Anda di halaman 1dari 16

MODUL 2 PILEK MENAHUN

KELOMPOK 2B
FERA FATMAWATI NOVA RUKMALA DEWI IRIEN PEBRYANTI HM ASNI HAERUNNISA NUR AWALIYA FATIMAH SULFIANITA WIDYA HAFSARI JAUHAR MARIO : 1102070117 : 1102080096 : 1102090026 : 1102110004 : 1102110014 : 1102110086 : 1102110017 : 1102110025

RETIKA PASCAWIJAYANTI. H
DIRGA R.S MUH. RACHMAD HABEL AMALIA HENDAR PANGESTUTI

: 1102110033
; 1102110041 : 1102110049 : 1102110065

SKENARIO

Seoraang laki-laki umur 34 tahun, guru SD di Mamuju datang di poliklinik THT RS.Wahidin Sudirohusodo dengan keluhan utama sering bersin disertai ingus encer dan hidung tersumbat terutama pada pagi hari. Ada riwayat penyakit asma pada usia balita. Gejala ini sudah dirasakan hampir tiap hari, mengganggu aktivitas mengajar, dan perlangsungannya sudah 5 tahun terakhir ini.

ISTILAH SULIT Asma Balita Bersin

KALIMAT KUNCI 1. Laki-laki, 34 tahun 2. Bersin disertai ingus encer dan hidung tersumbat

3. Terutama pada pagi hari


4. Ada riwayat asma saat balita 5. Berlangsung selama 5 tahun 6. Gejalanya hampir tiap hari

Reaksi hipersensitivitas 1 mendasari terjadinya alergi

Proses terjadinya alergi berdasarkan Reaksi hipersensitivitas 1 Antigen (alergen) masuk kedalam tubuh melalui epitel Pada epitel terdapat macrophage yang merupakan innate imunity

Antigen akan difagositosis dan macrophage sebagai APC akan mempresentasikan kepada limfosit T untuk mengaktifkan limfosit T helper
Limfosit T helper merespon alergen dengan mengaktifkan MHC II MHC II menngaktifkan T Cell Reseptor (TCR) berupa CD4 CD4 memproduksi IL4 untuk membantu limfosit B menghasilkan antibody dan juga IL5 yang akan meningkatkan kadar EOSINOPHIL

kemudian limfosit B membentuk antibody berupa IgE kemudian IgE akan masuk ke sirkulasi darah dan melapisi permukaan sel mast pada IgE FC Receptor

Apabila terjadi paparan ulang oleh antigen yang sama (alergen) dan IgE pada permukaan sel mast lebih dari dua maka akan terjadi cross linking
Menyebabkan sel mast berdegranulasi

Melepaskan mediator-mediator seperti histamin yang menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah, hipersekresi sel-sel goblet sehinnga menyebabkan ingus encer dan edema pada mukosa hidung sehingga hidung tersumbat.
Kerusakan epitel yang menyebabkan alergen mudah masuk dan memicu reaksi bersin-bersin.

ANAMNESIS : - Kapan gejala timbul - muncul tiba-tiba atau mendadak - jenis alergi - faktor yang mempengaruhi serangan - keadaan lingkungan - riwayat alergi keluarga - riwayat pengobatan - keadaan sekret

PEMERIKSAAN FISIS Pemeriksaan rinoskopi anterior edema mukosa hidung, konka nasalis hipertrofi berwarna gelap atau merah tua dan bisa juga pucat, permukaan kinka livin atau tidak rata, pada rongga hidung terdapat sekret serosa dalam jumlah banyak. Saat pemeriksaan diperhatikan keadaan :Rongga hidung, luasnya lapang/sempit( dikatakan lapang kalau dapat dilihat pergerakan palatummole bila pasien disuruh menelan) , adanya sekret, lokasi serta asal sekret tersebut.Konka inferior, konka media dan konka superior warnanya merah muda (normal), pucat atauhiperemis. Besarnya, eutrofi, atrofi, edema atau hipertrofi.Septum nasi cukup lurus, deviasi, krista dan spina. Massa dalam rongga hidung, seperti polip atau tumor perlu diperhatikan keberadaannya. Asal perdarahan di rongga hidung, krusta yang bau dan lain-lain perlu diperhatikan.

Rinoskopi posterior Pada pemeriksaan rinoskopi posterior dapat dilihat nasopharing, perhatikan muara tuba, torustubarius dan fossa rossen muller

Inspeksi orofaring
Batas anterior: rongga mulut Batas inferior: tepi atas epiglottis

Batas lateral: plika anterior (m. palatoglossus), plika posterior (m. palatofaringeus)
Pada daerah orofaring, daerah yang bisa menyebabkan gangguan kesehatan pada seseorang. Dapat kita contohkan salah satu di antaranya adalah tonsila palatina. Pada kondisi inflamasi akut, tonsila ini bisa mengalami udem. Karena akut maka akan mengalami tanda-tanda seperti rubur, dolor,kalor, functio laesa

Dari hasil diskusi kita mengambil dua diferensial diagnosis

Rinitis Alergi
Rinitis alergi adalah kelainan pada hidung dengan gejala bersin-bersin, rinore, rasa gatal, dan tersumbat setelah mukosa hidung terpapar alergen yang diperantarai oleh Ig E (WHO ARIA, 2001). Rinitis alergi adalah suatu peradangan hidung yang disebabkan oleh reaksi alergi. Reaksi alergi ini dapat dicetuskan oleh berbagai hal tergantung dari tiap individu. Beberapa contoh pencetus alergi yang sering yaitu debu, serbuk bunga, bulu hewan, kecoa, makanan tertentu, dan lainlain. Cara untuk mengetahui status alergi penderita adalah dengan melakukan prick test, yaitu dengan memasukan zat-zat (alergen) ke kulit dan setelah itu dilihat bagaimana reaksi tubuh terhadap zat tersebut.

Penderita rinitis alergi umumnya mengeluh sering bersin dan pilek yang disertai dengan cairan ingus bening dan encer, sehingga sering menyebabkan gangguan fungsi penciuman. Penderita juga mengalami rasa gatal pada hidung, oleh karena itu penderita sering menggosok-gosok hidungnya dan menimbulkan garis horizontal yang disebut nasal crease.

Rinoskopi anterior dengan memakai lampu kepala atau dengan endoskop : Mukosa hiperemis, pucat, livide ( Khas ) Rinore seperti air, serous, mukus Edema atau hipertropi konka Dapat ditemukan massa polip

RINITIS VASOMOTOR Gangguan vasomotor hidung adalah terdapatnya gangguan fisiologik lapisan mukosa hidung yang disebabkan oleh bertambahnya aktivitas parasimpatis.1 Rinitis vasomotor adalah gangguan pada mukosa hidung yang ditandai dengan adanya edema yang persisten dan hipersekresi kelenjar pada mukosa hidung apabila terpapar oleh iritan spesifik.2 Kelainan ini merupakan keadaan yang non-infektif dan non-alergi.

Rinitis vasomotor mempunyai gejala yang mirip dengan rinitis alergi sehingga sulit untuk dibedakan. Pada umumnya pasien mengeluhkan gejala hidung tersumbat, ingus yang banyak dan encer serta bersin-bersin walaupun jarang.

Etiologi yang pasti belum diketahui, tetapi diduga sebagai akibat gangguan keseimbangan fungsi vasomotor dimana sistem saraf parasimpatis relatif lebih dominan. Keseimbangan vasomotor ini dipengaruhi oleh berbagai faktor yang berlangsung temporer, seperti emosi, posisi tubuh, kelembaban udara, perubahan suhu luar, latihan jasmani dan sebagainya, yang pada keadaan normal faktor-faktor tadi tidak dirasakan sebagai gangguan oleh individu tersebut.

Pada rinoskopi anterior ditemukan


Edema konka Konka berwarna merah gelap atau merah tua ( karakteristik ) tapi dapat pula pucat Pemukan konka bisa licin atau berbenjol-benjol Sekret serous atau mukous

Dari hasil diskusi dapat ditarik kesimpulan bahwa laki-laki pada skenario menderita rinitis alergi. Hal ini dapat dilihat dari pemaparan sebelumnya yaitu gejala rinitis alergi adalah hidung tersumbat, ingus encer dan bersin-bersin. Sedangkan pada rinitis vasomotor walaupun gejalanya hampir sama tetapi dia tidak mengalami bersin-bersin atau bersin-bersin jarang.