Anda di halaman 1dari 18

Adli nurfakhri

Anamnesa : VCT = Voluntary Counsling and Testing Fisik : Tanda Vital Penunjang : Laboratorium

Diagnosis laboratorium dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu: 1.) Cara langsung Yaitu isolasi virus dari sampel. Umumnya dengan menggunakan

mikroskop elektron dan deteksi antigen virus. Salah satu cara deteksi
antigen virus adalah dengan Polymerase Chain Reaction (PCR). Penggunaan PCR antara lain untuk:

Tes HIV pada bayi, karena zat anti dari ibu masih ada pada bayi

sehingga menghambat pemeriksaan serologis rendah Menetapkan status infeksi pada individu sero-negatif Tes pada kelompok risiko tinggi sebelum terjadi sero-konversi Tes konfirmasi untuk HIV-2 sebab sensitivitas ELISA untuk HIV-2

Cara tidak langsung

Yaitu dengan melihat respons zat anti spesifik. Tes, misalnya:


ELISA, sensitivitasnya tinggi (98,1-100%). Biasanya memberikan hasil positif 2-3 bulan sesudah infeksi. Hasil positif harus

dikonfirmasi dengan pemeriksaan Western blot.


Western blot, spesifisitas tinggi (99,6-100%). Namun pemeriksaan ini cukup sulit, mahal, dan membutuhkan waktu sekitar 24 jam. Mutlak diperlukan untuk konfirmasi hasil pemeriksaan ELISA positif. Immunofluorescent assay (IFA). Cara ini biasanya dipakai untuk memeriksa antigen dalam limfosit penderita tetapi dapat juga untuk menentukan anti-HIV.

Uji antibodi HIV usia 9-12 bulan. Pada usia 12 bulan, seorang anak yang diuji antibodi HIV menggunakan ELISA atau rapid, dan hasilnya (-), maka anak tersebut tidak mengidap infeksi HIV apabila dalam 6 minggu terakhir tidak mendapat ASI.

Bila pada umur <18 bulan hasil pemeriksaan antibodi HIV positif uji antibodi perlu diulangi pada usia 18 bulan untuk menyingkirkan kemungkinan menetepnya antibodi maternal. Bila pada usia 18 bulan hasilnya negatif, maka bayi tidak mengidap HIV asal tidak mendapat ASI selama 6 minggu terakhir sebelum tes. Untuk anak >18 bulan, cukup gunakan ELISA atau rapid test.

Pada anak lebih baik dilakukan uji ELISA sebagai uji tapis dan uji Western blot sebagai pemasti. Pada bayi dan anak usia muda, oleh karena adanya IgG dari ibu, diagnosis infeksi HIV menjadi lebih sulit. Dan perlu dilakukan beberapa kali uji. Apabila uji (-), berarti antibodi berasal dari ibu, serokonversi ini terjadi 12-14 bulan setelah lahir.

Diagnosis dapat dilakukan dengan menunjukkan adanya defisiensi imun selular atau humoral seperti Ig meningkat, menurunnya sel limfosit TCD4 (T helper), menurunnya rasio sel limfosit T-CD4 terhadap sel T-CD8 (T supresor).

Farmakologi Non-Farmakologi

Menghentikan progresifitas penyakit HIV dengan menekan viral load. Memulihkan sistem imun, dan mengurangi terjadinya infeksi oportunistik Memperbaiki kualitas hidup Menurunkan morbiditas dan mortalitas karena infeksi HIV

Sifat obat :
1. 2.

Reverse transcriptase inhibitor Analog Nucleoside (NRTI) Analog Nucleotide (NtRTI) Non Nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitor (NNRTI) HIV Protease Inhibitor Fusion Inhibitor

1. Zidovudine(AZT/ZDV)-Thymidine analogue 2. Stavudine(d4T)-Thymidine analogue 3. Lamivudine(3TC)-Cytosine analogue 4 .Zalcitabine (ddC)-Cytosine analogue 5. Abacavir (ABC)-Guanine analogue 6. Didanosine(ddI)-Adenine analogue 7. Emtricitabine(FTC)-Cytosine terfluorinasianalogue

1.Nevirapine(NVP) 2.Delavirdine 3.Efavirenz(EFV) 4.Etravirine

1.Saquinavir (SAQ)

2.Ritonavir (RTV)
3.Indinavir (IDV) 4.Nelvinavir (NFV)

5. Amprenavir (APV)
6. Atazanavir 7.Darunavir 8.Fosamprenavir 9.Lopinavir/ritonavir (LPV/r) 10.Tipranavir

Enfuvirtide Maraviroc

Raltegravir

Bedrest Menangani masalah nutrisi Pemberian nutrisi melalui IV bila diare berulang atau menetap Dukungan emosional, memberi peringatan serta kewaspadaan pasien, keluarga dan masyarakat, serta bantuan pengobatan pasien.