Anda di halaman 1dari 23

Trauma abdomen adalah kerusakan organ abdomen (lambung, usus halus, pankreas, kolon, hepar, limpa, ginjal) akibat

tenaga dari luar berupa benturan,perlambatan(deselerasi),dan kompresi(kempaan)benda tumpul

a.

b.
c. d.

e.
f.

Cedera pada Lambung dan Usus Halus Cedera pada Duodenum dan Pankreas Cedera pada Kolon Cedera pada Hepar Cedera pada Limpa Cedera pada Ginjal - Cedera Vaskuler - Cedera Parenkim

a.

Trauma Tumpul Abdomen nyeri tekan nyeri ketok nyeri lepas kekakuan dinding perut shifting dullness Trauma Tembus Abdomen Peritonitis sampai dengan sepsis Syok dan penurunan kesadaran

b.

.1Pemeriksaan X-Ray screening trauma tumpul pasien trauma tumpul dengan multitrauma Rontgen cervical lateral, Thorax AP dan pelvis AP. Rontgen foto abdomen tiga posisi (telentang, setengah tegak dan lateral decubitus) berguna untuk melihat adanya udara bebas dibawah diafragma ataupun udara di luar lumen di retroperitoneum Hilangnya bayangan psoas menunjukkan kemungkinan cedera retroperitoneal

2 Pemerikasaan X-Ray untuk screening trauma tajam .rontgen foto thorax tegak bermanfaat untuk menyingkirkan kemungkinan hemo atau pneumothorax, adanya udara bebas intraperitoneal. Pada pasien yang hemodinamiknya normal, pemasangan klip pada luka masuk maupun keluar dari suatu luka tembak dapat memperlihatkan jalannya peluru maupun adanya udara retroperitoneal pada rontgen foto abdomen tidur

3. Pemeriksaan dengan kontras yang khusus

Urethrografi sebelum pemasangan kateter harus dilakukan urethrografi, urine bila kita curigai adanya ruptur urethra.Pemeriksaan urethrografi digunakan dengan memakai kateter no.# 8F denganbalon dipompa 1,5-2cc di fossa naviculare. Dimasukkan 15-20 cc kontras yang diencerkan. Dilakukan pengambilan foto dengan projeksi oblik dengan sedikit tarikan pada pelvis

Sitografi Rupture buli-buli intra. Dipasang kateter urethra dan kemudian dipasang 300 cc kontras yang larut dalam air pada kolf setinggi 40 cmdiatas pasien dan dibiarkan kontras mengalir ke dalam bulu-bulu atau sampai (1)aliran terhenti (2) pasien secara spontan mengedan, atau (3) pasien merasa sakit.Diambil foto rontgen AP, oblik dan foto post-voiding

. Cara lain adalah denganpemeriksaan CT Scan (CT cystogram) yang terutama bermanfaat untukmendapatkan informasi tambahan tentang ginjal maupun tulang pelvisnya

Ct scan dan ivp Bilamana ada fasilitas CT Scan, maka semua pasien dengan hematuria dan hemodinamik stabil yang dicurigai mengalami sistem urinaria bisa diperiksa dengan CT Scan dengan kontras dan bisa ditentukan derajat cedera ginjalnya. Bilamanatidak ada fasilitas CT Scan, alternatifnya adalah pemeriksaan Ivp.

dipakai dosis 200mg J/kg bb kontras ginjal. Dilakukan injeksi bolus 100 cclarutan Jodine 60% (standard 1,5 cc/kg, kalau dipakai 30% 3,0 cc/kg) dengan 2 buahspuit 50 cc yang disuntikkan dalam 30-60 detik. 20 menit sesudah injeksi bila akanmemperoleh visualisasi calyx pada X-Ray. Bilamana satu sisi non-visualisasi,kemungkinan adalah agenesis ginjal, thrombosis maupun tertarik putusnyaa.renalis, ataupun parenchyma yang mengalami kerusakan massif.

Nonvisualisasikeduanya memerlukan pemeriksaan lanjutan dengan CT Scan + kontras, ataupunarteriografi renal atau eksplorasi ginjal; yang mana yang diambil tergantungfasilitas yang dimiliki

GastrointestinalCedera pada struktur gastrointestinal yang letaknya retroperitoneal (duodenum,colon ascendens, colon descendens) tidak akan menyebabkan peritonitis dan bisatidak terdeteksi dengan DPL. Bilamana ada kecurigaan, pemeriksaan dengan CTScan dengan kontras ataupun pemeriksaan RO-foto untuk upper GI Track ataupunGI tract bagian bawah dengan kontras harus dilakukan

CT-scan of a patient with a duodenal rupture, after blunt abdominal trauma. Arrows indicate extraluminal retroperitoneal air adjacent to the duodenum and under the liver.

Batas-batas abdomen. Di atas, diafragma. Di bawah, pintu masuk panggul dari panggul besar. Di depan dan dikedua sisi, otot-otot abdominal, tulang-tulang iliaka dan iga-iga sebelah bawah. Di belakang, tulang punggung, dan otot psoas dan quadrates lumborum. Isi abdomen. Sebagian besar dari saluran pencernaan, yaitu lambung, usus halus, usus besar, hati menempati bagian kanan atas, terletak di bawah diafragma, menutupi lambung dan bagian pertama usus halus. Kandung empedu terletak di bawah hati. Pancreas terletak di belakang lambung, dan limpa terletak dekat ujung pankreas. Ginjal dan kelenjar supra renal berada di atas dinding posterior abdomen. Ureter berjalan melalui abdomen dari ginjal. Aorta abdominalis, vena kava inferior, reseptakulum khili dan sebagian dari saluran torasika terletak didalam abdomen. Pembuluh limfe dan kelenjar, urat saraf, peritoneum dan lemak juga dijumpai dalam rongga abdomen.