Anda di halaman 1dari 29

ULKUS KORNEA

20070310072

Afifah Isnaini

ANAMNESIS
Pasien datang ke Poliklinik Mata RSUD Salatiga dengan keluhan mata sebelah kanan, pada bagian tengahnya berwarna putih dan sering digaruk. Awalnya kurang lebih satu minggu yang lalu mata pasien tercolok jari tangannya sendiri kemudian mulai sering digaruk dan dikucekkucek. Pasien sudah dibawa ke Puskesmas terdekat kemudian diberi salep mata dan obat puyer tetapi tidak ada perkembangan. Rewel dan menangis jika dipegang matanya (-), lakrimasi (-), sekret kadang-kadang keluar

RPD

Lahir prematur pada usia kehamilan 6 bulan. Saat ini pasien tinggal dengan tetangga. Pemenuhan gizi (?), kebersihan tempat tinggal (?) Riwayat keluhan yang sama (-) Riwayat penyakit mata sebelumnya (-) Riwayat asthma, rhinitis alergi, eksema pada kulit, alergi makanan/obat/debu belum diketahui. Riwayat trauma (+) tercolok jarinya sendiri 1 minggu yang lalu

STATUS OFTAMOLOGIS
NO Pemeriksaaa
n
1 2 3 4 Visus Jauh Visus Dekat Persepsi Sinar Persepsi Warna Tidak dilakukan Tidak dilakukan + Tidak dilakukan Tidak dilakukan Tidak dilakukan + Tidak dilakukan

OD

OS

NO 1.

Pemeriksaan Sekitar Mata o o o o Supercilia Rontok Cilia Rontok Pertumbuhan rambutnya Trikiasis

OD

OS

Negatif

Negatif

Negatif Normal (tidak mengarah ke dalam) Negatif

Negatif Normal (tidak mengarah ke dalam) Negatif

2.

Kelopak mata (palpebra superior & inferior) Benjolan Oedem Hiperemis Cobblestone Gerakan Kulit Negatif Negatif Positif Negatif Normal Normal Negatif Negatif Negatif Negatif Normal Normal

3.

Bola Mata Pasangan Gerakan Ukuran Negatif Normal Normal Negatif Normal Normal

5.

Konjungtiva (palpebra,bulbi,forniks) Injeksi siliar Injeksi konjungtiva Injeksi perikornea Hiperemis Oedem Folikel (konjungtiva palpebra superior dan inferior) Negatif Positif Positif Positif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif

6.

Sklera Ikterik Negatif Negatif

7.

Kornea Warna Sikatrik Infiltrat Oedem Bening (-), transparan (-), mengkilat (-) Leukoma (+) Negatif Positif Negatif Negatif Bening,transparan,mengkil at

8.

Pupil Isokor Reflek pupil Sulit dievaluasi Sulit dievaluasi Isokor 4mm +/+

9.

Iris
Warna Sinekia Coklat normal Negatif Coklat normal Negatif

Bentuk 10. Lensa


Ada/Tidak Terletak pada tempatnya/ Tidak Warna

Normal

Normal

Sulit dievaluasi Sulit dievaluasi

Ada Terletak pada tempatnya

Sulit dievaluasi Jernih

11. Sekret

Postitif

Negatif

DIAGNOSIS

Ulkus kornea OD

TERAPI

Dibekasin Meiji 4 x 2 gtt

ANATOMI MATA

KORNEA
Kornea (latin cornum = seperti tanduk) adalah selaput bening mata yang bentuknya hampir sebagian lingkaran dengan diameter vertical 10 -11mm dan hori z ontal 11-12 mm, tebal 0, 6 -1mm. Bening Transparan Licin Avaskuler

LAPISAN KORNEA

Epitel
Terdiri dari 5 lapis sel epitel bertingkat tak bertanduk yang saling tumpang tindih dan berikatan erat. Ikatan ini menghambat pengaliran air, elektrolit dan glukosa melalui barier. Sel penyusunnya berupa sel basal, sel poligonal, dan sel gepeng. Bila terjadi kerusakan pada sel basal akan mengakibatkan erosi rekuren. Lapisan epitel ini memiliki daya regenerasi yang cukup besar. U jung syaraf kornea berakhir di epitel, sehingga kelainan pada epitel akan menyebabkan gangguan

Membran Bowman Terletak di bawah membran basal epitel kornea dan merupakan kolagen yang tersusun tidak teratur. Lapisan ini memiliki daya tahan yang tinggi terhadap trauma tetapi tidak memiliki daya regenerasi. Trauma akan menimbulkan jaringan parut. Stroma Merupakan lapisan paling tebal dari kornea. Bersifat water soluble dan higroskopis. Mengandung keratosit yang berupa fibroblas yang terletak di antara serat kolagen stoma. Keratosit membentuk bahan dasar dan serat kolagen dalam perkembangan embrio atau sesudah trauma

Membran Descemet Merupakan membran aselular yang tipis, kenyal, kuat, dan bening. Terletak di bawah stroma dan sebagai pelingdung/barier infeksi. Lapisan ini terus berkembang seumur hidup. Endotel Merupakan lapisan kornea yang penting untuk mempertahankan kejernihan kornea, mengatur cairan di dalam stroma kornea dan tidak mempunyai daya regenerasi, sehingga endotel mengkompensasi sel-sel yang mati dengan mengurangi kepadatan seluruh endotel dan memberikan dampak pada regulasi cairan, berupa membengkaknya stroma akibat kelebihan cairan (edema kornea) dan hilangnya transparansi. Dapat terganggu

FISIOLOGI KORNEA
Kornea merupakan bagian anterior dari mata, yang harus dilalui cahaya, dalam perjalanan pembentukan bayangan di retina, karena jernih, sebab susunan sel dan seratnya tertentu dan tidak ada pembuluh darah. Biasan cahaya terutama terjadi di permukaan anterior dari kornea. Perubahan dalam bentuk dan kejernihan kornea, segera mengganggu pembentukan bayangan yang baik di retina. O leh karenanya kelainan sekecil apapun di kornea, dapat menimbulkan gangguan penglihatan yang hebat terutama bila letaknya di

NUTRISI KORNEA

Cairan a quos Berperan dalam difusi glukosa Kapiler di limbus Berperan dalam suplai oksigen dari sirkulasi limbus Film perikorneal

PERSYARAFAN
Kornea dipersarafi oleh banyak saraf sensoris terutama berasal dari: Saraf siliar longus Saraf nasosiliar Saraf ke V Saraf siliar longus yang berjalan suprakoroid, masuk ke dalam stroma kornea, menembus membran Bo w man melepas selubung Sch w annya. Seluruh lapis epitel dipersarafi sampai pada kedua lapis terdepan.

ETIOLOGI
Infeksi Bakteri Virus Jamur Acanthamoeba Non Infeksi Bahan kimia Radiasi atau suhu Sjorgen syndrom Defisiensi vit A Reaksi imun

Bakteri al

Pseudomon as

Jamur

Dendritik

Acanthamoeb a Ulkus Marginal

Ulkus Mooren

MANIFESTASI KLINIS

1.
2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

Subjektif Konjungtiva hiperemis 1. Sekret mukopurulen 2. Terasa mengganjal Pandangan mata kabur 3. Lakrimasi Bintik putih pada kornea Fotofobia Nyeri

Objektif Injeksi siliar Hilangnya sebagian jaringan kornea Hipopion

PATOFISIOLOGI
Rekasi homograf, herpes, autoimun Trauma, infeksi, defisiensi nutrisi

Ag-Ab kompleks

Aktivasi komplemen

Denaturasi jaringan

Kemotaksis leukosit Epitelium & keratosit Pelepasan lisosom Destruksi kolagen dan proteoglikan

PENEGAKAN DIAGNOSIS

Anamnesis Pemeriksaan fisik Penunjang 1. Tes visus 2. Tes air mata 3. Slit lamp 4. Keratometri 5. Fluoresensi 6. Kultur

TERAPI

Disesuaikan dengan causa Siklopegik Sulfas atropin Analgetik

KOMPLIKASI

Kebutaan parsial atau komplit dalam waktu singkat Perforasi pada kornea dapat berlanjut menjadi endoftalmitis dan panoftalmitis Prolaps iris Sikatrik kornea Katarak Glaukoma sekunder

PEMBAHASAN
Anamnesi s

Px Fisik

Ulkus kornea

SARAN

Edukasi keluarga pasien Memakai penutup mata Pemenuhan kecukupan gizi