Anda di halaman 1dari 19

SLE

Illina Dewinur 111.0211.112

Definisi
SLE merupakan penyakit autoimun yang ditandai oleh produksi antibodi terhadap komponen-komponen inti sel yang berhubungan dengan manifestasi klinis yang luas. SLE melibatkan hampir semua organ, namun paling sering mengenai kulit, sendi, darah, membran serosa, jantung dan ginjal.

Epidemiologi
Insiden SLE bervariasi di seluruh dunia The female-to-male ratio peaks at 11:1 during the childbearing years. SLE is more common in men with Klinefelter syndrome (ie, genotype XXY) than in men without the syndrome, also supporting a hormonal hypothesis Onset of SLE is usually after puberty, typically in the 20s and 30s, with 20% of all cases diagnosed during the first 2 decades of life.

Ras Afrika-Amerika 4 kali lebih rentan terhadap SLE dibandingkan wanita kulit putih. Pada anak-anak kulit putih <15 tahun prevalensi SLE antara 0/100.000 Insiden SLE pada usia 10-20 tahun bervariasi yaitu 4,4/100.000 pada wanita kulit putih, 31/100.000 pada wanita Asia, 19,86/100.000 pada kulit hitam dan 13/100.000 pada Amerika latin.

Etiologi
Penyebab SLE belum diketahui dengan jelas 1.Faktor genetik Kerabat dekat (first degree relative ) 10-20 % Kembar identik 24-69 % Kembar non-identik 2-9 % 2.Faktor lingkungan Sinar UV Induksi obat Infeksi virus dan bakteri 3. Faktor hormonal

terdapat predisposisi genetik yang menunjukkan hubungannya dengan antigen spesifik HLA (Human Leucocyte Antigen) / MHC (Major Histocompatybility Complex). Defek utama pada lupus eritematosus sistemik adalah disfungsi limfosit B, begitu juga supresor limfosit T yang berkurang, sehingga memudahkan terjadinya peningkatan autoantibodi.

Gambaran Klinis
Joint pain Butterfly rash Perubahan jari Rambut rontok Demam & kelelahan Photosensitif Hematuri Pleuritis / effusi pleura Gangguan Neurologik : Depresi & Psikosis Gangguan Hematologi : Anemia, lekopenia ringan, trombositopenia

Patogenesis
Diduga terbentuknya komplek imun (DNA dan anti-DNA) merupakan ciri imunopatologis lupus. Antibodi yang mengikat nukleosum (DNA dan histon) dapat terjadi di ginjal dan membentuk kompleks imun in situ. Baik komplek imun yang dibentuk dalam sirkulasi atau insitu berperan dalam terjadinya kerusakan ginjal, kulit, pleksus koroid di otak dan jaringan lainnya.

SLE ditandai oleh terjadinya penyimpangan sistem imun yang melibatkan sel T, sel B dan sel-sel monosit. Akibatnya terjadi aktivasi sel B poliklonal, meningkatnya jumlah sel yang menghasilkan antibodi, produksi autoantibodi dan terbentuknya kompleks imun.

Aktivasi sel B poliklonal tersebut akan membentuk antibodi yang tidak spesifik yang dapat bereaksi terhadap berbagai jenis antigen termasuk antigentubuh sendiri. Terdapat bukti bahwa sel B pasien SLE lebih sensitif terhadap stimulasi sitokin seperti IL-6.

Diagnosis
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Malar rash Discoid rash Fotosensitivitas Ulkus oral Artritis Serositis Gangguan renal Kelainan neurologis Kelainan hematologis
Anemia Leukopenia Trombositopenia Anti ds DNA AB antinuklear(ANA)

10. Pemeriksaan imunologi

Penatalaksanaan
Hingga kini SLE belum dapat disembuhkan dengan sempurna. Namun, pengobatan yang tepat dapat menekan gejala klinis dan komplikasi yang mungkin terjadi, mengatasi fase akut dan dengan demikian dapat memperpanjang remisi dan survival rate

Penatalaksanaan SLE sesuai dengan gejala yang ditimbulkannya. Penatalaksanan utama adalah menciptakan suatu lingkungan yang dapat memberikan istirahat pada jiwa dan raga, perlindungan dari sinar matahari (bahkan yang melalui jendela), nutrisi yang sehat, terapi pencegahan infeksi, menghindari semua alergen dan faktor-faktor yang dapat memperberat penyakit.

Treatment of systemic lupus erythematosus (SLE) is guided by the individual patient's manifestations. Fever, rash, musculoskeletal manifestations, and serositis generally respond to treatment with hydroxychloroquine, NSAIDS, and low-to-moderate dose steroids, as necessary, for acute flares. Medications such as methotrexate may be useful in chronic lupus arthritis, and azathioprine and mycophenolate have been widely used in moderate severity lupus.

CNS involvement and renal disease constitute more serious disease and often require highdose steroids and other immunosuppression agents such as cyclophosphamide, azathioprine, or mycophenolate. Class IV diffuse proliferative lupus nephritis has also been treated with aggressive cyclophosphamide induction therapy.

Referensi
http://emedicine.medscape.com/article/332244overview#a0104 ojs.unud.ac.id/index.php/jim/article/download/3 839/2835 http://lupus.webmd.com/ss/slideshow-lupusoverview http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/9496410.p df http://staff.ui.ac.id/internal/140067028/material /LupusEritematosusSistemikpendidikandrnanang.pdf