Anda di halaman 1dari 53

KATETERISASI

HANA 030.08.112 RSUD Bekasi Fakultas Kedokteran Trisakti

DEFINISI

Kateterisasi
Kateterisasi urine adalah tindakan memasukan selang kateter kedalam kandung kemih melalui uretra ,dengan tujuan mengeluarkan urin.

kateter
Kateter adalah pipa untuk memasukkan atau mengeluarkan cairan. Kateter terutama terbuat dari bahan karet atau plastik, metal, dan silicon.

Kandung kemih adalah sebuah kantong yang berfungsi untuk menampung air seni yang be rubah-ubah jumlahnya yang dialirkan oleh sepasang ureter dari sepasang ginjal.

Gambar

Anatomi
Ginjal
Letaknya setinggi V.Th 12 sampai L.3, ginjal kanan lebih rendah dari kiri Membuang zat-zat sisa metabolisme atau zat yang berlebihan dalam tubuh serta membentuk urin

Ureter
mentransport urin ke kandung kencing/bladder/buli-buli Terdapat 3 lokasi penyempitan ureter : Peralihan pelvis renalis ureter (ureteropelvic junction) Saat ureter menyilang didepan a. illiaca communis Saat ureter menembus vesica urinaria (ureterovesical junction)

Vesica Urinaria
tempat penampungan urin sementara Pada usia dewasa, mampu menampung sekitar 300-500 ml urin keadaan tertentu dapat menampung dua kali lipat lebih Miksi normal terjadi jika buli-buli terisi 200 300 ml urin

Uretra
saluran yang mengalirkan urine dari bladder/kandung kencing keluar tubuh Pada panjang 18 20 cm, berfungsi sebagai sistem reproduksi dan sistem urinaria Pada panjang sekitar 4 cm, hanya berfungsi sbg sistem perkemihan, orificium urethra eksterna berada di anterior vagina

Urethra Pria
Urethra pars prostatika
berjalan dalam gl. prostat Paling lebar Panjang 3-4 cm

Urethra pars membranosa

Dari gl. Prostat ke bulbus penis Didalam diafragma urogenital Panjang 1-1,5 cm

Urethra pars spongiosa

Panjangnya 15cm Berjalan dari ujung distal urethra pars membranasea dalam corpus spongiosum ke OUE

Urethra wanita
Panjangnya 3-4 cm

Mulai pada pertengahan simpisis pubis OUE Terletak antara clitoris dan ostium vagina, 2,5 cm posterior clitoris

Klasifikasi Kateter
1. ukuran 5. Tipe pemakaian 3. bahan 4. Jumlah percabangan 2. bentuk

1. Ukuran

1.Anak 2.Wanita 3.Laki-laki

: 8-10 French(Fr) : 14.-16 Fr : 16-18 Fr

2. Bentuk

1. Straight catheter bentuk lurus, tanpa percabangan. ( Kateter Nelaton) 2. Coude catheter ujung lengkung dan ramping. ( Tiemann) 3. Pezzer catheter ujungnya berbentuk seperti jamur 4. Mallecot catheter ujungnya berbentuk sayap 5. Catheter folley kateter lurus yang dekat ujungnya terdapat balon yang dikembangkan berisi air 6 kateter kondom

3. Bahan

1. Kateter plastic : digunakan sementara kerena mudah rusak dan tidak fleksibel 2. Kateter latex/karet: digunakan untuk penggunaa/ pemakaian dalam jangka waktu sedang (kurang dari 3 minggu) 3. Kateter silicon murni untuk penggunaan jangka waktu lama 2-3 bulan karena bahan lebih lentur pada meatus urethra. 4. Kateter logam: digunakan untuk pemakaian sementara 5. Kateter PVC : sangat mahal untuk penggunaan 4-5 minggu, bahannya lembut tidak panas dan nyaman bagi urethra.

4. Tipe Pemakaian

Kateter Sementara Kateter Menetap

1.Ukuran
skala Cherieres (French) - ukuran diameter luar kateter 1 Cheriere (Ch) atau 1 French (Fr) = 0,33 mm atau 1 mm = 3 Fr Contoh : kateter berukuran 18 Fr artinya diameter luar kateter itu adalah 6mm Kateter yang mempunyai ukuran sama belum tentu mempunyai diameter lumen yang sama

2. Bentuk
Katater lurus (Nelaton)

Coude kateter (Tieman)

Kateter nelaton

Kateter Tiemann

A. Kateter Foley, B. Kateter Pezzer, C. Kateter Malecot empat sayap D. Kateter Malecot dua sayap.

Kondom kateter

4. Percabangan kateter

Tidak bercabang

Kateter cabang 2 (two way catheter)

Kateter cabang 3 (three way catheter)

5. Tipe Pemakaian
Kateter sementara
kateter yang hanya sekali pakai dimasukkan sampai mencapai kandung kemih yang bertujuan untuk mengeluarkan urin

Keteter menetap

kateter yang dapat dipakai menetap dan ditinggalkan di dalam saluran kemih dalam jangka waktu tertentu.

pemasangan kateter intermitten dapat dilakukan berulang jika tindakan ini diperlukan

kateter dapat ditinggalkan menetap untuk jangka waktu tertentu karena di dekat, ujungnya terdapat pelebaran sehingga mencegah kateter terlepas keluar dari buli-buli.

A D Kateter Sementara E I Kateter Menetap

Tujuan Kateterisasi
diagnosis
1.Memperoleh contoh urin untuk pemeriksaan kultur 2. Mengukur residu urine sesaat setelah miksi 3. Memasukkan bahan kontras untuk keperluan radiologi

terapi

1. Mengeluarkan urine dalam buli-buli pada keadaan obstruksi intravesikal baik yang disebabkan BPHnmaupun benda asing 2. Mengeluarkan urine pada disfungsi buli-buli 3. Diversi urine setelah tindakan operasi sistem urinaria bagian bawah, yaitu pada prostatektomi, vesikolitotomi

4. Pemeriksaan urodinamik untuk menentukan tekanan intra vesika 5. Untuk menilai produksi urine pada saat dan setelah operasi besar

4. Sebagai splint setelah operasi rekonstruksi uretra untuk tujuan stabilisasi uretra 5. Pada tindakan kateterisasi bersih mandiri berkala 6. Memasukkan obat-obatan intravesika antara lain sitostatika atau antiseptik untuk buli-buli

Kontraindikasi kateterisasi
Ruptur uretra Ruptur buli-buli

Tumor
Batu

Cedera panggul
Uretritis

Teknik Pemasangan Kateter

Pria

Wanita

Pemasangan Kateter pada pria


1. Informasi yang lengkap prosedur yang akan dilakukan dan informed consent 2. Mempersiapkan alat-alat yang diperlukan 3. Cuci tangan, pakai sarung tangan, lalu cek balon kateter apakah ada kebocoran atau tidak

4. lakukan asepsis dan antisepsis pada penis dan daerah sekitarnya, daerah genitalia dipersempit dengan pemasangan kain duk steril.

Desinfeksi meatus

5. Pegang penis dengan tangan kiri dan tarik ke ventral , masukkan xylocain gel dalam spuit ke dalam orifisium uretra eksterna, lalu tutup dengan ibu jari tangan kiri.

6. Masukkan kateter dengan klem/pinset ke dalam OUE


didorong secara lembut dan perlahan mengikuti jalur uretra sampai masuk buli hingga percabangan kateter menyentuh meatus uretra eksterna. Pasien diperintahkan untuk mengambil nafas dalam supaya sfingter uretra eksterna menjadi lebih relaks.

7. Pastikan urin keluar(tampak dalam selang), bila perlu tekan perut bawah untuk memastikan urin keluar 8. Setelah yakin urin keluar balon kateter diisi aquadest dengan spuit 10cc, lalu tarik kateter secara perlahan sampai ada tahanan.

9. Jika diperlukan kateter menetap, kateter dihubungkan dengan pipa penampung (urinbag). 10. Kateter difiksasi dengan plester di daerah paha bagian proksimal.

Pemasangan kateter pada wanita


1. Informasi yang lengkap prosedur yang akan dilakukan dan informed consent 2. Mempersiapkan alat-alat yang diperlukan 3. Cuci tangan, pakai sarung tangan, lalu cek balon kateter apakah ada kebocoran atau tidak

4. Lakukan desinfeksi pada genitalia eksterna mulai dari labia mayor lalu Jari tangan kiri membuka labia minora, dimulai dari atas (clitoris), meatus lalu kearah bawah menuju rektum.

5. Lumuri kateter dengan xylocain gel dari ujung kateter secara merata kurang lebih 4 cm untuk wanita. 6. Buka labia minor dengan menggunakan ibu jari dan telunjuk tangan kiri, lalu masukkan kateter dengan menggunakan pinset/klem kedalam OUE secara perlahan 4cm

7. Pastikan urin keluar(tampak dalam selang). 8. Setelah yakin urin keluar balon kateter diisi aquadest dengan spuit 10cc, lalu tarik kateter secara perlahan sampai ada tahanan.

9. Kateter dihubungkan dengan pipa penampung (urinbag). 10. Kateter difiksasi dengan plester di daerah paha bagian proksimal.

Pasien harus banyak minum

Mengganti kateter setiap 2 minggu sekali dengan yang baru.

Selalu membersihkan nanah, darah dan getah/sekret kelenjar periuretra yang menempel pada meatus uretra/kateter dengan kapas basah.

Edukasi
Jangan sering membuka saluran penampung yang dihubungkan dengan kateter karena akan mempermudah masuknya kuman. Jangan mengangkat/ meletakkan kantong penampung urine lebih tinggi dari pada buli-buli karena dapat terjadi aliran balik urine ke buli-buli.

Komplikasi kateterisasi
Infeksi
Perforasi buli-buli

Striktur uretra

Perdarahan

Rupture uretra

Balon pecah atau tidak bisa dikempeskan

2. Kateterisasi suprapubik
Kateterisasi Suprapubik adalah memasukkan kateter dengan membuat lubang pada buli-buli melalui insisi suprapubik dengan tujuan mengeluarkan urin.

Cara : Tertutup (dengan Trokar) atau Terbuka

Indikasi
Ada kontraindikasi untuk melakukan tindakan transuretra, misalkan pada ruptur uretra atau dugaan adanya ruptur uretra.

Kegagalan pada saat melakukan kateterisasi uretra.

Untuk mengukur tekanan intravesikal pada studi sistotonometri.

Mengurangi penyulit timbulnya sindroma intoksikasi air pada saat TUR Prostat.

SISTOSTOMI TROKAR
anestesi lokal mempergunakan alat trokar KI :
tumor buli-buli, hematuri yang belum jelas sebabnya, riwayat pernah menjalani operasi daerah abdomen/ pelvis, buli-buli yang ukurannya kecil (contracted bladder), atau pasien yang mempergunakan alat prostesis pada abdomen sebelah bawah.

Prosedur
Desinfeksi lapangan operasi.

Mempersempit lapangan operasi dengan kain steril.

Injeksi (infiltrasi) anestesi lokal dengan Lidokain 2% mulai dari kulit, subkutis hingga ke fasia

Insisi kulit suprapubik di garis tengah pada tempat yang paling cembung + 1 cm, kemudian diperdalam sampai ke fasia
Dilakukan pungsi percobaan melalui tempat insisi dengan semprit 10 cc untuk memastikan tempat kedudukan buli-buli

Alat trokar ditusukkan melalui luka operasi hingga terasa hilangnya tahanan dari fasia dan otot-otot detrusor sampai ke buli-buli

Setelah yakin trokar masuk ke buli-buli, obturator dilepas dan hanya slot kateter setengah lingkaran ditinggalkan

Kateter dimasukkan melalui tuntunan slot kateter setengah lingkaran, kemudian balon kateter dikembangkan dengan memakai aquadest 10 cc dan slot kateter setengah lingkaran dicabut. kateter dihubungkan dengan kantong penampung urin (urinbag).

Kateter difiksasi pada kulit

Kateter difiksasi pada kulit

SISTOSTOMI TERBUKA
Sistostomi terbuka dikerjakan jika terdapat kontraindikasi pada tindakan sistostomi trokar atau tidak tersedia alat trokar.

Dianjurkan jika terdapat jaringan sikatriks/ bekas operasi di suprasimfisis, trauma di daerah panggul yang mencederai uretra atau buli-buli, dan adanya bekuan darah pada buli-buli yang tidak mungkin dilakukan tindakan peruretra

prosedur
1. Disinfeksi lapangan operasi. 2. Mempersempit lapangan operasi dengan kain steril. 3. Injeksi anestesi lokal, jika tidak mempergunakan anestesi umum. 4. Insisi vertikal pada garis tengah 3,5 cm di antara pertengahan simfisis dan umbilikus. 5. Insisi diperdalam sampai lemak subkutan hingga terlihat linea alba yang merupakan pertemuan fasia yang membungkus muskulus rektus kiri dan kanan. Meskulus rektus kiri dan kanan dipisahkan sehingga terlihat jaringan lemak, buli-buli dan peritoneum. Buli-buli dapat dikenali karena warnanya putih banyak terdapat pembuluh darah. 6. Jaringan lemak dan peritoneum disisihkan ke kranial untuk memudahkan memegang buli-buli. 7. Dilakukan fiksasi pada buli-buli dengan benang pada 2 tempat

8. Dilakukan pungsi percobaan pada buli-buli diantara dua tempat yang telah difiksasi. 9. Dilakukan pungsi dan sekaligus insisi dinding buli-buli dengan pisau tajam hingga keluar urine, yang kemudian (kalau perlu) diperlebar dengan klem. Urine yang keluar dihisap dengan mesin penghisap. 10. Eksplorasi dinding buli-buli untuk melihat adanya : tumor, batu, adanya perdarahan, muara ureter atau penyempitan leher buli-buli. 11. Pasang kateter Foley ukuran 20 F 24 F pada lokasi yang berbeda dengan luka operasi. 12. Buli-buli dijahit 2 lapis yaitu muskularis-mukosa dan seromuskularis. 13. Ditinggalkan drain redon kemudian luka operasi dijahit lapis demi lapis. Balon kateter dikembangkan dengan aquadest 10 cc dan difiksasikan ke kulit dengan benang sutra.

Kesimpulan
Kateterisasi uretra merupakan tindakan invasif yang wajib dikuasai dokter umum maupun tenaga medis yang lain. Pemasangan kateter haruslah dilakukan dengan langkah-langkah yang benar. Pemasangan kateter uretra adalah tindakan pertama kali yang dilakukan pada pasien dengan retensi urin akut. Sebagai tindakan invasif, pemasangan kateter ini tentu memiliki resiko. Untuk itu diperlukan pengetahuan mengenai penggunaan kateter ini.

Terima kasih