Anda di halaman 1dari 53

PENYEDIAAN HIJAUAN SESUAI DENGAN KEBUTUHAN TERNAK

OLEH NI MADE WITARIADI

Tujuan : Mengatur Perimbangan Jumlah Ternak dengan Persediaan Pakan. Agar Usaha mendapatkan manfaat yang maksimal sesuai dengan tujuan diatas, maka yang perlu diperhatikan yaitu : 1. Beban Penggembalaan yang Optimal ( Stocking Rate) 2. Metode Penggembalaan ( Tipe Ternak dan Konsep Pergiliran Penggembalaan) 3. Konservasi Pakan dan Penyediaan Sumber Pakan Khusus ( Pengawetan & penyimpanan) 4. Sistem Pemberiaan Makan Setiap Tahun dengan menggunakan Lahan Hijauan untuk tujuan Khusus

I. BEBAN PENGGEMBALAAN OPTIMAL Semua kegiatan pengelolaan padang penggembalaan bertujuan untuk menyediakan hijuan yang optimal , sehingga hasil dari pemeliharaan ternak memberikan keuntungan yang maksimal. Hal ini berati bahwa penyediaan hijauan tidak harus berlebihan, tetapi juga tidak boleh sangat kurang. Bila persediaan berlebihan maka hasil ternak menjadi lebih kecil dalam perbandingan terhadap hijauan yang disediakan. Bila persediaan hijauan secukupnya maka hasil ternak akan lebih kecil lagi bila dibandingkan terhadap persediaan hanya sampai optimal. Bila persediaan terlalu kurang tentu akan mengganggu pertumbuhan dan tingkat toleransi ternak terhadap gejolak lingkungan.

Penurunan toleransi terhadap lingkungan dapat menurunkan kesehatan ternak dan selanjutnya menurunkan pertumbuhan dan produksi nya.

Yang perlu diperhatikan dalam padang penggembalaan adalah : Besarnya imbangan antara jumlah ternak dengan persediaan hijauan. Ini digambarkan oleh besarnya Stocking Rate (SR).

Stocking Rate (SR) yaitu : Jumlah Ternak Yang Digembalakan persatuan Luas Padang Gembalaan. Dengan SR pula digambarkan besarnya beban atau tekanan penggembalaan terhadap padang gembalaan.

Grafik menggambarkan bahwa dengan tekanan penggembalaan sebesar tn, maka tambahan berat per ekor adalah maksimal, tetapi bila dihitung per satuan luas tanah hampir tak berarti (sangat kecil). Kemudian dengan meningkatnya beban penggembalaan menyebabkan tambahan berat per ekor menurun dan tambahan berat per satuan luas lahan meningkat, tetapi kemudian menurun kembali. Penurunan tambahan berat per ekor mula-mula berlangsung perlahan , tetapi kemudian setelah melewati beban optimal penurunannya tajam menuju nol. Berlainan dengan tambahan berat per satuan luas lahan bahwa kenaikan tambahan berat ternak per satuan luas mula-mula naik tajam bersamaan dengan peningkatan beban penggembalaan sampai optimal, tetapi kemudian setelah melewati beban optimal tambahan berat menurun tajam bersamaan dengan peningkatan beban penggembalaan. Pada beban optimal baik tambahan berat per ekor ataupun tambahan berat per satuan luas lahan ada pada kisaran maksimal.

Grafik juga menggambarkan bahwa disebelah kiri dari beban optimal persediaan hijuan adalah berlebihan dan disebelah kanan dari beban optimal persediaan hijauan kurang cukup. Pada beban penggembalaan yang optimallah persediaan hijauan digunakan secara efisien dan kebutuhan ternak masing-masing terhitung cukup. Berdasarkan grafik tersebut jelaslah dapat diketahui bahwa ambang optimal dari beban penggembalan perlu diusahakan dan dijaga dengan baik

Faktor-faktor yang mempengaruhi penetapan Stocking Rate optimal Pemilihan besarnya SR memang tidak bisa ditentukan dan tidak ada formulasi yang dapat dijadikan pegangan.

Pengalaman-pengalaman harus dikumpulkan melalui percobaan dan pengamatan - pengamatan dalam jangka waktu yang panjang dan dalam berbagai perubahan kondisi lingkungan.
Jadi secara umum beberapa pertimbangan yang perlu dipikirkan dalam memilih SR optimal sebagai berikut :

1. 2.

Intensifikasi Padang Penggembalaan Keefektifan Penggunaan Padang Penggembalaan 3. Keperluan Dari Penggembalaan Selektif 4. Keperluan Mempertahankan Komposisi Botani 5. Mudahnya Terjadi Erosi 6. Curah Hujan Yang Umum Terjadi 7. Pemilihan Sumber Pakan Yang Lain 8. Komposisi Ternak dan Tujuan 9. Bentuk Hasil Yang Dapat Dijual 10. Harga Relatif Dari Tanah dan Ternak

1. Intensifikasi Padang Penggembalaan. Intensifikasi padang pengembalaan dapat dilakukan melalui : pemupukan, perbaikan dan penggantian jenis tanaman yang ditanam, pengaturan pengairan, pengolahan tanah, pemberantasan gulma serta hama dan penyakit, dan usaha-usaha lainnya yang bertujuan meningkatkan hasil dan nilai persatuan luas padang penggembalaan.

Dengan intensifikasi maka jumlah ternak yang dapat dipelihara akan meningkat dari sebelum dilakukan intensifikasi, begitu juga SR optimal akan meningkat.
Contoh : Percobaan dengan perlakuan pemupukan Nitrogen dan berbagai SR. Perbandingan Pengaruhnya dilihat pada rata-rata besarnya tambahan berat badan per ekor per hari Pemilihan SR dipilih berdasarkan pengujian sebelumnya yang didasarkan pada beberapa persedian hijauan (%)

2. Keefektifan Penggunaan Padang Gembalaan.

Dalam pengembalaan yang ekstensif, bahwa keefektifan penggunaan lahan dipengaruhi oleh : kemerataan penyebaran mutu hijauan dan tempat-tempat air minum diseluruh wilayah padang gembalaan.
Bila mutu hijauan tidak merata penyebarannya, maka ada kemungkinan ternak mencari makan diwilayah yang mutunya baik saja. Kejadian demikian menyebabakan terjadinya penggembalaan yang berat pada bagian-bagian yang lebih disukai ternak, sedangkan penggembalaan ringan dibagian yang mutunya kurang disenangi ternak. Keadaan demikian menyebabkan perhitungan SR yang didadasarkan luas lahan keseluruhan menjadi kurang tepat.

Bila padang gembalaan dikelola dengan intensif sehingga mutu hijauan lebih merata, tempat air lebih merata dan lebih banyak, pemagaran yang kuat dan rapi dari paddock-paddock, maka penggunaan padang gembalaan dapat lebih efektif dan SR dapat dipilih menjadi lebih besar. Artinya pemilihan SR menjadi lebih tepat sesuai perhitungan. Toleransi sapi menggembala dari sumber air bisa sampai batas 16 Km dan biri-biri sampai 5 km. Sebaiknya jarak tempat air minum untuk sapi tidak lebih dari 5 Km dan biri-biri tidak lebih dari 1.5 km.

3. Keperluan Dari Penggembalaan Selektif

Berhubungan dengan faktor 2 tadi , bahwa untuk meningkatkan mutu pakan yang dimakan ternak, salah satu cara yang dilakukan ternak adalah melakukan seleksi.
Seleksi dapat dilaksanakan dengan memilih jenisjenis dan bagian-bagian tanaman yang lebih bermutu dan akan dimakannya terlebih dulu melalui kemampuan daya seleksinya. Bila makannya belum cukup, barulah ternak akan memilih yang lebih rendah. Bila padang gembalaan bermutu rendah sebaiknya SR yang dipilih yang rendah. Contoh: Biri-biri memerlukan pakan yang kadar N 1,3%, maka dengan kemampuan seleksinya ia akan mengabaikan pakan yang kadarnya lebih rendah

4. Keperluan Mempertahankan Komposisi Botani tertentu Penggembalaan yang berat dapat menghilangkan jenis tanaman yang lebih berguna, selanjutnya memunculkan gulma. Apabila gulma itu bermutu rendah atau berancun akan menurunkan hasil ternak.

Padang gembalaan yang terdiri dari Buffel ( Cenchrus ciliaris) tahan terhadap penggembalaan yang berat dan tidak mudah dikalahkan oleh gulma. Panicum maximum cv lebih mudah rusak dari pada Buffel.
Jadi daya tahan dan mutu padang gembalaan berbeda-beda menurut komposisi botaninya Oleh karenya mempertahankan jenis-jenis yang baik dari suatu padang gembalaan ada kaitannya dengan usaha mempertahankan besarnya hasil ternak dan kelanggengan usaha peternakan, dan memilih SR yang tepat adalah perlu.

5. Mudahnya Terjadi Erosi

Penggembalaan berat dapat merusak padang gembalaan, sehingga kondisi padang gembalaan sebagai penyangga erosi hilang atau berkurang.
Lahan yang terbuka atau kurang tertutup menyebabkan tanah menjadi kurang mampu menyerap air (padat), sehingga aliran air hujan yang berlebihan dipermukaaan lahan akan menghanyutkan tanah. Kerusakan lanjutan oleh kondisi lahan yang terbuka dapat juga disebabkan oleh tiupan angin. Tipe padang gembalaan yang mudah rusak yang memberikan peluang terjadinya erosi, maka perlu pengurangan beban penggembalaan dengan memilih SR yang lebih rendah.

6. Curah Hujan Yang Umum Terjadi Bila curah hujan mengalami perubahan besar dari tahun ketahun, akan menyebabkan perubahan yang besar pula terhadap kondisi dan hasil padang gembalaan, yang mana akhirnya akan diikuti perubahan SR yang cocok digembalakan. Pada lingkungan yang curah hujannya tidak teratur, maka dianjurkan menerapkan SR yang lebih rendah. Dengan demikian kelebihan hasil hijauan pada musim yang baik akan digunakan pada musim yang kurang baik.

7. Pemilihan Sumber Pakan Yang Lain Penerapan SR yang tinggi dapat dilakukan ,bila kita dapat menyediakan sumber pakan yang lain dari persediaan yang umumnya untuk pertumbuhan ternak yang baik. Sumber pakan cadangan tersebut diperlukan untuk mengatasi kekurangan pakan pada mnusim-musim yang jelek.

Sumber pakan cadangan dapat berupa pakan yang diawetkan ( Tambahan biaya).

8. Komposisi Ternak dan Tujuan (Kesempatan Pemasaran)


Beternak mempunyai tujuan seperti pemeliharaan ternak untuk penggemukan, induk atau campurannya. Bila beternak untuk satu tujuan pada lahan penggembalaan akan lebih sulit untuk mengikuti perubahan dan kesempatan yang ada, bila dibandingkan dengan kombinasi beberapa cabang usaha (induk bersama pertumbuhan dan penggemukan). Dimana pada saat musim kurang pakan dapat memelihara ternak penggemukan dan induk kering. Selanjutnya dengan mudah merubah jenis ternak dengan jenis yang lebih sesuai dengan kondisi musim. Bila hanya memelihara induk untuk breeding ,maka tidak lah mudah menjual dalam keadaan darurat ,bila dipaksakan untuk dijual pada musim jelek mungkin nilai jualnya belum sesuai dengan biaya yang telah dikeluarkan. Maka bila hanya memelihara untuk tujuan pemeliharaan induk saja , maka SR tidak dapat dipilih terlalu besar.

9. Bentuk Hasil Yang Dapat Dijual

SR yang tepat tergantung pada hasil (output) yang diharapkan dan bagaimana kepekaan hasil tersebut terhadap kesulitan nutrisi yang tersedia.
Hasil ternak yang sangat mudah melorot karena gangguan nutrisi (persedian pakan) sebaiknya SR ternaknya lebih rendah . Misalnya: Ternak yang menghasilkan wool dapat dipelihara dengan SR lebih tinggi, karena hasil wool lebih kecil dipengaruhi oleh gangguan nutrisi dibandingkan sebagai penghasil susu. Kepekaan hasil terhadap gangguan nutrisi urutannya sebgai berikut,( dari yang paling peka ke kurang peka) :Susu reproduksi pertumbuhan wool.

10. Harga Relatif Dari Tanah dan Ternak. Bila harga tanah murah, maka ada kecendrungan untuk memilih SR yang lebih rendah agar hasil per ekor ternak maksimal.

Sebaliknya bila harga tanah mahal ,maka kecendrungan SR dipilih lebih tinggi untuk menutupi biaya (modal tanah).
Bila harga ternak mahal dan harga marginal cukup baik untuk mendapatkan keuntungan, maka kecendrungan memilih SR yang tinggi.

II. Metode Penggembalaan Melakukan penggembalaan hal yang perlu diperhatikan : 1. Tipe dari ternak yang digembalakan 2. Konsep pengistirahatan & pergiliran padang rumput 2.1. Tipe dari ternak yang digembalakan Sapi perah butuh gembalaan yang stabil dan mutunya baik ; biri-biri ( penghasil wool & pertumbuhan ) memanfaatkan pakan mutunya rendah ( Tipe dan kualitas padang gembalaan menentukan ternak mana yang cocok digembalakan ) Biri-biri cocok untuk tanaman yang tumbuh rendah ( dapat memakan bagian tanaman diatas tanah) ; Kambing cocok untuk padang gembalaan bersemak (dapat memanjat pohon) ; Kuda mengembala sangat selektif (padang gembalaan tidak merata, bagian disenangi kosong/ kerdil) Padang gembalaan terdiri dari tanaman berbagai tipe dilakukan penggembalan gabungan dan padang gembalaan baru diprioritaskan untuk ternak yang memberikan keutungan paling tinggi, disusul ternak yang lebih rendah)

2.2. Konsep Istirahat dan pergiliran Penggembalaan

Sistem penggembalan yang dilakukan lebih besar pengaruhnya terhadap pencapaian hasil ternak dari pada pengaturan SR.
Sistem penggembalaan rotasi menunjukkan hasil produksi yang tidak selalu meningkat setelah melalui pemotongan bersih (clear cut) oleh peternak. Tujuan dari penggembalaan rotasi sebagai berikut : a. Mengatur komposisi botani b. Menyediakan kebutihan tertentu ternak c. Meningkatkan penggunaan pakan d. Meningkatkan pertumbuhan tanaman e. Kemudahan pekerjaan pertanian / farm.

1. Mengatur komposisi botani

Bahwa tanaman perlu waktu istirahat terhadap pemotongan : memberikan kesempatan proses pembentukan biji; menimbun cadangan energi pada pangkal & akar tanaman; memungkinkan pertumbuhan baru dari biji tanpa gangguan penggembalaan dan mencegah lebih banyak jenis yang disenangi dimakan (selektif ternak) yang menyebabkan kepunahan .
Dengan sistem rotasi, tanaman gembalaan dapat tumbuh lebih banyak dan bila digembalai setelah tanaman agak tua maka lebih sedikit tanaman yang termakan sehingga beban penggembalaan menjadi lebih kecil atau setelah kemampuan hidup tanaman baik dan tumbuh dengan cepat. Padang gembalaan yang rusak, perbaikan dengan membiarkan padang gembalaan istirahat dan lakukan rotasi, tetapi padang gembalaan yang komposisi botaninya stabil tidaklah perlu.

Mempertahankan spesies mutu tinggi ( kacangkacangan),maka sistem istirahat dan rotasi merupakan keharusan (sistem rotasi menyebabkan ternak tidak menggembala terlalu lama pada satu padang rumput). Sistem mengembala (1 minggu & istirahat 4 minggu) lebih baik daripada digembalai ( 2 minggu & istirahat 4 minggu) pada SR sama. Setiap daerah ekologi dari jenis disana harus dipelajari & sistem penggembalaan yang dapat dilakukan. Misalnya di Africa selatan terdapat suatu keadaan dimana rumput pada lingkungan alkalis yang berkembang didaerah yang kering, tahan terhadap penggembalaan di musim gugur dan dimusim dingin, sehingga pada akhir musim gugur dan selama musim semi kesempatan diistirahatkan. Untuk daerah baru diperhatikan: penentuan fase fisiologis tanaman & kapan jenis utama padang gembalaan mudah rusak akibat penggembalaan.

2. Menyediakan kebutuhan tertentu ternak. Bahwa sistem penggembalaan dapat dilakukan (untuk tujuan khusus ; untuk fase-fase fisiologis tertentu dari ternak & untuk memperkecil kendala yang berkaitan dengan kesehatan ternak). Bila rumput mempunyai biji tajam atau kasar yang kurang disukai ternak, maka dapat dibuatkan 2 paddock.

Paddock 1 digembalai sedemikian shg tidak ada kesempatan tanaman untuk membentuk biji, sedangkan paddock ke 2 digembalai setelah biji rontok ketanah.

Creeping adalah sistem penggembalaan yang dianjurkan untuk ternak sapi muda. Dimana ternak muda mendapatkan pakan pilihan pertama dan dalam rangka menekan kendala-kendala akibat parasit saluran pencernaan. Pada padang gembalaan dibuat lobang kecil pada pagar paddock untuk lewatnya pedet. Strip Grazing adalah padang gembalaan yang digembalai sampai habis atau bersih tiap blok (paddock), bertujuan untuk menyediakan taraf nutrisi yang lebih tinggi. Sistem ini baik dipergunakan untuk induk masa beranak.

3. Meningkatkan Penggunaan Pakan Dengan sistem rotasi menyebabkan padang gembalaan menjadi rata atau tidak compang-camping. Ini berarti kesempatan seleksi ternak ditiadakan sehingga penggunaan bahan pakan meningkat. Zero Grazing dilakukan untuk menghilangkan kesempatan seleksi dari ternak, dimana hijauan dipotong lalu dibawakan kekandang atau tempat penampungan ternak. Sistem ini dapat dikontrol dalam penggunaan pakan lebih lanjut.

Kelemahan sistem ini adalah: - Memerlukan tenaga yang besar - Bila mengunakan mesin pemotong ada kesulitan bila keadaan becek - Jenis tanaman harus tahan pemotongan - Kesuburan tanah menjadi terganggu. 4. Pertumbuhan Tanaman Lebih Cepat Istirahat ( tanpa digembalai ) merupakan kesempatan tanaman untuk tumbuh baik. Pertama tumbuhnya daun-daun dan selanjutnya menimbun banyak hasil fotosintesa.

5. Kemudahan Pekerjaan Pertanian

Sistem rotasi memudahkan beberapa pekerjaan seperti : pembuatan hay, kegiatan irigasi & kegiatan memisahkan kelompok ternak tua dengan yang muda.
Ternak muda lebih mudah tercemar parasit saluran pencernaan & dengan pemisahan lebih mudah menghitung kebutuhan ternak serta mengontrol perkawinan menjadi lebih mudah. Kelemahan sistem rotasi adalah peternak harus meluangkan waktu lebih banyak sewaktu memindahkan ternak dari blok satu ke blok yang lainnya; kesempatan seleksi berkurang dan karenanya mungkin nutrisinya kurang terpenuhi.

III. Sistem Pengembalaan Disertai Pengawetan & Penyimpanan Hijauan ( Konservasi). Sistem ini dilakukan untuk mengatasi kejadiankejadian meliputi : kematian ternak dimusim kering, kelebihan hijauan dimusim hujan dan kemerosotan hasil ternak dimusim kering. Kegiatan konservasi tidak selalu meningkatkan efisiensi dan keuntungan, seperti bila persediaan hijauan melimpah maka konservasi tidak menguntungkan. Kapan dan dimana konservasi perlu dilakukan dengan menguntungkan , bisa dipertimbangkan dari segi pandang gembalaanya (tanaman) dan segi ternaknya.

A. Faktor Padang Gembalaan (Tanaman).


1. Beda amplitudo perolehan hasil antar musim Konservasi dilakukan : bila kelebihan persediaan pakan pd suatu musim dlm 1 thn & kekurangan pd musim yg lain dr thn tsb.

Kekurangan hijauan diukur dr perolehan & kualitas padang rumput yg sdg tumbuh & bukan dr kecepatan tumbuh pd musim kering. Contoh : Musim hujan sebagian padang rumput hasilnya dipanen dijadikan silage & hay, dan sebagian lagi digembalai dgn SR tertentu. Dimusim kemarau pertengahan ( silage diberikan utk menutupi kekurangan pakan) dan ( hay diberikan pd musim kemarau akhir/ awal musim hujan).
Utk melihat keuntungan dr kegiatan konservasi, mk perlu dilakukan pengamatan pd padang rumput yg lainnya (sama) ttp tdk melakukan konservasi.

Hasil ternak dr kedua sistem tadi pd akhir pengembalaan dibandingkan dan diperhitungkan keuntungannya. Bila ternyata cara konservasi lebih banyak keuntungannya, mk sistem pengebalaan dgn konservasi dpt dianjurkan.

Konservasi tidak menguntungkan karena : - Besarnya konservasi terlalu sedikit, shg tdk banyak dpt meningkatkan hasil ternak ( tdk seimbang dgn biaya konservasi yg dikeluarkan) - mutu pakan yg dikonservasi rendah. - Amplitudo hasil hijauan antar musim terlalu besar.

2. Pengaruh konservasi thp komposisi & ketegaran (Vigour) padang rumput. Pemotongan dpt merubah komposisi botani padang gembalaan Misal : - Siratro & kacang-kacangan tropis yg menjalar, tdk toleran thd pemotongan yg terlalu rendah. - Jenis rumput alami stlh dilakukan pemotongan komposisinya berkurang & mempengaruhi mutu hijauan menjadi turun. Pemotongan untuk konservasi dpt memberikan keuntungan:

Meningkatkan kadar N hijauan Jenis-jenis yg tdk disenangi dpt dihilangkan.

3. Kualitas bahan hijauan yg dikonservasi. Hijauan yag bermutu rendah tidak perlu dikonservasi: karena untuk produksi ternak tidak baik memberikan pakan yg mutunya rendah jauh dr kebutuhan utk mempertahankan hidup . Hijauan yg mutunya rendah lebih baik ditambahi pakan yg bermutu tinggi ( tepung kacang tanah),tanpa melakukan konservasi.

4. Efisiensi dr proses konservasi & penanganan selanjutnya. Proses konservasi dan penanganan selanjutnya sampai tersedia kembali untuk ternak menyebabkan bahan susut sampai 60%. Susut dpt disebabkan karena : - Cuaca yg lembab/basah dapat merusak hay dan proses pembuatan silage menjadi sulit.

B. Faktor Ternak

1.

Tujuan dari produksi atau sekedar bertahan hidup (maintenance) Konservasi pd suatu kondisi tertentu kemungkinan keuntungan sangat kecil, tetapi bila tdk melakukan konservasi, maka sebagian ternak akan mati yg membawa kerugian besar.
Dalam hal ini konservasi perlu dilakukan, bila utk menjual ternak menjelang musim kering tidak mungkin.

Cara ini utk mengusahakan ternak tetap hidup dan sekecil mungkin kerugian yg timbul.

2. Macam Hasil dr Ternak (Produk)

Untuk sapi perah agar tetap terjaga kelangsungan laktasinya, maka perlu dijaga ketersediaan pakan dan bermutu tinggi. Karena bila hasil susunya terganggu sekali saja maka sulkit diperbaiki lagi.
Bila ditujukan utk menghasilkan bibit konservasi adalah perlu, karena peristiwa bunting & beranak tdk bisa dipaksakan. Bibit adalah awal ternak yang diternakkan dan harga bibit lain dr ternak dewasa. Konservasi pada prinsipnya pertimbangan ekonomi adalah dominan .

3. Pengaruh Konservasi thd SR Optimum

Konservasi diharapkan dpt menyelamatkan ternak lebih banyak.


Bila SR tdk dinaikkan, mk masalah penggantian pakan dimusim kering mudah diatasi, krn dgn memberikan pakan yg dikonservasi keperluan pakan dr hijuaan segar dr padang rumput lebih sedikit & kebutuhan ternak terpenuhi dr pakan tambahan. Waktu ternak menggembala lebih pendek berarti menghemat tenaga. Bila SR berlebihan ,mk konservasi akan menurunkan efisiensi peternak, karena SR yang tinggi, jumlah bahan yg dikonservasi akan sedikit dan tdk dpt memenuhi kekurangan pakan dimusim kering.

Contoh : Bila SR 10 e/ha,dgn konservasi hasil woolnya meningkat 2 kg/ha; Bila SR 20 e/ha, dgn konservasi hasil woolnya menjadi 16 kg/h; Bila SR 30/e/ha,maka hasil pasture turun 15 kg/ha. Dari sini dapat dilihat bahwa program konservasi dapat meningkatkan hasil dengan meningkatkan SR dari 10 ekor menjadi 20 ekor/ha, ttp jangan samapai melewati yang justru akan menurunkan

hasil.

4. Besarnya kerugian karena program konservasi.

Ada pendapat yg mengatakan bahwa dgn konservasi hijauan mk kebutuhan ternak menjadi dibatasi yg akan menurunkan hasil.
Oleh karena itu, mk hanya pakan yg betul-betul lebih saja yg harus dikonservasi utk diberikan kembali pd musim kering. Bila konservasi dilakukan juga yg menyebabkan pertumbuhan ternak menurun, mk kerugian itu hrs dpt diimbagi (kompensasi) oleh pertumbuhan atau hasil dgn memberikan kembali pakan yg dikonservasi.

Bila pakan konservasi yg diberikaan juga tidak meningkatkan hasil, mk jelaslah konservasi tdk dianjurkan.

5. Besarnya tambahan berat kompensasi Tambahan berat kompensasi adalah : selisih tambahan berat pd musim (taraf pakan yg baik) dengan tambahan berat pd musim (taraf pakan jelek), dalam proporsi thp tambahan berat pd musim (taraf pakan jelek). Misal: Pada musim jelek (A) tambahan berat 10 kg/ha dan pd musim yg baik (B) tambahan berat 20 kg/ha. Maka berat kompensasi (BK) adalah: BK = B-A/A = 20-10/10 = 100%

Kompensasi terjadi karena : Ternak semula mendapat taraf pakan rendah, shg makannya akan jauh lebih banyak stlh diberi pakan taraf tinggi atau lebih banyak dr ternak yang semula mendapatkan pakan bertaraf tinggi. Umumnya tambahan berat kompensasi pd musim subur sebesar 0,1 0,5 dr tambahan berat pd musim kering. Bila tambahan berat kompensasi kecil kemungkinan kerugian karena musim kering tdk tertutupi. Pd ternak muda tambahan berat kompensasi kurang berarti & lebih penting bagi ternak dewasa yg akan dijual & untuk ternak induk agar terjaga kesehatanya dan kesempurnaan perkawinan selanjutnya.

Sesungguhnya konservasi dilakukan bagi tatalaksana beternak yang intensif, dimana hasilnya sedikit dpt mengembalikan investasi. Konservasi perlu hanya sebagai strategi dalam situasi-situasi tertentu terutama yg berhubungan dgn harga tinggi produksi karena musim kering.

IV. Sistem Pemberian Makan Setiap Tahun Dengan Menggunakan Lahan Hijauan untuk Tujuan Khusus Merupakan cara lain dari konservasi dlm menekan sekecil mungkin gelombang perubahan hasil ternak yaitu dengan : Menanam jenis hijauan yang toleran terhadap perubahan iklim dan cuaca Mempunyai sifat-sifat baik dalam mempertahankan bahan pakan dengan taraf nutrisi yang tinggi dalam keadaan masih berdiri di lahan

Hasil hijauan secara teratur dengan fluktuasi tidak terlalu besar.

Supaya tujuan tercapai dengan baik ,perlu dilakukan pengujian /pengamatan terlebih dulu meliputi :

a. Pengujian lingkungan tumbuh Untuk mengetahui kecocokan lingkungan tumbuh dengan jenis yang dikembangkan ; melakukan modifikasi pengairan dengan irigasi ; pengolahan lahan ; pemberantasan pesaing ( pohon-pohonan) b. Nutrisi yang dapat diperoleh dari jenis-jenis tanaman yang ditanam c. Respon peningkatan maksimum dari bahan kering tanaman yang diberi nitrogen semakin meningkat d. Fase pertumbuhan tercepat: dimana pemberian N biasanya mendapatkan respon maksimal

e. Fase pertumbuhan lambat ; fase ini ternak mendapat gangguan pertumbuhan, shg pemupukan pd saat ini mendapat respon baik dari ternak. Misal Rumput kikuyu yang dipupuk dgn N dibulan april dan agustus masing-masing 30% dr pemupukan setahun, kemudian bulan november dan pebruari masing-masing 20%. Masa pertumbuhan cepat adalah bulan desember sampai pebruari dan diluar bulan desember sampai pebruari ternak mengalami kekurangan pakan. f.Keperluan ternak akan pakan baik jumlah dan mutunya sesuai dgn fase-fase biologis & sesuai dgn tujuan khusus usaha pemeliharaan ternak.

g. Saat-saat terjadi perubahan padang penggembalaan


h. Saat-saat penjualan ternak dilakukan

Beberapa sumber hijauan yang mungkin dapat disiapkan untuk membantu tekanan produksi di musim kering : 1. Padang rumput alami tanpa perawatan : hijauan yang tumbuh di daerah perbukitan; lahan becek /berlumpur yg tdk cocok utk pertanian Padang rumput alami yang dirawat dgn menghilangkan tanaman pesaing Menanam ladang campuran kacangkacangan Menanam ladang hijauan beririgasi Menanam ladang campuran rumput kacangan yg mutunya baik

2. 3. 4. 5.

6. 7.

Menanam hijauan dengan tanaman pangan Menaman tanaman hijauan pangan yg ditanam musim hujan utk penggembalaan

8. Menanam hijauan tanaman pangan berpengairan utk penggembalan 9. Hay dan silage 10. Biji-bijian yang disimpan 11. Bahan pangan penguat yg dibeli atau bahan sisa/limbah industri pertanian lainnya

Kesimpulan : Bahwa ada hal-hal prinsip yang digariskan untuk peternak: 1. 2. Hendaklah petani menanam pakan dgn hasil tertinggi, shg SR dpt ditingkatkan Hendaklah membuat rencana urutan penggunaan beberapa jenis pakan, agar sekecil mungkin perubahan hasil ternak antar musim dan gunakan sisa / limbah tanaman pangan yg dpt menguntungkan. Hendaklah dipelajari keperluankeperluan khusus dr ternak yg dipelihara & memberikan perhatian kebutuhan-kebutuhan fisiologisnya (masa kebuntingan akhir & masa menyusui).

3.

Myers (1967) menyusun teori untuk luas relatif dan SR rata-rata dr ladang tujuan khusus dgn jenis berbeda bila digunakan bersama-sama. Ladang sebaiknya mempunyai rhythme pertumbuhan koplementer yg baik thd ladang pokok Umpama: Ada ladang A dan ladang B, dimana ladang B defisiensi dlm periode tertentu dan pd saat mana ladang B superior, tetapi sebaliknya diwaktu lain. Pada periode 1, SR ladang A adalah a1 Pada periode 2, SR ladang A adalah a2 Pada periode 1, SR ladang B adalah b1 Pada periode 2, SR ladang B adalah b2

SR bersama ( Overall SR) dinyatakan dgn f dan luas relatif ladang A+B = 1 maka didapatkan bahwa :

a1A + b1B = a2A +b2B = f Bila nilai B diganti dgn (1-A) Maka persamaan menjadi : a1A + b1(1-A) = a2A +b2(1-A) a1A + b1- b1A = a2A +b2- b2A a1A - a2A - b1A + b2A = b2 - b1 A (a1 - a2 - b1 + b2) = b2 b1 b2 b1 -------------------------------(a1 a2 ) - ( b1 + b2)

A=

f = a1A + b1B =a2A + b2B = a1A+b1(1-A) = a2A+ b2 (1-A) Ganti A dengan b2 b1 ---------------------------(a1 a2 ) - ( b1 + b2) Maka : f = a1b2 a2b1 -----------------------(a1- a2) + (b2 - b1)

Membuat perhitungan SR berdasarkan Produksi Pasture dan konsumsi ternak akan hijauan Harus diketahui : 1. Produksi pasture per tahun (kg/ha/th) 2. Utilisation faktor ( %) 3. Berat Ternak (kg) 4. Appetite 1 ternak ( 2,5-3%) dr berat hidup Rumus : Appetite 1 ternak = 2,5% * BB = kg/ek/hr Makanan yang dpt dikonsumsi oleh ternak tiap tahun : = Produksi pasture/th*UF = kg/ha/th Konsumsi makan oleh ternak (1AU)/th =AU *hr dlm setahun = kg/ek/hr *365 hr = kg/ek/th Optimum stosking rate : = Makananyang dpt dikonsumsi/th Konsumsi makan oleh ternak = ek/ha

Tugas : 1. Pengaruh stocking Rate (SR) terhadap penyediaan hijauan pakan ternak . 2. Pengaruh metode penggembalaan terhadap penyediaan hijauan pakan ternak.