Anda di halaman 1dari 29

Woods Light in Dermatology

dr. Vitalis Pribadi Sp.KK

Ricardo T. (2010 061 113)

Pendahuluan

Aspek Sejarah
Ditemukan tahun 1993 oleh Robert W. Wood Sinar ultraviolet bergelombang panjang Mempunyai peran penting dalam kedokteran Penggunaan pertama pada dermatologi tahun 1925 infeksi jamur pada rambut

Struktur Fisika Lampu Wood


Sinar radiasi ultraviolet gelombang panjang yang dihasilkan oleh air raksa bertekanan tinggi yang dipasang pada filter yang terbuat dari barium silikat dengan 9% nikel oksida Filter ini tidak tembus oleh cahaya kecuali cahaya dengan panjang gelombang antara 320 400 nm (dengan puncak 365 nm)

Struktur Fisika Lampu Wood


Fluoresensi terjadi ketika cahaya dengan panjang gelombang yang lebih pendek yang dihasilkan oleh lampu Woods diserap dan dipantulkan dalam panjang gelombang yang dapat dilihat oleh mata

Struktur Fisika Lampu Wood


Melanin pada epidermal dan dermal menyerap cahaya terfluoresensi menjadi kebiruan Jaringan yang dapat menimbulkan fluoresensi:
Jaringan elastin (fluorophore unknown) Kolagen (pyridinoline crosslinks) Asam amino aromatik (triptofan & produk oksidatif) Nikotin adenin dinukleotida (NAD) Melanin

Teknik
Lampu sebaiknya dipanaskan dahulu selama 1 menit Ruangan pemeriksaan harus sepenuhnya gelap (ruangan tanpa jendela) Pemeriksa harus beradaptasi pada kegelapan agar dapat melihat kontras dengan jelas Kurang akurat pada kulit hitam Obat topikal, kasa, dan residu sabun harus dibersihkan karena dapat menimbulkan fluoresensi

Teknik
Sumber cahaya berjarak 4 5 inch dari lesi Membersihkan daerah sebelum pemeriksaan dengan lapu Woods harus dihindari karena dapat menimbulkan hasil negatif palsu akibat dilusi pigmen Kesalahan yang sering terjadi adalah flouresensi kebiruan atau keunguan yang dihasilkan salep yang mengandung petrolatum, fluoresensi kehijauan oleh asam salisilat, dan cahaya yang dipantulkan oleh jaket putih pemeriksa yang menghasilakn fluoresensi biru muda

Teknik
Dalam dematologi, lampu Woods digunakan untuk diagnosis kelainan pigmentasi, infeksi kulit, dan kelainan porfirin

Kelainan pigmentasi
Hipopigmentasi
Vitiligo Tuberous sklerosis Hipomelanosis ito

Infeksi
Bakteri
Pseudomonas Eritrasma Propionobacterium acnes

Hiperpigmentasi
Melasma

Jamur
Dermatofites Tinea versicolor

Kelainan metabolisme porfirin

Kelainan Pigmentasi

Hipopigmentasi
Kelainan pigmentasi Hipopigmentasi Vitiligo Tuberous sklerosis Hipomelanosis ito Hiperpigmentasi Melasma Infeksi Bakteri Pseudomonas Eritrasma P. Acnes Jamur Dermatofites Tinea versicolor Kelainan porfirin

kurang atau tidak adanya melanin pada epidermis lampu Woods memfluoresensi kolagen dalam kulit Karena adanya penghentian tibatiba pada pancaran dari lesi yang dapat terlihat oleh mata lesi hipopigmentasi semakin jelas

Hipopigmentasi
Kelainan pigmentasi Hipopigmentasi Vitiligo Tuberous sklerosis Hipomelanosis ito Hiperpigmentasi Melasma Infeksi Bakteri Pseudomonas Eritrasma P. Acnes Jamur Dermatofites Tinea versicolor Kelainan porfirin

__________ Vitiligo
membantu menemukan lokasi dan memperjelas bercak vitiligo terutama pada kulit putih untuk mengetahui respon terapi Luas dan distribusi penyakit akan menentukan terapi
Parah: pemutihan dengan eer monobenzil atau hidrokuinon Ringan: repigmentasi dengan fotokemoterapi

Hipopigmentasi
Kelainan pigmentasi Hipopigmentasi Vitiligo Tuberous sklerosis Hipomelanosis ito Hiperpigmentasi Melasma Infeksi Bakteri Pseudomonas Eritrasma P. Acnes Jamur Dermatofites Tinea versicolor Kelainan porfirin

_ Tuberlous Sklerous
Makula hipopigmentasi >10mm terutama dengan bentuk seperti daun maple

Hipopigmentasi
Kelainan pigmentasi Hipopigmentasi Vitiligo Tuberous sklerosis Hipomelanosis ito Hiperpigmentasi Melasma Infeksi Bakteri Pseudomonas Eritrasma P. Acnes Jamur Dermatofites Tinea versicolor Kelainan porfirin

_ Hipomelanosis Ito
Hipopigmentasi garis-garis yang sulit dilihat oleh mata terutama pada kulit putih

Hiperpigmentasi
Kelainan pigmentasi Hipopigmentasi Vitiligo Tuberous sklerosis Hipomelanosis ito Hiperpigmentasi Melasma Infeksi Bakteri Pseudomonas Eritrasma P. Acnes Jamur Dermatofites Tinea versicolor Kelainan porfirin

photon dengan panjang gelombang rendah, terutama UVB (290-320 nm) dan UVA (320-400nm) lebih mudah terpencar oleh stratum korneum dan epidermis Photon dengan panjang gelombang lebih tinggi, jangkauan visibel (400800nm) menembus lebih dalam ke dermis Melanin menyerap cahaya lebih kuat baik pada UV maupun jangkauan visibel

Hiperpigmentasi
Kelainan pigmentasi Hipopigmentasi Vitiligo Tuberous sklerosis Hipomelanosis ito Hiperpigmentasi Melasma Infeksi Bakteri Pseudomonas Eritrasma P. Acnes Jamur Dermatofites Tinea versicolor Kelainan porfirin

Epidermis yang mengandung banyak melanin akan diserap lampu Woods sehingga kontras pada perbatasan

Hiperpigmentasi
Kelainan pigmentasi Hipopigmentasi Vitiligo Tuberous sklerosis Hipomelanosis ito Hiperpigmentasi Melasma Infeksi Bakteri Pseudomonas Eritrasma P. Acnes Jamur Dermatofites Tinea versicolor Kelainan porfirin

________ Melasma

Untuk membedakan melasma epidermal dan dermal Melasma tipe epidermal: peningkatan kontras warna Melasma tipe dermal: cahaya biasa kebiruan, tidak terdapat perbedaan kontras dengan lampu Woods

Infeksi

Infeksi Bakteri
Kelainan pigmentasi Hipopigmentasi Vitiligo Tuberous sklerosis Hipomelanosis ito Hiperpigmentasi Melasma Infeksi Bakteri Pseudomonas Eritrasma P. Acnes Jamur Dermatofites Tinea versicolor Kelainan porfirin

_____ Pseudomonas
Pseudomonas produksi pigmen pyoverdin / fluorescein berwarna kehijauan pada fluoresensi lampu Woods Fluoresensi terdeteksi saat jumlah bakteri mencapai 105/cm2

Infeksi Bakteri
Kelainan pigmentasi Hipopigmentasi Vitiligo Tuberous sklerosis Hipomelanosis ito Hiperpigmentasi Melasma Infeksi Bakteri Pseudomonas Eritrasma P. Acnes Jamur Dermatofites Tinea versicolor Kelainan porfirin

________ Eritrasma
Merupakan infeksi kulit yang disebabkan corynebacterium minutissimum produksi porfirin merah karang Infeksi ini sering ditemukan pada daerah lipatan paha

Infeksi Bakteri
Kelainan pigmentasi Hipopigmentasi Vitiligo Tuberous sklerosis Hipomelanosis ito Hiperpigmentasi Melasma Infeksi Bakteri Pseudomonas Eritrasma P. Acnes Jamur Dermatofites Tinea versicolor Kelainan porfirin

_________ P. Acnes
Fluoresensi berwarna merah oranye dapat ditemukan pada komedo di wajah yang disebabkan oleh porfirin Propionibacterium Acnes memproduksi coproporfirin

Infeksi Jamur
Kelainan pigmentasi Hipopigmentasi Vitiligo Tuberous sklerosis Hipomelanosis ito Hiperpigmentasi Melasma Infeksi Bakteri Pseudomonas Eritrasma P. Acnes Jamur Dermatofites Tinea versicolor Kelainan porfirin

______ Dermatofites
Fluoresensi terlihat pada daerah kulit dengan rambut yang rontok dan pada daerah intrafolikular saat rambut dicabut M. Audini, M. Canis, M. Distortum, M. Ferrugineum, M. Gypseum hijau terang (hijau kebiruan) Trichophyton Schoeleinii hijau tua T. Verrucosum & T. Tonsurans tidak terfluoresensi

Infeksi Jamur
Kelainan pigmentasi Hipopigmentasi Vitiligo Tuberous sklerosis Hipomelanosis ito Hiperpigmentasi Melasma Infeksi Bakteri Pseudomonas Eritrasma P. Acnes Jamur Dermatofites Tinea versicolor Kelainan porfirin

___ Tinea Versicolor


Lampu Woods berguna untuk menentukan parahnya infeksi yang disebabkan Malassezia Furfur Fluoresensi berwarna kuning muda sampai kuning oranye dapat ditemukan pada infeksi aktif

Kelainan Porfirin

Kelainan Porfirin
Kelainan pigmentasi Hipopigmentasi Vitiligo Tuberous sklerosis Hipomelanosis ito Hiperpigmentasi Melasma Infeksi Bakteri Pseudomonas Eritrasma P. Acnes Jamur Dermatofites Tinea versicolor Kelainan porfirin

Lampu Woods juga berguna dalam mendiagnosis porfiria dengan mendeteksi porfirin pada gigi, urin, sampel feses, dan darah. Pada porphyria cutanea tarda misalnya, urin penderita akan terfluoresensi berwarna merah muda oranye oleh lampu Woods

Kelainan Porfirin
Kelainan pigmentasi Hipopigmentasi Vitiligo Tuberous sklerosis Hipomelanosis ito Hiperpigmentasi Melasma Infeksi Bakteri Pseudomonas Eritrasma P. Acnes Jamur Dermatofites Tinea versicolor Kelainan porfirin

Reaksi ini dapat diperjelas dengan menambahkan 1.5 N HCl dengan volum yang sama pada tabung reaksi Sampel dari biopsi hati juga menunjukkan fluoresensi akibat akumulasi porfirin pada sel hati Sediaan feses perlu dicampur dengan amyl alkohol, asam asetat glasial, dan eter untuk hasil yang lebih baik

Kelainan Porfirin
Kelainan pigmentasi Hipopigmentasi Vitiligo Tuberous sklerosis Hipomelanosis ito Hiperpigmentasi Melasma Infeksi Bakteri Pseudomonas Eritrasma P. Acnes Jamur Dermatofites Tinea versicolor Kelainan porfirin

Gigi, urin, dan sumsum tulang menghasilkan fluoresensi berwarna merah pada porfiria kongenital atau penyakit Gunther

Penggunaan Lainnya
Pengobatan kimia Mendeteksi semen pada kulit Untuk pengobatan Memantau pemakaian krim pelindung pada pekerja Mengamati keefektifan pengobatan topikal