Presentasi Kasus Rehabilitasi Medik

SEORANG PEREMPUAN 39 TAHUN DENGAN PARAPARESE INFERIOR, ANESTESIA SETINGGI VERTEBRA THORACALIS X, RETENSI URIN ET ALVI ET CAUSA SUSPEK MIELITIS
Oleh: Shaumy Saribanon G9911112129 Pembimbing : dr. Trilastiti Widowati, Sp.KFR, M.Kes

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN REHABILITASI MEDIK FAKULTAS KEDOKTERAN UNS/RSUD DR. MOEWARDI SURAKARTA 2012

ANAMNESA
Status Pasien :  Nama  Umur  Jenis Kelamin  Agama  Pekerjaan  Alamt  Tanggal Masuk  Tanggal Periksa  No CM

: Ny. S : 39 tahun : Perempuan : Islam : Ibu rumah tangga : Tegal rejo RT 2/ RW 3 Jebres Surakarta : 22 Desember 2012 : 28 Desember 2012 : 01168031

Keluhan Utama :  Kedua tungkai sulit digerakkan

Riwayat Penyakit Sekarang :
• ± 1bulan SMRS kedua tungkai terasa lemas dan sulit digerakkan sehingga tidak dapat berjalan • keluhan dirasan tiba-tiba diawali rasa kesemutan •Rasa tebal dan tidak bisa merasakan rabaan maupun nyeri • tidak bisa BAK dan BAB • Pasien sempat mondok di RSUD Sragen selama 2 minggu • di foto rontgen lumbosacral  paravertebra muscle spasme dan tidak ditemukan listhesis • lalu pasien APS dan pindah ke RSDM

Riwayat Penyakit Dahulu  Riwayat sakit serupa : disangkal  Riwayat trauma : disangkal  Riwayat mondok : (+) di RSUD Sragen selama 2 minggu  Riwayat hipertensi : disangkal  Riwayat penyakit jantung : disangkal  Riwayat sakit gula : disangkal  Riwayat asma : disangkal .

Riwayat Penyakit Keluarga  Riwayat Hipertensi  Riwayat DM  Riwayat Penyakit Jantung  Riwayat Alergi  Riwayat Asma : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal .

Riwayat Kebiasaan dan Gizi  Riwayat Merokok  Riwayat minum alkohol  Riwayat Olahraga : disangkal : disangkal : disangkal .

. Moewardi dengan menggunakan fasilitas jamkesmas. Saat ini pasien mondok di RSUD DR.Riwayat Sosial Ekonomi Pasien adalah seorang ibu rumah tangga yang tinggal bersama suami dan 1 orang anaknya.

compos mentis E4V5M6. Tanda Vital  Tekanan Darah : 120/800 mmHg  Nadi : 80x / menit  Respirasi : 20x / menit  Suhu : 36. gizi kesan cukup.PEMERIKSAAN FISIK Status Generalis Keadaan umum lemah.7º C per aksiler .

nyeri tekan (-).CA : (-/-).- - Oed. NT (-) Ikterik (-) Spoon nail (-) Kuku pucat (-) A. SI: (-/-). supel SDV : (+/+) Suara tambahan: (-/-) Lien Tidak Membesar Distensi (-). BU (-)..d . oedem palpebrae (-/-) Limfonodi tidak membesar JVP Normal R+2 batas jantung kesan tidak melebar Bunyi jantung I/II normal Hepar tidak teraba. - PEMERIKSAAN FISIK .

DC catheter : Hipestesi setinggi V.+1 +1 .F +2 +2 RP .STATUS NEUROLOGIS  Kesadaran  Fungsi Luhur  Fungsi Vegetatif  Fungsi Sensorik  Fungsi Motorik K 5 5 1 1 N N ↓ ↓ : GCS E4V5M6 : dbn : IV line.- Nervus Craniales : dalam batas normal . Th X : R.

ROM Extremitas Inferior Aktif Hip Flexi 0-40o Dextra Pasif 0-100o Aktif 0o Sinistra Pasif 0-100o Extensi Abduksi Adduksi Knee Flexi Extensi 0o 0o 0o 0-40o 0o 0-20o 0-30o 0-30o 0-120o 120-150o 0o 0o 0o 0o 0o 0-20o 0-30o 0-30o 0-120o 120-150o Ankle Dorsoflexi Plantarflexi 0-20o 0-20o 0-40o 0-40o 0o 0o 0-40o 0-40o .

MMT Ekstremitas inferior Hip Fleksor Ekstensor Abduktor Adduktor Knee Fleksor Ekstensor Ankle Fleksor Ekstensor M Psoas mayor M Gluteus maksimus M Gluteus medius M Adduktor longus Harmstring muscle Quadriceps femoris M Tibialis M Soleus Dextra 2 2 2 2 2 2 2 2 Sinistra 1 1 1 1 1 1 1 1 .

STATUS AMBULASI  Totally dependent .

4 mmol/L Cl : 103 mmol/L .PEMERIKSAAN PENUNJANG Hb Hct AE AL AT PT APTT GDS SGOT SGPT : 11.9 g/dl : 36 % : 4.6 mg/dl Na : 139 mmol/L K : 3.5 detik : 30.9 g/dl Ureum : 19 mg/dl Creatinin : 0.1 g/dl Albumin : 3.8 ribu/ul : 334 ribu/ul : 12.2 detik : 97 mg/dl : 24 u/l : 33 u/l Protein total : 8.45 juta/ul : 8.

Pemeriksaan Radiologis Foto thorax AP  Kesan: Cardiomegali Foto Thoracal AP/Lat/Obl  Kesan: Foto thoracal tak terdeteksi kelainan .

ASSESMENT  Klinis : paraparese inferior tipe UMN.Th X  Etiologi : Suspek Mielitis . anestesia setinggi vertebra thoracalis X. retensi urin dan alvi  Topis : MS setinggi V.

DAFTAR MASALAH  Masalah Medis     : Paraparese inferior tipe UMN Anestesia setinggi vertebra thoracalis X Retensi urin dan alvi Suspek Mielitis .

DAFTAR MASALAH Problem Rehabilitasi Medik  Fisioterapi : Pasien tidak dapat menggerakkan anggota gerak bagian bawah  Terapi Wicara : tidak ada  Okupasi Terapi : keterbatasan melakukan kegiatan seharihari karena paraparese  Sosiomedik : Memerlukan bantuan untuk melakukan aktifitas sehari-hari  Ortesa-protesa : keterbatasan mobilisasi  Psikologi : pasien merasa tertekan dan depresi karena penyakit yang diderita .

PENATALAKSANAAN  Terapi Medikamentosa Infus NaCl 0.9% 20 tpm Injeksi Dexamethason 5 mg/24 jam Injeksi Vit B1 100 mg/12 jam Injeksi Ranitidin 50 mg/12 jam .

Program Rehabilitasi Medik 1. Okupasi Terapi : Latihan ADL  melatih kemampuan pasien untuk melakukan aktivitas sehari-hari . Terapi Wicara : Tidak dilakukan 3. Fisioterapi •Stretching exercise sendi yang kaku untuk mencegah kontraktur •Strengthening exercise untuk melatih kekuatan otot dan mencegah atropi otot-otot •ROM exercise aktif dan pasif •Positioning dan turning (rubah posisi tiap 2 jam) untuk cegah ulkus dekubitus 2.

Program Rehabilitasi Medik 4. Memberikan motivasi agar penderita dan keluarga mau menjalankan program rehabilitasi . Sosiomedik : Edukasi keluarga mangenai penyakit yang diderita pasien serta motivasi untuk membantu dan merawat pasien dan selalu berusaha menjalankan program di RS dan home program. 5. Ortesa-protesa : 6. meningkatkan kepercayaan diri pasien dan pengawasan status psikologis pasien. menurunkan kecemasan. Psikologi : psikoterapi suportif kepada pasien.

anestesia vertebra thoracalis X. retensi urin et alvi  Disabilitas : penurunan fungsi anggota gerak bawah  Handicap : keterbatasan aktivitas sehari-hari .IMPAIRMENT. DAN HANDICAP  Impairment : paraparese inferior. DISABILITY.

disability dan handicap Membantu penderita sehingga mampu mandiri dalam menjalankan aktivitas sehari-hari Edukasi perihal home exercise .TUJUAN      Perbaikan keadaan umum sehingga mempersingkat waktu perawatan Mencegah terjadinya komplikasi yang dapat memperburuk keadaan Meminimalkan impairment.

PROGNOSIS  Ad vitam : dubia  Ad sanam : dubia  Ad fungsionam : dubia .

Tinjauan Pustaka Mielitis Transversa .

 Inflamasi  merusak mielin yang merupakan selubung serabut sel saraf jaringan parut pada sistem saraf gangguan  onset tiba – tiba dan progresif dalam beberapa jam dan atau beberapa hari.Definisi  Mielitis transversa adalah kelainan neurologi yang disebabkan oleh peradangan sepanjang medulla spinalis baik melibatkan satu tingkat atau segmen dari medulla spinalis. .

2 . Meskipun sedikit peneliti yang meneliti ratarata insidensi tersebut.Epidemiologi  Mielitis transversa dapat diderita oleh orang dewasa dan anak–anak baik pada semua jenis kelamin maupun ras.  Usia puncak insidens umur 10-19 dan 30-39 tahun. diperkirakan sekitar 1400 kasus baru tiap tahun di diagnosa sebagai mielitis transversa di amerika serikat.

Etiologi  Inflamasi akibat: infeksi viral. reaksi autoimun. chickenpox.  Idiopatik  Virus: Epstein-Barrvirus. dan campak . HSV. mononukleosis. menurunnya aliran darah ke medula spinalis. cytomegalovirus. rubella.

sarcoidosis  Sifat akut dan berkembang cepattanda awal serangan Multipel Sklerosis  Gangguan aliran darah. c/ arteri spinalis. sindrom Sjogren’s. atherosklerosisiskemik MSkurang nutrisi dan oksigenperburukan sel sarafinflamasi luasmielitis transversa . Mielitis post infeksirangsangan sistem imun  Autoimun dpt juga terjadi pd SLE.

Tampak pula kelainan degeneratif pada sel . pembuluh – pembuluh darah yang melebar dengan infiltrasi perivaskuler dan pada medulla spinalis tampak pembuluh darah yang melebar dengan infiltrasi perivaskuler (limfosit/leukosit) di substansia grisea dan alba.5 .sel ganglia. disamping itu tampak adanya hiperplasia dari mikroglia. pada akson – akson dan pada selubung mielin.Patologi  Makroskopis  medula spinalis yang peradangan akan tampak edema. hiperemi dan pada kasus berat terjadi perlunakan (mielomalasia)  Mikroskopis pada leptomening tampak edema. Traktus – traktus panjang disebelah atas atau bawah daripada segemen yang sakit dapat memperlihatkan kelainan – kelainan degeneratif.

. demam. sakit kepala. gatal. dan hilangnya selera. anestesia dan paraparesis. gelisah. geli).  Sering terdapat gangguan BAK dan BAB  Beberapa dengan spasme otot.Gambaran Klinis  Akut jam. parestesia mendadak di kaki (rasa spt terbakar.hari  Sub akut 1 atau 2 minggu  Gejala awal: sakit pinggang terlokalisir. Bahkan sampai gangguan respiratori. tertusuk. bahkan paraplegia.

Gejala Klasik kelemahan otot atau paralisis kedua lengan atau kaki. Disfungsi kandung kemih dan buang air besar Nyeri Kehilangan rasa pada kaki dan jari – jari kaki .

infeksi epidural dan polineuritis pasca infeksi akut (sindroma guillain barre)  Trauma MS. stenosis (penyempitan saluran yang menahan medulla spinalis) atau abses. ruptur diskus intervertebralis akut). pungsi lumbal .  Pmx: MRI .Diagnosis dan Diagnosis Banding  DD:  mielopati akibat kompresi medulla spinalis (baik karena neoplasme medulla spinalis instrinsik maupun ekstrinsik. myelografi. herniasi. bergesernya diskus. tumor.

jenis kelumpuhan flaksid serta pola gangguan sensibilitasnya di samping mengenai kedua tungkai juga terdapat pada kedua lengan (glove and stocking). pleoitosis moderat (antara 20 – 200 sel/mm3) terutama jenis limposit. protein sedikit meninggi (50–120 mg/100ml) dan kadar glukosa normal. Pada sindroma gullain barre. DD GBS dapat di singkirkan melalui pungsi lumbal  Mielitis transversa biasanya tidak didapati blokade aliran likuor. . Berbeda dengan sindroma gullain barre dimana djumpai peningkatan kadar protein tanpa disertai pleositosis.

mielografi dan sken tomografi akan lebih memastikan ada tidaknya lesi kompresi medulla spinalis tersebut.  Pemerikaan foto polos vertebra antero – posterior dan lateral.4 . sering didahului dengan nyeri segmental sebelum timbulnya lesi parenkim medulla spinalis. DD Kompresi MS dapat dibedakan dari mielitis karena perjalanan penyakitnya tidak akut.  Pungsi lumbal djumpai blokade aliran likuor dengan kadar protein yang meningkat tanpa disertai adanya sel.

 Test darah  u/ DD SLE. HIV. dan defisiensi vitamin B12.  bila tidak ada penyebab yang jelas  mielitis transversa idiopatik.3 .

4 .Pengobatan  Tujuan pengobatan pertama ditujukan untuk meredakan respon immun yang disebabkan oleh trauma medulla spinalissteroid dosis tinggi c/ cyclophosphamide (5-7 hari).  Cegah ES kortikosteroiddiet rendah garam+simetidin atau ranitidin atau antasida peroral. glukokortikoid (prednisolon oral atau MP intravena) atau ACTH IM dapat diberikan pada awitan yg sedang berlangsung dalam 10 hari pertama atau bila terjadi progresivitas defisit neurologik.

atau tramadol. sebaiknya upaya pengobatan lebih efektif diarahkan ke rehabilitasi dan rehabilitasi harus dimulai sedini mungkin untuk mengurangi kontraktur dan mencegah tromboemboli.  Untuk menghilangkan nyeri dapat diberikan gabapentin. carbamazepine. nortriptyline. Setelah itu. Pengobatan mielitis tranversa diusahakan selama 6 bulan mulai dari serangan. . Pengobatan yang lain nyeri dan dysesthesias adalah transcutaneous elecrical nerve stimulation disebut TENS terapi  Pencegahan dekubitus dilakukan dengan alih baring tiap 2 jam.

. Setelah masa akut berlalu maka tonus otot mulai meninggi sehingga sering timbul spasme kedua tungkai. atau diazepam 3 – 4 kali 5 mg / hari. hal ini dapat diatasi dengan pemberian baclofen 15-80 mg / hari.

mungkin sampai 2 tahun. .  1/3mengalami perbaikan dan meninggalkan defisit neurologis seperti gaya berjalan yang spastik. buang air besar dan parastesia. disfungsi sensorik dan sering kencing atau inkontinensia urin.  Sekitar 1/3penyembuhan yang sempurna dari gejala klinisnya. mereka kembali dapat berjalan normal dan gejala yang minimal pada kandung kemih. mereka tetap dikursi roda atau berbaring ditempat tidur dengan tergantung pada orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. maka tidak dijumpai penyembuhan yang signifikan.Prognosis  Perbaikan antara 2 sampai 12 minggu.  1/3tetap tidak mengalami perbaikan sama sekali. Apabila tidak ada perbaikan dalam 3 – 6 bulan pertama.

TERIMA KASIH .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful