Anda di halaman 1dari 41

Kelompok 4

PENDAHULUAN
Tanah longsor adalah perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan, bahan rombakan, tanah, atau material campuran tersebut, bergerak ke bawah atau keluar lereng. Proses terjadinya tanah longsor dapat diterangkan sebagai berikut: air yang meresap ke dalam tanah akan menambah bobot tanah. Jika air tersebut menembus sampai tanah kedap air yang berperan sebagai bidang gelincir, maka tanah menjadi licin dan tanah pelapukan di atasnya akan bergerak

mengikuti lereng dan keluar lereng.

Jenis Tanah Longsor


Ada 6 jenis tanah longsor, yakni: longsoran translasi, longsoran rotasi, pergerakan blok, runtuhan batu, rayapan tanah, dan aliran bahan rombakan. Jenis longsoran translasi dan rotasi paling banyak terjadi di Indonesia. Sedangkan longsoran yang paling banyak memakan korban jiwa manusia adalah aliran bahan rombakan. 1. Longsoran Translasi Longsoran translasi adalah ber-geraknya massa tanah dan batuan pada bidang gelincir berbentuk rata atau menggelombang landai.

2. Longsoran Rotasi Longsoran rotasi adalah bergerak-nya massa tanah dan batuan pada bidang gelincir berbentuk cekung.

3. Pergerakan Blok Pergerakan blok adalah perpindahan batuan yang bergerak pada bidang gelincir berbentuk rata. Longsoran ini disebut juga longsoran translasi blok batu.

4. Runtuhan Batu Runtuhan batu terjadi ketika sejum-lah besar batuan atau material lain bergerak ke bawah dengan cara jatuh bebas. Umumnya terjadi pada lereng yang terjal hingga meng-gantung terutama di daerah pantai. Batu-batu besar yang jatuh dapat menyebabkan kerusakan yang parah.

5. Rayapan Tanah Rayapan Tanah adalah jenis tanah longsor yang bergerak lambat. Jenis tanahnya berupa butiran kasar dan halus. Jenis tanah longsor ini hampir tidak dapat dikenali. Setelah waktu yang cukup lama longsor jenis rayapan ini bisa menyebabkan tiangtiang telepon, pohon, atau rumah miring ke bawah.

6. Aliran Bahan Rombakan Jenis tanah longsor ini terjadi ketika massa tanah bergerak didorong oleh air. Kecepatan aliran tergantung pada kemiringan lereng, volume dan tekanan air, dan jenis materialnya. Gerakannya terjadi di sepanjang lembah dan mampu mencapai ratusan meter jauhnya. Di beberapa tempat bisa sampai ribuan meter seperti di daerah aliran sungai di sekitar gunungapi. Aliran tanah ini dapat menelan korban cukup banyak.

Gejala Umum Tanah Longsor


Munculnya retakan-retakan di lereng yang sejajar dengan arah tebing. Biasanya terjadi setelah hujan.

Munculnya mata air baru secara tiba-tiba.


Tebing rapuh dan kerikil mulai berjatuhan

Video terjadinya Tanah Longsor

PENYEBAB TANAH LONGSOR


Hujan Lereng yang terjal Tanah yang kurang padat dan tebal

Batuan yang kurang kuat


Jenis tata lahan Getaran Surut muka air danau atau bendungan Pengikisan atau erosi Adanya material timbunan pada tebing Bekas longsoran lama

Adanya bidang diskontinuitas


Penggundulan hutan Daerah pembuangan sampah

Hujan
Pada saat hujan, air akan menyusup ke bagian yang retak. Tanah pun dengan cepat mengembang kembali. Pada awal musim hujan, kandungan air pada tanah menjadi jenuh dalam waktu singkat. Hujan lebat pada awal musim dapat menimbulkan longsor karena melalui tanah yang merekah itulah, air akan masuk dan terakumulasi di bagian dasar lereng, sehingga menimbulkan gerakan lateral

Lereng yang Terjal


Lereng atau tebing yang terjal akan memperbesar gaya pendorong. Lereng yang terjal terbentuk karena pengikisan air sungai, mata air, air laut, dan angin

Batuan yang Kurang Kuat


Pada umumnya, batuan endapan gunungapi dan batuan sedimen berukuran pasir dan campuran antara kerikil, pasir, dan lempung kurang kuat

Jenis Tata Lahan


Tanah longsor banyak terjadi di daerah tata lahan persawahan, perladangan, dan adanya genangan air di lereng yang terjal. Pada lahan persawahan akarnya kurang kuat untuk mengikat butir tanah dan membuat tanah menjadi lembek dan jenuh dengan air sehingga mudah terjadi longsor.

Getaran
Getaran yang terjadi biasanya diakibatkan oleh gempabumi, ledakan, getaran mesin, dan getaran lalulintas kendaraan. Akibat yang ditimbulkannya adalah tanah, badan jalan, lantai, dan dinding rumah menjadi retak.

Surut Muka Air Danau atau Bendungan


Akibat susutnya muka air yang cepat di danau maka gaya penahan lereng menjadi hilang, dengan sudut kemiringan waduk 220 mudah terjadi longsoran dan penurunan tanah yang biasanya diikuti oleh retakan.

Adanya Beban Tambahan


Adanya beban tambahan seperti beban bangunan pada lereng, dan kendaraan akan memperbesar gaya pendorong terjadinya longsor, terutama di sekitar tikungan jalan pada daerah lembah. Akibatnya adalah sering terjadinya penurunan tanah dan retakan yang arahnya ke arah lembah

Pengikisan atau Erosi


Pengikisan banyak dilakukan oleh air sungai ke arah tebing. Selain itu akibat penggundulan hutan di sekitar tikungan sungai, tebing akan menjadi terjal.

Adanya Material Timbunan pada Tebing


Untuk mengembangkan dan memperluas lahan pemukiman umumnya dilakukan pemotongan tebing dan penimbunan lembah. Tanah timbunan pada lembah tersebut belum terpadatkan sempurna seperti tanah asli yang berada di bawahnya. Sehingga apabila hujan akan terjadi penurunan tanah yang kemudian diikuti dengan retakan tanah.

Bekas Longsoran Lama


Bekas longsoran lama memilki ciri: Adanya tebing terjal yang panjang melengkung membentuk tapal kuda. Umumnya dijumpai mata air, pepohonan yang relatif tebal karena tanahnya gembur dan subur. Daerah badan longsor bagian atas umumnya relatif landai. Dijumpai longsoran kecil terutama pada tebing lembah. Dijumpai tebing-tebing relatif terjal yang merupakan bekas longsoran kecil pada longsoran lama. Dijumpai alur lembah dan pada tebingnya dijumpai retakan dan longsoran kecil. Longsoran lama ini cukup luas.

Adanya Bidang Diskontinuitas


Bidang tidak sinambung ini memiliki ciri: Bidang perlapisan batuan Bidang kontak antara tanah penutup dengan batuan dasar Bidang kontak antara batuan yang retak-retak dengan batuan yang kuat. Bidang kontak antara batuan yang dapat melewatkan air dengan batuan yang tidak melewatkan air (kedap air). Bidang kontak antara tanah yang lembek dengan tanah yang padat. Bidang-bidang tersebut merupakan bidang lemah dan dapat berfungsi sebagai bidang luncuran tanah longsor.

Penggundulan Hutan
Tanah longsor umumnya banyak terjadi di daerah yang relatif gundul dimana pengikatan air tanah sangat kurang

Daerah Pembuangan Sampah


Penggunaan lapisan tanah yang rendah untuk pembuangan sampah dalam jumlah banyak dapat mengakibatkan tanah longsor apalagi ditambah dengan guyuran hujan, seperti yang terjadi di Tempat Pembuangan Akhir Sampah Leuwigajah di Cimahi. Bencana ini menyebabkan sekitar 120 orang lebih meninggal.

PENCEGAHAN TERJADINYA TANAH LONGSOR


Jangan mencetak sawah dan membuat kolam pada lereng bagian atas di dekat pemukiman (gb. Kiri) Buatlah terasering (sengkedan) [ada lereng yang terjal bila membangun permukiman (gb. kanan).

Segera menutup retakan tanah dan dipadatkan agar air tidak masuk ke dalam tanah melalui retakan. (gb. kiri) Jangan melakukan penggalian di bawah lereng terjal. (gb. kanan)

Jangan mendirikan permukiman di tepi lereng yang terjal (gb.kiri) Pembangunan rumah yang benar di lereng bukit. (gb.kanan)

Jangan mendirikan bangunan di bawah tebing yang terjal. (gb.kiri) Pembangunan rumah yang salah di lereng bukit. (gb.kanan)

Jangan memotong tebing jalan menjadi tegak. (gb.kiri) Jangan mendirikan rumah di tepi sungai yang rawan erosi. (gb.kanan)

TAHAP MITIGASI BENCANA TANAH LONGSOR


Pemetaan Menyajikan informasi visual tentang tingkat kerawanan bencana alam geologi di suatu wilayah, sebagai masukan kepada masyarakat dan atau pemerintah kabupaten/kota dan provinsi sebagai data dasar untuk melakukan pembangunan wilayah agar terhindar dari bencana Pemeriksaan Melakukan penyelidikan pada saat dan setelah terjadi bencana, sehingga dapat diketahui penyebab dan cara penaggulangannya.

Pemantauan Pemantauan dilakukan di daerah rawan bencana, pada daerah strategis secara ekonomi dan jasa, agar diketahui secara dini tingkat bahaya, oleh pengguna dan masyarakat yang bertempat tinggal di daerah tersebut Sosialisasi Memberikan pemahaman kepada Pemerintah Provinsi /Kabupaten /Kota atau Masyarakat umum, tentang bencana alam tanah longsor dan akibat yang ditimbulkannnya. Sosialisasi dilakukan dengan berbagai cara antara lain, mengirimkan poster, booklet, dan leaflet atau dapat juga secara langsung kepada masyarakat dan aparat pemerintah

Mitigasi Tanah Longsor dengan Pendekatan Prediksi Cuaca


Mitigasi bencana longsor pada prinsipnya bertujuan untuk meminimumkan dampak

bencana.
Kegiatan early warning (peringatan dini) sangat diperlukan Peringatan dini dapat dilakukan melalui prediksi cuaca/iklim sebagai salah satu faktor yang menentukan bencana longsor Dalam beberapa kasus bencana tanah longsor banyaknya intensitas air hujan atau disebut cuaca berperan sangat besar untuk terjadinya bencana Air yang menjadi agen utama pelapukan suatu material. Tingkat pelapukan

mempengaruhi kuat geser material (batuan).


Bertambahnya kandungan air menambah berat massa batuan dan sekaligus mengurangi kuat geser batuan tersebut

Mitigasi Tanah Longsor


Ada 3 unsur yang menjadi bagian integral dari mitigasi bencana tanah longsor 1. alat sensor cuaca (TMOS,satelit dll) 2. pusat pemantauan cuaca (BMKG) 3. sistem informasi dan komunikasi (BMKG , pemerintah pusat dan daerah)

Alat sensor cuaca


Telemetered Meteorological Observation Station (TMOS). TMOS mengukur dan mencatat unsur cuaca dan dikirim langsung secara otomatis ke pusat prakiraan cuaca BMG Jakarta secara real time. Unsur-unsur cuaca yaitu Suhu udara, Tekanan udara, Kelembaban udara, arah dan kecepatan angin, curah hujan, dan radiasi matahari.

Pusat Pemantauan Cuaca


BMKG, untuk pusat pemantauan cuaca di Indonesia. Menjadi database dan pengolahan data semua data cuaca yang tersebar dipenjuru Indonesia. Dari hasil pemantauan didapat suatu prediksi tentang keadaan atmosfir sebagai gambaran keadaan cuaca saat itu dan suatu saat nanti. Pusat pemantauan cuaca membagi beberapa kategori mengenai prediksi cuaca menurut kebutuhan analisis untuk mitigasi tanah longsor: Prospek tiga harian, prospek mingguan, prakiraan hujan bulanan, dan prediksi musim

Sistem Informasi dan Komunikasi


Setelah pusat pemantauan cuaca mengeluarkan suatu prediksi cuaca, prediksi tersebut harus sampai ke sasaran yang dituju, khususnya di daerah yang secara toporafi rawan bencana tanah longsor. Seringkali bagian integral dari mitigasi bencana tanah longsor putus di unsur ke tiga ini. Penyampaian prediksi cuaca tepat sasaran & tepat waktu. Menggolongkan daerah-daerah yang rawan potensi tanah longsor, dengan menerapkan skala prioritas. Penyuluhan tentang survival tinggal di daerah rawan longsor.

Mitigasi Bencana Tanah Longsor: Monitoring dan SIG (Sistem Informasi Geografis)
Monitoring
Dilakukan sebagai upaya untuk peringatan dini akan terjadinya tanah longsor. Beberapa hal yang di-monitor, adalah: 1. Monitoring pergeseran kelerengan 2. Monitoring curah hujan 3. Monitoring pergerakan tanah 4. Monitoring keberadaan air tanah

http://landslides.usgs.gov/monitoring/

SIG
Sistem Informasi Geografis (SIG) adalah sistem yang berbasiskan komputer yang digunakan untuk mengumpulkan, menyimpan, dan menganalisis objek-objek dan fenomena di mana lokasi geografi merupakan karakteristik yang penting atau kritis untuk dianalisis, sehingga Sistem Informasi Geografis merupakan sistem komputer yang memiliki empat kemampuan berikut dalam menangani data yang bereferensi geografi: (a) masukan, (b) manajemen data (penyimpanan dan pemanggilan data), (c) analisis dan manipulasi data, dan (d) keluaran. Identifikasi potensi bahaya tanah longsor dengan menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG) dapat dilakukan dengan cepat, mudah dan akurat. Bahaya tanah longsor dapat diidentifikasi secara cepat melalui Sistem Informasi Geografis dengan menggunakan metode tumpang susun atau overlay terhadap parameter-parameter tanah longsor seperti: Faktor alami: kemiringan lereng, tekstur tanah, permeabilitas tanah, tingkat pelapukan batuan, kedalaman efektif tanah, kerapatan torehan, kedalaman muka air tanah, dan curah hujan. Faktor non alami: penggunaan lahan, dan kerapatan vegetasi.

Untuk mengidentifikasi daerah yang rentan tanah longsor digunakan formula kerentanan tanah longsor (Paimin et.al., 2006), seperti pada tabel berikut:
Semakin besar nilai skor, semakin tinggi kemungkinan terjadinya tanah longsor.

Pengertian Metode Resistivity


Penentuan nilai Resistivity menggunakan Metoda geolistrik merupakan salah satu metoda geofisika yang memanfaatkan sifat tahanan jenis untuk menyelidiki keadaan di bawah permukaan bumi.

Potensial yang terukur menggambarkan keadaan di bawah permukaan bumi. Metode ini menggunakan konsep perambatan arus listrik di dalam medium homogen isotropis yang bergerak kesegala arah dengan nilai yang sama besar. Apabila terdapat rapat arus yang berbeda maka dapat disimpulkan hal tersebut merupakan suatu anomali.

Tujuan
Mendapatkan gambaran konfigurasi geologi bawah permukaan daerah rawan gerakan tanah untuk melakukan tindakan dalam perencanaan dan penanggulangan gerakan tanah selanjutnya. Menduga ketebalan, kedalaman dan penyebaran perlapisan batuan secara vertikal dan horisontal berdasarkan sifat kelistrikan yang dimiliki masingmasing batuan tersebut, Mendapatkan informasi konfigurasi batuan dalam tanah, Menganalisis bawah permukaan penyebab gerakan tanah.

Pada survey geolistrik dilakukan injeksi arus ke dalam bumi. Data yang dicatat adalah nilai tahanan jenis (R) mulai kedalaman tertentu dengan jarak bentangan bervariasi tergantung jumlah elekroda. Dari data yang tercatat kemudian dihitung sebaran nilai tahanan jenis atau resistivitas (resistivity) batuan di bawah permukaan. Karena masing-masing batuan mempunyai nilai tahanan jenis yang typical, maka dari sebaran tahanan jenis inilah kita dapat melakukan interpretasi jenis batuan, sifat batuan dan struktur geologi yang mungkin ada di bawah permukaan bumi.

Contoh study kasus


Penelitian ini dilaksanakan di desaLumbang Rejo, Tretes, Jawa Timur, yangterletak pada posisi 7o 4097LS dan 112o 3757BT. Lintasan yang diambil sepanjang 86 meter dengan spasi berturut-turut dari 4, 8, 12, 16, 20dan 24 meter dengan perpindahannya setiap 2 meter. Pada pengukuran ini didapatkan data pengukuran sebanyak 138 data dengan datum point terhadap sumbu x dan y adalah setengah dari jarak antar elektroda, Pada akuisisi data inimenggunakan arus bolak-balik dengan frekuensi yang rendah yaitu 0,5 10 Hz dengan tegangan 10 13 Volt.

Dari pengolahandata dengansoftware tersebut didapatkan distribusi harga resistivitas pada bawah permukaan berupa citra warna dalam bentuk penampang vertikal dan horisontal. Distribusi harga resistivitas diperlihatkan dengan citra warna biru hingga coklat tua yaitu 0 167 Ohmmeter

Pada penampang vertikal yang terdapat di bawah permukaan didominasi oleh tanah jenis lanauan dan pasiran yang mempunyai harga resistivitas berkisar antara 15 150 Ohm meter dengan kedalaman 0 12,7 meter. Pada bagian dekat permukaan tanah sekitar 0 3 meter terdapat jenis tanah lanauan yang basah dan lembek yang mempunyai harga resistivitas berkisar 32,2 Ohm meter. Kemudian pada kedalaman antara 5 10 meter pada sisi kiri dan kanan seperti terlihat pada gambar terdapat jenis tanah yang berupa batuan dasar berkekar yang berisi tanah lembab yang mempunyai harga resistivitas berkisar antara142 167 Ohm meter.

TERIMA KASIH