Anda di halaman 1dari 61

STRATEGI PENATAAN ANGKUTAN KOTA DI WILAYAH PERKOTAAN

Disampaikan untuk kuliah SAU Oleh : Tedy Murtejo

Masalah Sistem Angkutan Umum Kita


Transportasi memiliki peranan vital dalam perkembangan dan kemajuan kegiatan perekonomian, sosial, dan budaya suatu wilayah; Penurunan kualitas pelayanan angkutan umum berdampak pada meningkatnya tingkat penggunaan kendaraan pribadi terutama sepeda motor dan menurunnya tingkat penggunaan angkutan umum; Permasalahan yang terjadi pada penyelenggaraan angkutan umum perkotaan di Indonesia saat ini meliputi permasalahan teknis, operasional, pengusahaan, serta perijinan.

Masalah (lanjutan)
Perencanaan: Kurangnya keterpaduan perencanaan, kurangnya sinkronisasi dan harmonisasi antara pembangunan (implementasi) dan perencanaan, serta tidak ada koordinasi antar wilayah sekitar Standard Pelayanan: Belum ada standar dasar untuk angkutan & pelayanan (SPM), kurang optimalnya sistem pengujian kendaraan. Sistem Kepemilikan: Sistem kepemilikan secara individu, menyewakan kendaraan kepada pihak ketiga, Banyak sopir angkot tidak ber SIM A Pendanaan/Subsidi: Sistem subsidi yang berlaku tidak langsung kepada pengguna

Gambaran Umum Existing Condition


Kondisi di Kampung Melayu yang menunjukkan angkot yang berjubel dan semrawut

Rumusan Masalah
Fungsi Faktual Angkot sebagai: Penegak periuk, ATM harian, pensiunan, penampung tenaga kerja, serta transportasi. Operasional: investasi, komposisi jenis bus, inefisiensi trayek, trayek tumpang tindih, melebihi kuota, dan rawan konflik horisontal. Perijinan & Kelembagaan: kontrol terhadap perizinan yang mulai diperketat, kepengusahaan angkot umumnya masih bersifat perorangan.

Orientasi pada PAD: belum sepenuhnya berorientasi pada pelayanan, pembinaan & pengawasan belum efektif, mekanisme penentuan trayek & jenis moda belum optimal.

Infrastruktur

Terminal Laladon di Kab. Bogor dan fasilitas Park&Ride di Terminal Baranangsiang (Kota Bogor)

Tujuan Sistem Angkutan Umum


Mendukung peningkatan kinerja pelayanan angkutan umum dengan baik yang telah beroperasi maupun yang belum dilaksanakan dengan cara memberikan suatu pedoman dan kriteria tentang strategi penataan angkutan perkotaan.
Untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan beberapa kegiatan: 1. Melakukan analisa dan evaluasi terhadap kinerja angkutan perkotaan di masing-masing wilayah kajian; 2. Menyusun Strategi Penataan Angkutan Kota Di Wilayah Perkotaan; 3. Menyusun Panduan tentang Strategi Penataan Angkutan Kota di Wilayah Perkotaan

Aspek Legalitas/Dasar Hukum Kegiatan


1. UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. 2. UU No. 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik.

3. UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.


4. PP No. 32 Tahun 2011 tentang Manajemen dan Rekayasa, Analisis Dampak serta Manajemen Kebutuhan Lalu Lintas. 5. PP No. 37 Tahun 2011 tentang Forum Lalu Lintas dan Angkutan Jalan 6. KM No. 35 Tahun 2003 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang di Jalan dengan Kendaraan Umum.

KEBUTUHAN PERJALANAN/HARI (JABODETABEK) Tahun 2010

TANGERANG

21.9 Juta
7,8 Juta 8,2 Juta BEKASI

SERPONG DEPOK

7,3 Juta

JAKARTA 21,9 Juta/Hr BODETABEK 23,3 Juta/Hr


Sumber : Studi JICA SITRAMP 2002/2004

BOGOR

Jumlah Penduduk Jabotabek


10.0
9.0 8.0 8.2 6.5 5.3 4.6 2.7 1.9 1.1 1.5 2.1 3.9 2.7 3.2

8.4

8.8

9.6

7.5
6.1

7.0 6.0
5.0 4.0

5.9 DKI Jakarta 5.0


Bogor

4.1

4.7 4.0

Tangerang
Bekasi

3.0 2.0
1.0

0.8
1970

1.1
1980 1990 2000 2010

Jumlah Kepemilikan Ranmor


8,000,000 7,000,000 6,000,000 5,000,000 4,000,000 3,000,000 2,000,000 1,000,000

Sepeda motor: 6.8 juta (2008/2000 4.17 kali lipat) Mobil: 2.0 juta 2008/2000 1.93 kali lipat Truk
Bus
1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008

PENDEKATAN DAN METODE


METODE
Survey pada pengusaha Survey pada pengemudi Survey pada pengguna Survey load factor Survey frekuensi

Kuantitatif

Kualitatif

Indepth interview (Regulator & Operator)

Mempertahankan tingkat pelayanan jaringan jalan

Meningkatkan & promosi penggunaan angkutan umum

Mengendalikan tingkat penggunaan kendaraan pribadi

Strategi Pengembangan Kebijakan Sistem Transportasi

Efisiensi penggunaan BBM

Mengendalikan tingkat pencemaran udara

Proses Pengumpulan Data


Penekanan penelitian ini pada wawancara mendalam (in-depth interview) kepada sejumlah tokoh kunci penentu kebijakan dan operasional di lapangan, antara lain:
Dinas Perhubungan dan/atau Bappeda DPC Organda dan Pengusaha angkot

Untuk sopir & penumpang angkot, pengumpulan data dilakukan dengan survey wawancara dengan metode random sampling

Wawancara Sopir Angkot di Terminal Poris Plawad, Tangerang

Wawancara di Terminal Bubulak, Bogor

Wawancara Penumpang B09 Jl. Perintis Kemerdekaan Tangerang

Assessment Survey Frekuensi & Load Factor

5. INTERPRETASI DATA
Menjelaskan proses entry data, proses interpretasi dan analisa menghasilkan temuan awal (preliminary fact findings) dalam penelitian ini

Data-data Survey
Survey Kualitatif: in-depth interview terhadap regulator & operator
Regulator : 9 pemda (Dishub dan Bappeda) Operator : 20 responden (pengurus & non-pengurus Organda)

Jumah Sampel light-interview:


Pengguna : 913 sampel (339 DKI + 574 Bodetabek) Sopir : 916 sampel (342 DKI + 574 Bodetabek)

Survey frekuensi & load factor: 40 trayek sampel (8 DKI Jakarta + 32 Bodetabek)

PENGUMPULAN DATA PENGGUNA ANGKUTAN UMUM

REKAPITULASI DATA
1 2 3 4 5 6 7 8 9 Keterangan Satuan DKI Bogor Bogor Tang. Tang. Tang. Bekasi Bekasi Depok Jakarta Kota Kab Kota Kab Sel Kota Kab Trayek Terdaftar unit 122 25 97 20 17 31 24 35 30 Sampel Sopir exp. 342 71 70 69 68 68 68 74 73 Sampel Penumpang exp. 339 71 70 69 68 68 68 74 73 Jumlah Angkot Riil unit 12,984 3,412 6,539 2,894 2,530 1,625 2,390 3,458 1,819 Jumlah Angkot IP unit n.a. n.a. n.a. n.a. n.a. 1,723 2,420 3,537 2,328 Frekuensi Rata2 veh/hr 67 93 77 42 61 19 71 40 28 Load Factor Rata2 0.2951 0.3738 0.3144 0.4702 0.2514 0.2484 0.3779 0.1873 0.1392

LOAD FACTOR RATA2 JABODETABEK

Sumber: Olad data sementara (September 2011)

FAKTA YANG ADA


Keberadaan Angkot di Jabodetabek tidak didasarkan pada skema perencanaan yang baik, melainkan berkembang secara alamiah yang didorong oleh adanya peluang bisnis jasa angkutan yang dimanfaatkan oleh para pemilik armada. Sesuai dengan karakteristiknya yang berkembang secara alamiah, angkot merupakan jenis usaha perorangan yang tidak menerapkan tata kelola (manajemen) yang baik. 1 armada angkot dijalankan oleh 1-2 orang sopir. Secara umum, bisnis angkot tergolong usaha padat karya, sehingga kompleksitas masalah cukup rumit.

FAKTA (LANJUTAN)
Latar belakang pemilik angkot pun sangat beragam; baik suku, ras, agama & profesinya. Proses pembukaan trayek baru umumnya berasal dari inisiatif masyarakat (pengusaha), dengan biaya yang diperlukan antara Rp 200 s/d 750 juta. Dana tersebut diperlukan untuk mengurus membiayai berbagai macam keperluan, baik yang resmi maupun tidak resmi.

DRAF REKOMENDASI (1)


Perlu ada masterplan transportasi yang jelas di wilayah Jabodetabek yang diterima oleh semua wilayah, dan mampu mendorong revitalisasi angkot menjadi moda angkutan andalan masyarakat. Mendorong percepatan transformasi kepemilikan angkot dari perorangan menjadi badan hukum melalui berbagai dialog.

DRAF REKOMENDASI (2)


Penataan angkot harus dimulai dari sisi hulu; yaitu penataan regulasi & perijinan trayek angkot. Oleh sebab itu, Pemda harus diberi panduan (grand design) penataan angkot yang efektif dan aplikatif. Prinsip-prinsip grand design penataan angkot harus mengakomodir unsur2 berikut:
Mampu mewujudkan kelancaran lalu lintas & menjamin mobilitas warga lebih lancar & efisien. Mampu mendorong peningkatan pendapatan & kesejahteraan pengusaha & awak angkutan. Mampu mendorong bisnis angkot yg bergairah; profesi sopir yg prospektif & terbina dgn baik.

REKOMENDASI UNTUK JAKARTA


Restrukturisasi trayek dengan berorientasi sebagai feeder untuk kereta dan Transjakarta Busway. Revitalisasi sejumlah koperasi & PT yang pernah ada di DKI Jakarta. Proses perencanaan paritipatif dengan melibatkan para pemilik & pengemudi angkot.

REKOMENDASI UNTUK BOGOR


Intensifikasi & ekstensifikasi program shift untuk angkot & AKDP (Bogor KotaKabupaten). Pengembangan Trans Pakuan sebagai moda angkutan massal yang handal. Penyusunan master plan transportasi Bogor Raya untuk jangka panjang sehingga bisa mengintegrasikan layanan antar wilayah.

REKOMENDASI UNTUK DEPOK


Peralihan dari angkot ke jenis moda dengan kapasitas lebih besar, khususnya pada jalanjalan protokol. Pensinergian rute angkot dengan jaringan kereta komuter Jakarta-Bogor

REKOMENDASI UNTUK TANGERANG


Menata ulang proses perizinan transportasi di ketiga wilayah, yaitu Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, dan Tangerang Selatan untuk memudahkan pembagian kewenangan maupun tanggung jawab pembinaan. Penataan ulang juga harus bersinergi dengan rencana pengembangan Bus Lane.

REKOMENDASI UNTUK BEKASI


Pemantapan rencana penerapan angkutan massal berbasis jalan yang terkoneksi langsung dengan TransJakarta Busway. Penataan rute angkot yang berorientasi sebagai feeder angkutan massal berbasis jalan maupun berbasis rel (kereta komuter). Pengembangan rute kereta komuter hingga Cikarang (Kab. Bekasi).

Mana Angkotnya neh, kok Motor Semua???

Lokasi: Cikarang, Kab. Bekasi

Terima Kasih |

Matur Nuwun

Thank You