Anda di halaman 1dari 29

Pemeriksaan dan Gambaran Radiologis Mikosis Paru

PEMBIMBING: DR.

SYAIFUDDIN LUBIS, SP. RAD

OLEH: DUAS JOURGIE ASTRIE HANANDA F. GIA CELLISA SIANOSA ANITA HARRIS HARDIAN

090100274 090100299 090100271 090100293 090100075

Departemen Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

Tahun 2013

BAB 1
Pendahuluan

LATAR BELAKANG
penggunaan antibiotik, berspektrum luas, atau kombinasi dari berbagai antibiotik, penggunaan kortikosteroid dan obat imunosuppressif, penyakit kronik yang berat, mobilitas tinggi

Infeksi Jamur Paru

Keterlambatan pengobatan

gambaran klinik & radiologik penderita mikosis paru tidak khas

Rumusah masalah Pemeriksaan radiologis pada mikosis paru. Tujuan:

Tujuan Umum
pemeriksaan radiologis pada mikosis paru

Tujuan Khusus
spesifikasi gambaran-gambaran dari hasil pemeriksaan radiologis mikosis paru

Manfaat:
Mahasiswa: sarana u meningkatkan wawasan dan pengetahuan.

bahan informasi dan masukan bagi tenaga kesehatan untuk mengenal pemeriksaan radiologis pada mikosis paru.

kontribusi bagi tenaga kesehatan agar dapat mendiagnosis secara tepat

BAB 2
Tinjauan Pustaka

Definisi : Mikosis paru adalah gangguan paru yang disebabkan oleh infeksi atau kolonisasi jamur atau reaksi hipersensitif terhadap jamur. Klasifikasi Berdasarkan keberadaan jamur dalam tubuh: Mikosis paru yang disebabkan jamur pathogen, bisa bersifat: Endemic yaitu histoplasmosis, blastomikosis, koksidiodomikosis dan parakoksidiodomikosis. Nonendemik yaitu kriptokokosis Mikosis paru disebabkan jamur oportunis, yaitu aspergillosis, kandidosis, nokardiosis, mukormikosis.

PATOGENESIS
Faktor imun: defek imunitas penyakit kronik, antibiotok, dll.

Infeksi sekunder/ infeksi jamur paru


Faktor non imun: interaksi dengan floraflora mikrobial, saliva, keringat

Penyakit-Penyakit Mikosis Paru


Kandidiasis Disebabkan oleh jamur Candida, terutama C. albicans manifestasi klinis bronkial: batuk-batuk keras, dahak sedikit dan mengental berwarna susu, saprofit di rongga mulut dan pipi. Manifestasi paru: demam dengan pernafasan dan nadi yang cepat serta keluhan batuk-batuk, hemoptoe, sesak dan nyeri dada.
1.

Foto thorax PA menunjukkan bercak-bercak non-homogen pada lobus kiri atas.

CT paru menunjukkan lesi multipel, nodular, dan periferal yang mengenai kedua paru

2. ASPERGILOSIS
Disebabkan oleh jamur dari genus Aspergillus, terutama spesies Aspergillus fumingatus dan Aspergillus niger. dapat menyebabkan 4 sindrom: 1. Allergic Bronchopulmonary Aspergillosis (ABPA): respon alergi yang kronik akibat kolonisasi Aspergillus. Gambaran klinis yang sering demam, asma dengan perbaikan klinis yang lambat, batuk yang produktif, malaise, dan berat badan yang menurun.

Aspergilosis bronkopulmoner alergi dengan gambaran Mucous Plug

2. Aspergiloma Gambaran klinis aspergilloma sering asimptomatik, tetapi dapat juga dijumpai batuk yang kronis, malaise, dan berat badan yang menurun. Haemoptosis pada 80% kasus. 3. Chronic Necrotizing Pulmonary Aspergillosis (CNPA) Perkembangan biasanya lambat (tidak progresif), semi invasif. Batuk kronis yang non-produktif disertai dengan haemoptosis, demam yang tidak terlalu tinggi, penurunan berat badan, dan malaise .

Gambaran pada aspergiloma yaitu Fungus Ball

4. Aspergilosis Invasif penderita dengan gangguan imun dan netropeni merupakAspergilosis invasif merupakan penyakit progresif dan kematian akan terjadi dalam waktu 1-3 minggu.an faktor predisposisi yang penting.

Infiltrat bilateral pada Aspergilosis Invasif

CT Scan aspergillosis yang invasif menunjukkan lesi paru multipel, beberapa dengan kavitasi.

3. Histoplasmosis

Histoplasmosis disebabkan oleh jamur Histoplasma capsulatum. Manifestasi klinis biasanya muncul setelah infeksi eksogenus atau reinfeksi. Gejala Klinis: histoplasmosis asimtomatik, histoplasmosis paru akut, histoplasmosis paru kronik, histoplasmosis diseminata.
A.Radiografi toraks histoplasmosis akut difus. B Tomografi histoplasmosis subakut dengan adenopati mediastinum. C.Radiografi toraks histoplasmosis dengan kavitas. D.Arteriogram paru menunjukkan obstruksi arteri pulmonal mediastinitis dengan fibrosa4.

karena

Histoplasmosis paru. CT yang beresolusi tinggi menunjukkan kumpulan mikronodul di kedua lapangan paru atas

4. BLASTOMIKOSIS
Disebabkan oleh Blastomyces dermatitidis. Paling sering menyerang paru, kulit, dan tulang. Gejala klinis: demam subfebril, sesak, batuk dengan sputum purulen kadang bercampur darah.

Foto toraks menunjukkan lesi nodular multipel, beberapa di antaranya mempunyai kavitas pada lobus bawah kiri paru.

CT scan menunjukkan nodul paru yang multiple.

5. KOKSIDIOIDOMIKOSIS
Infeksi disebabkan oleh terhirup spora jamur Coccidioides. Ada 2 bentuk Koksidioidomikosis yaitu bentuk primer dan progresif. Koksidioidomikosis paru primer biasanya tanpa gejala, namun kadang ada gejala mirip influensa dan nasofaringitis. Hanya sekitar 0,1% kasus dengan Koksidioidomikosis paru primer yang berlanjut menjadi Koksidioidomikosis paru progresif dan ini memakan masa beberapa bulan setelah infeksi primer. Gejala klinis ialah demam, anoreksia, badan makin kurus serta adanya tanda bronkopneumoni.

1. Koksidioidomikosis primer

2. Koksidioidomikosis progresif

Nodul-nodul pada Koksidioidomikosis pada lobus kiri atas paru.

Kavitasi dengan dinding yang tipis pada Koksidioidomikosis pada lobus kanan atas paru.

CT scan menunjukkan konsolidasi parenkim paru dengan air bronchogram di kedua paru yang berhubungan dengan nodul yang multiple, beberapa di antaranya terdapat kavitasi (tanda panah)

6. KRIPTOKOKOSIS
Disebabkan oleh cryptococcus neoformans melalui rute pernafasan. Gejalanya antara lain demam, batuk, malaise, nyeri pleuritik, dan hemoptisis.

Foto toraks postero-anterior tampak konsolidasi padat pada lapangan paru bawah kiri, massa ukuran 7 cm x 4 cm.

Pemeriksaan CT menunjukkan nodul (kiri) dan massa serta pembentukan kavitas, tanda yang berbentuk bulan sabit (kanan)

DIAGNOSIS
Anamnesis Pemeriksaan fisik Pemeriksaan penunjang ( radiologis dan serologi)

Biakan spesimen dan biopsi jaringan menjadi baku emas diagnosis mikosis paru

PENATALAKSANAAN

Tatalaksana mikosis paru bergantung kepada jenis jamur yang menginfeksi, status imun penjamu, kepekaan jamur terhadap obat, penanganan sumber infeksi, dan faktor risiko. Tatalaksana mencakup medikamentosa dan terapi bedah.

PENCEGAHAN
Hindari berpergian dan terpajan dengan area endemis. Pasien yang sedang menjalani tranplantasi sumsum tulang atau pada keadaan neutropenia yang berkepanjangan dianjurkan untuk menghindari aktivitas seperti bercocok tanam yang dapat menyebabkan terpajan dengan jamur. Berikan terapi anti jamur profilaksis seperti pengobatan dengan intranasal atau intravena dengan amphotericin B atau obat yang sejenisnya pada pasien yang berisiko tinggi terkena infeksi jamur.

PROGNOSIS
Sebagian besar penderita aspergilosis invasif tidak dapat bertahan hidup, angka kematian sekitar 87% pada infeksi paru, 80% pada penerima transplantasi sumsum tulang belakang, 77% pada penderita leukemia, dan 97% pada penderita AIDS. Prognosis kandidiasis, histoplasmosis, koksidioidomikosis, blastomikosis dan kriptokokosis pada penderita imunokompeten baik tanpa memerlukan pengobatan yang spesifik.

KESIMPULAN

Mikosis paru adalah gangguan paru yang disebabkan oleh infeksi atau kolonisasi jamur atau reaksi hipersensitif terhadap jamur. Walaupun masih relatif jarang bila dibandingkan dengan infeksi bakterial atau virus, infeksi jamur paru penting karena dapat diobati dan keterlambatan pengobatan dapat berakibat fatal. Gejala umum infeksi jamur paru sama dengan infeksi mikroba lainnya, antara lain batuk-batuk, batuk darah, banyak dahak, sesak, demam, nyeri dada dan bisa juga tanpa gejala. Permasalahannya ialah bahwa baik gambaran klinik maupun radiologik penderita mikosis paru tidak khas. Oleh karena infeksi jamur paru sering menyertai penyakit lain dan tidak ada gejala yang khas sehingga infeksi jamur paru sering tidak terdiagnosa, sehingga pengobatan terhadap infeksi jamur paru sering terlambat diberikan.

TERIMA KASIH