Anda di halaman 1dari 133

GIZI BURUK

PENCEGAHAN, DETEKSI & PEMULIHAN


dr.BENNY SOEGIANTO, MPH
Disampaikan Pada Pelatihan Tatalaksana Balita Gizi Buruk Bagi Petugas Kesehatan, di Sumenep 23-24 November 2007

KECENDERUNGAN PREVALENSI K E P Di JAWA TIMUR (BERAT BADAN RENDAH & SANGAT RENDAH) BERDASAR HASIL SURVAI PSG
25 20 15 10 5 0 2001 2002 2003 2004 2005 2006
2

19.8 15.6 15.9 16.9 14.6 17.5

DI JAWA TIMUR TAHUN 2004


UMUR (BULAN) 0- 5 6 11 12 - 23 24 - 35 36 - 47 48 - 59 0 -59 KURANG GIZI (%) 0,7 6,2 15,4 19,6 19,3 19,8 14,6 GIZI BAIK (%) 99,3 93,8 84,6 80,4 80,7 80,2 85,4
3

KEADAAN GIZI BALITA DI JAWA TIMUR TAHUN 2006


UMUR (BULAN) 0- 5 6 11 12 - 23 24 - 35 36 - 47 48 - 59 0 -59 STATUS GIZI KURANG GIZI 1,9 % 7,8 % 18,0 % 22,2 % 21,4 % 21,2 % 17,5 % GIZI BAIK 98,1 % 92,2 % 82,0 % 77,8 % 78,6 % 78,8 % 82,5 %
4

KETERKAITAN MASALAH GIZI DAN KEMATIAN BALITA


Pneumonia Other 29% 20%

3 dari 4 kematian balita terjadi pada tahun pertama

Deaths associated with undernutrition 60%

Diarrhoea 12% Malaria 8%

Perinatal 22%

Measles HIV/AIDS 5% 4%
5

GAMBARAN ANAK KURUS DAN SANGAT KURUS (GAM) PSG 2006 - DI JAWA TIMUR
JUMLAH BALITA SEKITAR 3.000.000 KEJADIAN ANAK SANGAT KURUS SEKITAR 2.3 % KEJADIAN ANAK KURUS SEKITAR 6.8% KEJADIAN ANAK KURUS & SANGAT KURUS SEKITAR 9.1% TARGET UTK CTC 9.1% x 3.000.000 = 273.000 ANAK SANGAT KURUS 2.3% x 3.000.000 =69.000 KEJADIAN ANAK SANGAT KURUS YANG MENGALAMI KOMPLIKASI SEKITAR 15% PERLU STABILISASI (TFC) 15% x 69.000 = 10.350
6

MENGAPA TERJADI GANGGUAN PERTUMBUHAN BALITA


PADA USIA < 6 BULAN SEBAGIAN BESAR BAYI MASIH DISUSUI IBU MENDAPAT GIZI SEIMBANG & ZAT KEBAL DARI ASI ANAK JARANG SAKIT PERTUMBUHAN MASIH BAIK PADA USIA 6 BLN 12 BLN SEBAGIAN BAYI SUDAH MULAI DISAPIH PERLINDUNGAN ZAT KEBAL DARI ASI HILANG & PEMBERIAN MP-ASI KURANG MEMENUHI SYARAT 3J 1H ANAK MUDAH JATUH SAKIT PERTUMBUHAN MULAI TERGANGGU PADA USIA 12 BLN 24 BLN SEBAGIAN BESAR SUDAH TIDAK MENDAPATKAN ASI PERLINDUNGAN ZAT KEBAL DARI ASI TIDAK ADA & PEMBERIAN MP-ASI KURANG MEMENUHI SYARAT 3J 1H & ANAK MULAI TERPAPAR LEBIH 7 LUAS DENGAN LINGKUNGAN YANG KURANG SEHAT ANAK LEBIH SERING SAKIT

PENYEBAB MALNUTRISI
MALNUTRISI
ASUPAN GIZI INFEKSI PENYAKIT Perilaku/asuhan Ibu dan Anak Pelayanan Kesehatan, Lingkungan
Penyebab Langsung

Ketersediaan Pangan tingkat Rumah Tangga

Penyebab Tak Langsung

KEMISKINAN, PENDIDIKAN RENDAH, KETERSEDIANAN PANGAN, KESEMPATAN KERJA

Masalah Utama Masalah Dasar


8

KRISIS POLITIK DAN EKONOMI


Sumber : Unicef, 1998 The State of The Worlds Children

Masalah Gizi Dlm Siklus Kehidupan


USIA LANJUT KURANG GIZI

IMR, perkemb mental, risiko penyakit kronis pada usia dewasa

Kurang makan, sering infeksi, yankes kurang, pola asuh tidak memadai

BBLR
Gizi janin tidak baik

YanKes kurang memadai; Kons tidak seimbang

Proses Pertumbhn lambat, ASI ekslsf kurang, MP-ASI tidak benar

Tumbuh kembang terhambat

BALITA KEP
Konsumsi gizi kurang, pola asuh kurang

KEK S WU K KE B M IL A N B BU IK ) A E N NDA H (K E R
Sumber : Nutrition Throught The Life Cycle Prepared.2000

Pelayanan kesehatan tidak memadai

REMAJA & USIA SEKOLAH: GANGGUAN PERTUMBHN


Produktivitas fisik berkurang/rendah

MMR

Konsumsi Kurang

DAMPAK GIZI DAN KESEHATAN TERHADAP KUALITAS MANUSIA

GIZI KURANG DAN INFEKSI Tumbuh Kembang Otak Tidak Optimal Daya Pikir Rendah Mutu SDM Rendah

GIZI CUKUP DAN SEHAT Tumbuh Kembang Otak Optimal Anak Cerdas & Produktif Mutu SDM Tinggi ASSET
10

BEBAN

Sumber : FKM UI & Unicef, 2002

Grafik Pertumbuhan Otak dan Dampak Jangka Panjang


Investasi tepat waktu, hasil optimal 100%
Pertumbuhan otak

Investasi terlambat, hasil tidak optimal

80%

lost generation

Lahir

2 th

5 th

Umur
11

BENTUK GANGGUAN GIZI


GANGGUAN GIZI

PROSES

DERAJAT GANGGUAN

KRONIS

AKUT

BERAT

SEDANG

RINGAN

GIZI BURUK

12

DIAGNOSA GIZI BURUK

METODA UTAMA KLINIS DIDUKUNG DATA ANTROPOMETRIS

13

INDEKS ANTROPOMETRI
BB/U MENGGAMBARKAN ADA / TIDAK NYA GANGGUAN GIZI UMUM TB/U MENGGAMBARKAN ADA / TIDAK NYA GANGGUAN GIZI KRONIS BB/TB MENGGAMBARKAN ADA / TIDAK NYA GANGGUAN GIZI AKUT
14

KRITERIA GIZI BURUK (WHO-1998)


1. Secara klinis anak sangat kurus dan atau secara antropometris BB/PB < - 3 SD atau 2. Secara klinis anak kurus disertai edema pada kedua kaki
15

ADALAH : GANGGUAN GIZI AKUT & BERAT SECARA KLINIS : * SANGAT KURUS , LEMAK & OTOT TIPIS / HABIS atau * KURUS & BENGKAK PADA KEDUA KAKI SECARA ANTROPOMETRIS : * BB / PB < - 3 SD atau 16 * BB / PB < 70% Median atau

PENGERTIAN GIZI BURUK SECARA KLINIS DAN ANTROPOMETRIS

PENGAMATAN KLINIS CADANGAN LEMAK DAN OTOT BALITA GIZI BURUK


LEMAK DADA, PINGGUL & PUNGGUNG TIPIS : * DEPAN TULANG RUSUK, TULANG SELANGKA & TULANG PINGGUL TAMPAK NYATA * BELAKANG TULANG BELIKAT, TONJOLAN TL. PUNGGUNG & TL DUDUK TAMPAK NYATA LEMAK / OTOT ANGGOTA GERAK TIPIS : 17 * BAGIAN ATAS LENGAN TAMPAK KECIL

KEP - Gizi Buruk : Marasmus


Wajah spt orang tua

Rambut masih hitam

Iga gambang, sangat kurus

Atrofi otot, Lemak sangat tipis/habis 18

KEP - Gizi Buruk : Kwashiorkor

Kurus, Tulang Selangka & Tulang Rusuk Kelihatan

Edema
19

KEP-Gizi Buruk : Kwashiorkor

Crazy Pavement Dermatosis

20

KEP-Gizi Buruk : Kwashiorkor

Hepatomegali Edema

21

KELAINAN KULIT AKIBAT KEKURANGAN SENG (Zn)


Kulit mengelupas

22

LANGKAH- LANGKAH UNTUK MENURUNKAN KEJADIAN GIZI BURUK


MENCEGAH KEJADIAN KASUS GIZI BURUK MENEMUKAN SEMUA KASUS GIZI BURUK MEMULIHKAN SEMUA KASUS GIZI BURUK
23

MENCEGAH KEJADIAN KASUS GIZI BURUK


1. MENINGKATKAN PEMANTAUAN PERTUMBUHAN MELALUI REVITALISASI POSYANDU MENINGKATKAN D/S 2. MENYAMAKAN & MEMANTAPKAN PEMAHAMAN POLA TUMBUH BALITA DENGAN MEMAKAI KARTU MENUJU SEHAT (KMS) 5 POLA TUMBUH 3. MENINGKATKAN PENGENALAN DINI PENYIMPANGAN PERTUMBUHAN DNG KMS DI POSYANDU T1, T2, T3 4. MELAKUKAN TINDAK LANJUT TERHADAP PENYIMPANGAN DINI PERTUMBUHAN DENGAN MEMBERIKAN PENGOBATAN & NASEHAT PEMBERIAN MAKANAN & MINUMAN SEHAT PADAT GIZI T N1
24

DETEKSI KESEIMBANGAN GIZI DENGAN POLA TUMBUH DI KMS


POLA TUMBUH KEJAR N1 POLA TUMBUH NORMAL N2 POLA TUMBUH TIDAK MEMADAI T1 POLA TIDAK TUMBUH T2 POLA TUMBUH NEGATIF T3
25

POLA PERTUMBUHAN
N = Pertumbuhan baik
N1 : BB naik, grafik BB pindah masuk ke pita diatasnya Tumbuh Kejar N2 : BB naik, grafik BB tetap pada pita yang sama Tumbuh Normal T3

T1 N2 N1 T2

T = Pertumbuhan tidak baik


T1: BB naik, grafik BB pindah, masuk ke pita di bawahnya Tumbuh Tidak Memadai T2 : BB tetap Tidak Tumbuh T3 : BB berkurang Tumbuh Negatif

BGM

26

DETEKSI KESEIMBANGAN GIZI DI POSYANDU


Timbang Plot BB N1 Buat grafik Interpretasi N T N2 T1 T2 T3 Cari kemungkinan penyebab Tentukan penyebab Evaluasi Tentukan tindak-lanjut
27

SKDN/SKDT

PENYEBAB GANGGUAN
PERTUMBUHAN BALITA
1.DEMAM 2.PILEK, BATUK, SESAK NAFAS 3.DIAREA 4.INFEKSI TELINGA BERNANAH 5.TBC PARU
28

JEBAKAN MALNUTRISI
SUATU KEADAAN, DIMANA BERAT BADAN BALITA BERTAMBAH, NAMUN GRAFIK BERAT BADANNYA BERPINDAH KE PITA PERTUMBUHAN YANG LEBIH RENDAH (T1) KEADAAN GIZINYA MEROSOT, KARENA ASUPAN GIZI YANG TIDAK SEIMBANG
29

MENEMUKAN SEMUA KASUS GIZI BURUK


MELALUI USAHA BERSAMA ANTARA PEMDA & MASYARAKAT MEMAKAI KRITERIA YANG SAMA MELALUI BERBAGAI SARANA : a. PELAYANAN KESEHATAN : RS, PUSKESMAS, POLINDES b. MELALUI POSYANDU c. KUNJUNGAN RUMAH TERARAH KE KELUARGA BALITA YANG JARANG / 30 TIDAK BERKUNJUNG KE POSYANDU

MENEMUKAN KASUS GIZI BURUK KUNJUNGAN RUMAH TERARAH


PADA UMUMNYA ANAK GIZI BURUK LAHIR DENGAN BERAT BADAN NORMAL ANAK GIZI BURUK PADA UMUMNYA BUKAN PENGUNJUNG TETAP POSYANDU KETIDAKHADIRAN DI POSYANDU KARENA ADA HAMBATAN SOSIAL ANAK GIZI BURUK HANYA AKAN MUNCUL DI PELAYANAN KESEHATAN BILA MENDERITA ISPA ATAU DIAREA PERLU KUNJUNGAN RUMAH TERARAH PADA KELUARGA BERBALITA YANG JARANG HADIR DI POSYANDU UTK MENEMUKAN GIZI BURUK
31

MENYIAPKAN SISTEM RUJUKAN YANG BAKU MENYIAPKAN PUSAT STABILISASI (TFC) YANG MAMPU MELAKSANAKAN 10 LANGKAH TATALAKSANA GIZI BURUK MENYIAPKAN PUSAT (PANTI) PEMULIHAN GIZI DI MASYARAKAT UTK ANAK KURUS (WASTED) & GIZI BURUK MENYIAPKAN ANGGARAN, TERMASUK BIAYA MAKAN IBU YG MENUNGGUI DI TFC DIANGGAP BERHASIL, BILA ANGKA KEMATIAN KASUS (CFR) < 5 % 32

MEMULIHKAN SEMUA KASUS GIZI BURUK

PEMULIHAN BALITA GIZI BURUK


ASUHAN MEDIS

ASUHAN KEPERAWATAN

ASUHAN GIZI

33

PROSES KEJADIAN GIZI BURUK


LAHIR NORMAL

BB RENDAH, PENDEK, KURUS

Kegiatan Promotif & Preventif

GIZI BURUK

Meningg al
34

PROSES PEMULIHAN GIZI BURUK


Kegiatan Kuratif & Rehabilitatif LAHIR NORMAL

BB RENDAH, PENDEK, KURUS

Kegiatan Promotif & Preventif

GIZI BURUK

Meningg al
35

KONSEP KEJADIAN, PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN GIZI BURUK


Sembuh 60-70% Gizi kurang 10-20% Meninggal 10-20%

Anak Sehat
18 juta
(SUSENAS 2003)

30-40 % BB Turun

Gizi Kurang
836.126, 6-23 bln gakin

30-40 % BB Turun

Gizi Buruk
1.5 juta

5 juta

116.000 marasmus/kwashiorkor

Preventif, promotif
Pemantauan pertumbuhan di Posyandu Suplementasi (PMT, Vit A, Tab Fe) Pendidikan dan konseling Gizi (ASI, garam beryodium, makan seimbang)

Kuratif, rehabilitatif
Pemeriksaan/anamnesa Tatalaksana kasus

36

Surveilens sosial, kesehatan, pangan dan gizi KELUARGA

MASYARAKAT dan LINTAS SEKTOR


Sehat, BB Naik

PELAYANAN KESEHATAN

SELURUH KELUARGA
Intervens i jangka menenga h/ panjang

Interven si jangka pendek, darurat

1.Penyuluhan/Konselin g Gizi; POSYANDU a. ASI Eksklusif dan Penimbanga MP-ASI b. Gizi seimbang Sakit, Gizi Buruk n balita c. Pola asuh ibu dan (Komplikasi) emua Konseling anak Balita Suplementas 2. Pemantauan Punya i gizi Gizi pertumbuhan anak Pelayanan Kurang MS 3. Penggunaan garam (Kurus) Puskesmas kesehatan beryodium Rumah Sakit dasar 4. Pemanfaatan (Pusat Kunjungan pekarangan Stabilisas Rumah 5. Peningkatan daya PMT Terapi / i) beli Biasa Sehat, BB Periksa KELUARGA MISKIN Naik (N) Kesehatan 6. Bantuan pangan Konseling Sembuh darurat; perlu PMT (KIE) Sembuh, tidak a. PMT balita, ibu 37 perlu PMT Surveilens sosial, kesehatan, pangan dan gizi hamil

(N)

(D)

(T),

PENGELOLAAN BALITA MALNUTRISI AKUT


1. BILA BB / PB >= - 2 SD - PENIMBANGAN 2. BILA BB / PB < - 2 SD - PMT BIASA 3. BILA BB / PB < - 3 SD : a. DENGAN KOMPLIKASI : - RAWAT INAP - STABILISASI - PMT TERAPI - F75 b. TANPA KOMPLIKASI : - RAWAT JALAN - REHABILITASI - PMT TERAPI - F100/F135/MODISSCO 3
38

PENANGANAN GANGGUAN GIZI AKUT BERBASIS MASYARAKAT (CTC) BILA


BB/TB < - 2 SD s/d - 3 SD atau Lila < 12,5 cm Komplikasi Tanpa Komplikasi < - 3 SD atau - 3 SD dg edema pada 2 kaki atau Lila < 11,0 cm

PMT Biasa (Supplementary Feeding) Pengobatan, KIE

Tanpa Komplikasi

Komplikasi

SEMBUH BB/TB - 2 SD

BB/TB - 3 SD & Edema --

PMT Terapi Pengobatan KIE

Stabilisasi
39

BALITA GIZI BURUK


BUKAN SEKEDAR KEKURANGAN ENERGI DAN PROTEIN SEMATA, NAMUN JUGA KEKURANGAN ZAT GIZI LAINNYA, OLEH KARENA ITU LEBIH TEPAT DISEBUT SEBAGAI SINDROMA MULTI NUTRIEN DEFISIENSI BERAT

40

KONDISI FAAL TUBUH ANAK GIZI BURUK


1.Metabolisme dasar sangat rendah 2.Produksi ATP sangat terbatas 3.Berbagai fungsi tubuh mengalami Shut down 4.Tubuh sangat kekurangan Kalium 5.Terjadi Hiper Natremia Intra Sel 6.Terjadi kekurangan Mg, Cu dan Zn
41

Dasar Pertimbangan Penyusunan Cairan Rehidrasi & Makanan Formula Untuk Gizi Buruk
KEADAAN FAAL TUBUH ANAK GIZI BURUK SANGAT BERBEDA DARI FAAL TUBUH ANAK TIDAK GIZI BURUK
42

KEADAAN FAAL SEL BALITA TIDAK GIZI BURUK


TRANSPORTASI ELEKTROLIT LINTAS MEMBRAN DILAKUKAN DENGAN MEMAKAI ENERGI ATP ( POMPA ATP) DENGAN KEKUATAN POMPA ATP, MAKA TERCIPTA KADAR K & Mg DI DALAM SEL 10 X KADAR K & Mg DI LUAR SEL DENGAN KEKUATAN POMPA ATP, MAKA TERCIPTA KADAR Na & Ca DI LUAR SEL 10 X KADAR Na & Ca DI DALAM SEL 43

KEADAAN FAAL SEL BALITA GIZI BURUK

ENERGI DALAM BENTUK ATP SANGAT RENDAH AKIBATNYA SEMUA PROSES FAAL SEL YANG MEMERLUKAN ENERGI ATP HARUS DIKURANGI, OLEH KARENA HARUS MENYESUAIKAN THD KETERBATASAN ATP TERSEBUT SALAH SATU PROSES YANG MENGALAMI GANGGUAN SERIUS AKIBAT HAL TSB DI ATAS ADALAH TRANSPORTASI ELEKTROLIT LINTAS MEMBRAN
44

KEADAAN FAAL SEL BALITA GIZI BURUK


TRANSPORTASI ELEKTROLIT LINTAS MEMBRAN SANGAT TERGANGGU AKIBATNYA, K & Mg YANG HARUS SELALU DIPERTAHANKAN TINGGI KADARNYA DI DALAM SEL, DENGAN MEMAKAI ENERGI ATP, MENGALIR KELUAR SEL DAN TERBUANG DARI TUBUH, KELUAR LEWAT URINE AKHIRNYA TUBUH MENGALAMI 45 HIPOKALEMIA DAN HIPOMAGNESIA

KEADAAN FAAL SEL BALITA GIZI BURUK


TRANSPORTASI ELEKTROLIT LINTAS MEMBRAN SANGAT TERGANGGU AKIBATNYA, Na & Ca YANG HARUS SELALU DIPERTAHANKAN TINGGI KADARNYA DI LUAR SEL, DENGAN MEMAKAI ENERGI ATP, MENGALIR MASUK KE DALAM SEL & TERTIMBUN DI DALAM SEL, TETAPI RENDAH DI LUAR SEL 46 AKHIRNYA TUBUH MENGALAMI

KOMPLIKASI YANG SERING TERJADI PADA PENDERITA GIZI BURUK


HIPOGLIKEMIA HIPOTERMIA DEHIDRASI INFEKSI MENGANTUK BADAN DINGIN DIARE / MUNTAH ISPA
47

SIKAP ORANG TUA TERHADAP KOMPLIKASI PADA BALITA GIZI BURUK

BILA ANAK DIAREA ATAU SESAK NAFAS, ORANG TUA CEMAS OLEH KARENA CEMAS, MAKA ANAK SEGERA DIBAWA BEROBAT SEGERA DI KETAHUI BAHWA ANAK MENDERITA GIZI BURUK DAN SEGERA DIOBATI, SEHINGGA KEMUNGKINAN ANAK HIDUP MENJADI LEBIH BESAR
48

SIKAP ORANG TUA TERHADAP KOMPLIKASI PADA BALITA GIZI BURUK

BILA ANAK HANYA MENGANTUK SAJA DAN SUHU BADANNYA DINGIN, MAKA ORANG TUA TIDAK CEMAS OLEH KARENA TIDAK CEMAS, MAKA ANAK TIDAK DIBAWA BEROBAT KE PELAYANAN KESEHATAN KARENA TIDAK DIBAWA BEROBAT, MAKA TIDAK SEGERA DIKETAHUI BAHWA ANAK MENDERITA GIZI BURUK DENGAN KOMPLIKASI HIPOGLIKEMI &
49

PENYAKIT PENYERTA ANAK GIZI BURUK


ANAK GIZI BURUK DIBAWA BEROBAT BIASANYA KARENA MENDERITA :

DIAREA ISPA

50

PENDERITA GIZI BURUK DENGAN KOMPLIKASI KONDISI TUBUHNYA TIDAK STABIL, OLEH KARENA ITU HARUS DI STABILISASI KAN
51

PENDERITA GIZI BURUK DENGAN KOMPLIKASI, PADA TAHAP STABILISASI SANGAT RENTAN TERHADAP

MINUMAN BER NATRIUM TINGGI MAKANAN BER ENERGI TINGGI MAKANAN BER PROTEIN TINGGI
52

Kondisi Anak Gizi Buruk Pada tahap Stabilisasi


Sangat rentan terhadap makanan dan minuman :
1. Berkadar NaCl tinggi, >= 0,45 g / 100 ml 2. Berkadar Energi tinggi, >= 75 Kal / 100 ml 3. Berkadar Protein tinggi, >= 0,9 g / 100 ml
53

10 Langkah Utama Tatalaksana Gizi Buruk


Stabilisasi No Tindakan Hr 1 - 3 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Mencegah / mengatasi hipoglikemi Mencegah / mengatasi hipotermi Mencegah / mengatasi dehidrasi Mengatasi gangguan elektrolit Mengobati infeksi Mengatasi kekurangan zat gizi mikro Memberikan makanan stabilisasi & transisi Memberikan makanan tumbuh kejar Memberikan stimulasi Mempersiapkan tindak lanjut di rumah 54 Tanpa Fe Dengan Fe Hr 3 -7 Hr 8 -14 Mg 3 - 6 Mg 7- 26 Transisi Rehabilitasi Tindak lanjut

LANGKAH 1
Mencegah dan mengatasi hipoglikemia

55

HIPOGLIKEMIA
Kadar glukosa darah yang sangat rendah Anak gizi buruk, dianggap hipoglikemia bila kadar glukosa darah : < 3 mmol/liter atau < 54 mg/dl. Biasanya terjadi bersamaan dengan hipotermia. Tanda lain : letargis, nadi lemah, dan kehilangan kesadaran Gejala hipoglikemia berupa berkeringat dan pucat sangat jarang dijumpai pada balita gizi buruk. Kematian karena hipoglikemia pada balita gizi buruk, kadangkadang hanya didahului dengan tanda seperti mengantuk saja. Di unit pelayanan kesehatan yang tidak ada fasilitas pemeriksaan kadar glukosa darah, setiap balita gizi buruk yang datang harus dianggap mengalami hipoglikemia segera rawat / tangani sesuai tatalaksana hipoglikemia.
56

CARA MENGATASI HIPOGLIKEMIA


TANDA SADAR (TIDAK LETARGIS) TIDAK SADAR (LETARGIS) CARA MENGATASI Berikan 50 ml larutan Dekstrosa/ Glukosa 10%*) atau 50 ml larutan gula pasir 10% secara oral / NGT (bolus)

Berikan Larutan dekstrosa/Glukosa 10% iv, 5 ml x kgBB Selanjutnya berikan 50 ml larutan Glukosa 10% atau larutan gula pasir 10% secara oral atau NGT (bolus) RENJATAN (SHOCK) Berikan Larutan Dekstrosa/Glukosa 10% secara intravena (iv) sebanyak 5 ml x kgBB Selanjutnya beri infus Ringer Laktat dan Glukosa 10% prebandingan 1:1 (= RLG 5%) sebanyak 15 ml x kgBB untuk 1 jam
*) 5 gram gula pasir (= 1 sendok teh munjung) + air matang s/d 50 ml

57

LANGKAH 2
Mencegah dan mengatasi hipotermia

58

HIPOTERMIA
Suhu aksiler < 36,5 C. ( ukur selama 5 menit ) Biasanya terjadi bersama-sama dengan hipoglikemia Hipotermia + hipoglikemia : merupakan tanda dari adanya infeksi sistemik serius terapi u/ ketiganya. hipotermia + hipoglikemia + infeksi Cadangan energi balita gizi buruk sangat terbatas tidak mampu memproduksi panas utk mempertahankan suhu tubuh Pertahankan suhu tubuh balita gizi buruk dengan cara menyelimuti tubuhnya dgn baik Tindakan menghangatkan tubuh = usaha penghematan penggunaan cadangan energi.
59

Cara mempertahankan dan memulihkan suhu tubuh balita agar tidak hipotermia
Suhu tubuh < 36,5 C (hipotermia) Mudah terjadi hipotermia pertahankan suhu : Tindakan pada hipotermia : - Hangatkan tubuh : 1. Tutuplah tubuh balita termasuk kepalanya. 1. Cara kanguru : kontak langsung kulit ibu dan kulit 2. Hindari adanya hembusan angin balita 3. Pertahankan suhu ruangan 2530C 4. Tetap diselimuti pada malam hari. 5. Jangan biarkan tanpa baju terlalu lama saat pemeriksaan dan penimbangan . 6. Tangan yg merawat harus hangat. 7. Segeralah ganti baju atau peralatan tidur yang basah. 8. Segera keringkan badan stlh mandi 9. Jangan gunakan botol air panas utk 2. Lampu : diletakkan 50 cm dari tubuh balita. 3. Monitor suhu setiap 30 mnt: - suhu sdh normal? - suhu tdk terlalu tinggi? 4. Hentikan pemanasan bila 60 suhu tubuh sudah mencapai Suhu tubuh 36,5 37,0 C

LANGKAH 3
Mencegah dan mengatasi dehidrasi

61

TANDA DEHIDRASI
No 1 2 3 4 TANDA Letargis CARA MELIHAT DAN MENENTUKAN Balita letargis, lemas, tidak waspada, tidak tertarik thdp kejadian sekitar

Anak gelisah dan Balita selalu gelisah dan rewel terutama bila rewel disentuh / ditangani untuk tindakan. Tidak ada air mata Mata cekung Tidak terlihat ada air mata saat balita menangis Tanya ibu : mata cekung tsb memang spt biasanya ataukah baru beberapa saat timbulnya. (Mata balita gizi buruk tampak cekung, mirip tanda dehidrasi)
62

TANDA DEHIDRASI
No TANDA CARA MELIHAT DAN MENENTUKAN untuk 5 Mulut dan Raba dengan jari yang kering dan bersih lidah menentukan apakah lidah dan mulutnya kering kering 6

H a u s Lihat, apakah balita ingin meraih cangkir saat anda beri ReSoMal. Saat cangkir itu disingkirkan, apakah balita masih ingin minum lagi ?

7 Kembaliny Gunakan ibu jari & jari telunjuk saat mencubit kulit perut a bag. Tengah antara umbilicus & sisi perut. Posisikan cubitan tangan anda sejajar/lurus dng grs. Tubuh, bkn melintang. /turgor Tarik lapisan kulit dan jaringan bawah kulit pelan-pelan. kulit Cubit selama 1 detik dan lepaskan. Jika kulit masih lambat terlipat (belum balik rata) kulit /turgor kulit lambat. (catatan : cubitan kulit biasanya lambat pada anak 63 wasting)

TANDA RENJATAN
1. Keadaan bahaya, ditandai tubuh sangat lemah, letargis, kehilangan kesadaran, tangan dan kaki dingin serta nadi yang cepat dan lemah 2. Penyebab tersering : - diare + dehidrasi, - perdarahan - sepsis. 3. Bila nadi sulit diukur, gunakan capilary refill : tekan kuku ibu jari tangan 2 detik sp warna kuku putih lepaskan tekanan hingga warna kuku spt semula - Bila perubahan warna putih merah kembali > 3 detik, maka capilary refill dianggap lambat tanda RENJATAN 64

LANGKAH 4
Memperbaiki gangguan keseimbangan elektrolit

65

ReSoMal
Cara membuat ReSoMal Bubuk WHO-ORS utk 1 liter (*) pak Gula pasir gram Lar. Elektrolit/mineral (**) ml Ditambah air sampai liter

(Rehidration Solution for Malnutrition)


: 1 Modifikasi ReSoMal : 50 : 40 : 2 Bubuk WHO-ORS utk 1 liter (*) : 1 pak Gula pasir : 50 gr Bubuk KCl : 4 gr Ditambah air sampai : 2 liter Karena tidak mengandung Mg, Zn dan Cu, Diberi jus buah2an yang banyak mengandung mineral, atau diberikan MgSO4 50 % i.m. 1 x dosis 0,3 ml/kg BB maksimum 2 ml. 66

Setiap 1 liter cairan Resomal : Na = 37,5 mEq, K = 40 mEQ dan Mg = 1,5 mEq Cara membuat larutan Elektrolit / Mineral (*) Bubuk WHO-ORS/1 liter : Nacl = 2,6 gram trisodium citrat dihidrat = 2,9 gram (**) komposisi : KCl = 1,5 g dan glukosa = 13,5 KCl : 224,0 gram gram Tripotasium citrat : 81,0 gram MgCl2.6H2O Zn acetat 2 H2O CuSO4.5H2O : 76,0 gram : 8,2 gram : 1,4 gram

MODIFIKASI RESOMAL
NAMA BAHAN
ORALIT GULA PASIR KCl AIR

JUMLAH BAHAN
1 bungkus a 200 ml 10 g 0,8 g Ditambahkan air sampai volume menjadi 400 ml
67

CATATAN : Kadar NaCl = 0,45 %

CONTOH REHIDRASI (12 Jam) Anak BB 6 Kg Diare & Syok (Kondisi 1)


2 Jam pertama (REHIDRASI AWAL - IV)

10 Jam berikutnya (REHIDRASI LANJUTAN - ORAL)

10.00-11.00: 6 kg x 15 ml D5RL 12.00-13.00: 6 kg x 5-10 ml RES 11.00-12.00: 6 kg x 15 ml D5RL 13.00-14.00: 65 ml F75 14.00-15.00: 6 kg x 5-10 ml RES 15.00-16.00: 65 ml F75 16.00-17.00: 6 kg x 5-10 ml RES 17.00-18.00: 65 ml F 75 18.00-19.00: 6 kg x 5-10 ml RES 19.00-20.00: 65 ml F75 20.00-21.00: 6 kg x 5-10 ml RES 21.00-22.00: 65 ml F75
Bila anak tidak diare dan tidak dehidrasi lagi, dilanjutkan dengan pemberian F75 setiap 2 jam dst sesuai dengan protap.
68

2 Jam pertama (REHIDRASI AWAL - ORAL)

CONTOH REHIDRASI (12 Jam) Anak BB 6 Kg Diare (Kondisi 3)

10 Jam berikutnya (REHIDRASI LANJUTAN - ORAL)

10.00-10.30: 6 kg x 5 ml RES 10.30-11.00: 6 kg x 5 ml RES 11.00-11.30: 6 kg x 5 ml RES 11.30-12.00: 6 kg x 5 ml RES

12.00-13.00: 6 kg x 5-10 ml RES 13.00-14.00: 65 ml F75 14.00-15.00: 6 kg x 5-10 ml RES 15.00-16.00: 65 ml F75 16.00-17.00: 6 kg x 5-10 ml RES 17.00-18.00: 65 ml F 75 18.00-19.00: 6 kg x 5-10 ml RES 19.00-20.00: 65 ml F75 20.00-21.00: 6 kg x 5-10 ml RES 21.00-22.00: 65 ml F75
69

Bila anak tidak diare dan tidak dehidrasi lagi, dilanjutkan dengan pemberian F75 setiap 2 jam dst sesuai dengan protap.

LANGKAH 5 Mengobati infeksi

70

PETUNJUK PEMBERIAN ANTIBIOTIKA UNTUK ANAK GIZI BURUK


APABILA : TIDAK ADA KOMPLIKASI BERIKAN : Kotrimoksasol per oral (25 mg sulfametoktasol + 5 mg trimetoprim /kg) Setiap 12 jam selama 5 hari Gentamisin 1 IV atau IM (7,5 mg/kg) setiap hari selama 7 hr, ditambah : Ampisilin IV atau IM (50 mg/kg) setiap 6 jam selama 2 hari Ikuti dengan Amoksisilin 2 oral (15 mg/kg), setiap 8 jam selama 5 hari

KOMPLIKASI (renjatan, hipoglikemi, hipotermi, dermatosis dengan kulit kasar/ fisura, infeksi saluran nafas atau infeksi saluran kencing, atau letargis/nampak sakit) Bila tidak membaik dalam waktu 48 jam, tambahkan : Bila ada infeksi yang khusus yang membutuhkan tambahan antibiotik, BERI JUGA : 1.

Kloramfenikol IV atau IM (25 mg/kg), setiap 8 jam, 5 hari (beri setiap 6 jam bila diperkirakan meningitis) Antibiotik khusus seperti tercantum pada buku : The Manual Management of Severe Malnutrition

Jika balita tidak kencing, Gentamisin akan menumpuk di dalam tubuh dan menyebabkan tuli, jangan diberi dosis kedua sampai balita bisa kencing. 2. Jika Amoksisilin tidak tersedia, beri Ampisilin 50 mg/kg peroral setiap 6 jam selama 5 hari.

71

DOSIS UNTUK KEMASAN KHUSUS ANTIBIOTIKA BERDASARKAN KISARAN (RANGE) BERAT BADAN ANTIBIOTIK CARA PEMBERIAN/ FORMULASI DOSIS MENURUT BB
DOSIS/FREKUENSI/ JANGKA WAKTU 3 6 kg 6 8 kg 8 10 kg Amoksisilin Ampisilin Oral: 15 mg/kg/8 jam selama 5 hari Oral: 50 mg/kg/6jam selama 5 hari Tablet 250 mg Sirup, 125 mg/5 ml Tablet, 250 mg tablet 2,5 ml 1 tablet 1 ml 1 tablet 2,5 ml 1 ml 1/8 tablet tablet 5 ml 1tablet 1,75 ml 1tablet 4 ml 1,25 tablet tablet 5 ml 2 tablet 2,25 ml 2 tablet 5 ml 1,5 ml tablet

IV/IM : 50 mg/kg tiap 6 Ampul 500 mg + 2,1ml air steril jam, 2 hari 500 mg/2,5 ml Kotrimoksasol, (SMX + TMP) Oral: 25 mg SMX + 5 mg TMP /kg/12 jam selama 5 hari Oral: 7,5 mg/kg 8jam selama 7 hari Tablet, 100 mg SMX + 20 mg TMP Sirup, 200 mg SMX + 40 mg TMP per 5 ml Suspensi, 200 mg / 5 ml Tablet, 500 mg

Metronidasol

Asam Nalidiksat Oral: 15 mg/kg/6 jam selama 5 hari Bensilpenisilin IV/IM : 50.000 unit/kg / 6 jam

IV : Ampul 600 mg + 9,6ml air steril menjadi 1.000.000 unit/10ml IM : Ampul 600 mg + 1,6ml air steril menjadi 1.000.000 unit/2ml

2 ml

3,5 ml

4,5 ml

0,4 ml

0,7 ml

0,9 ml

72

DOSIS BEBERAPA KEMASAN KHUSUS ANTIBIOTIK BERDASARKAN BERAT BADAN ANAK GIZI BURUK
ANTI BIOTIK MELALUI/ DOSIS/ FREKUENSI/ PERIODE FORMULA 3 kg DOSIS SESUAI BERAT BADAN (menggunakan BB terakhir) 4 kg 5 kg 6 kg 7 kg 8 kg 9 kg 10 kg 11 kg 12 kg

Kloram- IV / IM : 25 IV: Ampul 1 g + 9,2ml 0,75 ml 1 ml 1,25 ml 1,5 ml 1,75 ml 2 ml 2,25 ml 2,5 ml 2,75 ml 3 ml fenikol mg/kg/ 8 jam air steril 1 g/10ml selama 5 hr (atau tiap 6 jam IM : Ampul 1 g + n 0,3 ml 0,4 ml 0,5 ml 0,6 ml 0,7 ml 0,8 ml 0,9 ml 1 ml 1,1 ml 1,2 ml jika meningitis 3,2ml air steril 1 selama 10hr g/4ml Genta- IV / IM : 7,5 misin mg/kg setiap hari selama 7 hari IV/IM : Ampul berisi 2,25 ml 3 ml 3,75 ml 4,5 ml 5,25 ml 6 ml 6,75 ml 7,5 ml 8,25 ml 9 ml 20 mg (2 ml, 10 mg/ml) tidak dicairkan IV/IM : Ampul berisi 2,25 ml 3 ml 3,75 ml 4,5 ml 5,25 ml 6 ml 6,75 ml 7,5 ml 8,25 ml9 ml 80 mg (2 ml dalam 40 mg/ml) + 6 ml air steril 80mg/8ml IV/IM : Ampul berisi 0,5 ml 0,75 ml 0,9 ml 1,1 ml 1,3 ml 1,5 ml 1,7 ml 1,9 ml 80 mg (2 ml dalam 40 mg/ml) tidak dicairkan 2 ml 2,25 ml

73

LANGKAH 6 Memperbaiki kekurangan zat gizi mikro

74

DOSIS TABLET BESI DAN SIRUP BESI UNTUK ANAK UMUR 6 BULAN SAMPAI 5 TAHUN
BENTUK FORMULA Fe TABLET BESI/FOLAT (sulfas ferosus 200 mg atau 60 mg besi elemental + 0,25 mg as folat) SIRUP BESI (sulfas ferosus 150 ml), setiap 5 ml mengandung 30 mg besi elemental D O S I S Bayi usia 612 bln 1 x sehari tab Anak usia 15thn 1 x sehari tablet Bayi 612 bulan 1 x sehari 2 ,5 ml ( sendok teh) Anak usia 15 thn 1 x sehari 5 ml (1 sendok teh)

Catatan : Zat besi atau Fe baru boleh diberikan setelah memasuki Fase Rehabilitasi Zat Besi atau Fe diberikan setiap hari selama 4 minggu atau lebih Dosis Fe : 1 3 mg Fe elemental/kg berat badan/hari
75

LANGKAH 7 :
MEMBERIKAN MAKANAN UNTUK STABILISASI DAN TRANSISI

LANGKAH 8 :
MEMBERIKAN MAKANAN UNTUK TUMBUH KEJAR
76

KEBUTUHAN GIZI MENURUT FASE PEMBERIAN MAKANAN PADA ANAK GIZI BURUK
ZAT GIZI STABILISASI (hari ke 1-2) F A S E TRANSISI (hari ke 3 7) 100 150 kkal/kgBB/hr 2 3 gram/kgBB/hr 150 ml/kgBB/hr REHABILITASI (minggu ke 2 6) 150 220 kkal/kgBB/hr 3 4 gram/kgBB/hr 150 200 ml/kgBB/hr Beri tiap hari selama 4 minggu untuk balita umur 6 bulan sampai 5 tahun : Dosis lihat Buku I hal. 19

Energy
Protein Cairan

80 100 kkal/kgBB/hr 1 1,5 gram/kgBB/hr 130 ml/kgBB/hr atau 100 ml/kgBB/hr bila ada edema berat -

Fe Tablet besi / folat (sulfas ferosus 200 mg + 0,25 mg as Folat) Sirup besi (sulfas ferosus 150 ml) 1-3 mg elemental Vitamin A Bayi umur < 6 bln Bayi umur 6 11 bln Balita umur 12 60 bln

kapsul Vitamin A dosis 100.000 SI (warna Biru) 1 kapsul Vitamin A dosis 100.000 SI (warna Biru) 1 kapsul Vitamin A dosis 200.000 SI (warna Merah)

PIRANTEL PAMOAT Jika balita berumur 4 bulan atau lebih dan belum pernah mendapatkan obat ini dalam 6 bulan terakhir dengan hasil pemeriksaan tinjanya positif, beri pirantel pamoat di klinik sebagai dosis tunggal (DIBERIKAN PADA FASE TRANSISI)

UMUR

BERAT BADAN

PIRANTEL PAMOAT (125 mg/tab) (DOSIS TUNGGAL) tablet tablet 1 tablet 77

4 9 bln 9 12 bln 1 3 th

(6 - < 8 kg) (8 - < 10 kg) (10 - < 14 kg)

JADWAL PEMBERIAN MAKANAN KEPADA ANAK GIZI BURUK MENURUT FASE


FASE WAKTU PEMBERI-AN JENIS MAKANAN FREKUENSI JUMLAH CAIRAN (ml) SETIAP MINUM MENURUT BB BALITA LIHAT TABEL PEDOMAN F-75

Stabili sasi Hari 1 2 Hari 3 4 Hari 5 7

F75 / modifikasi / ASI F75 / modifikasi / ASI F75 / modifikasi / ASI

12 x Bebas 8x Bebas 6x Bebas FREKUENSI

FASE

WAKTU PEMBERIAN Minggu 2

JENIS MAKANAN

JUMLAH CAIRAN (ml) SETIAP MINUM MENURUT BB BALITA LIHAT TABEL PEDOMAN F-100

Transisi

F100 / modifikasi / Modisco I

6x Bebas

78

JADWAL PEMBERIAN MAKANAN KEPADA ANAK GIZI BURUK MENURUT FASE


FASE WAKTU PEMBERI-AN JENIS MAKANAN FREKUENSI JUMLAH CAIRAN (ml) SETIAP MINUM MENURUT BB BALITA 4 kg 6 kg 8 Kg 10 kg

Rehabili-tasi BB < 7 kg

Minggu 36

F135/modifikasi/Modis co III ASI Ditambah Makanan lumat/ makanan lembik Sari buah F135/modifikasi/Modis co III ASI Ditambah Makanan lunak / makanan biasa Buah

3x Bebas 3 x 1 porsi 1x 3x Bebas 3 x 1 porsi 1 2 x 1 buah

90

100

100 -

100 -

150

175

BB 7 kg

Contoh : Kebutuhan energi seorang balita dengan berat badan 6 kg pada fase rehabilitasi adalah : 6 kg x 200 kkal/kgBB/hr = 1200 kkal/hr Kebutuhan energi tersebut dapat dipenuhi dengan : F-135 : 3 x 100 cc 3 x 135 kkal = 405 kkal Makanan lumat/lembik 3 x 3 x 250 kkal = 750 kkal Sari buah 1 x 100 cc 1 x 45 kkal = 45 kkal + Total = 1200 kkal

79

HAL-HAL PENTING YANG HARUS DIPERHATIKAN


1. Jangan berikan Fe sebelum minggu ke 2 (Fe diberikan pada fase rehabilitasi) 2. Jangan berikan cairan intra vena, kecuali syok atau dehidrasi berat 3. Jangan berikan protein terlalu tinggi 4. Jangan berikan diuretik pada penderita kwashiorkor 5. Jangan berikan infus albumin pada penderita 80 kwashiorkor

B. PRINSIP DASAR
SISTIM PENCERNAAN LEMAH : Kerusakan mukosa usus & enzim PEMBERIAN MAKANAN : Secara teratur (selama 24 jam) Bertahap (cair, lembik, padat) Porsi kecil & sering Melalui fase stabilisasi, transisi & rehabilitasi Tidak boleh tergesa2 menaikkan berat badan Selalu dipantau dan evaluasi
81

B. PRINSIP DASAR (lanjutan..)


Protein pada tahap awal yang terlalu tinggi digunakan untuk bahan bakar NH3 dilepas beban hati dan ginjal meningkat UREUM meningkat osmolaritas urine meningkat pengeluaran urine berlebihan dehidrasi Bila terjadi dehidrasi gunakan cairan rehidrasi Resomal

82

B. PRINSIP DASAR (lanjutan..)


MAKANAN CAIR PADA AWAL : Zat gizi mudah diserap Mudah menghitung jumlah energi, protein & cairan Bila energi & protein terlalu tinggi pada tahap stabilisasi Na + tiba-tiba akan dikeluarkan dari intraselular ke plasma terjadi beban jantung meningkat mendadak gagal jantung meninggal

(Refeeding Syndrome)
83

Tatalaksana Gizi Anak Gizi Buruk


Tujuan terapi gizi:
Memberikan makanan tinggi kalori, protein dan cukup vitamin-mineral secara bertahap, guna mencapai status gizi yang optimal. Fase stabilitasi untuk mencegah / mengatasi hipoglikemi, hipotermi dan dehidrasi Fase transisi / rehabilitasi tumbuh kejar
84

Prinsip Diet Anak Gizi Buruk


Tahapan Cairan Energi Protein
1. Stabilisasi a) Tanpa 130 ml Edema berat b) Dengan 100 ml Edema berat 2. Transisi 150 ml 3. Rehabilitasi 150-200 ml

80-100 Kal 1,0-1,5 g 80-100 Kal 1,0-1,5 g 100-150 Kal 150-200 Kal 2,0-3,0 g 3,0-4,0 g
85

Catatan : Dosis untuk 1 kg BB dlm 24 jam

DERAJAT EDEMA
DERAJAT KODE EDEMA RINGAN SEDANG BERAT + ++ +++ PENYEBARAN EDEMA PUNGGUNG KEDUA KAKI KANAN & KIRI (BILATERAL) KAKI,TUNGKAI BAWAH, TANGAN, LENGAN BAWAH KAKI, TUNGKAI ATAS & BAWAH, TANGAN, LENGAN ATAS & BAWAH, WAJAH 86

PRINSIP MAKANAN TAHAP STABILISASI


1. 2. 3. 4. 5. CUKUP ENERGI, TETAPI TIDAK TINGGI ENERGI RENDAH PROTEIN CUKUP KALIUM RENDAH NATRIUM DALAM DOSIS KECIL & SERING
87

SYARAT MAKANAN / MINUMAN TAHAP STABILISASI


CUKUP ENERGI CUKUP KCl RENDAH NaCl - 75 Kal / 100 ml - 0,2 g / 100 ml - 0,45 g / 100 ml
88

RENDAH PROTEIN - 0,9 g / 100 ml

MAKANAN TAHAP STABILISASI


ADALAH F 75 ATAU F 75 MODIFIKASI DENGAN CIRI-CIRI SETIAP 100 ml BERISI :
Energi sebesar 75 Kal Protein sebesar 0,9 g KCl sebesar 0,2 g

89

MAKANAN YANG SESUAI UNTUK TAHAP STABILISASI ADALAH F-75


KANDUNGAN ENERGI KANDUNGAN PROTEIN KANDUNGAN KCl 75 Kal / 100 ml 0,9 g / 100 ml 0,2 g / 100 ml
90

FORMAT PEMBUATAN F-75


JENIS BAHAN JUMLAH KANDUNGAN KANDUNGAN
BAHAN ENERGI PROTEIN

CONTOH

SUSU GULA
(30 -60% E)

MINYAK KCl AIR JUMLAH


91

CONTOH FORMAT PEMBUATAN F-75


JENIS BAHAN JUMLAH KANDUNGAN KANDUNGAN
BAHAN ENERGI PROTEIN

SUSU GULA
(30-60 % E)

2 5 8 10 13 I II

3 4 7 11 14 III

1 6 9 12 15
92

MINYAK KCl AIR JUMLAH

KOMPOSISI BAHAN BAKU F 75


PAN ENTERAL (PER SAJI = 40 gram) ENERGI : 200 Kal/40 g

PROTEIN : 6,12 g/40 g

GULA PASIR ( 100 gram) ENERGI : 364 Kal/100 g PROTEIN : 0 g/100 g MINYAK SAWIT (100 gram) ENERGI : 902 Kal/100 g PROTEIN : 0 g/100 g

93

JENIS BAHAN SUSU GULA

400 ml F-75 Dengan Bahan Baku Pan-Enteral


JUMLAH BAHAN
(3,6/6,12)x 40 = 23,5 2 (90/364)x100 = 24,7 5 (92,5/902)x100 = 10,3 8 (400/100) x 0,2 = 0,8 10 Ditambah air sampai menjadi 400 ml 13 400 ml I (23,5/40)x200 =117,5 (30/100)x300 = 90 4 (300 -117,5 90) = 92,5 7 0 11 0 14 (400/100)x75 = 300 II 0 3,6 3 (24.7/100)x0 =0

KANDUNGAN KANDUNGAN ENERGI PROTEIN


1

(30-60%)E

6 (10,3/100) x 0 =0 9 0 12

MINYAK KCl AIR JUMLAH

15 (400/100)x0,9 = 3,6 III


94

MAKANAN YANG SESUAI UNTUK REHABILITASI & TUMBUH KEJAR ADALAH F-100

BERISI ENERGI 100 Kal / 100 ml BERISI PROTEIN 2,2 - 2,9 g / 100 ml BERISI KCl 0,2 g / 100 ml
95

PENANGANAN GANGGUAN GIZI AKUT BERBASIS MASYARAKAT (CTC) BILA


BB/TB < - 2 SD s/d - 3 SD atau Lila < 12,5 cm Komplikasi Tanpa Komplikasi < - 3 SD atau - 3 SD dg edema pada 2 kaki atau Lila < 11,0 cm

PMT Biasa (Supplementary Feeding) Pengobatan, KIE

Tanpa Komplikasi

Komplikasi

SEMBUH BB/TB - 2 SD

BB/TB - 3 SD & Edema --

PMT Terapi Pengobatan KIE

Stabilisasi
96

DOSIS PEMBERIAN PMT


PMT TERAPI DIBERIKAN 3 X 200 KALORI/ HARI DALAM BENTUK F100 SELAMA 60 HARI SAMPAI BB/TB > - 3SD PMT BIASA (SUPPLEMENTARY FEEDING) DIBERIKAN 2 X 200 KALORI/HARI DALAM BENTUK MODISSCO 1 SELAMA 30 HARI SAMPAI BB/TB - 2 SD.
97

NO SEX 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 P L P L P P L P P L P L

PB 82 74 73.8 67 55.5 67.1 90 70.5 87 79.3 69.5 99

BB 7.8 7.9 6.2 6.1 3.9 4.9 10.8 6.1 9.8 9.4 6.8 11.2

SD

ODEMA RAWAT / ALASAN


---++ ++ -+
2 kaki

-+

1 kaki

-- 2 kaki +
98

--

NO SEX 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 P L P L P P L P P L P L

PB 82 74 73.8 67 55.5 67.1 90 70.5 87 79.3 69.5 99

BB 7.8 7.9 6.2 6.1 3.9 4.9 10.8 6.1 9.8 9.4 6.8 11.2

SD
- 3,56 - 2,12 - 3,56 - 2,00 - 1,00 - 3,25 - 2,08 - 3,00 - 2,27 - 1,56 - 1,75 - 3,07

ODEMA RAWAT/ ALASAN


---++ ++ -+
2 kaki

YA TIDAK YA YA YA YA YA TIDAK TIDAK TIDAK


2 kaki

-+
1 kaki

-+ --

YA

YA

99

STUDI KASUS 1
Tina (perempuan) balita berusia 18 bulan dirujuk ke puskesmas perawatan Sentani. Ia kelihatan sangat kurus & menderita edema pada kedua belah kakinya, tidak ada dermatosis. Panjang badan 70 cm & berat badan 6,4 kg, suhu aksiler 36,6 C. Tangan tidak dingin. Kadar gula darah 3,5 mmol/L, Hb 9 g/dl, golongan darah B, tidak muntah, tidak diare & mata jernih.
100

Tindakan apa yang harus dilakukan? Bagaimana status gizinya Apakah ia perlu rawat tinggal Apakah ia menderita hipotermia Apakah ia menderita hipoglikemia Apakah ia menderita anemia berat Apakah ia menderita renjatan, bila diketahui nadi lemah & capilary refill-nya 2 detik Apakah ia memerlukan antibiotika Apakah ia harus segera diberi Fe Apakah ia perlu vitamin A, vitamin & mineral lain Bila ia datang jam 10.00, bagaimana jadwal & dosis 101 pemberian makanan & cairan

STUDI KASUS 1

STUDI KASUS 2
Yoseba, anak perempuan berusia 3 tahun, dirujuk ke puskesmas Niki-niki. Ia menderita diare selam 2 hari. Selera minum tinggi, dalam keadaan sadar, tidak ada renjatan. Bola mata kiri keruh & mengeluarkan nanah. Tidak ada edema, tidak ada dermatosis. BB = 8,0 kg, PB = 83,0 cm, suhu aksiler 36,8 C, kadar gula darah 2,6 mmo/L, kadar Hb 3,8 g/dl, golongan darah B.
102

STUDI KASUS 2
Tindakan apa yang harus dilakukan? Bagaimana status gizinya Apakah ia menderita hipoglikemia Apakah ia menderita anemia berat Bagaimana jadwal & dosis rehidrasinya, bila ia datang pada jam 08.00 Bagaimana pemberian makanannya Bagaimana koreksi aneminya Bagaimana terapi antibiotikanya Bagaimana terapi matanya Bagaimana terapi vitamin & mineralnya 103 Bagaimana jadwal & dosis pemberian Fe

STUDI KASUS 3
Ibrahim balita laki-laki, berusia 26 bulan, sudah 2 minggu menderita diare & oleh ibunya diberi air tajin, tetapi tidak diberikan makanan yang lainnya. Ia dirujuk ke puskesmas Sungai Dareh. Ketika tiba di puskesmas dalam keadaan letargis, tangan & kaki dingin, nafas 60x / menit, nadi lemah 130x / menit, capilary refill 4 detik. Puskesmas tidak punya alat pengukur kadar gula darah. Suhu aksiler 35,4 C, ada edema pada kedua kaki, ada dermatosis, bola mata kanan bernanah, BB = 6,0 kg, PB = 72,0 104

STUDI KASUS 3
Tindakan apa yang harus dilakukan? Sebutkan 4 hal yang paling penting yang harus segera dilakukan Berapa banyak glukosa intravena yang harus diberikan Berapa banyak cairan infus yang harus diberikan pada jam yang ke 1. Setelah infus selama 1 jam, nafas 40x / menit & nadi 100x / menit, apa yang harus dilakukan pada 1 jam berikutnya Setelah rehidrasi, BB naik menjadi 6,2 kg. Apa yang harus diberikan dalam 10 jam berikutnya Berapa banyak antibiotika yang harus diberikan Bila ia datang jam 21.00, bagaimana jadwal & dosis F75. Kapan interval pemberian F75 diubah menjadi setiap 3 jam & 4 jam. Bagaimana dosis & jadwal makanan transisi dengan F100 Bagaimana dosis pemberian vitamin & Fe 105 Bagaimana terapi untuk mata & dermatosis

106

KEP - Gizi Buruk : Marasmus


Wajah spt orang tua

Rambut masih hitam

Iga gambang, sangat kurus

Atrofi otot, Lemak sangat tipis/habis 107

KEP - Gizi Buruk : Kwashiorkor

Kurus, Tulang Selangka & Tulang Rusuk Kelihatan

Edema
108

KEP-Gizi Buruk : Kwashiorkor

Crazy Pavement Dermatosis

109

Gizi buruk : Kwashiorkor


Rambut Wajah Puffy

Edema
110

Kwashiorkor

Hepatomegali

Edema

111

Bitot spot
Foam-like substance

Hyperpigmentation & wrinkle (X-1)

112

113

Kurang Vit A (X1)


Dryness of conjunctiva

Wrinkle and hyperpigmentation


114

Kurang Vit A (X2)

Berkeriput dan hiperpigmentasi

Kornea kering
115

Kurang Vit A (X3A)


Ulkus kornea < 1/3

Conjunctival & ciliary injection

116

Kurang Vit A (X3B)


Ulkus kornea > 1/3

Keratomalacea

117

Kurang Vit A (XS)


Jaringan parut di Kornea (Corneal scar)

118

Anemia Kurang Zat Besi

Anemia Pucat

Tidak Anemia Tidak pucat

Tidak Anemia
Tidak pucat

Anemia Pucat

119

KELAINAN KULIT AKIBAT KEKURANGAN SENG (Zn)


Kulit mengelupas

120

GANGGUAN AKIBAT KEKURANGAN YODIUM

Kretin
121

Dehydration

Turgor :
122

Dehydration

Sunken eyes
123

TUJUAN UTAMA DARI OTONOMI- DESENTRALISASI


1.

2.

3.

MENDEKATKAN PEMERINTAHAN DENGAN MASYARAKAT GUNA MENINGKATKAN KETEPATAN / KECEPATAN DALAM PERENCANAAN & PENGAMBILAN KEPUTUSAN PUBLIK. MENINGKATNYA MUTU PELAYANAN PUBLIK MELALUI KETEPATAN / KECEPATAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN MENINGKATNYA KESEJAHTERAAN MASYARAKAT DI DAERAH
124

1.

2. 3.

4.

ANGKA PENDAPATAN PER KAPITA ANGKA MELEK HURUF ANGA BALITA KURANG GIZI ANGKA KEMATIAN BAYI & IBU BERSALIN
125

INDIKATOR KEBERHASILAN PEMERINTAHAN

STATUS GIZI (BALITA)


INDIKATOR KEBERHASILAN PEMERINTAHAN DI SEGALA BIDANG INDIKATOR KEBERHASILAN KERJASAMA & KOORDINASI LINTAS SEKTOR INDIKATOR KEBERHASILAN PEMERATAAN HASIL PEMBANGUNAN

126

KASUS GIZI BURUK


ADALAH CERMINAN ADANYA KENDALA DALAM KERJASAMA & KOORDINASI LINTAS SEKTORAL PEMERINTAHAN (DI DAERAH) ADALAH BUKTI LEMAHNYA KETAHANAN PANGAN PADA TINGKAT KELUARGA & INDIVIDU ADALAH CERMINAN MENYUSUTNYA DAYA KESETIAKAWANAN SOSIAL MASYARAKAT SETEMPAT

127

MENANGGULANGI KASUS GIZI BURUK

IBARAT SEMUA USAHA TERKOORDINASI UNTUK MENCEGAH BERGULIR & MASUKNYA BOLA ( GOAL ) KEGAWANG (SENDIRI) DALAM SEBUAH PERMAINAN SEPAKBOLA KEJADIAN KASUS GIZI BURUK IBARAT SUATU TENDANGAN BOLA KEARAH GAWANG (SENDIRI) KEMATIAN KASUS GIZI BURUK IBARAT SUATU PERISTIWA MASUKNYA BOLA ( GOAL ) KE DALAM GAWANG (SENDIRI) TUGAS PEMAIN DEPAN, TENGAH & BELAKANG ADALAH MENCEGAH BERGULIRNYA BOLA KE GAWANG SENDIRI TUGAS PENJAGA GAWANG ADALAH MENANGKAP BOLA & MENCEGAH MASUKNYA BOLA ( GOAL ) KE 128 DALAM GAWANG (SENDIRI)

1.

2.

3.

4.

ADALAH USAHA TERKOORDINASI LINTAS SEKTOR DIBAWAH PIMPINAN KEPALA PEMERINTAHAN SETEMPAT KEPALA PEMERINTAHAN SETEMPAT ADALAH KAPTEN DARI KESEBELASAN SEPAK BOLA INSTANSI: PENDIDIKAN, PENERANGAN, PERTANIAN, PETERNAKAN, PERKEBUNAN, PERDAGANGAN, INDUSTRI, TENAGA KERJA, KEHUTANAN, SOSIAL, BULOG, KOPERASI, PERKREDITAN, KEAMANAN, PENEGAK HUKUM DLL, ADALAH PEMAIN LINI DEPAN, TENGAH & BELAKANG DARI KESEBELASAN SEPAK BOLA INSTANSI: KESEHATAN, ADALAH PENJAGA 129 GAWANG DARI KESEBELASAN SEPAK BOLA

MENANGGULANGI KASUS GIZI BURUK

KEGIATAN POKOK PROGRAM GIZI


1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11.

PENYULUHAN GIZI MASYARAKAT PENANGGULANGAN KEP & GIZI BURUK PENANGGULANGAN GAKY PENANGGULANGAN ANEMIA GIZI PENANGGULANGAN KURANG VITAMIN A PENANGGULANGAN KURANG GIZI MIKRO PENANGGULANGAN GIZI LEBIH PROGRAM GIZI INSTITUSI SISTEM KEWASPADAAN PANGAN & GIZI PENGEMBANGAN TENAGA GIZI PENELITIAN & PENEMBANGAN GIZI 130

GAMBARAN UMUM KABUPATEN LAMONGAN


1. DIBENTUK DENGAN UU No.16 TAHUN 1950 2. TERDIRI DARI 474 DESA / KELURAHAN, 25 KECAMATAN 3. BERPENDUDUK SEKITAR 1,1 JUTA JIWA 4. IBU HAMIL SEKITAR 20.000 / TAHUN 5. KELAHIRAN BAYI SEKITAR 19.000 / TAHUN 6. BALITA SEKITAR 90.000 7. KEJADIAN KURANG ENERGI & PROTEIN PD BALITA TAHUN 2004 SEKITAR 14,6 %
131

KEADAAN STATUS GIZI BALITA


NO

DI KABUPATEN LAMONGAN TAHUN 2004


KECAMATAN GANGGUAN GIZI (%) 19.0 16.5 12.5 17.8 14.3 15.2 14.7 7.8 15.4 21.7 23.0 17.2 7.4 20.5 19.1 18.8 23.4 8.9 6.3 16.5 21.1 10.3 11.2 7.8 8.9 14.6 1BLULUK 2SUKORAME 3NGIMBANG 4SAMBENG 5MANTUP 6KAMBANGBAHU 7SUGIO 8KEDUNGPRING 9MODO

GIZI NORMAL (%) 81.0 83.5 87.5 82.2 85.7 84.8 85.3 92.2 84.6 78.3 77.0 82.8 92.6 79.5 80.9 81.2 76.6 91.1 93.7 83.5 78.9 89.7 88.8 92.2 91.1 85.4

10BABAT 11SUKODADI 12PUCUK 13LAMONGAN 14TIKUNG 15DEKET 16GLAGAH 17KARANGBINANGUN 18KALITENGAH 19TURI 20KARANGGENENG 21SEKARAN 22LAREN 23BRONDONG 24PACIRAN 25SOLOKURO KAB. LAMONGAN

132

KEADAAN STATUS GIZI BALITA DI KABUPATEN LAMONGAN TAHUN 2004


STATUS GIZI (BB / U)
UMUR
(BULAN)

GIZI NORMAL 99,5 93,7 85,3 81,8 81,2 81,1

GANGGUAN GIZI 0,5 6,3 14,7 18,2 18,8 18,9

0-5 6 - 11 12 -23 24 -35 36 - 47 48 - 59

133