Anda di halaman 1dari 103

LAPORAN KEGIATAN USAHA KESEHATAN MASYARAKAT (UKM)

UPAYA MENINGKATKAN KUALITAS PEAYANAN PENYAKIT DIABETES MELITUS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS INDUSTRI
KEPANITERAAN IKM DI UPT PUSKESMAS INDUSTRI DINAS KESEHATAN KABUPATEN GRESIK
PERIODE 14 MEI 2012 16 JUNI 2012

Disusun Oleh : 1. Fandy Malonda 2. Robin Kurnia Wijaya 3. Tjiang Robin Gunawan 4. Pratini Ramadhani 5. Devina Irawan

(2005.04.0.0073) (2006.04.0.0083) (2006.04.0.0086) (2006.04.0.0098) (2006.04.0.0118)

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HANG TUAH SURABAYA 2012

BAB I PENDAHULUAN

Latar Belakang:

Keberhasilan Pembangunan Nasional meningkatnya Umur Harapan Hidup (UHH) waktu lahir yaitu dari 68,6 tahun 2004 menjadi 70,6 pada tahun 2009 peningkatan jumlah lanjut usia, diperkirakan mencapai 28,8 juta jiwa pada 2020

UU RI Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan upaya untuk meningkatkan dan memelihara kesehatan masyarakat termasuk lanjut usia dilaksanakan berdasarkan prinsip non diskriminatif, partisipatif, dan berkelanjutan. Setiap upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat merupakan investasi bagi pembangunan negara. Prinsip non diskriminatif mangandung makna bahwa semua masyarakat harus mendapatkan pelayanan kesehatan termasuk lanjut usia (lansia).

Masyarakat sehat yang mandiri dan berkeadilan mengandung makna bahwa semua orang mempunyai hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang bermutu dan baik termasuk para lanjut usia. Sejalan dengan hal tersebut, Undang-Undang Kesehatan menyebutkan bahwa upaya pemeliharaan kesehatan bagi lanjut usia ditujukan untuk menjaga agar para lanjut usia tetap sehat dan produktif secara sosial dan ekonomi. Pemerintah wajib menjamin ketersediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan berhubungan baik serta memfasilitasi kelompok lanjut usia agar tetap sehat dalam mencapai tujuan lanjut usia yang mandiri dan produktif.

Kebijakan internasional sangat penting dalam upaya mewujudkan lanjut usia yang tetap sehat mandiri dan produktif dikenal dengan Active Ageing. Active Ageing merupakan suatu kerangka kebijakan yang telah dikembangkan oleh WHO sejak tahun 2001, dimaksudkan untuk mengundang pembahasan dan penyusunan rencana aksi yang mempromosikan penuaan sehat dan aktif. Negara Indonesia sebagai anggota Perserikatan Bangsa Bangsa mempunyai kewajiban menerapkan komitmen internasional tersebut dan secara bertahap telah disosialisasikan kepada masyarakat. Komitmen Negara indonesia untuk melindungi seluruh penduduknya sudah ada sejak lama, yaitu sejak negara indonesia merdeka.

Hal tersebut tercantum dalam pembukaan UUD (Undang Undang Dasar) Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia, meningkatkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang merupakan cita-cita bangsa. Seluruh penduduk artinya, termasuk lanjut usia karena lanjut usia merupakan bagian integral dari penduduk yang mempunyai hak dan kesempatan yang sama di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hak dan kesempatan bagi lanjut usia tidak lepas dari besarnya masalah kependudukan dan

Penuaan di negara sedang berkembang berjalan dengan cepat dan diikuti dengan perubahan dinamis dalam stuktur dan peran keluarga, di samping pola per- buruhan dan migrasi. Migrasi orang muda ke perkotaan mencari pekerjaan, banyaknya perempuan masuk angkatan kerja dan perubahan keluarga besar ke arah keluarga inti, mengakibatkan lebih sedikit orang yang bersedia merawat lanjut usia yang membutuhkan bantuan. Di samping kurangnya perhatian dari keluarga dan masyarakat, pemerintah juga belum menempatkan masalah kesejahteraan lanjut usia ini sebagai masalah prioritas yang perlu mendapatkan perhatian. Kurangnya kepedulian pemerintah dapat kita lihat dimana hampir semua daerah belum mempunyai peraturan tentang lanjut usia, kecuali Jawa Timur dan

Ketidak tahuan masyarakat, baik keluarga maupun lanjut usia sendiri serta para pembuat keputusan dan pemberi pelayanan terhadap permasalahan kelanjut usiaan, akan menghambat pencapaian lanjut usia sehat sejahtera dan produuktif. Akibat lain dari stigma masyarakat terhadap lanjut usia ini adalah terhambatnya pemenuhan kebutuhan dini mereka untuk berkembang serta berpartisipasi di dalam pembangunan. Besarnya populasi lanjut usia serta pertumbuhan yang sangat cepat juga menimbulkan berbagai permasalahan, sehingga lanjut usia perlu mendapatkan perhatian yang serius dari semua sektor untuk upaya peningkatan kesejahteraan lanjut usia. Salah satu bentuk perhatian yang serius terhadap lanjut usia adalah terlaksananya pelayanan pada lanjut usia melalui kelompok (posyandu) lanjut usia yang melibatkan semua lintas sektor terkait, swasta, LSM dan masyarakat.

Pelayanan kesehatan lanjut usia dimulai dari tingkat masyarakat di kelompok kelompok lanjut usia, dan pelayanan di sarana pelayanan kesehatan dasar dengan mengembangkan Puskesmas Santun Lanjut Usia seta pelayanan rujukannya di Rumah Sakit. Pelayanan di puskesmas lebih mengutamakan upaya promotif dan preventif tanpa mengabaikan upaya kuratif dan rehabilitatif. Upaya promotif dan preventif dapat pula dilakukan di luar gedung dengan melibatkan peran aktif masyarakat. Salah satu wadah yang potensial di masyarakat adalah Posyandu Lanjut Usia yang dikembangkan oleh Puskesmas atau yang muncul dari aspirasi masyarakat sendiri. Di beberapa daerah wadah tersebut menggunakan nama yang berbeda beda seperti: Karang Wredha, Pusaka, Posbindu (Pos Pembinaan Terpadu), Karang Lanjut usia dan lain-lain.

Puskesmas Industri adalah salah satu puskesmas yang berada di kecamatan Gresik yang mencakup 6 desa yaitu Sidokumpul, Sukorame, Karangpoh, Trateh, Ngipik dan Tlogopatut. Puskesmas Industri adalah salah satu puskesmas yang melaksanakan program pengembangan Upaya Kesehatan Usia Lanjut. Program pengembangan Upaya Kesehatan Usia Lanjut ini merupakan program primadona dari Puskesmas Industri. Jenis pelayanan kesehatan yang diberikan kepada usia lanjut, antara lain pemeriksaan aktivitas kegiatan sehari-hari; pemeriksaan status mental; pemeriksaan status gizi; pengukuran tekanan darah; pemeriksaan hemoglobin; pemeriksaan diabetes melitus, pemeriksaan penyakit ginjal, pelaksanaan rujukan ke puskesmas, penyuluhan, dan kunjungan rumah. Jumlah penduduk wilayah kerja Puskesmas Industri pada tahun 2011 berdasarkan data 6 kelurahan wilayah Puskesmas Industri sebanyak 21.572 jiwa, dengan jumlah penduduk lanjut usia 972 jiwa dan jumlah penduduk pra lanjut usia 2.093 jiwa.

Berdasarkan data 6 kelurahan wilayah Puskesmas Industri didapatkan jumlah kasus diabetes melitus yang ditemukan sebanyak 1514. Diabetes melitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya. Hiperglikemia kronik pada diabetes melitus berhubungan dengan kerusakan jangka panjang, disfungsi atau kegagalan beberapa organ tubuh (terutama mata, ginjal, saraf, jantung dan pembuluh darah), sehingga menimbulkan permasalahan yang serius pada kesehatan lanjut usia.

Rumusan Masalah: Apakah kasus terbanyak yang ada di poli usila? Bagaimana cara menangani penyakit usila khususnya diabetes melitus? Bagaimana pelaksanaan dan monitoring peningkatan kualitas pelayanan dalam menangani Penyakit Diabetes Melitus di wilayah kerja Puskesmas Industri?

Tujuan: Tujuan Umum Meningkatkan kualitas pelayanan dalam menangani penyakit usila khususnya penyakit Diabetes Melitus di wilayah kerja Puskesmas Industri, yaitu di desa Sidokumpul, Sukorame, Trateh, Karangpoh, Ngipik dan Tlogopatut. Tujuan Khusus Menentukan prioritas dalam meningkatkan kualitas pelayanan dalam menangani Penyakit Diabetes Melitus di wilayah kerja Puskesmas Industri. Menetapkan cara meningkatkan kualitas pelayanan dalam menangani Penyakit Diabetes Melitus di wilayah kerja Puskesmas Industri. Bagaimana pelaksanaan dan monitoring peningkatan kualitas pelayanan dalam menangani Penyakit Diabetes Melitus di wilayah kerja Puskesmas Industri.

Manfaat Puskesmas dan Dinas Kesehatan Gresik Memberikan informasi tentang penyelesaian masalah yang dihadapi Puskesmas Santun Lansia Industri. Memberikan informasi tentang cara meningkatkan kualitas pelayanan dalam menangani Penyakit Diabetes Melitus di wilayah kerja Puskesmas Industri. Doker muda (mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Hang Tuah) Memenuhi syarat tugas kepaniteraan IKM. Melatih kemampuan dalam menganalisa dan memecahkan masalah yang berasal dari konsep dasar puskesmas. Menerapkan semua ilmu yang diperoleh selama masa kuliah dalam kegiatan kepaniteraan. Mendapatkan pengalaman untuk dapat bekerja sebagai manajer kesehatan (provider sekaligus inovator di lingkungan) dan berinteraksi ke masyarakat secara holistik (makhluk bio-psiko-sosio-kulturo-spiritual).

Masyarakat Kesempatan mengajak masyarakat bukan hanya sebagai objek, tetapi menumbuhkan peran serta masyarakat untuk mengatasi masalah penyakit diabetes melitus pada lanjut usia. Peneliti yang lain Laporan ini menyediakan data sebagai informasi untuk melakukan penelitian lebih lanjut.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

SK MENKES 128/2004 Konsep Dasar Puskesmas Puskesmas adalah unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten/kota yang bertanggungjawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah kerja. 1. Unit Pelaksana Teknis 2. Pembangunan Kesehatan 3. Penanggungjawab Penyelenggaraan 4. Wilayah Kerja Visi Visi pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh puskesmas adalah tercapainya Kecamatan Sehat menuju terwujudnya Indonesia Sehat. -Indikator Kecamatan Sehat : Lingkungan sehat Perilaku sehat Cakupan pelayanan kesehatan yang bermutu Derajat kesehatan penduduk kecamatan

Misi Misi pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh puskesmas adalah mendukung tercapainya misi pembangunan kesehatan nasional. Misi tersebut adalah : Menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan di wilayah kerjanya. Mendorong kemandirian hidup sehat bagi keluarga dan masyarakat di wilayah kerjanya. Memelihara dan meningkatkan mutu, pemerataan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan yang diselenggarakan. Memelihara dan meningkatkan kesehatan perorangan, keluarga dan masyarakat berserta lingkungannya. Tujuan puskesmas Tujuan pembangunan kesehatan yang diselenggarkan oleh puskesmas adalah mendukung tercapainya tujuan pembangunan kesehatan nasional yakni meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang yang bertempat tinggal di wilayah kerja puskesmas agar terwujud derajat kesehatan yang setinggi-tingginya dalam rangka mewujudkan Indonesia Sehat 2010.

Fungsi puskesmas 1. Pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan. 2. Pusat pemberdayaan masyarakat. 3. Pusat pelayanan kesehatan strata pertama. -Pelayanan kesehatan perorangan -Pelayanan kesehatan masyarakat
Puskesmas Santun Usila Kementerian Kesehatan telah membuat satu model pelayanan di Puskesmas bagi lansia yang disesuaikan dengan kondisi kesehatan lansia dengan beberapa kemudahan dan dukungan bagi lansia. Selanjutnya model tersebut dikenal dengan nama Puskesmas Santun Usila.

Usia lanjut atau lanjut usia adalah seseorang yang berusia enam puluh tahun atau lebih, yang secara fisik terlihat berbeda dengan kelompok umur lainnya. Pengertian puskesmas santun usia lanjut adalah puskesmas yang melakukan pelayanan kesehatan kepada pra usia lanjut dan usia lanjut meliputi : aspek promotif, preventif, kuratif, rehabilitative, secara proaktif, baik dan sopan serta memberikan kemudahan dan dukungan bagi usia lanjut dengan lebih menekankan unsur-unsur sebagai berikut :

Pro-aktif Memberikan kemudahan proses pelayanan berupa fasilitas loket dan ruang pemeriksaan tersendiri di puskesmas atau sesuai dengan kondisi setempat. Santun Pelayanan oleh tenaga profesional serta penatalaksanaannya dikoordinasikan oleh pengelola program usia lanjut dipuskesmas bekerja sama dengan unsur lintas sektor maupun swasta berasaskan kemitraan, untuk bersama-sama melakukan pembinaan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup lansia. Memberikan keringanan/penghapusan biaya pelayanan kesehatan bagi lansia dari keluarga miskin/tidak mampu. Memberikan dukungan/bimbingan pada lansia dalam memelihara dan meningkatkan kesehatannya. Adanya aksesibilitas bagi lansia yaitu memberikan kemudahan bagi lansia untuk memperoleh dan menggunakan sarana, prasarana, dan fasilitas umum bagi lansia untuk memperlancar mobilitasnya.

Kegiatan-kegiatan pembinaan lansia yang dilakukan di Puskesmas : Pendataan sasaran lansia, dilakukan sekurang-kurangnya 1 kali dalam satu tahun Penyuluhan kesehatan lansia, pembinaan kebugaran melalui senam lansia, rekreasi, dan olahraga lainnya Sosialisasi program Puskesmas Santun Lansia dengan Lintas sektor terkait Deteksi dini keadaan kesehatan dan pemeriksaan kesehatan secara berkala yang dilakukan setiap bulan dengan instrument yang berlaku Pengobatan penyakit yang ditemukan pada sasaran lansia sampai kepada upaya rujukan ke rumah sakit Upaya pemulihan berupa upaya medik, psikososial, dan edukatif semaksimal mungkin Melakukan kerjasama dengan lintas sector dan organisasi terkait dengan asas kemitraan Melakukan fasilitasi dan pembinaan kesehatan lansia secara optimal dan berkala

Puskesmas Santun Usia Lanjut mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: Memberikan pelayanan yang baik, berkualitas dan sopan Memberikan kemudahan dalam pelayanan kepada usia lanjut. Memberikan keringanan / penghapusan biaya pelayanan kesehatan bagi usia lanjut dari keluarga miskin / tidak mampu. Memberikan dukungan / bimbingan pada usia lanjut dalam memelihara dan meningkatkan kesehatannya, agar tetap sehat dan mandiri. Melakukan pelayanan secara pro-aktif untuk dapat menjangkau sebanyak mungkin sasaran usia lanjut yang ada di wilayah kerja puskesmas. Melakukan kerjasama dengan lintas program dan lintas sektor terkait di tingkat kecamatan dengan asas kemitraan, untuk bersama-sama melakukan pembinaan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup usia lanjut.

Secara rinci pelayanan kesehatan usia lanjut dapat dijabarkan sebagai berikut :

Memberikan pelayanan yang baik, berkualitas dan sopan Memberikan kemudahan dalam pelayanan kepada usia lanjut. Memberikan keringanan / penghapusan biaya pelayanan kesehatan bagi usia lanjut dari keluarga miskin / tidak mampu. Memberikan dukungan / bimbingan pada usia lanjut dalam memelihara dan meningkatkan kesehatannya, agar tetap sehat dan mandiri. Melakukan pelayanan secara pro-aktif untuk dapat menjangkau sebanyak mungkin sasaran usia lanjut yang ada di wilayah kerja puskesmas. Melakukan kerjasama dengan lintas program dan lintas sektor terkait di tingkat kecamatan dengan asas kemitraan, untuk bersama-sama melakukan pembinaan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup usia lanjut.

Kegiatan Kesehatan Di Kelompok Usia Lanjut A. Pelayanan Kesehatan: Pelayanan kesehatan di kelompok usia lanjut meliputi pemeriksaaan kesehatan fisik dan mental emosional. Jenis pelayanan kesehatan yang dapat diberikan kepada usia lanjut di kelompok adalah sebagai berikut :

Pemeriksaan aktifitas kegiatan sehari-hari (activity of daily living) meliputi kegiatan dasar dalam kehidupan, seperti makan minum, berjalan, mandi, berpakaian, naik turun tempat tidur, BAB / BAK, dan sebagainya. Pemeriksaan status mental Pemeriksaan ini berhubungan dengan mental emosional, dengan munggunakan pedoman metode 2 menit (Lihat KMS Usia Lanjut). Pemeriksaan status gizi melalui penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan dan diccatata pada grafik Indeks Massa Tubuh (IMT). Pengukuran tekanan darah dengan menggunakan tensimeter dan stetoskop serta penghitungan denyut nadi selama semenit. Pemeriksaan Hb menggunakan Talquist, Sahli atau Cuprisulfat. Pemeriksaan adanya gula dalam air seni sebagai deteksi dini adanya penyakit diabetes mellitus. Pemeriksaan adnya protein dalam air seni sebagai deteksi dini adnya penyakit ginjal. Pelaksanaan rujukan ke puskesmas bilamana ada keluhan atau ditemukan kelainan pada pemeriksaan buti 1 hingga 7.

Penyuluhan bisa dilakukan didalam maupun diluar kelompok dalam rangka kunjungan rumah dan konselingkesehatan yang dihadapi oleh individu dan atau kelompok usia lanjut. Kunjungan rumah oleh kader disertai petugas bagi anggota Kelompok Usia Lanjut yang tidak adatng, dalam rangka kegiatan perawtan kesehatan masyarakat (Public Health Nursing). Pemberian makanan tambahan (PMT) penyuluhan sebagai contoh menu makanan dengan memperhatikan aspek kesehatan dan gizi usia lanjut serta menggunakan bahan makanan yang berasal dari daerah tersebut. kegiatan olah raga antara lain senam usia lanjut, gerak jalan santai, dan lain sebagainya untuk meningkatkan kebugaran. Kecuali kegiatan pelayanan kesehatan seperti uraian di atas, kelompok dapat melakukan kegiatan non kesehatan dibawah bimbingan sektor lain, contohnya kegiatan kerohanian, arisan, kegiatan ekonomi produktif, foru diskusi, penyaluran hobi dan lain-lain.

Manajemen Puskesmas Santun Usia Lanjut Manajemen yang dimaksudkan adalah bahwa semua kegiatana akan melalui tahap-tahap perencanaan, pelaksanaan, monitoring, dan evaluasi. Diharapkan dengan perencanaan yang baik, pelaksanaan yang terarah serta monitoring dan evaluasi yang baik, semua kegiatan akan dapat berhasil optimal dan sesuai target yang ditentukan.

Pelayanan Kesehatan Dalam Gedung Pelayanan kesehatan dalam gedung ditekankan pada : Kemudahan prosedur pelayanan Pelayanan berkualitas oleh petugas yang kompeten Responsive terhadap kebutuhan dan kondisi lansia Santun dalam memberikan pelayanan Mendahulukan lansia dalam memberikan pelayanan.

Program Kesehatan Usia Lanjut di Puskesmas meliputi: Aspek Pembinaan dan Pelayanan Kesehatan Kegiatan pelayanan bagi usia lanjut meliputi: Kegiatan Promotif Kegiatan Preventif Kegiatan Kuratif Kegiatan Rehabilitatif Aspek Manajerial : Pengelolaan program usia lanjut puskesmas dilaksanakan melalui perencanaan, penggerakan sasaran, pemantauan dan evaluasi.

Model Pelayanan Kesehatan Lansia Ada 2 model pengembangan pelayanan kesehatan dalam gedung yaitu Lebih dari satu ruang pelayanan Satu ruang pelayanan (one stop service) Kegiatan Pelayanan Kesehatan Lansia Pendaftaran Pelayanan Gawat Darurat Pelayanan/Pemeriksaan Kesehatan Pelayanan/ Pemeriksaan Penunjang Pelayanan Farmasi KIE Promosi Kesehatan Pencatatan dan Pelaporan

Sarana dan Prasarana Pelayanan Kesehatan Lansia 1. Pendaftaran : a. Administrasi :


Register

kunjungan Kartu kunjungan Berkas rekam medik ATK

b. Media Penyuluhan: Informasi Puskesmas santun lansia

2. Pelayanan Gawat Darurat a. Administrasi :


Register rawat jalan ATK

b. Alat Kesehatan : c. Bahan kesehatan habis pakai : d. Media Penyuluhan : 3. Pelayanan/Pemeriksaan Kesehatan/Poliklinik a. Administrasi : b. Alat Kesehatan c. Bahan kesehatan habis pakai d. Media Penyuluhan 4. Pelayanan/Pemeriksaan Penunjang a. Pelayanan Laboratorium b. Pelayanan gizi : c. Pelayanan radiologi: d. Pelayanan Rehabilitasi medik sederhana

5. Pelayanan Farmasi (kamar obat) a. Administrasi b. Alat Kesehatan c. Bahan kesehatan habis pakai : 6. Kit Promosi Kesehatan a. Administrasi b. Media Penyuluhan : 7. Pencatatan dan Pelaporan

D. Mekanisme di Tiap Kegiatan Pelayanan Kesehatan Lansia Alur Pelayanan Kesehatan Lansia:

MEKANISME DI TIAP KEGIATAN PELAYANAN KESEHATAN LANSIA, TERDIRI DARI : LOKET

UGD

BP/Poli Lansia

Pemeriksaan Penunjang Laboratorium

Pelayanan Gizi

Pelayanan Farmasi

Ruang Perawatan

KETENAGAAN

Pelayanan Kesehatan Luar Gedung Pelayanan kesehatan luar gedung terutama ditekankan pada upaya pemberdayaan masyarakat karena permasalahannya sangat kompleks dan saling berkaitan. Jenis pelayanan kesehatan luar gedung yang diberikan pada lansia antara lain : Aktifitas Fisik Bagi Lansia Home Care Lansia Posyandu Lansia

A. MEKANISME PELAKSANAAN KEGIATAN POSYANDU USILA

B. Pembinaan dan Evaluasi Pembinaan Pembinaan yang dilakukan berupa asistensi kepada masyarakat dan Kelompok Usia Lanjut dengan menggunakan prinsip kemitraan. Evaluasi Suatu kegiatan apapun bentuknya perlu dievaluasi, untuk mengtahui tingkat keberhasilan maupun tingkat perkembangannya. Sehubungan dengan hal tersebut diatas, ditetapkan beberapa indikator yang dapat dijadikan bahan untuk mengevaluasi tingkat perkembangan kegiatan Kelompok Usia Lanjut di bidang kesehatan, sebagai berikut :

Frekuensi pertemuan atau pelaksanaan kegiatan selama satu tahun. Kehadiran kader. Pelayanan kesehatan Senam usia lanjut, frekuensi pelaksanaan senam usia lanjut selama satu tahun. kegiatan sektor antara lain : pegajian / pendalaman agama, diskusi, usaha ekonomi produktif, rekreasi dll. Tersedianya dana untuk penyelenggaraan kegiatan Kelompok Usia Lanjut.

SUATU KEGIATAN PERLU DIEVALUASI UNTUK MENGETAHUI TINGKAT KEBERHASILAN MAUPUN TINGKAT PERKEMBANGANNYA.

Posyandu lansia dapat digolongkan menjadi 4 tingkat, yaitu : Pratama Madya Purnama Mandiri

PETUNJUK PENGISIAN FORMAT PENGUKURAN TINGKAT PERKEMBANGAN POSYANDU LANSIA I. Kelembagaan II. Pengelolaan Posyandu Lansia
Input

Proses
Output

Peran Lintas Sektor Pelaksanaan kegiatan posyandu lanjut usia di masyarakat akan mendapatkan hasil yang optimal apabila semua unsur terkait dalam pembinaan lanjut usia ikut berperan. Koordinasi yang terjalin dari semua unsur terkait baik pemerintah maupun swasta akan menentukan keberhasilan tersebut. Pemerintah

Kecamatan
Teknis

Bidang spiritual Bidang kesehatan Bidang seni budaya, olahraga dan rekreasi Bidang kesejahteraan, sosial, dan ekonomi Bidang pendidikan dan keterampilan

Administratif

Kelurahan

/ Desa

Sesuai Pedoman Kemitraan LIntas Sektor dalam Pembinaan Lanjut Usia, Lurah / Kepala Desa adalah penanggung jawab Tim Pelaksana Pembinaan Lanjut Usia di tingkat kelurahan / desa. Melaksanakan pendataan dan pelaporan untuk mengerahui jumlah sasaran lanjut usia serta perkembangan kegiatan posyandu. Pembinaan posyandu dan komunikasi sosial untuk menggali potensi yang ada di masyarakat.

Masyarakat
Peran

Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Peran Dunia Usaha


Dana Perlengkapan Bahan

bahan yang dibutuhkan dalam kegiatan posyandu

Peran

kader posyandu lanjut usia

Keluarga Keluarga mempunyai peran penting dalam pembinaan lanjut usia, baik di rumah maupun dalam kegiatan posyandu lanjut usia.

Peran keluarga dalam pembinaan lanjut usia antara lain : Menyediakan sarana dan prasarana yang memadai bagi lanjut usia di rumah sesuai dengan keberadaannya. Pemenuhan kebutuhan gizi lanjut usia sehari hari. Memberikan akses bagi lanjut usia untuk ikut serta dalam kegiatan posyandu lanjut usia. Membantu lanjut usia untuk mencari pelayanan kesehatan apabila sakit. Memberikan kesempatan bagi lanjut usia untuk tetap berperan dalam keluarga sesuai dengan kemampuannya.

BAB 3 KERANGKA KONSEPTUAL


Konsep H.L. BLUM Faktor agent : obat-obatan, rokok dan makanan Faktor host: pengetahuan tentang DM, kepatuhan pada diet 3J, kegiatan berolahraga, keteraturan minum obat. Faktor lingkungan: keluarga dan masyarakat, budaya, dan demografi. Medical services: promosi, preventif, kuratif (menjamin ketersediaan OAD), rehabilitatif (home care) tentang diabetes melitus.

BAB 4 METODE PEMBELAJARAN


ISSUE FACTUAL A.Dasar Pengelolaan Penyakit Diabetes Mellitus, dengan metode lima pilar : 1. Edukasi (baik lewat dokter maupun penyuluhan kesehatan) 2. Perencanaan makan (diit), memakai pola 3J: Jadwal, Jumlah, Jenis 3. Latihan jasmani dan istirahat yang cukup 4. Obat-obatan 5. Pemantauan kadar glukosa darah secara mandiri

B. Self Monitoring (Pengawasan Diri Sendiri) 1. Hentikan latihan jika ada gejala hipoglikemi. 2. Harus cukup minum pada saat dan setelah latihan. 3. Kenakan sepatu yang sesuai, periksa kedua kaki sebelum dan setelah latihan. 4. Bagi penderita yang mengkonsumsi obat hipoglikemik, terlebih lagi yang menggunakan suntikan insulin, kontrol glukosa darah sebaiknya dilakukan sebelum, selama, dan sesudah latihan.

C. Organisasi untuk orang-orang yang peduli terhadap penyakit Diabetes Melitus (PERSADIA), aktivitasnya PERSADIA antara lain: 1. Edukasi Diabetes Melitus. 2. Senam Diabet. 3. Konsultasi gratis tentang diabetes. 4. Dukungan moral .

D. Peran keluarga untuk pasien DM 1. Motivator 2. Edukator 3. Fasilitator

Penentuan Prioritas Masalah, Berdasarkan : Aspek dampak pelayanan : MCUA (Muliple Criteria Utility Assesment), kriteria yang digunakan: 1. Kemudahan pelaksanaan. 2. Kemudahan diterima oleh masyarakat 3. Ketersediaan sarana dan petugas 4. Dampak terhadap kesehatan penderita.

TABEL PENENTUAN PRIORITAS MASALAH

BAB 6

6.1 Identifikasi Masalah


Hasil penilaian kinerja puskesmas tahun 2011 jumlah pralansia dan lansia baru yang dilayani kesehatannya telah melampaui target sasaran scra kuantitatif (target sasaran 70%; pencapaian 72%) Kualitatif ??? bagaimana upaya meningkatkan kualitas pelayanan khususnya dalam menangani penyakit diabetes melitus berdasarkan data jumlah kasus yang ditemukan, diabetes melitus menduduki peringkat tertinggi, yaitu sebanyak 1514 (18,53%) orang penanganan penyakit diabetes melitus yang kompleks dan komprehensif

6.2 Penentuan Prioritas Masalah Untuk menentukan prioritas masalah dapat menggunakan beberapa kriteria, Kriteria yang dipakai berdasarkan : 1. Aspek dampak pelayanan : MCUA (Muliple Criteria Utility Assesment). 2. Aspek pemecahan solusi : CARL kemudahan, biaya, waktu, komitmen dan kejelasan. MCUA Prioritas masalah. Menentukan kriteria diberikan bobot pada tiap kriteria tersebut Skoring terhadap alternatif masalah brdsrkn kesepakatan bersama Skor x Bobot hasil perkalian terbesar sebagai prioritas masalah.

Kriteria yang digunakan: 1. Kemudahan pelaksanaan. 2. Kemudahan diterima oleh masyarakat 3. Ketersediaan sarana dan petugas 4. Dampak terhadap kesehatan penderita.

Bobot yang disepakati terdiri dari :


Bobot 1 : Kurang bermasalah Bobot 2 : Sedikit bermasalah Bobot 3 : Cukup bermasalah Bobot 4 : Bermasalah Bobot 5 : Sangat bermasalah

Skor yang disepakati terdiri dari :

Nilai 1 Nilai 2 Nilai 3 Nilai 4 Nilai 5

: Tidak : Sedikit : Cukup : Banyak : Sangat banyak

6.3 Pernyataan Masalah Masalah = kesenjangan antara apa yang diinginkan dengan kenyataan yang dicapai berdasarkan indikator yang ada. unsur efektifitas, efisiensi, kompetensi teknis, kenyamanan, keamanan, akses, informasi dan kepuasan pasien. penilaian MCUA Masalah utama : Bobot skor penyakit DM yang tinggi. Diabetes mellitus pada usia lanjut oleh karena dalam penata laksanaannya diperlukan keterpaduan lintas program dan partisipasi lintas sektoral secara komprehensif.

6.4 Memahami Proses dimana Lokasi Masalah Memahami proses dimana lokasi masalah dengan memakai diagram alur (Flow Chart). Ditemukan bahwa penyakit diabetes melitus tipe 2 merupakan penyakit yang banyak diderita oleh usia lanjut di wilayah kerja puskesmas industri, sehingga diperlukan peningkatan pelayanan secara kualitatif dan kuantitatif.

6.5 Penentuan Penyebab Masalah Penentuan penyebab masalah -- > metode curah pendapat -- > Kemungkinan penyebab masalah digali dengan diagram Tulang Ikan (Fish Bone) / Ishikawa / Cause Effect. Proses pembuatan diagram Fish Bone :

Tuliskan masalah pada kepala ikan (bagian kanan / efek). Tentukan kategori untuk duri-duri utama : manusia, metode, sarana, lingkungan dan lain-lain. Lakukan curah pendapat pada salah satu duri utama untuk mengisi duri-duri lanjutannya / cabangnya. Lanjutkan pada duri utama lainnya.

Upaya meningkatkan kualitas pelayanan diabetes melitus pada usila di wilayah kerja puskesmas industri dapat dipengaruhi oleh beberapa masalah yang dapat dilihat di diagram Fishbone Ishikawa di bawah ini:

6.6 Pengumpulan Data tentang Penyebab


Masalah

Diagram tulang ikan bertujuan memilih penyebab yang paling mungkin dan dinyatakan dalam pertanyaan pembuktian, tetapi tidak ada kesempatan untuk melakukan penelitian.

6.7 Menentukan Prioritas Penyebab Masalah kriteria USG prioritas penyebab masalah. Penyebab masalah ditulis secara vertikal dan diberikan bobot yang memiliki range 1 8. Sedangkan kriteria USG ditulis secara horizontal dengan skor antara 1 5. Pemberian bobot atau skor berdasarkan kesepakatan.

Didapatkan urutan prioritas masalah sebagai berikut: 1. Penderita kurang mengerti tentang penyakitnya. 2. Penderita tidak patuh minum obat 3. Penderita tidak mematuhi 3J 4. Penderita malas berolahraga 5. Pemahaman tentang 5 pilar DM kurang 6. Tidak ada yang mengantar ke puskesmas / posyandu 7. Keluarga belum menerapkan 3J secara maksimal 8. Pola pikir kalau sakit itu biasa 9. Alokasi dana keluarga untuk kontrol rutin kadar gula darah 10. Kegiatan posyandu yang kurang diminati 11. Penyesuaian waktu dengan jadwal para usila 12. Distribusi sarana untuk pelayanan DM 13. Kurangnya promosi tentang posyandu 14. Alokasi dana BOK untuk 5 pilar DM

Prioritas Masalah yang dipilih, yaitu: 1. Penderita kurang mengerti tentang penyakitnya. 2. Penderita tidak patuh minum obat 3. Penderita tidak mematuhi 3J 4. Penderita malas berolahraga 5. Pemahaman tentang 5 pilar DM kurang

6.8 Penentuan Alternatif Pemecahan masalah Tulis penyebab masalah yang sudah dipilih. Penyebab dari masalah adalah kurangnya kegiatan untuk meningkatkan motivasi. Menggunakan metode curah pendapat untuk menggali alternatif pemecahan masalah dengan mencoba untuk melihatnya dari sudut pandang pasien, tokoh masyarakat, pimpinan pemerintah daerah.

6.9 Penetapan Pemecahan Masalah Dalam menetapkan pemecahan masalah digunakan kriteria CARL, yaitu : 1. Capability 2. Accessibility 3. Readiness 4. Leverage

Alternatif pemecahan masalah ditulis pada kolom vertikal kemudian diberikan bobot pada alternatif pemecahan masalah dan diberi range 1-10. Kriteria CARL ditulis pada kolom horizontal, kemudian diberi skor yang memiliki range 1-5 Bobot dan skor ditentukan berdasarkan kesepakatan Bobot dan skor dikalikan hasil perkalian tersebut dijumlahkan Nilai yang terbesar ditetapkan sebagai pemecahan masalah.


1.

Pemecahan masalah yang dipilih adalah :


Penyuluhan tentang penyakit DM dan komplikasinya. Keluarga diminta untuk mengawasi ketaatan minum obat pasien. Menyusun jadwal makan. Memberikan penyuluhan tentang pentingnya olahraga Memberikan penyuluhan tentang pentingnya lima pilar DM.

2.

3. 4.

5.

6.10 Pembentukan Tim Pemecahan Masalah


1. 2. 3. 4. 5. 6.

7.
8.

Penanggung jawab:Kepala UPT Puskesmas Industri Tim pelaksana yang dibentuk antara lain : Dokter Puskesmas Petugas Gizi Puskesmas Industri Bidan Koordinator Puskesmas dan Bidan Desa Tokoh Masyarakat dan Tokoh Agama Kader Posyandu Pamong Desa

6.11 Penyusunan Rencana Penerapan Pemecahan Masalah

1. 2. 3.

Tujuan : Meningkatkan pengetahuan kesadaran masyarakat akan penyakit Diabetes Melitus Masyarakat ber-KESGA Terselesainya masalah lain yang bersumber dari manusia, metode, lingkungan,dana, dan waktu.
Kegiatan : Rapat internal Puskesmas Mempersiapkan pelatihan bagi petugas penyuluh Pelatihan bagi petugas penyuluh Pelaksanaan penyuluhan Monitoring dan Evaluasi Sumber dana : APBD BOK (Biaya Operasional Kesehatan) Anggaran dana desa Mitra kerja / CSR

1. 2.

3.
4. 5. 1. 2. 3. 4.


1. 2. 3. 4. 5.

Batas waktu :
Rapat guna menyamakan persepsi pada minggu kedua bulan Juni 2012. Mempersiapkan pelatihan bagi petugas penyuluh pada minggu ketiga bulan Juni 2012. Membuat leaflet mengenai penyakit Diabetes Melitus pada minggu ketiga bulan Juni 2012. Pelatihan bagi petugas penyuluh dan kader posyandu di puskesmas minggu keempat bulan Juni 2012. Pelaksanaan penyuluhan oleh petugas penyuluh dan kader posyandu di balai desa dan posyandu tentang penyakit Diabetes Melitus dan penatalaksanaanya pada minggu keempat bulan Juni 2012 dan minggu pertama bulan Juli 2012 Penyuluhan melalui pemasangan spanduk,dan penyebaran brosur tentang penyakit Diabetes Melitus dan penatalaksanaanya ditempat- tempat umum dan tempat tempat pelayanan kesehatan pada bulan Juli 2012. Evaluasi pelaksanaan dan efektifitas penyuluhan pada minggu kedua bulan Juni sampai dengan minggu keempat bulan Juli 2012.

6.

7.

1.

2.
3.

4.

Indikator : Pelaksanaan rapat Jumlah kehadiran Kesiapan sarana dan prasarana penyuluhan kehadiran dan kesiapan petugas

Monitoring dan Evaluasi Ada 2 segi pemantauan 1. Apakah kegiatan penerapan pemecahan masalah sudah diterapakan dengan baik? 2. Apakah permasalahan sudah dapat dipecahkan? 3. Masalah berhasil dipecahkan bila tercapainya peningkatan kualitas pelayanan dalam menangani penyakit diabetes melitus di wilayah kerja Puskesmas Industri Kabupaten Gresik.

BAB 7 KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan Kepaniteraan muda bagi Dokter Muda FK UHT di Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat dilaksanakan di Puskesmas Industri, Kecamatan Gresik, Kabupaten Gresik. Selama siklus tersebut, kami mempelajari manajemen, program, pelaksanaan program, mekanisme kerja, serta terlibat mengikuti pelayanan kesehatan di Puskesmas Industri.

Berdasarkan data sementara Penilaian Kinerja Puskesmas 2011, ditemukan beberapa variabel pada bagian program pengembangan puskesmas industri tentang upaya kesehatan usia lanjut telah memenuhi target secara kuantitas dengan jumlah posyandu lansia yang dibina sebanyak 100% (21 pos), jumlah pra- lansia dan lansia baru yang dilayani kesehatannya sebanyak 84% (2688 orang). Oleh karena program puskesmas usila ini merupakan program primadona saat ini maka kami membahasnya dari segi kualitasnya yaitu tentang upaya meningkatkan pelayanan diabetes mellitus.

Selanjutnya dengan Metode MCUA, dapat ditentukan prioritas masalah yaitu diabetes melitus merupakan masalah yang paling banyak ditemukan di wilayah kerja puskesmas industri. Setelah didapatkan masalah, maka kami mencoba memahami proses dimana lokasi masalah dan menguraikan akar penyebab masalah tersebut dengan menggunakan diagram fishbone, kemudian kami menentukan prioritas penyebab masalah dengan metode USG. Dari proses tersebut didapatkan penyebab masalah berdasarkan rating , yaitu :

1.

2.
3. 4. 5. 6. 7.

8.
9. 10.

11.
12. 13. 14.

Penderita kurang mengerti tentang penyakitnya. Penderita tidak patuh minum obat Penderita tidak mematuhi 3J Penderita malas berolahraga Pemahaman tentang 5 pilar DM kurang Tidak ada yang mengantar ke puskesmas / posyandu Keluarga belum menerapkan 3J secara maksimal Pola pikir kalau sakit itu biasa Alokasi dana keluarga untuk kontrol rutin kadar gula darah Kegiatan posyandu yang kurang diminati Penyesuaian waktu dengan jadwal para usila Distribusi sarana untuk pelayanan DM Kurangnya promosi tentang posyandu Alokasi dana BOK untuk 5 pilar DM

Setelah mengetahui penyebab penyebab masalahnya, maka dicari alternatif pemecahan masalah, dengan metode curah pendapat. Dengan kriteria CARL, maka dipilih alternatif pemecahan masalah, yaitu Penyuluhan tentang penyakit DM dan komplikasinya, keluarga diminta untuk mengawasi ketaatan minum obat pasien, menyusun jadwal makan, memberikan penyuluhan tentang pentingnya olahraga, memberikan penyuluhan tentang 5 pilar DM. Dari pemecahan masalah yang telah dipilih, telah disusun Gantts Chart untuk rencana pelaksanaan kegiatan mengenai masalah yang dihadapi. Adapun monitoring keberhasilan dari pemecahan masalah ini adalah penerapan penyuluhan tentang penyakit DM dan komplikasinya apakah sudah diterapkan dengan baik dan terjadi peningkatan dalam

Saran
Bagi

DINKES:

Untuk

menambah tenaga kesehatan dan meningkatkan pelatihan bagi petugas, bukan hanya untuk meningkatkan pengetahuan tetapi juga sebagai motivator. Anggaran dana untuk sarana dan prasarana pemicuan.
Bagi

Puskesmas :

Evaluasi

rutin terhadap pelaksanaan prioritas pemecahan masalah. Lebih meningkatkan kerja sama dengan pelayanan kesehatan swasta untuk terlibat dalam program penyuluhan tentang penyakit DM dan komplikasinya. Monitoring dan evaluasi berkala terhadap pelaksanaan penyuluhan. Monitoring dan evaluasi efektifitas pencapaian target.

Bagi

Petugas Puskesmas:

Meningkatkan

kerja sama dengan puskesmas terkait dalam melaksanakan promosi kesehatan Petugas kesehatan diharapkan lebih terampil dan sabar dalam menghadapi setiap persoalan penderita DM, termasuk hubungannya dengan lintas program
Bagi

Dokter Muda :

Perlunya

peningkatan kerjasama antar tim dan profesionalisme kerja. Memahami dengan baik teori yang diberikan oleh pembimbing sehingga dapat diaplikasikan dengan baik di lapangan.

DAFTAR PUSTAKA

Dinkes, RI, (2011). Standar Pelayanan Santun Lansia Di Puskesmas. Jawa Timur: Dinkes Departemen Kesehatan RI, 2004. Keputusan Mentri Kesehatan RI No. 128/SK/11/2004 Kebijakan Dasar Pusat Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Departemen Kesehatan RI Depkes, RI, (1997). Manual Latihan Fisik Untuk Usia Lanjut. Jakarta: Depkes Pelatihan Manajemen Terpadu Puskesmas Perilaku Hidup bersih dan Sehat, 2006. PHBS di Rumah tangga, di Institusi Kesehatan, dan di Tempat kerja. Gresik: Dinas kesehatan Propinsi Jawa Timur Puskesmas Industri, 2011. Penilaian Kerja Puskesmas Industri 2011. Gresik: Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur Puskesmas Industri, 2010. Penilaian Kerja Puskesmas Industri 2010. Gresik: Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur

Anda mungkin juga menyukai