Anda di halaman 1dari 39

LAPORAN KASUS Anemia Mikrositik Hipokrom ec Hematoschezia ec Hemoroid

Nama : Rizki Amelia NIM : 70 2008 010

BAB I PENDAHULUAN
penurunan jumlah massa eritrosit sehingga tidak dapat memenuhi fungsinya untuk membawa oksigen dalam jumlah yang cukup ke jaringan perifer (penurunan oxygen carrying capacity)
penurunan kadar hemoglobin, hematokrit atau hitung eritrosit (red cell count) Kadar hemoglobin dan eritrosit sangat bervariasi tegantung pada usia, jenis kelamin, ketinggian tempat tinggal, serta keadaan fisiologis tertentu

Anemia

gejala berbagai macam penyakit dasar (underlying disease)

BAB II STATUS MEDIK


A. Identitas Pasien Nama Pasien Umur Jenis kelamin Alamat
Pekerjaan Status Pendidikan Agama No. RM

: Agus : 17 tahun : Laki-laki : Jl. Pasundan Boom Baru : Belum bekerja : Belum menikah : SMA : Islam : 190929

B. Anamnesis 1. Keluhan utama : sesak yang bertambah hebat sejak beberapa jam SMRS 2. Riwayat penyakit sekarang: Sejak 1 minggu SMRS os mengeluh kepalanya pusing, penglihatannya berbayang dan berkunang-kunang, jika berjalan seperti melayang. Os mengeluh sesak yang timbul saat beraktivitas seperti berjalan jauh. Sesak saat tidur tidak ada, terbangun malam hari karena sesak tidak ada. Tidak ada suara mengi. Sebelumnya pasien tidak pernah megalami gejala seperti ini. Pasien tidur dengan satu bantal. Nyeri dada dan bengkak disangkal oleh pasien..

Pasien juga merasa mual, tapi tidak sampai muntah. Batuk, pilek, demam, dan keringat malam disangkal. Merasa badan lemas di seluruh tubuh, nafsu makan baik dan berat badan tidak menurun. Pasien mengeluh perut begah, tapi tidak ada nyeri perut. Os mengeluh BAB berdarah, warna merah segar kurang lebih 3 sendok tiap kali BAB, tidak bercampur dengan feses, ferkuensinya sebanyak 2 kali sehari. Darah menetes setelah BAB, warna feses cokelat, konsistensi agak keras, tidak hitam dan tidak berwarna dempul. BAK normal lancar, warna kuning, tidak berbusa, tidak berwarna teh, tidak ada darah, tidak berpasir, dan tidak nyeri saat berkemih. Mimisan,gusi berdarah, muntah darah dan perdarahan di tempat lain di sangkal oleh pasien.

2 hari SMRS os merasakan keluhan yang sama yaitu kepala pusing, berkunang-kunang, badan seperti melayang, nyeri ulu hati, BAB mengeluarkan darah berwarna merah segar, sekali BAB darahnya 3 SDM, frekuensinya 2-3 kali sehari. Beberapa jam SMRS os merasa penglihatan semakin berkunang-kunang, dada terasa sesak jika berjalan jauh, pusing, dan badan terasa lemas, mual muntah (-), demam (-), batuk pilek (-), nyeri ulu hati (+), BAK normal, BAB normal.

3. Riwayat penyakit dahulu: Hipertensi (-) DM (-) Sakit ginjal (-) Alergi (-) Asma (-) Sakit jantung (-) Keganasan (-) Batuk lama (-) TB (-) Sakit kuning (-)

4. Riwayat penyakit keluarga: Hipertensi (-) DM (-) Sakit ginjal (-) Alergi (-) Asma (-) Sakit jantung (-) Keganasan (-)

C.

Pemeriksaan fisik Status generalis Keadaan umum : Sakit sedang Kesadaran : Compos Mentis Tinggi badan :160 cm Berat badan :50 kg IMT :19,5 kg/cm2 Keadaan gizi : cukup

2. Tanda vital Tek.darah Nadi Suhu Pernafasan

: 90/60 mmHg : 70 x/mnt : 36,20C : 20 x/mnt

3. Kulit Warna : Sawo matang Jaringan parut: Tidak ada Pigmentasi : Tidak ada Suhu raba : Hangat Lembab/kering: Lembab Turgor : Cukup Ikterus : (-) Edema : Tidak ada Lain-lain : (-) 4. Kepala : Normosefali, rambut hitam, rambut tidak mudah rontok

5. Mata
Pemeriksaan Konjungtiva pucat Sklera ikterik Kanan (+) (-) Kiri (+) (-)

6. Telinga 7. Hidung 8. Tenggorokan tenang 9. Leher

: Normotia, secret -/: Sekret -/-, deviasi septum (-) : Faring hiperemis (-), tonsil T1-T1 : JVP 5-2 cmH2O

10. Jantung Inspeksi Palpasi

: Iktus kordis tidak tampak : Iktus kordis teraba di ICS V 1 jari medial garis midclavicula sinistra Perkusi : Pinggang jantung dalam batas normal. - Batas atas jantung ICS II garis parasternal sinistra Batas kiri jantung di ICS V 1 jari medial garis midclavicula sinistra - Batas kanan jantung di ICS IV garis parasternal dekstra Auskultasi : S I dan II regular, murmur (-), gallop (-)

11. Paru
Pemeriksaan Inspeksi depan Inspeksi belakang Palpasi depan Palpasi belakang Perkusi depan Perkusi belakang Auskultasi depan Kanan Tidak terdapat kelainan Tidak terdapat kelainan Fokal fremitus teraba sama Fokal fremitus teraba sama Sonor Sonor Suara nafas vesikuler Rhoncii (-) Wheezing (-) Auskultasi belakang Suara nafas vesikuler Rhoncii (-) Wheezing (-) Kiri Tidak terdapat kelainan Tidak terdapat kelainan Fokal fremitus teraba sama Fokal fremitus teraba sama Sonor Sonor Suara nafas vesikuler Rhoncii (-) Wheezing (-) Suara nafas vesikuler Rhoncii (-) Wheezing (-)

12. Abdomen
Inspeksi : Tampak datar Palpasi : Turgor baik, supel, nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba, ballottement (-), nyeri ketok CVA (-) Perkusi : Timpani, shifting dullness () Auskultasi : Bising usus (+) normal

13. Ekstremitas
Pemeriksaan Atas Kanan Akral hangat CRT <2 detik Clubbing finger (-) Edema (-) Refleks fisiologis (+) Refleks patologis (-) Bawah Akral hangat CRT <2 detik Edema (-) Refleks fisiologis (+) Refleks patologis (-) Kiri Akral hangat CRT <2 detik Clubbing finger (-) Edema (-) Refleks fisiologis (+) Refleks patologis (-) Akral hangat CRT <2 detik Edema (-) Refleks fisiologis (+) Refleks patologis (-)

14. KGB: Leher : tidak teraba membesar Axilla : tidak teraba membesar Inguinal : tidak teraba membesar

D. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Nilai rujukan Hasil
10/9/12 HEMATOLOGI Hemoglobin Hematokrit Leukosit Trombosit Eritrosit MCV MCH 13,2-17,3 g/dl 40-54 % 5.0-10.0 ribu/ul 150-440 ribu/ul 4.40-5.90 juta/ul 80-92 u3 27-31 pg 2,9 11 10,3 398 2,2 52 13

MCHC

32-36 g/dl

25

HITUNG JENIS

Basofil
Eosinofil Netrofil

0-1 %
1-3 % 50-70 %

1
0 49

Limfosit
Monosit FUNGSI GINJAL Ureum Creatinin

20-40 %
2-8 %

39
11

10-50 mg/dl 0,6-1,2 mg/dl

20 0,6

E. Resume Pasien Tn. A, laki-laki, 17 tahun, datang dengan keluhan sesak yang memberat sejak beberapa jam SMRS. Sesak timbul saat beraktivitas, berkurang saat istirahat. Pasien tidur dengan satu bantal. Pasien juga merasa pusing, berkunang-kunang, badan seperti melayang, nyeri ulu hati. BAB berdarah, warna merah segar, menetes setelah BAB, warna feses cokelat, konsistensi agak keras. Pasien mengatakan terdapat benjolan di duburnya yang dapat keluar masuk, keluar setelah BAB, masuk sendiri jika didorong masuk oleh jari dan terkadang keluar darah segar. Perdarahan melalui anus semakin hebat sejak 1 minggu yang lalu.

Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan nilai Hb 2,9 gr/dl, MCV 52 u3, MCH 13 pg, MCHC 25 g/dl. Pada gambaran darah tepi didapatkan kesan anemia mikrositik hipokrom. Setelah dikonsulkan, pada pemeriksaan rectal toucher didapatkan mukosa berbenjol di jam 6, mobile, konsistensi lunak, nyeri tekan (-), pada sarung tangan: feses (+) cokelat, darah (-).

F. Diagnosis Kerja Anemia Mikrositik Hipokrom ec Hematoschezia ec Hemoroid G. Diagnosis Banding 1.Anemia defisiensi besi 2.Thalassemia mayor 3.Anemia akibat penyakit kronik 4.Anemia sideroblastik

H. Rencana Pemeriksaan 1. Konsul Bedah Digestive 2. SI 3. TIBC 4. Feritin 5. USG abdomen

I. Penatalaksanaan 1.O2 3 liter/menit 2.IVFD RL 3.Transfusi PRC s/d Hb >= 10 g/dl 4.Asam Tranexamat 2x1 amp 5.Dexanta 3x1 c 6.Neurodex 1x1 tab

J. Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam Ad fungsionam: dubia ad bonam Ad sanationam: dubia ad bonam

ANALISIS KASUS Anemia Mikrositik Hipokrom ec Hematochezia ec Hemoroid Pada pasien ini terdapat gejala umum anemia yaitu rasa lemah, lesu, sesak nafas. Pada pemeriksaan fisik, pasien tampak pucat dilihat pada konjungtiva yang anemis. Dari laboratorium di dapatkan Hb 2,9 g/dl, Ht 11%, eritrosit 2,2 juta/mm3, MCV 52 u3, MCH 13 pg, MCHC 25 g/dl. Pada gambaran darah tepi didapatkan kesan anemia mikrositik hipokrom. Kemungkinan perdarahan berasal dari hemoroid karena pasien mengeluh BAB berdarah dan menetes setelah BAB. 5 tahun yang lalu pasien pernah mengalami keluhan yang sama. Pada rectal tocher didapatkan mukosa berbenjol di jam 6, mobile, konsistensi lunak, nyeri tekan (-), pada sarung tangan: feses (+) cokelat, darah (-).

BAB III TINJAUAN PUSTAKA


Kriteria Anemia menurut WHO:
Kelompok Laki-laki dewasa Wanita dewasa tidak hami Wanita hamil Kriteria anemia (Hb) <13 gr/dl <12 gr/dl <11 gr/dl

Untuk Indonesia, Husaini dkk memberikan gambaran prevalensi anemia pada tahun 1989 sebagai berikut: Anak prasekolah : 30-40% Anak usia sekolah : 2535% Perempuan dewasa tidak hamil : 3040% Perempuan hamil : 50-70% Laki-laki dewasa : 20-30%

Klasifikasi untuk anemia dapat dibuat berdasarkan gambaran morfologik dengan melihat indeks eritrosit atau hapusan darah tepi: A. Anemia hipokrom mikrositer 1. Anemia defisiensi besi 2. Thalassemia mayor 3. Anemia akibat penyakit kronik 4. Anemia sideroblastik

B. Anemia normositik normokrom 1. Anemia pasca perdarahan akut 2. Anemia aplastik 3. Anemia hemolitik didapat 4. Anemia akibat penyakit kronik 5. Anemia pada gagal ginjal kronik 6. Anemia pada sindrom mielodisplastik 7. Anemia pada keganasan hematologik

C. Anemia makrositer 1. Bentuk megaloblastik a. Anemia defisiensi asam folat b. Anemia defisiensi B12 2. Bentuk non-megaloblastik a. Anemia pada penyakit hati kronik b. Anemia pada hipotiroidisme c. Anemia pada sindrom mielodisplastik

Patofisiologi Anemia Mikrositik Hipokrom: Tergantung dari penyebabnya: 1. Anemia defisiensi besi terjadi dalam 3 tahap Tahap 1 (tahap prelaten) Tahap 2 (tahap laten) Tahap 3 (tahap def. besi)

2. Anemia pada penyakit kronis feritin yang tinggi dan TIBC yang rendah

3. Anemia sideroblastik Menyebabkan besi yang ada di sumsum tulang meningkat sehingga besi masuk ke dalam eritrosit yang baru terbentuk dan menumpuk pada mitokondria perinukleus. 4. Thalasemia Thalasemia dapat terjadi karena sintesis hb yang abnormal dan juga karena berkurangnya kecepatan sintesis rantai alfa atau beta yang normal

Gejala anemia Gejala anemia dapat digolongkan menjadi tiga jenis gejala, yaitu: a. Gejala umum anemia. 1. Anoksia organ, 2. Mekanisme kompensasi tubuh terhadap berkurangnya daya angkut oksigen.

Gejala khas: Anemia defisiensi besi: pada vegetarian, geriatric, riwayat perdarahan, disfagia, atrofi papil lidah, dan kuku sendok (koilonychia) Anemia pada penyakit kronis: ada penyakit yang mendasari, onset. Anemia sideroblastik: riwayat MDS, riwayat dalam keluarga, ada agen pencetus, poliuri, buta, tuli, diare, gagal tumbuh Thalasemia: Hb turun sejak lahir, mendapat transfusi darah berulang,

ANEMIA MIKROSITIK HIPOKROM

Besi serum

Menurun

Normal

TIBC meningkat Feritin menurun

Feritin normal

Besi sumsum tulang negatif

Elektroforesis Hb

Anemia defisiensi besi

HbA2 meningkat, HbF meningkat

TIBC menurun Feritin normal/menigkat

Thalasemia beta

Besi sumsum tulang positif

Anemia sideroblastik

Anemia akibat penyakit kronik

Penatalaksanaan Anemia Mikrositik Hipokrom 1. Anemia defisiensi besi a. terapi besi oral - Ferro sulfat, mengandung 67mg besi - Ferro glukonat, mengandung 37 mg besi. b. terapi besi parenteral - Biasa digunakan untuk pasien yang tidak bisa mentoleransi penggunaan besi oral. - Besi-sorbitol-sitrat diberikan secara injeksi intramuskular - Ferri hidroksida-sukrosa diberikan secara injeksi intravena lambat atau infus c. Pengobatan Lain - Diet, diberikan makanan bergizi tinggi protein terutama yang berasal dari protein hewani - Vitamin C diberikan 3 x 100mg per hari untuk meningkatkan absorpsi besi - Transfusi darah, pada anemia def. Besi dan sideroblastik jarang dilakukan (untuk menghindari penumpukan besi pada eritrosit)

DAFTAR PUSTAKA
1.

2.

3.

4.

Harrisons; Anemia; Principles of Internal Medicine, 16th edition; International edition; 1998; page 335339. Mansjoer, A. et. al (1999). Kapita Selekta Kedokteran. (Edisi ketiga). Jakarta. Media Aesculapius. Price S.A, dkk. Hematologi. Patofisiologi buku 2 Konsep Klinis Proses Proses Penyakit . Jakarta : EGC 195. Cetakan I. Soeparman, Sarwono Waspadji; Ilmu Penyakit Dlaam Jilid II, Balai Penerbit FKUI Jakarta; 1990; hal. 393-441.

TERIMA KASIH