Anda di halaman 1dari 50

DENGUE SHOCK SYNDROME TERATASI

PEMBIMBING: DR. NANI RETNANINGSIH, SP.A DISUSUN OLEH: GALUHAFIAR PURATMAJA 030.04.085

IDENTITAS

Nama Umur Jenis Kelamin Agama Alamat No. Rekam medik Tanggal masuk RS Ayah Nama Umur Pekerjaan Pendidikan Ibu Nama Umur Pekerjaan Pendidikan

: An. PA : 9 Tahun : Perempuan : Islam : jl. Abdullah III 12/06, Krukut, Taman Sari, Jakarta Barat : 974282 : 29 Januari 2011 : Tn. M. Soleh : 38 tahun : Wirausaha : Sekolah Teknik Mesin : Ny. Ade Irmawati : 33 tahun : Ibu rumah tangga : SMP

Hubungan dengan orang tua : anak kandung

ANAMNESIS
Tanggal 29 Januari 2011 pukul 9.00 WIB
Keluhan utama :

Panas sejak 5 hari SMRS


Keluhan tambahan :

Mual, muntah, badan pegal pegal, sakit kepala.


Panas tinggi 5 hari SMRS Berobat ke dokter umum diberi obat penurun panas Panasnya tidak sembuh-sembuh, 1 hari SMRS orangtuanya kembali

membawa Pasien ke dokter yang berbeda diberi puyer Pada malam harinya panasnya memang turun seperti normal, namun pasien gelisah dan berkeringat dingin. Keesokan harinya (hari MRS) pasien semakin lemas, dan ketika diraba tangan dan kakinya dingin dibawa ke IGD RSUD Tarakan

Riwayat penyakit dahulu:

Cacar
Riwayat penyakit keluarga:

Riwayat kelahiran/ kehamilan : Usia kehamilan 39 minggu Spontan, letak kepala Tidak menangis spontan tetapi menangis setelah di rangsang Tidak ada kelainan bawaan Berat lahir 3100 gram , panjang badan lahir 50 cm

Kesan : riwayat kelahiran dan kehamilan tidak ada masalah

Riwayat pertumbuhan dan perkembangan :


Tengkurap Duduk Tumbuh gigi Berdiri Berjalan Bicara

: 2 bulan : 6 bulan : 6 bulan : 9 bulan : 12 bulan : 13 bulan

Kesan : riwayat pertumbuhan dan perkembangan sesuai dengan umurnya

Riwayat imunisasi :

BCG DPT-polio Hepatitis B Campak

: : : :

ya ya ya ya

Kesan: riwayat imunisasi dasar lengkap

Riwayat pemberian makan : Usia 0-4 bulan : ASI Usia 4-6 bulan : ASI,buah Usia 6-8 bulan : ASI, susu formula, buah, bubur susu Usia 8-10 bulan : ASI, susu formula, buah, nasi tim Usia 10-12 bulan : ASI, susu formula, buah, nasi tim

Kesan: kualitas dan kuantitas makanan baik

Riwayat perumahan dan sanitasi : Pasien tinggal bersama ibu dan bapak di rumah milik sendiri. Terdapat 2 kamar tidur dengan ventilasi dan sinar matahari cukup. Sanitasi cukup. penerangan dan sumber air bersih ada.

Kesan: rumah cukup memadai

PEMERIKSAAN FISIK
SAAT MASUK R. MELATI (29 Januari 2011)

Keadaan umum Kesadaran Berat badan

: sakit berat : apatis - somnolen : 24 kg


: 37,1 c : 26 x/menit : 130 x/menit, cepat, lemah : 90/60 mmHg

Tanda vital

Suhu RR Nadi TD

Kepala Normocephali, rambut berwarna hitam, terdistribusi merata, tidak mudah dicabut, tidak teraba benjolan Mata Bentuk normal, kedudukan kedua bola mata simetris, kornea jernih, pupil bulat, isokor, RCL +/+, RCTL +/+, CA -/-, SI -/-

Hidung Bentuk normal, septum deviasi (-), pernafasan cuping hidung (-), sekret (+) Telinga Bentuk normal, nyeri tarik aurikuler (-), nyeri tekan mastoid (-), nyeri tekan tragus (-), sekret -/-, serumen -/Mulut Bentuk normal, perioral sianosis (-), bibir kering, palatum tidak hiperemis, lidah kotor, tremor (-), tonsil T1T1 tenang Leher Trakhea lurus di tengah, KGB tidak membesar, kaku kuduk (-) Thorax Cor : Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Pulmo: Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi : ictus cordis tidak terlihat : ictus cordis tidak teraba : redup : S1-S2 reguler, murmur (-), gallop (-) : bentuk dada dan gerak nafas simetris : vokal fremitus tidak dilakukan, ikctus cordis tidak teraba : sonor : suara nafas vesikuler, RH -/-, WH -/-

Abdomen

Inspeksi Palpasi

: datar : supel, nyeri tekan ulu hati (+), hepar dan lien tidak teraba Perkusi : tympani Auskultasi : BU (+) normal
Ekstremitas

Akral dingin, deformitas (-), oedem (-), sianosis (-)


Kulit

Sawo matang, lembab, berkeringat banyak, turgor baik, ptekie (-)

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium : Tanggal 29 Januari 2011 (13.44WIB) IGD Hb: 19,0 g/dl Trombosit: 49.000 /mm3 Ht : 57,3 vol % Leukosit: 9000 /ul Eritrosit: 7,17 jt/ul

GDS: Widal:

135 Negatif

Natrium: Kalium : Klorida:

137 5.2 104

Tanggal 29 Januari 2011 (17.46WIB) Hb: 18,0 g/dl Trombosit: Ht : 54,6 vol % Leukosit: Eritrosit: 6,87 jt/ul Tanggal 29 Januari 2011 (20.14WIB) Hb: 15,9 g/dl Trombosit: Ht : 48,6 vol % Leukosit: Eritrosit: 6,11 jt/ul Tanggal 29 Januari 2011 (23.23WIB) Hb : 13,5 g/dl Trombosit: Ht : 40,9 vol % Leukosit: Eritrosit: 5,20 jt/ul

29.000 /mm3 5400 /ul

55.000 /mm3 6700 /ul

43.000 /mm3 4900 /ul

Tanggal 30 Januari 2011 (06.02WIB) Hb: 13,8 g/dl Trombosit: Ht: 41,9 vol % Leukosit: Eritrosit: 5,57 jt/ul

52.000 /mm3 5800 /ul

Tanggal 31 Januari 2011 (06.02WIB) Hb: 13,3 g/dl Trombosit: Ht: 40,1 vol % Leukosit: Eritrosit: 5,07 jt/ul Tanggal 02 Februari 2011 (05.02WIB) Hb: 12,4 g/dl Trombosit: Ht: 37,3 vol % Leukosit: Eritrosit: 4,72 jt/ul

35.000 /mm3 7000 /ul

147.000 /mm3 5100 /ul

RESUME
Pasien seorang anak perempuan berumur 9 tahun Datang dengan keluhan panas tinggi 5 hari SMRS

disertai mual (+), muntah (+) Badan pegal- pegal dan sakit kepala bagian frontal Sudah berobat ke dokter 2x namun tidak ada perbaikan Satu hari sebelum masuk RS, panas turun, namun pasien menjadi berkeringat dingin dan gelisah Pada hari MRS pasien semakin gelisah, tangan dan kakinya teraba dingin Nafsu makan dan minum berkurang. BAB 1X/ 2hari dengan konsistensi lembek, BAK normal

Keadaan umum Kesadaran Berat badan Tanda vital


: sakit berat : apatis - somnolen : 24 kg :

Suhu: 37,1 c RR : 26 x/menit Nadi : 130 x/menit, cepat, lemah TD : 90/60 mmHg

Kepala Mata Hidung Telinga Mulut Leher Thorax Abdomen Ekstremitas Kulit

: dbn : dbn : dbn : dbn : dbn : dbn : dbn : nyeri tekan ulu hati (+) : akral dingin : lembab, berkeringat banyak

DIAGNOSIS KERJA

Dengue Shock Syndrome


DIAGNOSIS BANDING

PENATALAKSANAAN
Rawat inap, bila KU memburuk rawat ICU Oksigenasi 2 liter/menit Loading IVFD RL 10cc/kgbb/ 1 jam, evaluasi 30 menit, cek lab ulang Klinis & lab belum ada perbaikan : Loading IVFD RL 10cc/kgbb/1 jam, Gelofusin 10cc/kgbb/1 jam, cek lab ulang Klinis & lab perbaikan : IVFD RL 12tpm, Gelofusin 8tpm, cek lab ulang Klinis & lab perbaikan : IVFD RL 7cc/kgbb/1jam, cek KU, perbaikan, kemudian lanjutkan 5cc/kgbb/ 1jam, cek KU, pebaikan, kemudian 3cc/kgbb/1jam, cek KU stabil, kemudian maintenance RL 20 tpm Sanmol 3 x 1/2 tab Polysilane 3 x 1 cth

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Hema lengkap serial


PROGNOSIS

Ad vitam : dubia ad malam Ad functionam : bonam Ad sanationam : bonam

FOLLOW UP
Tanggal 29 Januari 2011 (15.00WIB)

S : gelisah, keringat dingin, minum kurang, muntah (-), demam (-) O : KU/Kes : lemah, tampak sakit berat / apatis Suhu : 37,1 c RR : 26 x/menit Nadi : 130 x/menit, cepat, lemah TD : 90/60 mmHg BB : 24 kg

Mata Thorax Paru Abdomen Extremitas

: CA -/-, SI -/: Jantung : S1S2 reguler, murmur (-), gallop (-) : SN vesikuler Rh -/-, Wh -/: datar, supel, nyeri bagian ulu ati (+) : akral hangat, odema (-)

Lab 29 Jan 2011 (13.44WIB) IGD Hb:19,0 g/dl Trombosit: 49.000 /mm3 Ht: 57,3 vol % Leukosit: 9000 /ul Eritrosit: 7,17 jt/ul GDS: 135 Natrium: Widal: Negatif Kalium: 5.2 Klorida: 104

137

: dengue shock syndrome

: Oksigenasi 2 liter/menit
Loading IVFD RL 10cc/kgbb/ 1 jam, evaluasi 30 menit, cek lab ulang Sanmol 3 x 1/2 tab Polysilane 3 x 1 cth

(Lab jam 17.46WIB) Hb: 18,0 g/dl Ht: 54,6 vol % Eritrosit: 6,87 jt/ul

Trombosit: Leukosit:

29.000 /mm3 5400 /ul

Klinis & lab belum ada perbaikan :

Loading IVFD RL 10cc/kgbb/1 jam, Gelofusin 10cc/kgbb/1 jam, cek lab ulang

(Lab jam 20.14WIB) Hb: 15,9 g/dl Trombosit: Ht : 48,6 vol % Leukosit: Eritrosit: 6,11 jt/ul Klinis & lab perbaikan :

55.000 /mm3 6700 /ul

IVFD RL 12tpm, Gelofusin 8tpm, cek lab ulang

(Lab jam 23.23WIB)


Hb: 13,5 g/dl Ht : 40,9 vol % Eritrosit: 5,20 jt/ul

Trombosit: Leukosit:

43.000 /mm3 4900 /ul

Klinis & lab perbaikan :

IVFD RL 7cc/kgbb/1jam, cek KU, perbaikan, kemudian lanjutkan 5cc/kgbb/ 1jam, cek KU, pebaikan, kemudian 3cc/kgbb/1jam, cek KU stabil, kemudian maintenance RL 20 tpm Cek lab hema rutin / 24 jam

Tanggal 30 Januari 2011 (15.00WIB)


S : Membaik, tangan dan kaki sudah hangat, sudah mau makan-minum, nyeri kepala dan ulu hati berkurang, masih mual, sudah tidak keringat dingin lagi O:

KU/Kes : tampak sakit sedang / compos mentis Suhu: 37,0 c RR : 24 x/menit Nadi : 100 x/menit TD : 100/70 mmHg BB : 24 kg Mata : CA -/-, SI -/Thorax : Jantung : S1S2 reguler, murmur (-), gallop (-) Paru: SN vesikuler Rh -/-, Wh -/Abdomen : datar, supel, nyeri bagian ulu ati (+) Extremitas : akral dingin, nadi masih cepat
A P : dengue shock syndrome teratasi :

Lab 30 Jan 2011: Hb: Trombosit: Ht: Leukosit: Eritrosit:

13,8 g/dl 52.000 /mm3 41,9 vol % 5800 /ul 5,57 jt/ul

IVFD RL 20 tpm maintenance Sanmol 3 x 1/2 tab Polysilane 3 x 1 cth Cek lab hema rutin / 24 jam

Tanggal 31 Januari 2011 (06.00WIB)


S : Membaik, demam (-), makan-minum normal, nyeri kepala (-) nyeri ulu hati (-), masih mual, keringat dingin (-), BAB 1x normal, BAK banyak O: KU/Kes : kooperatif, tampak sakit ringan / compos mentis Suhu: 37,3 c RR : 18 x/menit Nadi : 92 x/menit TD : 110/70 mmHg BB : 24 kg Mata : CA -/-, SI -/Thorax : Jantung : S1S2 reguler, murmur (-), gallop (-) Paru: SN vesikuler Rh -/-, Wh -/Abdomen : datar, supel, nyeri tekan (-) Extremitas : akral hangat, odema (-) A P : dengue shock syndrome teratasi, keadaan stabil :

Lab 31 Jan 2011 : Hb: Trombosit: Ht: Leukosit: Eritrosit:

13,3 g/dl 35.000 /mm3 40,1 vol % 7000 /ul 5,07 jt/ul

IVFD RL 20 tpm maintenance Sanmol 3 x 1/2 tab Polysilane 3 x 1 cth Cek lab hema rutin / 24 jam

Tanggal 01 Februari 2011 (06.00WIB)


S : Tidak ada keluhan, Makan minum baik, BAB 1x normal, BAK banyak O: KU/Kes : kooperatif, tampak sakit ringan / compos mentis Suhu: 36,8 c RR : 18 x/menit Nadi : 96 x/menit TD : 110/70 mmHg BB : 24 kg Mata : CA -/-, SI -/Thorax : Jantung : S1S2 reguler, murmur (-), gallop (-) Paru: SN vesikuler Rh -/-, Wh -/Abdomen : datar, supel, nyeri tekan (-) Extremitas : akral hangat, odema (-) A P : dengue shock syndrome teratasi, keadaan stabil :

Lab 01 Feb 2011 : Tidak ada

IVFD RL 20 tpm maintenance Sanmol 3 x 1/2 tab Polysilane 3 x 1 cth Cek lab hema rutin / 24 jam

Tanggal 02 Februari 2011 (06.00WIB)


S : Tidak ada keluhan, Makan minum baik, BAB 1x normal, BAK banyak O: KU/Kes : kooperatif, tampak sakit ringan / compos mentis Suhu: 37,3 c RR : 18 x/menit Nadi : 92 x/menit TD : 110/70 mmHg BB : 24 kg Mata : CA -/-, SI -/Thorax : Jantung : S1S2 reguler, murmur (-), gallop (-) Paru: SN vesikuler Rh -/-, Wh -/Abdomen : datar, supel, nyeri tekan (-) Extremitas : akral hangat, odema (-) A P : dengue shock syndrome teratasi, keadaan stabil :

Lab 02 Feb 2011 : Hb: Trombosit: Ht: Leukosit: Eritrosit:

12,4 g/dl 147.000 /mm3 37,3 vol % 5100 /ul 4,72 jt/ul

IVFD RL 20 tpm maintenance Sanmol 3 x 1/2 tab Polysilane 3 x 1 cth Boleh pulang

ANALISA KASUS
Pada pasien ini ditegakan diagnosa dengue shock

syndrome karena dari hasil berikut didapatkan :

Anamnesa Dari allo-anamnesa, didapatkan data-data yang mendukung ke arah diagnosis demam berdarah dengue dengan tanda-tanda syok:

Demam 5 hari SMRS disertai mual (+), muntah (+). Badan pegal- pegal dan sakit kepala bagian frontal. Sudah berobat ke dokter 2x namun tidak ada perbaikan. Satu hari sebelum masuk RS, panas turun, namun pasien menjadi berkeringat dingin dan gelisah, pada hari MRS pasien semakin gelisah, tangan dan kakinya teraba dingin.

Pemeriksaan fisik Pada saat pemeriksaan fisik dan pemantauan tanda vital, ditemukan tanda-tanda syok berupa kesadaran apatis somnolen.
Didapatkkan tekanan darah 90/60 mmHg, nadi 130 kali per menit, cepat dan

lemah, serta ekstrimitas yang dingin dan lembab.

Didukung oleh pemeriksaan lab, setelah dikonsulkan, maka pasien tersebut

mendapatkan penatalaksanaan sesuai protokol untuk dengue shock syndrome.

Setelah penatalaksanaan selesai, terlihat syok teratasi, keadaan umum mulai

membaik dan pada tanda vital didapatkan tekanan darah 100/70, nadi 100 kali per menit kuat dan akral hangat, tetapi masih didapatkan keluhan mual dan nyeri abdomen. darah serial.

Terapi simptomatik dilanjutkan, beserta pemantauan tanda vital dan laboratorium

Pemeriksaan penunjang Pada kronologi pemeriksaan penunjang berupa laboratorium darah serial didapatkan gambaran kebocoran plasma yang ditandai dengan peningkatan kadar hematokrit >20%, dan trombositopenia (<100.000/l). Setelah penatalaksanaan dengue shock syndrome selesai, terlihat bahwa kadar hematokrit bergerak turun mendekati normal dan kadar trombosit juga cenderung meningkat sebagai tanda bahwa volume plasma darah yang bocor telah tergantikan dan produksi trombosit bergasngsur-angsur membaik.

PRESENTASI KASUS

TERIMA KASIH

TINJAUAN PUSTAKA
Pendahuluan

Penyakit demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus genus Flavivirus famili Flaviviridae, mempunyai 4 jenis serotipe yaitu den-1, den-2, den-3 dan den-4 melalui perantara gigitan nyamuk Aedes aegypti. Keempat serotipe dengue terdapat di Indonesia, den-3 merupakan serotipe dominan dan banyak berhubungan dengan kasus berat. Penyakit ini dapat menyerang semua orang dan dapat mengakibatkan kematian terutama pada anak-anak.

Sampai sekarang penyakit DBD ini masih menimbulkan masalah kesehatan di Indonesia, karena jumlah penderitanya semakin meningkat dan wilayah yang terjangkit semakin luas. Jumlah kasus biasanya meningkat bersamaaan dengan peningkatan curah hujan oleh karena itu puncak jumlah kasus berbeda di tiap daerah. Pada umumnya di Indonesia meningkat pada musim hujan sejak bulan Desember sampai dengan April-Mei tiap tahun.
DBD dapat berkembang menjadi demam berdarah dengue yang disertai syok (dengue shock syndrome = DSS ) yang merupakan keadaan darurat medik, dengan angka kematian cukup tinggi. Penatalaksanaan DD adalah dengan memberikan terapi simptomatis dan suportif, dan memonitor dengan ketat terhadap timbulnya DBD/DSS. Timbulnya DBD/DSS harus dikenal dengan cepat dengan melakukan pemeriksaan hematokrit dan trombosit secara teratur. Apabila terjadi DBD/DSS, penatalaksanaannya diutamakan untuk mengganti kehilangan cairan dan elektrolit karena terjadi leakage plasma.

Batasan DBD adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue dengan manifestasi klinis demam akut disertai gejala perdarahan dan bila timbul renjatan, angka kematiannya cukup tinggi. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan trombositopeni (trombosit < 100.000) dan hematokrit cenderung meningkat lebih dari 20% dari harga normalnya.

Manifestasi Klinik

Simptomatis

Asimptomatis

Demam tidak jelas Demam Dengue Dengan perdarahan Tanpa perdarahan Demam Berdarah Dengue

Dengan Syok Tanpa Syok

Patofisiologi

Setelah virus dengue masuk ke dalam tubuh, pasien akan mengalami keluhan dan gejala karena viremia, seperti demam, sakit kepala, mual, nyeri otot, pegal seluruh badan, hiperemi di tenggorokan, timbulnya ruam dan kelainan yang mungkin muncul pada system retikuloendotelial seperti pembesaran kelenjar-kelenjar getah bening, hati dan limpa. Ruam pada DHF disebabkan karena kongesti pembuluh darah dibawah kulit. Fenomena patofisiologi utama yang menentukan berat penyakit dan membedakan DD dan DBD ialah meningginya permeabilitas dinding kapiler karena pelepasan zat anafilaktosin, histamin dan serotonin serta aktivasi system kalikrein yang berakibat ekstravasasi cairan intravaskuler. Hal ini berakibat berkurangnya volume plasma, terjadinya hipotensi, hemokonsentrasi, hipoproteinemia, efusi dan renjatan. Adanya kebocoran plasma ke daerah ekstravaskuler dibuktikan dengan ditemukannya cairan dalam rongga serosa, yaitu dalam rongga peritoneum, pleura dan perikard. Renjatan hipovolemik yang terjadi sebagai akibat kehilangan plasma, bila tidak segera teratasi akan terjadi anoxia jaringan, asidosis metabolik dan kematian. Sebab lain kematian pada DBD adalah perdarahan hebat. Perdarahan umumnya dihubungkan dengan trombositopenia, gangguan fungsi trombosit dan kelainan fungsi trombosit. Fungsi agregasi trombosit menurun mungkin disebabkan proses imunologis terbukti dengan terdapatnya kompleks imun dalam peredaran darah. Kelainan sistem koagulasi disebabkan diantaranya oleh kerusakan hati yang fungsinya memang tebukti terganggu oleh aktifasi sistem koagulasi. Masalah terjadi tidaknya DIC pada DHF/ DSS, terutama pada pasien dengan perdarahan hebat.

Diagnosis

Tatalaksana Tatalaksana DBD dibagi atas 3 fase berdasarkan perjalanan penyakitnya: Fase Demam terapi simptomatik dan suportif. Parasetamol 10 mg/kgBB/dosis setiap 4-6 jam (aspirin dan ibuprofen dikontraindikasikan). Kompres hangat diberikan apabila pasien masih tetap panas. Terapi suportif yang dapat diberikan antara lain larutan oralit, jus buah atau susu dan lain-lain. Apabila pasien memperlihatkan tanda-tanda dehidrasi dan muntah hebat, berikan cairan sesuai kebutuhan dan apabila perlu berikan cairan intravena. Setelah bebas demam selama 24 jam tanpa antipiretik, pasien DBD akan memasuki fase kritis. Sebagian pasien sembuh setelah pemberian cairan intravena, sedangkan kasus berat akan jatuh ke dalam fase syok.

Fase Kritis (berlangsung 24-48 jam), sekitar hari ke-3 sampai dengan hari ke-5 perjalanan penyakit. Umumnya pada fase ini pasien tidak dapat makan dan minum oleh karena anoreksia atau dan muntah. Tatalaksana umum

Rawat di bangsal khusus atau sudut tersendiri sehingga pasien mudah diawasi. Catat tanda vital, asupan dan keluaran cairan dalam lembar khusus. Berikan oksigen pada kasus dengan syok. Hentikan perdarahan dengan tindakan yang tepat.

Kewaspadaan perlu ditingkatkan pada pasien dengan risiko tinggi,

seperti:

Bayi. DBD derajat III dan IV. Obesitas. Perdarahan masif. Penurunan kesadaran. Mempunyai penyulit lain, seperti Thalasemia dll.

Tatalaksana cairan

Indikasi pemberian cairan intravena:


Trombositopenia, peningkatan Ht 10-20%, pasien tidak dapat makan dan minum melalui oral. Syok. Kristaloid (jenis cairan pilihan diantaranya: ringer laktat dan ringer asetat terutama pada fase syok) Koloid (diindikasikan pada keadaan syok berulang atau syok berkepanjangan) Selama fase kritis pasien harus menerima sejumlah cairan rumatan ditambah defisit 5-8% atau setara dehidrasi sedang. Pasien dengan berat badan (BB) lebih dari 40kg, total cairan intravena setara dengan 2 kali rumatan. Pada pasien obesitas,perhitungkancairan intravena berdasar atas BB ideal.

Jenis cairan pilihan:

Jumlah Cairan:

Tetesan: Pada kasus non syok


BB < 15 kg 6-7 ml/kgBB/jam BB 15-40 kg 5 ml/kgBB/jam BB > 40 kg 3-4 ml/kgBB/jam

Pada kasus DBD derajat III mulai dengan tetesan 10 ml/kgBB/jam. Pada kasus DBD derajat IV, untuk resusitasi diberikan cairan RL 10 ml/kgBB dengan tetesan lepas secepat mungkin (10-15 menit) kalau perlu dengan tekanan positif, sampai tekanan darah dan nadi dapat diukur, kemudian turunkan sampai 10 ml/kgBB/jam.

Pemantauan
Pemantauan terhadap syok dilakukan dengan ketat selama 1-2 jam setelah

resusitasi. Apabila pemberian cairan tidak dapat dikurangi menjadi 10 ml/kg/jam, oleh karena tanda vital tidak stabil (tekanan nadi sempit, nadi teraba cepat dan lemah), syok belum teratasi, maka segera diberikan cairan koloidal 10 ml/ kgBB/jam. Pada kasus-kasus dengan syok persisten, yang tidak bisa diatasi dengan pemberian cairan kristaloid maupun koloidal, maka perlu dicurigai adanya perdarahan internal. Untuk keadaan ini diberikan transfusi darah segar. Pada kasus-kasus DBD derajat IV (DSS) yang pada waktu masuk rumah sakit nilai awal hematokritnya rendah, dipikirkan kemungkinan perdarahan internal, sehingga pemantauan nilai Ht harus lebih sering. Apabila Ht tetap rendah, berikan transfusi darah segar, koreksi gangguan metabolit dan elektrolit, seperti hipoglikemia, hiponatremia, hipokalsemia dan asidosis. Apabila terjadi asidosis, cairan infus sebaiknya diberikan Ringer Acetate. Enam sampai 12 jam pertama setelah syok, tekanan darah dan nadi merupakan parameter penting untuk pemberian cairan selanjutnya. Akan tetapi kemudian, semua parameter sekaligus harus diperhatikan sebelum mengatur jumlah cairan yang akan diberikan.

Parameter pemberian cairan yang harus diperhatikan adalah :

- Kondisi klinis : penampilan umum, pengisian kapiler, nafsu makan dan kemampuan minum pasien. - Tanda vital : Tekanan darah, suhu tubuh, frekuensi nafas. - Hematokrit. - jumlah urine
Indikasi transfusi darah adalah :

- Perdarahan saluran cerna berat (melena). - Kehilangan darah bermakna, yaitu > 10% volume darah total. (Total volume darah = 80 ml/kg). Berikan darah sesuai kebutuhan. Apabila packed red cell (PRC) tidak tersedia, dapat diberikan sediaan darah segar. - Pasien dengan perdarahan tersembunyi. Penurunan Ht dan tanda vital yang tidak stabil meski telah diberi cairan pengganti dengan volume yang cukup banyak, berikan sediaan darah segar 10 ml/kg/kali atau PRC 5 ml/kgBB/kali
Indikasi transfusi trombosit adalah :

Hanya diberikan pada perdarahan masif. Dosis: 0.2 /kgBB/dosis

Fase penyembuhan
Setelah

masa kritis terlampaui maka pasien akan masuk dalam fase maintenance/penyembuhan, pada saat ini akan ada ancaman timbul keadaan overload cairan. Sehingga pemberian cairan intravena harus diberikan dalam jumlah minimal hanya untuk memenuhi kebutuhan sirkulasi intra vaskuler, sebab apabila jumlah cairan yang diberikan berlebihan, akan menimbulkan kebocoran ke dalam rongga pleura, abdominal, dan paru yang akan menyebabkan distres pernafasan yang berakibat fatal. waktu 24-48 jam setelah syok. Indikasi pasien masuk ke dalam fase penyembuhan adalah : - Keadaan umum membaik. - Meningkatnya nafsu makan - Tanda vital stabil - Ht stabil dan menurun sampai 35-40%. - Diuresis cukup

Secara umum, sebagian besar pasien DBD akan sembuh tanpa komplikasi dalam

Indikasi Pulang

- 24 jam tidak pernah demam tanpa antipiretik - secara klinis tampak perbaikan - Nafsu makan baik - Nilai Ht stabil - Tiga hari sesudah syok teratasi - Tidak ada sesak nafas atau takipnea - Trombosit 50.000/l.

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan darah yang rutin dilakukan untuk menapis pasien tersangka demam dengue adalah melalui pemeriksaan kadar hemoglobin, kadar hematokrit, jumlah trombosit dan hapusan darah tepi untuk melihat adanya limfositosis relatif disertai gambaran limfosit plasma biru. Parameter laboratori yang dapat diperiksa:

Leukosit: dapat normal atau menurun.


Mulai hari ke-3 dapat ditemui limfositosis relatif (> 45% dari total leukosit) disertai adanya limfosit plasma biru (LPB) > 15% dari jumlah total leukosit yang pada fase syok akan meningkat.

Trombosit: umumnya terdapat trombositopenia pada hari ke 3-8 akibat depresi sumsum tulang. Hematokrit: kebocoran plasma dibuktikan dengan ditemukannya peningkatan hematokrit 20% dari hematokrit awal. Sering ditemukan mulai hari ke-3. Hemostasis: dilakukan pemeriksaan PT, APTT, Fibrinogen, D-Dimer, atau FDP pada keadaan yang dicurigai terjadi perdarahan atau kelainan pembekuan darah. Imunoserologi

Protein/Albumin: dapat terjadi hipoproteinemia

akibat kebocoran plasma. SGOT/SGPT dapat meningkat. Ureum, Kreatinin: dapat meningkat pada keadaan gagal ginjal akut. Gas darah: terdapat gangguan pada konsentrasi gas darah sesuai dengan keadaan pasien. Elektrolit: sebagai parameter pemberian cairan. Golongan darah dan cross match: dilakukan sebelum tindakan tranfusi darah untuk keamanan pasien.

Pemeriksaan Radiologis Pemeriksaan foto roentgen dada, bisa didapatkan efusi pleura terutama pada hemitoraks kanan tetapi apabila terjadi perembesan plasma hebat, efusi dapat dijumpai pada kedua hemitoraks. Pemeriksaan foto dada sebaiknya dalam posisi lateral dekubitus kanan. Pemeriksaan foto dada dilakukan atas indikasi dalam keadaan klinis raguragu dan pemantauan klinis, sebagai pedoman pemberian cairan. USG: untuk mendeteksi adanya asites dan juga efusi pleura.

Komplikasi Ensefalopati dengue, dapat terjadi pada DBD dengan syok ataupun tanpa syok. Kelainan ginjal, akibat syok berkepanjangan dapat terjadi gagal ginjal akut. Edema paru, seringkali terjadi akibat overloading cairan.

Langkah Promotif / Preventif Pencegahan /pemberantasan DBD dengan membasmi nyamuk dan sarangnya dengan melakukan tindakan 3M, yaitu: Menguras tempat-tempat penampungan air secara teratur seminggu sekali atau menaburkan bubuk larvasida (abate). Menutup rapat-rapat tempat penampungan air. Mengubur/menyingkirkan barang bekas yang dapat menampung air.

DAFTAR PUSTAKA
Depkes RI. 2005. Pedoman Tatalaksana Klinis Infeksi Dengue

di Sarana Pelayanan Kesehatan. Jakarta: Direktorat Jenderal Pelayanan Medik. WHO Indonesia. 2008. Pedoman Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit Rujukan Tingkat Pertama di Kabupaten/Kota. Alih bahasa: Tim Adaptasi Indonesia. Jakarta: Depkes RI. Hardiono, dkk. 2005. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak.Ed.I. 2004. Jakarta: Badan Penerbit IDAI. Nusirwan Acang. 2009. Pemberian Cairan Pada Demam Berdarah Dengue. Sub Bagian Petri, Bagian Ilmu Penyakit Dalam FK-Unand/RS Dr. M. Djamil Padang. Available from: http://papdiplg.multiply.com/journal (diakses: 2011, Februari 1).

END

TERIMA KASIH