Anda di halaman 1dari 19

PRESENTASI REFERAT HIPOKONDRIASIS

Sofa Asti Novitriyanti Ekaputri Laura Syerin Widya Devi Cita Inayani Diana Verify Hastutya

G1A211081 G1A212001 G1A212002 G1A212003 G1A212004

SMF ILMU KEDOKTERAN JIWA RUMAH SAKIT MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO FK UNSOED 2012

Latar Belakang
Hipokondriasis adalah kekhawatiran berlebihan bahwa

penderita mengalami penyakit serius dan preokupasi terhadap tubuhnya yang tidak sebanding dengan penyakit medis sebenarnya, serta yang muncul hampir setiap saat Hipokondriasis menurut PPDGJ III dan DSM-IV-TR diklasifikasikan sebagai gangguan somatoform. Ciri utama gangguan ini adalah adanya keluhan-keluhan gejala fisik yang berulang-ulang disertai dengan permintaan pemeriksaan medik, meskipun sudah berkalikali terbukti hasilnya negatif dan juga sudah dijelaskan oleh dokternya bahwa tidak ditemukan kelainan yang menjadi dasar keluhannya.

Definisi
Hipokondriasis adalah kekhawatiran berlebihan bahwa

penderita mengalami penyakit serius dan preokupasi terhadap tubuhnya yang tidak sebanding dengan penyakit medis sebenarnya, serta yang muncul hampir setiap saat.

Epidemiologi
4-6% populasi medis umum dapat mencapai 15%

0,8-4,5% pada lini pelayanan umum


Jenis kelamin laki-laki dan perempuan mempunyai

perbandingan yang sama. Usia paling sering terjadi pada umur 20-30 tahun Ras lebih sering pada kelompok kulit hitam dibandingkan kulit putih Status sosial, tingkat pendidikan, dan status perkawinan tampaknya tidak mempengaruhi diagnosis

Etiologi
Misinterpretasi gejala-gejala tubuh

Orang hipokondrial meningkatkan dan membesarkan sensasi somatiknya. Model belajar sosial Gejala hipokondriasis dipandang sebagai keinginan untuk mendapatkan peranan sakit oleh seseorang untuk menghadapi masalah yang tampaknya berat dan tidak dapat dipecahkan. Varian dari gangguan mental lain Yang paling sering dihipotesiskan berhubungan dengan hipokondriasis adalah gangguan depresif dan gangguan kecemasan. Psikodinamika Harapan agresif dan permusuhan terhadap orang lain dipindahkan kepada keluhan fisik. Hipokondriasis juga dipandang sebagai pertahanan dan rasa bersalah, rasa keburukan yang melekat, suatu ekspresi harga diri yang rendah, dan tanda perhatian terhadap diri sendiri (self-concern) yang berlebihan.

Patofisiologi
Defisit neurokimia berhubungan dengan hipokondriasis

dan gangguan somatoform lain. Pada studi terakhir dari marker biologis, peneliti menemukan bahwa terdapat penurunan level neurotropin 3 (NT-3) dan serotonin trombosit (5-HT) dalam plasma dibandingkan dengan subjek kontrol. NT-3 adalah marker dari fungsi neuronal sementara trombosit 5-HT adalah marker penting untuk aktivitas serotonergik.

Gambaran klinis
Pasien dengan gangguan hipokondriasis
Secara khas datang dengan ketakutan dan perhatian terhadap

penyakitnya dengan gejala yang dirasakan. Percaya bahwa mereka sedang menderita suatu penyakit yang serius yang belum pernah dideteksi dan tidak dapat menerima penjelasan akan gangguan yang dideritanya Menjadi sangat sensitif terhadap perubahan ringan dalam sensasi fisik, seperti sedikit perubahan dalam detak jantung dan sedikit rasa sakit serta nyeri. Menjadi marah saat dokter mengatakan betapa ketakutan mereka sendirilah yang menyebabkan gejala fisik tersebut. Sering belanja dokter Biasanya disertai dengan gejala depresi dan anxietas.

Pemeriksaan Psikiatri
Penampakan umum, kelakuan dan pembicaraan Penampilan biasa, rapi Kooperatif dengan pemeriksa, namun gelisah dan tidak mudah untuk

ditenangkan Dapat menunjukkan gejala anxietas berupa tangan dan dahi berkeringat, suara yang tegang atau gemetar, dan tatapan mata yang tajam. Status psikomotor Tidak dapat beristrahat dengan tenang Selalu bergerak mengubah posisi Agitasi Pergerakan lambat, apabila pasien kurang tidur Mood dan afek Bersemangat,atau cemas, depresi Afek terbatas, dangkal, ketakutan, atau afek yang bersemangat.

Proses berpikir Berbicara spontan dengan kadang-kadang secara tiba-tiba mengubah

topik yang sedang dibicarakan Berespon terhadap pertanyaan tetapi dapat mengalihkan kecemasannya pada hal lain Tidak ada blocking Isi pikiran Preokupasi bahwa ia sedang sakit Berbicara tentang apa yang dipikirkan bahwa dalam tubuhnya telah terjadi kesalahan, kenapa bisa terjadi seperti demikian, dan bagaimana ia merasakannya Dapat merasa putus asa dan tidak ada lagi harapan tentang penyakitnya, walaupun keadaan ini biasa juga tidak terjadi tidak terdapat keinginan untuk bunuh diri, walaupun secara bersamaan terdapat depresi

Fungsi kognitif Penuh perhatian Orientasi waktu, tempat dan orang : baik Jarang mengalami kesulitan dalam konsentrasi, memori. Insight Dapat mengenali sensasi yang muncul pada tubuhnya

Daya nilai
Sering tidak terganggu Dapat terganggu bila bersamaan dengan depresi

Laboratorium
Tidak ada pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi

hipokondriasis. Pemeriksaan laboratoriun hanya digunakan untuk menyingkirkan adanya penyebab organik pada pasien.

Tes Psikologi
Tes psikologi (contohnya MMPI) pada umumnya

menunjukkan adanya preokupasi akan gejala somatik dan dapat disertai dengan depresi dan anxietas.

Kriteria Diagnosis
Diagnosis hipokondriasis (F45.2) berdasarkan PPDGJ-III, kedua hal ini harus ada: 1. Keyakinan yang menetap adanya sekurang-kurangnya satu penyakit fisik yang serius yang melandasi keluhankeluhannya, meskipun pemeriksaan yang berulangulang tidak menunjang adanya alasan fisik yang memadai, ataupun adanya preokupasi yang menetap kemungkinan deformitas atau perubahan bentuk penampakan fisiknya (tidak sampai waham); 2. Tidak mau menerima nasehat atau dukungan penjelasan dari beberapa dokter bahwa tidak ditemukan penyakit atau abnormalitas fisik yang melandasi keluhan-keluhannya.

Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental

Disorder, Fourth Edition (DSM-IV-TR) hipokondriasis (F45.2) memiliki kriteria sebagai berikut: 1. Preokupasi berupa ketakutan atau pikiran menderita penyakit serius berdasarkan interprestasi yang keliru mengenai gejala yang dirasakan. 2. Preokupasi untuk memastikan kondisinya dengan pemeriksaann medis tertentu. 3. Kepercayaan pada kriteria 1 bukanlah intensitas delusi (seperti gangguan delusi, tipe somatik) dan tidak terpusat pada satu kelainan yang tampak (seperti pada gangguan dismorfik).

4. Preokupasi yang menyebabkan distress yang signifikan

secara klinis atau gangguan dalam hubungan sosial, pekerjaan dan area penting lainnya. 5. Durasi gangguan tersebut paling tidak terjadi dalam 6 bulan. 6. Preokupasi tidak dapat diklasifikasikan dalam gangguan ansietas menyeluruh, gangguan Obsessif kompulsif, gangguan panik, episode depresif mayor, anxietas perpisahan atau gangguan somatoform yang lain.

Diagnosis Banding
1. Gangguan somatisasi

2. Gangguan nyeri
3. Kondisi medis non psikiatri 4. Gangguan somatoform lainnya 5. Gangguan depresi dan gangguan kecemasan 6. Gangguan buatan dengan gejala fisik berpura-pura

Penatalaksanaan
Terapi perilaku-kognitif

Terapi farmakologi pemberian anti depresan


Psikoterapi kelompok

Prognosis
Prognosis pasien baik apabila status sosioekonomi yang

tinggi, awal yang tiba-tiba, tidak adanya gangguan kepribadian dan tidak adanya kondisi medis nonpsikiatri yang menyertai.

Kesimpulan
Hipokondriasis adalah kekhawatiran berlebihan bahwa

penderita mengalami penyakit serius dan preokupasi terhadap tubuhnya yang tidak sebanding dengan penyakit medis sebenarnya, serta yang muncul hampir setiap saat. Untuk menegakkan diagnosis pasti, orang dengan hipokondriasis memiliki keyakinan yang menetap sekurangkurangnya satu penyakit fisik yang serius yang melandasi keluhan-keluhannya dan tidak mau menerima nasehat atau dukungan penjelasan dari beberapa dokter bahwa tidak ditemukan penyakit atau abnormalitas fisik yang melandasi keluhan-keluhannya. Terapi untuk hipokondriasis meliputi terapi perilaku-kognitif terapi farmakologi yaitu pemberian anti depresan dan psikoterapi. Prognosis pasien baik apabila status sosioekonomi yang tinggi, awal yang tiba-tiba, tidak adanya gangguan kepribadian dan tidak adanya kondisi medis nonpsikiatri yang menyertai.