Anda di halaman 1dari 14

Pajak Pertambahan Nilai

Presented by: kel.2 Anjani Asanudi T Hendra Ika Raraswati Nursufi

Pembahasan
Pengertian PPN Dasar Hukum PPN Karakteristik PPN Aspek-aspek PPN Barang & Jasa tdk kena pajak Tata Cara Pembayaran & Pelaporan Pajak Tarif & perhitungan Pajak

Pengertian PPN
Pajak Pertambahan Nilai atau Value Added Tax ( VAT ) adalah Pajak atas konsumsi Barang Kena Pajak ( BKP ) dan atau Jasa Kena Pajak ( JKP ) yang dilakukan di dalam Daerah Pabean.

Dasar Hukum PPN


Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah, berikut revisinya yaitu Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 1994, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2000, dan Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2009 yang merupakan perubahan ketiga atas UndangUndang Nomor 8 Tahun 1983 yang mulai berlaku pada tanggal 1 April 2010.

Karakteristik PPN
Adapun karakteristik dari pajak pertambahan nilai ini adalah sebagai berikut: Pajak tidak langsung, Multitahap, Pajak objektif, Dihitung dengan metode pengurangan tidak langsung (indirect subtraction),

Aspek-aspek PPN
Objek Pajak Pengusaha Kecil Pengusaha Kena Pajak (PKP) Restitusi PPN Sanksi dalam PPN

Barang & Jasa tidak Kena Pajak


Barang tidak kena PPN Barang hasil pertambangan atau hasil pengeboran yang diambil langsung dari sumbernya, Barang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh rakyat banyak, meliputi: Makanan dan minuman yang disajikan di hotel, restoran, rumah makan, warung, dan sejenisnya, meliputi makanan dan minuman baik yang dikonsumsi di tempat maupun tidak, termasuk makanan dan minuman yang diserahkan oleh usaha jasa boga atau katering; dan Uang, emas batangan, dan surat berharga.

Jasa tidak kena PPN Jasa pelayanan kesehatan medis; Jasa pelayanan sosial; Jasa pengiriman surat dengan perangko; Jasa keuangan; Jasa asuransi;

Tata Cara Pembayaran & Pelaporan PPN


Tempat Pembayaran/Penyetoran Pajak

Kantor Pos dan Giro Bank Pemerintah Bank Pembangunan Daerah Bank Devisa Bank-bank lain penerima setoran pajak Kantor Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Khusus untuk impor tanpa LKP

Waktu untuk pelaporan PPN

PPN yang dihitung sendiri oleh PKP, harus dilaporkan dalam SPT Masa dan disampaikan kepada Kantor Pelayanan Pajak setempat selambat-lambatnya 20 hari setelah Masa Pajak berakhir. PPN yang tercantum dalam SKPKB, SKPKBT, dan STP yang telah dilunasi segera dilaporkan ke KPP yang menerbitkan

Sarana yang digunakan untuk melakukan pembayaran/penyetoran pajak

Untuk membayar/menyetor PPN digunakan formulir Surat Setoran Pajak yang tersedia gratis di Kantor-kantor Pelayanan Pajak dan Kantor-kantor Penyuluhan Pajak di seluruh Indonesia. Surat Setoran Pajak menjadi lengkap dan sah bila jumlah PPN yang disetorkan telah diberi teraan oleh : Bank, Kantor Pos dan Giro, atau Kantor Direktorat Jenderal Bea dan Cukai penerima setoran

Tarif & Perhitungan Pajak


Tarif PPN Tarif PPN adalah 10% Tarif PPN atas ekspor BKP adalah 0%

Dasar Pengenaan Pajak (DPP) Dasar Pengenaan Pajak adalah dasar yang dipakai untuk menghitung pajak yang terutang, berupa: Jumlah Harga Jual, Penggantian, Nilai Impor, Nilai Ekspor, atau Nilai Lain yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan.

Contoh : PKP "A" bulan Januari 1996 menjual tunai kepada PKP "B" 100 pasang sepatu @ Rp.100.000,00 = Rp.10.000.000,00 PPN terutang yang dipungut oleh PKP "A" 10% x Rp.10.000.000,00 = Rp. 1.000.000,00 Jumlah yang harus dibayar PKP "B" = Rp.11.000.000,00