Anda di halaman 1dari 26

DEFINISI

Asma adalah penyakit inflamasi kroni s saluran pernapasan yang dihubungkan dengan hiper responsif, keterbatasan aliran udara yang reversible dan gejala pernapasan. Asma bronkial adalah salah satu penyakit paru yang termasuk dalam kelompok penyakit paru alergi dan imunologi yang merupakan suatu penyakit yang ditandai oleh tanggap reaksi yang meningkat dari trakea dan bronkus terhadap berbagai macam rangsangan dengan manifestasi berupa kesukaran bernafas yang disebabkan oleh penyempitan yang menyeluruh dari saluran nafas.

ANATOMI PARU

Paruparu adalah organ berbentuk spons yang terdapat di dada. Paru-paru kanan memiliki 3 lobus, sedangkan paruparu kiri memiliki 2 lobus. Paru adalah organ tubuh yang berperan dalam sistem pernapasan (respirasi) yaitu proses pengambilan oksigen (O2) dari udara bebas saat menarik napas, melalui saluran napas (bronkus) dan sampai di dinding alveoli (kantong udara) O2 akan ditranfer ke pembuluh darah yang di dalamnya mengalir anatara lain sel sel darah merah untuk dibawa ke selsel sel di berbagai organ tubuh lain sebagai energy dalam proses metabolisme

EPIDEMIOLOGI
Asma dapat ditemukan pada laki-laki dan perempuan di segala usia, terutama pada usia dini. Perbandingan laki-laki dan perempuan pada usia dini adalah 2:1 dan pada usia remaja menjadi 1:1. Prevalensi asma lebih besar pada wanita usia dewasa. Laki-laki lebih memungkinkan mengalami penurunan gejala di akhir usia remaja diba ndingkan dengan perempuan. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), hingga saat ini jumla h penderita asma di dunia diperkirakan mencapai 300 juta orang dan diperkirakan angka ini akan terus meningkat hingga 400 juta penderita pada tahun 2025. Hasil penelitian Interntional Study on Asthma and Allergies in Childhood (ISAAC) pada tahun 2005 menunjukkan bahwa di Indonesia prevalensi peny akit asma meningkat dari 4,2% menjadi 5,4%. Diperkirakan prevalensi asma di Indonesia 5% dari seluruh penduduk Indonesia, artinya saat ini ada 12,5 juta pasien asma di Indonesia.

ETIOLOGI

1. Ekstrinsik (alergik). 2. Intrinsik (non alergik).

3. Asma gabungan

faktor predisposisi dan presipitasi timbulnya serangan asma bronkhial yaitu :

1. Faktor predisposisi (Genetik).

2. Faktor presipitasi

a. Alergen

- Inhalan - Ingestan - kontaktan

b. Perubahan cuaca

c. stress

d. Lingkungan kerja
e. Olahraga yang berat

PATOFISIOLOGI
Asma ditandai dengan kontraksi spastic dari otot polos bronkhiolus yang menyebabkan sukar bernapas. Penyebab yang umum adalah hipersensitivitas bronkhiolus terhadap bendabenda asing di udara. Reaksi yang timbul pada asma, : tipe alergi diduga terjadi dengan cara sebagai berikut : seorang yang alergi mempunyai kecenderungan untuk membentuk sejumlah antibody IgE abnormal dalam jumlah besar dan antibody ini menyebabkan reaksi alergi bila reaksi dengan antigen spesifikasinya. Pada asma, antibody ini terutama melekat pada sel mast yang t erdapat pada interstisial paru yang berhubungan erat dengan brokhiolus dan bronkhus kecil. Bila seseorang menghirup alergen maka antibody Ig E orang tersebut meningkat, alergen bereaksi dengan antibodi yang telah terlekat pada sel mast dan menyebabkan sel ini akan mengeluarkan berbagai macam zat, diantaranya histamin, zat anafilaksis yang bereaksi lambat (yang merupakan leukotrient), Efek gabungan dari semua faktor-aktor ini akan menghasilkan edema lokal pada dinding bronkhioulus kecil maupun sekresi mucus yang kental dalam lumen bronkhioulus dan spasme otot polos bronkhiolus sehingga menyebabkan tahanan saluran napas menjadi sangat meningkat.

Atopi

Hiperreaktiv itas bronkus

Jenis kelamin

Ras

Obesitas

Bisa saja seorang penderita asma hampir-hampir tidak menunjukkan gejala yang spesifik sama sekali, di lain pihak ada juga yang sangat jelas gejalanya. Gejala dan tanda tersebut antara lain:

- Batuk - Nafas sesak (dispnea) terlebih pada saat mengeluarkan nafas (ekspirasi) - Wheezing (mengi) - Nafas dangkal dan cepat - Ronkhi - Retraksi dinding dada - Pernafasan cuping hidung (menunjukkan telah digunakannya semua otototot bantu pernafasan dalam usaha mengatasi sesak yang terjadi) - Hiperinflasi toraks (dada seperti gentong)

2.Asma saat serangan (Akut)

DIAGNOSIS

Bila disertai dengan bronkitis, maka bercak-bercak di hilus akan bertambah.

Bila terdapat komplikasi empisema (COPD) , maka gambaran radiolusen akan semakin bertambah. Bila terdapat komplikasi, maka terdapat gambaran infiltrate pada paru

Dapat pula menimbulkan gambaran atelektasis lokal. Bila terjadi pneumonia mediastinum, pneumotoraks, dan pneumoperikardium, maka dapat dilihat bentuk gambaran radiolusen pada paru-paru.

DIAGNOSIS BANDING
Bronkitis kronik Bronchitis kronik ditandai dengan batuk kronik yang mengeluarkan sputum 3 bulan dalam setahun untuk sedikitnya 2 tahun. Gejala utama batuk yang disertai sputum dan perokok berat.Gejala dimulai dengan batuk pagi, lama kelamaan disertai mengidan menurunkan kemampuan jasmani.

Emfisema paru Sesak napas merupakan gejala utama emfisema, sedangkan batuk dan mengi jarang menyertainya.
Gagal jantung kiri Dulu gagal jantung kiri dikenal dengan asma kardial dan timbul pada malam hari disebut paroxysmal nocturnal dispnea. Penderita tiba-tiba terbangun pada malam hari karena sesak, tetapi sesak menghilang atau berkurang bila duduk. Pada pemeriksaan fisik ditemukan kardiomegali dan edema paru.

Emboli paru Halhal yang dapat menimbulkan emboli paru adalah gagal Jantung. Disamping gejala sesak napas, pasien batuk dengan disertai darah (haemoptoe).

PENATALAKSANAAN

Pengontrol adalah medikasi asma jangka panjang untuk mengontrol asma. Diberikan setiap hari untuk mencapai dan mempertahankan keadaan asma terkontrol pada asma persisten.

Pengontrol sering disebut pencegah, yang termasuk obat pengontrol : 1. Kortikosteroid inhalasi 2. Kortikosteroid sistemik 3. Sodium kromoglikat 4. Nedokromil sodium 5. Metilsantin 6. Agonis beta-2 kerja lama, inhalasi 7. Agonis beta-2 kerja lama, oral 8. Leukotrien modifiers 9. Antihistamin generasi ke dua (antagonis-H1)

Prinsipnya untuk dilatasi jalan napas melalui relaksasi otot polos, memperbaiki dan atau menghambat bronkokonstiksi yang berkaitan dengan gejala akut seperti mengi, rasa berat di dada dan batuk , tidak memperbaiki inflamasi jalan nafas atau menurunkan hiperresponsif jalan nafas. Yang termasuk pelega adalah :
Agonis beta2 kerja singkat Kortikosteroid sistemik (steroid sistemik digunakan sebagai

obat pelega bila penggunaan bronkodilator yang lain sudah optimal tetapi hasil belum tercapai, penggunaannya dikombinasikan dengan bronkodilator lain) Antikolinergik Aminofillin

Cara pemberian pengobatan Pengobatan asma dapat diberikan melalui berbagai cara yaitu inhalasi, oral dan parenteral (subkutan, intramuscular, intravena). kelebihan pemberian pengobatan langsung ke jalan napas (inhalasi) adalah: lebih efektif untuk dapat mencapai konsentrasi tinggi di jalan nafas efek sistemik minimal atau dihindarkan beberapa obat hanya dapat diberikan melalui inhalasi, karena tidak terabsorpsi pada pemberian oral (antikolinegik dan kromalin). Waktu kerja bronkodilator adalah lebih cepat bila diberikan inhalasi daripada oral.

Berbagai komplikasi yang mungkin timbul adalah :

- Status asmatikus - atelektasis - hipoksemia - Pneumothorok

- emfisema

PROGNOSIS
Mortalitas akibat asma sedikit nilainya. Gambaran yang paling akhir menunjukkan kurang dari 5000 kematian tiap tahun dari populasi beresiko yang berjumlah kira-kira 10 juta. Sebelum dipakai kortikosteroid, secaraita asma wanita dua kali lipat penderita asma pria. Juga kenyataan bahwa angka kematian pada serangan asma dengan usia tua lebih banyak, kalau serangan asma diketahui dan dimulai sejak anak-anak dan mendapat pengawasan yang cukup, kira-kira setelah 20 tahun, hanya 1% yang tidak sembuh dan di dalam pengawasan tersebut kalau seering mengalami serangan common cold 29 % akan mengalami serangan ulang. Pada penderita yang mengalami serangan intermiten angka kematiannya 2% sedangkan angka kematian pada penderita yang dengan serangan terus menerus angka kematiannya 9%.

Asma bronchial adalah suatu penyakit gangguan jalan nafas obstruktif intermiten yang bersifat reversibel, ditandai dengan adanya periode bronkospasme, peningkatan respon trakea dan bronkus terhadap berbagai rangsangan yang menyebabkan penyempitan jalan nafas.

Berdasarkan penyebabnya, asma bronkhial dapat diklasifikasikan menjadi 3 tipe, yaitu : Ekstrinsik (alergik), Intrinsik (non alergik) ,Asma gabungan.
Dan ada beberapa hal yang merupakan faktor penyebab timbulnya serangan asma bronkhial yaitu : faktor predisposisi(genetic), faktor presipitasi(alergen, perubahan cuaca, stress, lingkungan kerja, olahraga/ aktifitas jasmani yang berat).
a.

b.
c. d. e.

Pencegahan serangan asma dapat dilakukan dengan : Menjauhi alergen, bila perlu desensitisasi Menghindari kelelahan Menghindari stress psikis Mencegah/mengobati ISPA sedini mungkin Olahraga renang, senam asma

DAFTAR PUSTAKA
Riyanto BS, Hisyam B. Obstruksi Saluran Pernapasan Akut. Dalam : BukuAjar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. Edisi ke - 4. Jakarta : Pusat PenerbitanDepartemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI. 2006. h 978 87. Alsagaff H, Mukty A. Dasar - Dasar Ilmu Penyakit Paru. Edisi ke 2.Surabaya : Airlangga University Press. 2002. h 263 300. Morris MJ. Asthma. [ updated 2011 June 13; cited 2011 June 29]. Availablefrom:http://emedicine.medscape.com/article/296301overview#showall Partridge MD. Examining The Unmet Need In Adults With SevereAsthma. Eur Respir Rev 2007; 16: 104, 6772 Dewan Asma Indonesia. You Can Control Your Asthma : ACT NOW!.Jakarta. 2009 May 4th. Available from: http://indonesianasthmacouncil.org/index.php?option=com_conte nt&task=view&id=13&Itemid=5