Anda di halaman 1dari 6

Kasus Manipulasi Laporan Keuangan

PT. Kimia Farma Tbk


Simon Ambri - Agung Setio - Julian P - Nanang K

Latar Belakang Permasalahan


LK per 31 Desember 2001
Kementeria n BUMN dan Bapepam

Manajemen PT Kimia Farma Tbk melaporkan laba bersih sebesar Rp 132 milyar dan telah diaudit oleh KAP Hans Tuanakotta & Mustofa (HTM) Menilai bahwa laba bersih tersebut terlalu besar dan mengandung unsur rekayasa Pada 3 Oktober 2002 laporan keuangan Kimia Farma 2001 disajikan kembali (restated), dengan keuntungan hanya sebesar Rp 99,56 miliar
overstated penjualan sebesar Rp 2,7 miliar pada unit Industri Bahan Baku overstated persediaan barang sebesar Rp 23,9 miliar pada unit Logistik Sentral overstated persediaan sebesar Rp 8,1 miliar pada unit Pedagang Besar Farmasi, dan overstated penjualan sebesar Rp 10,7 miliar.

Audit Ulang

Permasalah an

Keterkaitan Akuntan Terhadap Skandal PT Kimia Farma Tbk.


Pada saat audit 31 Desember 2001 akuntan belum menemukan kesalahan pencatatan atas laporan keuangan. Pada audit interim 2002 akuntan menemukan kesalahan pencatatan alas laporan keuangan, namun tidak melaporkan kepada pihak berwenang. Bapepam bekerjasama dengan Direktorat Akuntansi dan Jasa Penilai Direktorat Jenderal Lembaga Keuangan mencari bukti-bukti atas keterlibatan akuntan publik dalam kesalahan pencatatan laporan keuangan pada PT. Kimia Farma Tbk. untuk tahun buku 2001.

KAP HTM terbukti tidak ikut terlibat secara langsung dalam skandal manipulasi yang dilakukan oleh manajemen, namun sebagai auditor independen KAP HTM seharusnya mampu mendeteksi adanya ketidakwajaran penyajian laporan keuangan klien.

Pelanggaran oleh KAP


Pasal 68 UU No. 8 tahun 1995 tentang pasar modal menyatakan bahwa Akuntan yang terdaftar pada Bapepam yang memeriksa laporan keuangan Emiten, Bursa Efek, Lembaga Kliring dan Penjaminan, Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian, dan Pihak lain yang melakukan kegiatan di bidang Pasar Modal wajib menyampaikan pemberitahuan yang sifatnya rahasia kepada Bapepam selambat-lambatnya dalam waktu 3 (tiga) hari kerja sejak ditemukan
Akuntan Publik tidak melaporkan adanya kesalahan pencatatan pada laporan keuangan

SPAP SA Seksi 110 Tanggung Jawab & Fungsi Auditor Independen, paragraf 04 Persyaratan Profesional, disebutkan bahwa persyaratan profesional yang dituntut dari auditor independen adalah orang yang memiliki pendidikan dan pengalaman berpraktik sebagai auditor independen.
Auditor gagal menerapkan persyaratan profesional yang disyaratkan di SPAP SA Seksi 110 yang mengakibatkan auditor tidak mampu mendeteksi adanya penggelembungan laba yang dilakukan oleh PT Kimia Farma (Persero) Tbk.

Sanksi dan Denda


Sesuai dengan Pasal 102 Undang-undang Nomor 8 tahun 1995 tentang Pasar Modal jo Pasal 61 Peraturan Pemerintah Nomor 45 tahun 1995 jo Pasal 64 Peraturan Pemerintah Nomor 45 tahun 1995 tentang Penyelenggaraan Kegiatan di Bidang Pasar Modal maka PT Kimia Farma (Persero) Tbk. dikenakan sanksi administratif berupa denda yaitu sebesar Rp. 500.000.000,(lima ratus juta rupiah). Sesuai Pasal 5 huruf n Undang-Undang No.8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal, maka: 1. Direksi Lama PT Kimia Farma (Persero) Tbk. periode 1998 Juni 2002 diwajibkan membayar sejumlah Rp 1.000.000.000,- (satu miliar rupiah) untuk disetor ke Kas Negara, karena melakukan kegiatan praktek penggelembungan atas laporan keuangan per 31 Desember 2001. 2. Sdr. Ludovicus Sensi W, Rekan KAP Hans Tuanakotta dan Mustofa selaku auditor PT Kimia Farma (Persero) Tbk. diwajibkan membayar sejumlah Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah) untuk disetor ke Kas Negara, karena atas risiko audit yang tidak berhasil mendeteksi adanya penggelembungan laba yang dilakukan oleh PT Kimia Farma (Persero) Tbk.

SEKIAN dan TERIMA KASIH