Anda di halaman 1dari 10

Contoh kasus Etika kedokteran

AUSE LABELLAPANSA 11917117

Click to edit Master subtitle style

Meninggal karena terkejut


Laki-laki (50 thn) datang dengan keluhan lemas dan sesak napas. Sesudah pemeriksaan lengkap, diketahui ia mengidap kanker bronkogenik yang cukup ganas. Karena dokter merasa hidup pasien tak akan lama lagi, ia putuskan beritahu keadaan pasien secara terus terang, supaya ada kesempatan menyiapkan diri menghadapi maut. Mendengar kabar buruk ini, pasien langsung pingsan dan akhirnya meninggal akibat serangan jantung. Pihak keluarga menyesalkan tindakan dokter yang mengatakan penyakit pasien dengan terus terang.

PERTANYAAN
Apakah dokter bersalah dengan menyampaikan keadaan yang sebenarnya kepada pasien ?

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 290/MENKES/PER/III/2008 pasal 9 butir 3 Dalam hal dokter atau dokter gigi menilai bahwa penjelasan tersebut dapat merugikan kepentingan kesehatan pasien atau pasien menolak diberikan penjelasan, maka dokter atau dokter gigi dapat memberikan penjelasan tersebut kepada keluarga terdekat dengan didampingi oleh seorang tenaga kesehatan lain sebagai saksi

Undang-Undang No. 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran pasal 52 Pasien, dalam menerima

a. b. c. d. e.

pelayanan pada praktik kedokteran, mempunyai hak untuk mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis yaitu Diagnosis dan tata cara tindakan medis Tujuan tindakan medis yang dilakukan Alternatif tindakan lain dan risikonya Risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi Prognosis terhadap tindakan yang dilakukan

KODEKI pasal 7b
Seorang dokter harus bersikap jujur dalam berhubungan dengan pasien dan sejawatnya, dan berupaya untuk mengingatkan sejawatnya yang dia ketahui memiliki kekurangan dalam karakter atau kompetensi, atau yang melakukan penipuan atau penggelapan, dalam menangani pasien

Siti (2009)
komunikasi dengan empati merupakan salah satu dari tujuh area kompetensi utama bidang kedokteran yang harus dikuasai dokter. Komunikasi dengan empati penting guna menyelesaikan masalah pasien, diagnosis dan terapi, memberikan informasi dan edukasi, menetapkan keputusan, serta berbagi pikir dan rasa, membina hubungan dokterpasien yang lebih baik. Kompetensi komunikasi dengan empati, tidak dapat dipisahkan dari kompetensi lainnya yaitu etika, moral, dan profesionalisme dalam praktik, mawas diri, serta pengembangan diri.

Rakhmat (1998)
Cara seorang dokter dalam menyampaikan informasi yang ingin disampaikan kepada pasien sangat berpengaruh dalam membentuk persepsi pasien. Adanya kesenjangan antara persepsi dengan realitas sebenarnya mengakibatkan bukan saja perhatian selektif tetapi penafsiran pesan yang keliru. Jadi cara penyampaian informasi sangat berpengaruh terhadap persepsi sipenerima informasi

Kesimpulan
Dalam kasus tersebut dokter tidak memperhatikan kerugian yang mungkin ditimbulkan ketika menyampaikan informasi keadaan yang sebenarnya walaupun menyampaikan informasi mengenai penyakit pasien adalah hak pasien dan kewajiban dokter untuk menyampaikan secara jujur.

DAFTAR PUSTAKA
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 290/MENKES/PER/III/2008 Rakhmat, J. 1991. Psikologi Komunikasi. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya Undang-Undang No. 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran KODEKI Siti Aisah Boediardja. 2009. Komunikasi dengan