Anda di halaman 1dari 35

KRITERIA KELAYAKAN INVESTASI

Tujuan
Setelah mempelajari bab ini, diharapkan mahasiswa dapat memahami : Apakah gagasan usaha (proyek yang direncanakan dapat memberikan manfaat (benefit), baik dilihat dari financial benefit maupun social benefit Penilaian rencana bisnis melalui metode NPV, IRR, PP, dan BEP
AKT, Pertemuan III, 24-25 Februari 2011 2

Pendahuluan
Hasil perhitungan kriteria investasi merupakan indikator dari modal yang diinvestasikan, yaitu perbandingan antara total benefit yang diterima dengan total biaya yang dikeluarkan dalam bentuk present value selama umur ekonomis Perkiraan benefit 9cash in flows) dan perkiraan cost (cash out flow) merupakan alat kontrol dalam pengendalian biaya untuk memudahkan pencapaian tujuan usaha/proyek Hasil perhitungan kriteria investasi dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan penanaman modal. Kesimpulan yang timbul dari hasil analisis : menerima atau menolak, memilih satu atau beberapa proyek, atau menetapkan skala prioritas dari proyek yang layak

AKT, Pertemuan III, 24-25 Februari 2011

Dalam mengukur atau menilai adanya suatu proyek yang akan atau telah didirikan terdapat beberapa kriteria yang digunakan, yaitu :
NPV (Net Present value) Net B/C Gross B/C IRR (Internal Rate of Return) Break Even Point (BEP) Payback Period (PBP) Profitability Ratio (PR)
AKT, Pertemuan III, 24-25 Februari 2011 4

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

1. NPV (Net Present Value)


merupakan manfaat bersih tambahan (nilai kini bersih) yang diterima proyek selama umur proyek pada tingkat discount factor tertentu

Bt Ct NPV t t 1 (1 i )
n
AKT, Pertemuan III, 24-25 Februari 2011 5

NPV merupakan selisih antara present value benefit dengan present value cost (Rp, Rp Jt, dll)

Indikator NPV : Jika NPV > 0 (positif), maka proyek layak (go) utk dilaksanakan Jika NPV < 0 (negatif), maka proyek tidak layak (not go) utk dilaksanakan
AKT, Pertemuan III, 24-25 Februari 2011 6

2. NET B/C
Merupakan manfaat bersih tambahan yg diterima proyek dari setiap 1 satuan biaya yg dikeluarkan (tanpa satuan)

NET B/C


t 1 t 1 n

Bt Ct t (1 i ) Ct Bt (1 i ) t

Net B/C rasio merupakan perbandingan antara present value positif (sbg pembilang) dgn jumlah present value negatif (sbg penyebut)

AKT, Pertemuan III, 24-25 Februari 2011

Indikator NET B/C adalah :

- Jika Net B/C > 1, maka proyek layak (go) utk dilaksanakan - Jika Net B/C < 1 , maka proyek tdk layak (not go) utk dilaksanakan
AKT, Pertemuan III, 24-25 Februari 2011 9

3. GROSS B/C Gross B/C menyatakan manfaat yang


diterima proyek dari setiap satu satuan biaya yang dikeluarkan (tanpa satuan) Kriteria ini hampir sama dengan Net B/C.

AKT, Pertemuan III, 24-25 Februari 2011

10

Perbedaannya dalam perhitungan Net B/C, biaya tiap tahun dikurangkan dari benefit tiap tahun utk mengetahui benefit netto yg positif dan negatif. Kemudian jumlah present value positif dibandingkan dgn jumlah present value yg negatif.
AKT, Pertemuan III, 24-25 Februari 2011 11

Sebaliknya, dlm perhitungan Gross B/C, pembilang adalah jumlah present value arus benefit (bruto) dan penyebut adalah jumlah present value arus biaya (bruto). Atau Gross B/C adalah perbandingan antara benefit kotor yang telah didiskon dengan cost secara keseluruhan yang telah didiskon. Semakin besar Gross B/C, semakin besar perbandingan antara benefit dgn biaya. Artinya proyek relatif semakin layak

AKT, Pertemuan III, 24-25 Februari 2011

12

GROSS B/C


t 1 t 1 n

Bt t (1 i ) Ct (1 i ) t

Indikator Gross B/C : -Jika Gross B/C > 1, maka proyek layak (go) utk dilaksanakan - Jika Gross B/C < 1, maka proyek tdk layak (not go) utk dilaksanakan

4. IRR (Internal Rate of Return) merupakan tingkat pengembalian internal yaitu kemampuan suatu proyek menghasilkan return (satuannya %) IRR ini merupakan tingkat discount rate yang membuat NPV proyek = 0
AKT, Pertemuan III, 24-25 Februari 2011 14

Indikator IRR :

- Jika IRR > tingkat discount rate yg berlaku maka proyek layak utk dilaksanakan - Jika IRR < tingkat Discount rate yg berlaku, maka proyek tdk layak utk dilaksanakan
AKT, Pertemuan III, 24-25 Februari 2011 15

Perhitungan IRR dgn cara interpolasi Jika diperoleh NPV +, maka carilah NPV dgn cara meningkatkan discount factornya

NPV 2 1 IRR i ( i i ) 1 2 NPV NPV


1

5. PAY BACK PERIODS


Merupakan jangka waktu /periode yang diperlukan untuk membayar kembali semua biaya-biaya yang telah dikeluarkan dalam investasi suatu proyek. Atau jangka waktu tertentu yang menunjukkan terjadinya arus penerimaan (cash in flow) yang secara kumulatif sama dengan jumlah investasi dalam bentuk present value

Indikator Payback Periods :

Semakin cepat kemampuan proyek mampu mengembalikan biaya-biaya yang telah dikeluarkan dalam investasi proyek maka proyek semakin baik (satuan waktu). PBP digunakan untuk mengetahui berapa lama proyek dapat mengembalikan investasi.

Perhitungan payback belum memperhatikan time value of money


dimana : I = besarnya biaya investasi Ab = benefit bersih yg diperoleh setiap tahunnya

I PBP Ab
AKT, Pertemuan III, 24-25 Februari 2011 19

Rumus PBP

I B 1 PBP Tp 1 Bp
Di mana : Tp-1 = tahun sebelum terdapat PBP I = jumlah investasi yang telah didiskon B-1 = jumlah benefit yang telah didiskon sebelum PBP Bp = jumlah benefit pada PBP

AKT, Pertemuan III, 24-25 Februari 2011

20

6. BREAK EVEN POINT (BEP)


BEP adalah titik pulang pokok di mana total revenue (TR) = total cost (TC). Terjadinya BEP tergantung pada lama arus penerimaan sebuah proyek dapat menutupi segala biaya operasi dan pemeliharaan serta biaya modal lainnya. Selama perusahaan masih berada di bawah BEP, selama itu perusahaan masih menderita kerugian. Semakin lama perusahaan mencapai BEP, semakin besar saldo rugi

AKT, Pertemuan III, 24-25 Februari 2011

21

Ct B 1 BEP Tp 1 Bp
Di mana : Tp-1 = tahun sebelum terdapat BEP Ct = jumlah total cost yang telah didiskon B-1 = jumlah benefit yang telah didiskon sebelum BEP Bp = jumlah benefit pada BEP

AKT, Pertemuan III, 24-25 Februari 2011

22

Contoh Soal : Diketahui suatu proyek besar menghasilkan estimasi biaya dan manfaat sebagai berikut : - Umur proyek 6 tahun - DF yg berlaku 10 % - Biaya yg dikeluarkan hanya pada tahun ke1 dan ke-2 masing-masing sebesar Rp 500 jt dan Rp 400 jt

AKT, Pertemuan III, 24-25 Februari 2011

23

7. PROFITABILITY RATIO (PR)


PR adalah rasio/perbandingan antara selisih benefit dengan biaya operasi dan pemeliharaan dengan jumlah investasi. Nilai dari masing-masing variabel dalam bentuk present value (telah didiskon dengan DF dari SOCC) Indikator PR : Jika PR > 1, maka proyek layak Jika PR < 1, maka proyek tidak layak Jika PR = 1, berarti proyek dalam BEP

AKT, Pertemuan III, 24-25 Februari 2011

24

Rumus PR

B OM PR I
Di mana : B = benefit OM = operating & maintenance cost I = investasi

AKT, Pertemuan III, 24-25 Februari 2011

25

-Manfaat yang diterima mulai tahun ke3 sampai tahun ke-6 masing-masing sebesar Rp 200 jt, Rp 300 jt, Rp 400 jt, dan Rp 500 jt - Hitunglah : Kriteria investasi proyek tersebut dengan 4 kriteria NPV, Net B/C, Gross B/C dan PP - Bagaimana kesimpulannya ?
AKT, Pertemuan III, 24-25 Februari 2011 26

Thn 1 2 3

Cost Benefit (Rp) (Rp) 500 400 200

NB (500) (400) 200

DF 10% PV 10% 0,909 0,826 0,751 (454,5) (330,4) 150,2

4
5 6 TOT NPV

300
400 500

300
400 500

0,683
0,620 0,564

204,9
248 282,0 100,2

AKT, Pertemuan III, 24-25 Februari 2011

27

Jadi berdasarkan kriteria NPV,


proyek tersebut mampu menghasilkan nilai kini bersih selama 6 tahun pada DF 10 % sebesar Rp 100,6 juta, sehingga layak untuk dilaksanakan

AKT, Pertemuan III, 24-25 Februari 2011

28

2. Berdasarkan kriteria Net B/C (perbandingan present value + dgn present value -) maka hasilnya : PV + = Rp 885,5 PV- = Rp 784,9 SHG Net B/C = (885,5/784,9) = 1,13 Artinya, dari setiap satu satuan biaya yg dikeluarkan proyek mampu manghasilkan manfaat bersih sebesar 1,13
AKT, Pertemuan III, 24-25 Februari 2011 29

Dgn demikian berdasarkan kriteria Net B/C proyek layak utk dilaksanakan 3. Kriteria Gross B/C (perbandingan present value benefit dgn present value biaya)

AKT, Pertemuan III, 24-25 Februari 2011

30

Tahun ke1 2 3 4 5 6

Cost Rp500.00 Rp400.00

Benefit

Net Benefit -Rp500.00 -Rp400.00

DF Rp0.91 Rp0.83 Rp0.75

PV Cost Rp454.55 Rp330.58

PV Benefit

Rp200.00

Rp200.00

Rp150.26

Rp300.00
Rp400.00 Rp500.00 NPV

Rp300.00
Rp400.00 Rp500.00

Rp0.68
Rp0.62 Rp0.56 785.12

Rp204.90
Rp248.37 Rp282.24 885.77

Benefit Cost Gross B/C

Rp885.77 Rp785.12 1.13

AKT, Pertemuan III, 24-25 Februari 2011

31

Gross B/C = Rp 885,1/Rp 784,9 = 1,127 Artinya, dari setiap satuan satuan biaya yang dikeluarkan proyek mampu menghasilkan manfaat kotor sebesar 1,127 sehingga berdasarkan kriteria gross B/C proyek layak utk dilaksanakan
AKT, Pertemuan III, 24-25 Februari 2011 32

Tahun ke0

Kumulatif Benefit -

Kumulatif Cost 20,000 32,712

Kumulatif Investasi 20,000 32,712

1 2
3 4 5 6 7 8 9 10

7,182
14,485 21,706 29,137 36,916 44,765 52,746 60,862 69,078

36,303
39,955 43,049 46,109 48,702 51,213 53,608 55,862 57,964

PBP 5 tahun 1 bulan 5 hari BEP 8 tahun 1 bulan 1 hari


AKT, Pertemuan III, 24-25 Februari 2011 33

PR 1,34
Tahun keInvestasi Biaya Operasi 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 20,000 15,000 5,000 6,000 6,000 7,000 7,000 8,000 9,000 10,000 11,000 NPV 10,000 12,000 14,000 17,000 21,000 25,000 30,000 36,000 43,000 Benefit DF 18% 1.000 0.847 0.718 0.609 0.516 0.437 0.370 0.314 0.266 0.225 0.191 I 20,000 12,712 32,711.86 OM 3,591 3,652 3,095 3,060 2,593 2,511 2,394 2,255 2,102 25,252.24 B 7,182 7,304 7,221 7,431 7,779 7,848 7,981 8,116 8,216 69,077.84
34

AKT, Pertemuan III, 24-25 Februari 2011

TUGAS MINGGU INI

AKT, Pertemuan III, 24-25 Februari 2011

35