Anda di halaman 1dari 27

Jenis Dermatitis

1 2 3 4 5 6 7 8

Dermatitis Kontak Dermatitis Popok Dermatitis Atopik

Pitiriasis
Liken Simpleks Dermatitis Numularis Dermatitis Statis Pitiriasis Rosea

Psoriasis

10 Dermatitis Seborik 11 Eritroderma

Kelompok 1
NamePramita Putri Fani Oktaviani Ni Wayan Swintari Tri Juliati Rizkiyah Date 21 Februari 2013

Pendahuluan Dermatitis
Eksim = Dermatitis
Dermatitis : peradangan non-inflamasi pada kulit yang bersifat akut, subakut, atau kronis.
Faktor yg mpengaruhi : konstitusi, iritan, alergen, panas, stres, infeksi, dll. Gejala : eritema, edema, papul, vesikel,membasah dan krusta. Pada stadium subakut kulit masih kemerahan, tetapi lebih kering dan terdapat perubahan pigmentasi. Dermatitis stadium kronis : Menunjukkan likenifikasi, ekskoriasi, skuama,dan fisura.

Jenis Dermatitis

1 2 3 4 5 6 7 8

Dermatitis Kontak Dermatitis Popok Dermatitis Atopik

Pitiriasis
Liken Simpleks Dermatitis Numularis Dermatitis Statis Pitiriasis Rosea

Psoriasis

10 Dermatitis Seborik 11 Eritroderma

1. DERMATITIS KONTAK
Defenisi dan Jenis DK
Dermatitis kontak (DK) adalah kelainan kulit yang bersifat polimorfi sebagai akibat terjadinya kontak dengan bahan eksogen. Jenis & Patogenesis : 1. DK iritan 2. DK alergik Lokasi : daerah yg berkontak dg bahan penyebab dan berbatas relatif tegas, kecuali untuk bahan yang bersifat gas/uap.

Terdapat 3 tipe sesuai dengan perjalanan penyakit, yaitu : 1. Akut (eritem, edema, papul, vesikel, dan bula) 2. sub-akut (eritem, edema ringan, dan krusta); 3. kronik (hiperpigmentasi, likenifikasi, & skuamasi).

Penatalaksanaan :
a) menghindari penyebab b) obat sistemik: (sakit berat, lokasi luas secara simtomatik) c) obat topikal (sesuai prinsip terapi kulit) : - basah -> kompres (sol. Permanganas Kalikus 1:10.000 atau likuor Vieli) - kering (krim atau salap)

Penyakit Dermatitis Kontak :

Gbr 1. DK alergik akibat plester. Kelainan Gbr 2. DK iritan akibat iritansesuai dengan kulit berbatas tegas, bentuk Gbr 3. DK iritan akibat iritan lemah. kuat.Terlihat vesikel, bula dan Ujung penyebab, jari eritem, tipis, berkilat dan bentuk dengan efloresensi yang ekskoriasi berskuama polimorfi terdiri atas eritema, papul, vesikel dan bula.

2. DERMATITIS POPOK
Dermatitis popok adalah dermatitis yang terletak, paling tidak pada awalnya, pada daerah yang tertutup popok. Gejala : eritema yang konfluens, berkilat, dapat pula ditemukan papul eritematosa multipel, edema dan skuama Daerah : Kontak lama -> popok : cembung bokong, paha bagian dalam, mons pubis, skrotum, dan labia mayora

Gbr 4. Dermatitis popok kandida. Plak eritematosa ukuran plakat, batas tegas, disekitarnya terdapat lesi satelit

Penatalaksanaan :
Pencegahan : menggunakan popok sesuai daya tampungnya dan diusahakan diganti sesegera mungkin setelah kotor. Dengan demikian area tersebut terjaga tetap bersih dan kering
Pengobatan Topikal : 1. bila ringan: krim pelindung ->

dioleskan sebelum memakai popok baru.

2.
3.

4.

antifungal topikal: nistatin atau imidazol krim, dioleskan 2x/hari. kortikosteroid topikal potensi ringan, misalnya hidrokortison, dapat diberikan pada dermatitis popok sedang atau berat kombinasi mikonazol nitrat dan seng dalam krim, dioleskan

2x/hari.

3. DERMATITIS ATOPIK
(DA) kadang-kadang disebut juga eksim susu, adalah penyakit kulit yang kronis residif. Penyebab Utama : 1. kulit kering -> barier kulit rusak 2. faktor internal dan eksternal Mekanisme imunopatogenesis

interaksi faktor genetik (IgE) -> alergen lingkungan Alergen makanan -> susu sapi, telur, ikan laut, kacang tanah, tomat, jeruk, dan coklat.

Bahan alergen hirup, misalnya debu rumah, tungau debu rumah, serbuk sari bunga / tanaman (polen), dan bulu binatang. sekitar 74% Kolonisasi

Staphylococcus aureus ,

ditemukan pada kulit pasien DA

5
5. Plak eritematosa difus dan kering pada pipi

7 7. Plakat eritematos a, erosi, ekskoriasi dan krusta pada fossa kubiti yang meluas ke badan

6. Pada 6 fossa poplitea dan betis tampak plak eritematosa difus dan eksudatif

8 8. Tampak hyperkerat osis dan likenifikasi

Penatalaksanaan :
Tujuan : mengurangi gatal, mengatasi inflamasi, mengurangi kekeringan kulit, dan mengeliminasi faktor yang memperberat penyakit Obat Sistemik : a) Antihistamin (AH) sedasi (anak) : klorfeniramin maleat (klorfenon) b) Antihistamin nonsedasi (dewasa) : seterisin, loratadin, terfenadin, feksofenadin. c) Antibiotik -> DA ; infeksi sekunder : eritromisin, kloksasilin, sefalosforin. d) Kortikosteroid -> DA berat & luas yang sukar diatasi dengan AH dan kortikosteroid topikal : Prednison (2mg/kg BB). Obat Topikal : a) Kortikosteroid topikal. Potensi ringan sedang : Hidrokortison. b) Pelembab (moisturizing) : gliserin, propilen glikol, lanolin, vaselin, dan minyak tumbuhan. c) Antibiotik topikal -> infeksi sekunder ringan: golongan asam fusidat 5%, mupirosin 2%, dan kombinasi neomisinbasitrasin-polimiksin B.

4. PITIRIASIS ALBA
Menurut para ahli termasuk suatu dermatitis atopik, sebagian lagi menyatakan suatu kelainan tersendiri. Penyebab : Gejala : banyak bercak hipogimentasi (oval). Permukaan agak kasar tertutup oleh akuama halus. Lesi berdiameter 5 sampai 50 mm dalam jumlah banyak. Tempat : di pipi, permukaan ekstensor lengan, dan badan bagian atas. Pada usia antara 3 dan 16 tahun

Pengobatan : pengobatan spesifik. Pengobatan simtomatik : oleum bergamot 15% yang dioleskan pada lesi di pagi hari. Sebagai pencegahan dapat diberikan tabir surya.

Gbr 10. Pada


5. LIKEN SIMPLEKS Liken simpleks ditandai dengan adanya satu atau lebih bercak pada kulit yang mengalami likenifikasi dan terasa sangat gatal. Lokasi : leher, genital, dan bagian kaki ekstensor. Pengobatan : Berhenti menggaruk !! Salep yang mengandung

dorsum pedis terdapat hiperpigmentasi dan likenifikasi yang merupakan gambaran khas lesi.

cool tar adhesif

Pemasangan plester seng-

Steroid topikal potensi tinggi

Gbr 11. Gambaran eritematosa dan

hiperpigmentasi disertai likenifikasi, menunjukkan fase sub akut LSK.

7. DERMATITIS STATIS
Dermatitis stasis/hipostatik adalah salah satu jenis dermatitis sirkulatorius. Biasanya dermatitis stasis merupakan dermatitis varikosum, karena penyebab utamanya ialah insufisiensi vena. Pengobatan : 1). Pengobatan kausatif -> gangguan sirkulasi : pembalut elastis 2). Bila lesi eksudatif : larutan permanganas kalikus 1/10.000. Setelah lesi kering : kortikosteroid topikal. 3). Antibiotik sistemik.

Gbr 13. Pada maleolus medialis kiri ditemukan lesi eritematatosa dan hiperpigmentasi disertai varises yang merupakan kelainan khas bagi dermatitis ini

8. PITIRIASIS ROSEA
Merupakan suatu eksantema peradangan yang ringan. Penyebab : Gejala klinis : Bercak induk atau mother

patch atau Herald patch, yang terdapat di lengan atas atau badan. Lesi berwarna merah bersisik halus. Pengobatan : Bersifat Simtomatik-> Losio,
salap atau krim urea 10% untuk kulit kering dan bersisik.

9. PSORIASIS
Psoriasis adalah peradangan menahun yang ditandai dengan plak eritematosa dengan skuama lebar, kasar, berlapis dan putih seperti mika. Object : perempuan maupun laki-laki dengan resiko yang sama (terutama 30-40 tahun). Faktor yg mpengaruhi : Faktor Genetik : 1) psoriasis tipe satu (awitan sebelum berumur 40 tahun) 2) psoriasis tipe dua yaitu bila awitannya lebih dari 40 tahun ( tidak termasuk

Penatalaksanaan :
Psoriasis ringan bila luas lesi < 15% luas permukaan tubuh : 1) Pelembab: vaselin album, urea 10% 2) Ter likuor karbonis detergen 5-10%, (untuk kulit dan skalp) dan asam salsilat 3% tidak boleh untuk daerah lipatan. Lebih dari 15% atau bila rekalsitran : 1) Fototerapi UVB, PUVA Psoriasis berat 1) Fototerapi: UVB/PUVA 2) Pengobatan sistemik: metotreksat, asitretin, siklosporin, terapi biologik (antara lain infliximab, alefacept, etanercept, dan efalizumab)

Gbr 15. Bercak eritematosa dan hipopigmen-tasi lentikular, numular dan plakat berbatas tegas dengan skuama berlapislapis, transparan dan berwarna putih seperti mika

Gbr 16. Psoriasis gutata. Bercak eritematosa lberukuran lentikular, berbatas tegas dengan skuama berlapis-lapis

10. DERMATITIS SEBOROIK


Dermatitis seboroik merupakan penyakit papuloskuamosa yang kronik. Kelainan ini dapat mengenai bayi dan dewasa,dan berhubungan dengan peningkatan produksi sebum (sebore) pada skalp dan area yang memiliki banyak kelenjar sebasea di wajah dan badan Pengobatan : Pengobatan topikal dapat diberikan kortikosteroid seperti hidrokortison krim 2 kali sehari atau pemberian sulfur presipitatum 4-20%, resorsin 1-3%, likuor karbonas detergens 2-5%, serta golongan azol Pada kasus berat : prednison 20-30 mg sehari atau antimikotik oral seperti ketokonazol 200 mg per hari.

Gambar 17. Dermatitis seboroik pada kepala dengan infeksi sekunder, dapat menyerupai tinea kapitis

Gambar 18 Dermatitis seboroik pada wajah, khas mengenai area sebore

11. ERITRODERMA
Eritroderma merupakan kelainan kulit yang ditandai dengan adanya eritema di seluruh tubuh atau hampir seluruh tubuh, dan biasanya disertai skuama. Berdasarkan penyebabnya, eritroderma dibagi menjadi 3 golongan : 1) Akibat alergi obat 2) Akibat perluasan penyakit kulit, seperti psoriasis, penyakit Leiner,ndermatitis atopik dan lain-lain 3) Akibat penyakit sistemik, termasuk keganasan Pengobatan : 1) Golongan I : Prednison 3x10 mg sampai 4x10 mg sehari 2) Golongan II : Prednison 4x10 mg sampai 4x15 mg sehari, jika tampak perbaikan, dosis diturunkan perlahan. Pada eritroderma psoriatika diberikan metotreksat atau asitretin. 3) Pada keganasan dapat diberikan sitostatika seperti klorambusil 2-6 mg sehari.

KESIMPULAN
Istilah eksim dan dermatitis seringkali dipakai untuk menggambarkan kondisi yang sama. Dermatitis adalah peradangan non-inflamasi pada kulit yang bersifat akut, subakut, atau kronis, dan dipengaruhi oleh banyak faktor, misalnya faktor konstitusi, iritan, alergen, panas, stres, infeksi, dll. Tipe dermatitis yang sering dijumpai adalah Dermatitis kontak, Dermatitis popok, Dermatitis atopik, Pitiriasis, Liken simpleks, Dermatitis numularis, Dermatitis stasis, Pitiriasis rosea, Psoriasis, Dermatitis seboroik, Eritroderma. Untuk Pengobatan, harus memperhatikan beberapa faktor antara lain, jenis dermatitis, sediaan yang akan dipakai sesuai tingkat keparahan penyakit, lesi (basah, kering), serta perlu memperhatikan dosis, dan efek fisika kimia obat, dan faktor lain yang menjadi penentu dalam pengobatan.

Thank yuu ... ^_^

Can I asking a questions ??