Membersar, nyeri, fungsi terganggu. Berlangsung > 6 mgg Lesi kulit yang ada menjadi lebih eritematosa disertasi ulserasi atau edema pada tgn/ kaki Saraf membersar, nyeri, fungsi terganggu. Berlangsung selama ^ minggu atau > 6 mgg

Saraf

Membersar, tidak nyeri, fungsi tidak terganggu. Berlangsung < 6 mgg Lesi kulit yang ada menjadi lebih eritematosa Nyeri saraf Berlangsung < 6 mgg

Kulit dan saraf bersamasama

Reaksi tipe 2
Organ yang diserang Kulit Reaksi ringan Nodus sedikit, dapat berulserasi Demam ringan, malaise Membersar Tidak nyeri Fungsi tdk terganggu. Reaksi berat Nodus banyak, nyeri,berulserasi Demam tinggi, malaise Membersar Nyeri Fungsi terganggu.

Saraf

Mata

Lunak, tidak nyeri

Nyeri, penurunan visus dan merah sekitar limbus Lunak, nyeri dan membesar

Testis

Diagnosis
Diagnosis didasarkan penemuan tanda kardinal, yaitu : 1. Bercak kulit yang mati rasa 2. Penebalan saraf tepi 3. Ditemukan kuman tahan asam

Penunjang diagnosis
Pemeriksaan histopatologis Pemeriksaan serologis

Penatalaksanaan
Tujuan pengobatan adalah untuk memutuskan rantai penularan untuk menurunkan insiden penyakit ,menyembuhkan dan mengobati penyakit dan mencegah timbulnya cacat.

Medikamentosa

Obat dan dosis regimen MDT-PB,lesi kulit 2-5 buah, selama 6 bulan
Dapson Dewasa Anak- anak (10 -14th) 100 mg/ hr 50 mg/ hr Rimfamisin 600mg / bl,diawasi 450 mg/ bl,diawasi

Obat dan dosis regimen MDT-MB,lesi >5 buah,selama 1 tahun


Dapson Dewasa Anak anak (10-14 th) 100 mg/hr 50 mg/hr Rimfamisin Klofazimin

600 50 mg/hr dan mg/bl,diawasi 300mg/bl diawasi 450 50 mg/hari dan mg/bl,diawasi 150mg/bl diawasi

Obat dan dosis regimen MDT-PB lesi tunggal (dosis tunggal dan dimakan bersamaan)

Rimfamisin Dewasa Anak- anak (1014 th) 600 mg 300 mg

Ofloksasin 400 mg 200 mg

Minoksiklin 100 mg 50 mg

Penanganan reaksi kusta


Reaksi ringan : Non medikamentosa Istirahat, imobilisasi , berobat jalan Medikamentosa Aspirin 600-1200mg , tiap 4 jam , 4-6x perhari Klorokuin kombinasi dg aspirin, 3x150mg/hr Antimon 2-3 ml Talidomid mula-mula 400/hr berangsur-angsur diturunkan sampai 50mg/hr

Penanganan reaksi kusta


Reaksi berat Segera rujuk ke RS Reaksi tipe 1 : kortikosteroid Reaksi tipe 2 : klofazimin , talidomid , kortikosteroid sendirisendiri atau kombinasi

Upaya pencegahan cacat


Primer : Diagnosis dini Pengobatan teratur dan adekuat Pemeriksaan fungsi saraf perifer ( fungsi sensorik, motorik ) Sekunder : Mencegah luka Fisioterapi Bedah rekontruksi Perawatan mata

Prognosis
Ad vitam Ad fungsionam Ad sanationam Ad cosmeticum : ad bonam : ad bonam : dubia ad bonam : ad bonam