SNA°, SNB°, ANB°, NAPog°, MP:SN°, NSGn° Analisa Sefalometri

Kelompok A2

 Fajarini (100600046)  Jannah Keman (100600107)  Rosmi Alvida (100600053)  Beactris Lamria (100600060)  Diajeng Retno (100600035)  Richardo (100600094)  Ayu Maulida (100600080)  Sri Handayani (100600025)  Nurul Yunita (100600020)  May Fiona (100600085)  Rizky Puspita (100600101)  Mega Waty (100600096)  Khairullah (100600030)

 Dendy Dwirizki Gunawan (100600102)
 Atika Putri (100600005)  Fitri Aprianty (100600065)  Nurkamila Sari (100600013)  Ivan Poltak (100600092)

.  Diperkenalkan dalam bidang ortodonti  1930-an. Gambaran sefalometri  pertama kali diperkenalkan oleh Paccini tahun 1922.

 Analisis sefalometri akan menghasilkan lokasi referensi berupa titik. yaitu : -Frontal -Lateral Untuk menganalisis skeletal digunakan sefalometri lateral. garis. bidang dan sudut pada skeletal. .  Sefalometri terbagi 2.

 Mempelajari tipe fasial  Mempelajari pertumbuhan dan perkembangan kraniofasial  Prediksi pertumbuhan  Menganalisis kelainan kraniofasial  Mendiagnosa kasus  Merencanakan perawatan ortodonti  Menentukan prognosis  Evaluasi kasus yang telah dirawat  Penelitian .

.

 Sella (S): titik ditengah-tengah fossa pituitary (sella turcica)  Gonion (Go): titik perpotongan garis singgung margin posterior ramus asenden dan basis mandibula  Nasion (N/ Na): titik paling anterior sutura frontonasalis .

. disebut juga dengan supra mentalis. Orbitale (OR):  Point A: titik terdalam pada garis tengah antara spina nasal anterior dan crest alveolar serta berada diantara dua insisivus sentralis. disebut juga dengan subspinalis  Point B: merupakan titik pada garis tengah antara crest alveolar mandibula dan prosesus mentalis.

 Pogonion (Pog): titik paling anterior dari tulang dagu  Gnation (Gn): titik paling anterior dan paling inferior dagu  Menton (Me): titik paling inferior dari simfisis atau titik paling bawah dari mandibula .

.

.

Posisi antero-posterior maksila (NA) terhadap anterior basis kranial (SN) Normal: 80°-84° >: protrusi maksila (Klas II) < : retrusi masksila (Klas III) .

Posisi antero-posterior mandibula (NB) terhadap anterior basis kranial (SN) Normal: 78°-82° >: protusi mandibula (Klas III) < : retrusi mandibula (Klas II) .

Selisih antara sudut SNA° dan SNB° menjelaskan hubungan maksila dan mandibula Normal: 2°-4° > 4° : Klas II 2° < : Klas III .

menunjukkan kecembungan wajah. Rata-rata normal: -8.Persimpangan antara NA dan PogA.5°-10° minus (A lebih ke belakang)  cekung positif (Pog lebih ke belakang)  cembung .

. maka profil skeletal lurus.  Titik A di belakang N Pog. maka profil skeletal cembung ( kelas I & II ). maka profil skeletal cekung ( kelas III ). Titik A di depan N Pog.  Titik A berhimpit dengan N Pog.

Perpotongan antara bidang SN dan bidang Mandibula Rata-rata nilai MP:SN adalah 320  MP : SN > Normal ± 1 SD MP : SN < Normal ± 1 SD Klas II  Klas III .

Perpotongan antara bidang SN dan garis SGn. disebut juga sudut sumbu Y .

 Besar sudut N SGn min 53° .4°  Sudut ini lebih lebar pada struktur wajah kelas II dibandingkan dengan kelas III .maks 66°  Besar rata-rata 59.

 Iyyer B S. Orthodontics: The Art and Science. . 2006: 146-159. New Delhi: Arya (MEDI).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful