Anda di halaman 1dari 28

Oleh: KARUNITA YUSUF Stase Anestesi RS Islam Cempaka Putih

ANALGESIK DAN TATALAKSANA NYERI

PENDAHULUAN
Analgesic painkiller Dikenal banyak obat yang dapat digunakan untuk meredakan nyeri. Kata analgesik berasal dari An- (tanpa) dan Algos (sakit) Obat analgesik bekerja di saraf perifer juga di saraf sentral.
Analgetika atau obat penghalang nyeri adalah zat-zat yang mengurangi atau menghalau rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran

NYERI
Perasaan sensoris dan emosional yang tidak enak dan berkaitan dengan ancaman kerusakan jaringan. Keadaan fisik sangat mempengaruhi nyeri. Nyeri memiliki ambang pribadi setiap orang

memiliki ambang nyeri yang berbeda-beda Rasa nyeri merupakan suatu gejala yang berfungsi untuk melindungi tubuh Tanda peradangan, kejang otot, fraktur Rangsangan mekanis, kimiawi atau fisis kerusakan pada jaringan.

PERJALANAN NYERI
Rangsangan aktivasi reseptor nyeri disalurkan ke otak thalamus pusat nyeri aksi

PENGGOLONGAN ANALGESIK
Berdasarkan kerja farmakologis, dibagi menjadi : a. Analgetika perifer (non-narkotik)

yang terdiri dari obat-obat yang tdk bersifat narkotik dan tidak bekerja sentral b. Analgetika narkotik khusus digunakan untuk menghalau rasa nyeri hebat, seperti pada pembedahan, fraktur, dan kanker

PENANGANAN RASA NYERI


Berdasarkan proses terjadinya, rasa nyeri dapat

dilawan dengan beberapa cara, yakni: a. Merintangi terbentuknya rangsangan pada reseptor nyeri perifer dengan analgetika perifer b. Merintangi penyaluran rangsangan di sarafsaraf sensoris, misalnya dengan anastetika lokal c. Blokade pusat nyeri di SSP dengan anestetika sentral (narkotika) atau dengan anestetik umum.

Pada penanganan nyeri, faktor-faktor fisik

juga harus diperhatikan, misalnya, kesabaran pasien, dan daya tahan terhadap nyeri. Nyeri Ringan : obat perifer ; paracetamol, asetosal, mefenaminat, propifenazon atau aminofenazon. Nyeri Sedang : dapat ditambahkan kofein atau kodein Nyeri Hebat : morfin atau opiat lainnya.

ANALGETIKA PERIFER-NON NARKOTIK


Secara kimiawi, analgetika perifer dapat di bagi dlm beberapa kelompok a. paracetamol b. salisilat : asetosal, salisilamida, benorilat c. penghambat prostaglandin (NSAID) : ibuprofen d. derivat2 antranilat : mefenaminat e. derivat2 pirazolinon : aminofenazon, isopropilfenazon f. lainnya : benzidamin

PENGGUNAAN
Obat ini mampu mengurangi atau menghilangkan rasa nyeri tanpa mempengaruhi SSP atau menurunkan

kesadaran, juga tdk menimbulkan ketagihan. Kebanyakan zat ini juga berdaya antipiretis/anti radang Banyak digunakan pada nyeri ringan sampai sedang 9sakit gigi, cephalgia, dan myalgia.

1. Paracetamol
Merupakan metabolit dari fenasetin dulu banyak digunakan sebagai analgetik. Nefrotoksis dan karsinogen Resorpsinya di usus sangat cepat. Dalam hepar, zat ini diuraikan menjadi metabolit toksik yang dieksresi oleh urin. Dosis untuk nyeri dan demam :
Dewasa : 2-3 dd 500-1000 mg/hari Anak : 4-6 dd 10 mg/kg

2. Asam Asetilsalisilat
Asetosal adalah obat anti nyeri paling tua yang sampai sekarang banyak digunakan.
Resorpsinya cepat dan lengkap terutama di

duodenum. Asam sebagian diserap di lambung Efek:


Mulai Masa kerja

: 30 menit pertama : 3-6 jam

Efek samping :
iritasi mukosa lambung dan occult. Alergi kulit

Tinnitus
Kejang bronkus

Dosis nyeri :
Dewasa : 4 dd 500-1000 mg p.c
Anak2 : 3-4 dd 10 mg/kgBB

3. Aminofenazon
Merupakan derivat pirazolinon antiradang, antipiretik, dan antinyeri
Resorpsi

: usus halus Mulai kerja : 30-45 menit Efek samping : borok kecil di mulut, nyeri tenggorokan, dan demam Dosis : 3 dd 300-600 mg/hari

ANALGETIKA NARKOTIK
Kini disebut apioida (mirip opiat) Analgesik opioid merupakan kelompok obat

yang memiliki sifat seperti opium. Opium yang berasal dari getah Papaver somniferum mengandung sekitar 20 jenis alkaloid diantaranya morfin, kodein, tebain, dan papaverrin. Analgesic opioid meredakan atau menghilangkan rasa nyeri, meskipun juga memperlihatkan berbagai efek farmako dinamik yang lain.

PENGGOLONGAN
Atas dasar cara kerjanya, obat ini dibagi

dalam 3 golongan: a. agonis opiat, yang dapat dibagi dalam : - alkaloida candu : morfin, kodein, heroin - zat2 sintesis : metadon, petidin, fentanil b. antagonis opiat, nalokson, nalorfin c. kombinasi. Zat-zat ini juga mengikat pada reseptor opioid

MEKANISME KERJA
Endorfin bekerja dengan jalan menduduki reseptor2 nyeri di SSP perasaan nyeri dpt di blokir. Khasiat analgetika opioid berdasarkan kemampuannya untuk menduduki sisa2 reseptor nyeri yang belum ditempati endorfin. Tapi, bila analgetika tsb digunakan terus menerus, pembentukan reseptor2 baru di stimulasi dan produksi endorfin di ujung saraf otak dirintangi . Akibatnya kebiasaan dan ketagihan

TANGGAL ANALGETIKA
Who telah menyusun suatu program penggunaan analgetika untuk nyeri hebat, yang menggolongkan obat ke dalam 3 kelas, yaitu:

a. non-opioida: NSAIDs termasuk asetosal dan kodein b. opioida lemah : d-propoksifen, tramadol, kodein c. opioida kuat : morfin

Menurut program ini: Pertama2 diberikan 4 dd 1000 mg paracetamol, bila efeknya kurang,, beralih ke 4-6 dd kodein 30-60 mg (bersama paracetamol) Bila langkah kedua tidak menghasilkan analgesik kuat dapat diberikan opioid. Pilihan pertama adalah morfin Tujuan utama cara ini adalah untuk menghindari adiksi dan ketergantungan bila obat diberikan sembarangan.

EFEK-EFEK SAMPING UMUM


Morfin dan sejumlah opioida lainnya menimbulkan sejumlah besar efek samping yang tidak diinginkan, yaitu: Supresi SSP
Kontraksi saluran cerna Gang. Saluran urogenital bronchostriksi Bradikadi dan vasodilatasi

1. MORFIN
Morfin mengandung dua kelompok alkaloida yang

secara kimiawi sangat berlainan. Sat ini berkhasiat analgetis yang sangat kuat dan memiliki banyak jenis kerja sntral lainnya, antara lain:

sedatif dan hipnotik Euforia Menekan pernafasan Menghilangkan refleks batuk Mual muntah Eksitasi Konvulsi Obstipasi Retensi kemih Vasodilatasi pembuluh darah

Penggunaannya khusus pada nyeri hebat dan kronis, seperti pasca bedah dan setelah infark jantung, juga pada fase terminal kanker. Resorpsinya cukup baik di usus. Mulai kerjanya 1-2 jam dan bertahan sampai 7 jam. Spposutoria baik IM dan IV jauh lebih baik. Pada hepar zat ini diubah menjadi glukorunida dan sebagian kecil menjadi (3%) morfin-6-glukuronida kerja analgesinya lebih kuat.
Dosis dewasa : 3-6 dd 10-20 mg Anak2 : 2 dd 0,1-0,2 mg/kg

2. Kodein
Alkaloida candu ini memiliki khasiat yang sama dengan induknya, tetapi lebih lemah, misalnya efek analgesing 6-7 x kurang kuat. Efek samping dan risiko adiktif kurang, sehingga sering digunakan sebagai obat batuk dan pereda nyeri, yang diperkuat

melalui kombinasi dengan parasetamol/asetosal.

Efek samping : obstipasi dan mual Resorpsi oral dan rektal baik Dosis oral pada nyeri:
Dewasa Anak

: 3-6 dd 15-60 mg : 4-6 dd 10-20 mg

3. Fentanil
Derivat piperidin turunan dari petidin. Efek analgetis agonis opiat ini 80x lebih kuat daripada morfin. Mula kerja 2-3 menit (I.V) tapi masanya singkat 30 menit. Efek samping : mirip morfin

Depresi pernafasan Broncospasme Kekakuan otot (thorax) Jarang bradicardi

Dosis : pada invark I.V 0,05 mg +2,5 mg droperidol, bila perlu diulang setelah setengah jam. Sufentanil derivat dengan analgesik 10 x lebih kuat. Sifat dan efek samping sama dengan fentanil Zat ini terutama digunakan pada waktu anestesi dan pasca bedah, juga pada waktu his dan persalinan Dosis : pada waktu his dan persalinan epidural 10 mg bersama bupivacain bila perlu ulang 2 kali.

4. Metadon
Zat sintetis ini adalah suatu campuran resemis yang memiliki daya analgetik 2x lebih kuat daripada morfin dan berkhasiat anastetik lokal. Resorpsinya di usus baik. Umumnya metadon tdk menimbulkan euforia , sehingga banyak digunakan sebagai pengganti obat lain Secara khusus pengganti heroin dan morfin pada terapi substitusi pecandu narkoba. Dosis nyeri :
Oral : 4-6 dd 2,5-10 mg max: 150 mg/hari

5. Tramadol
Analgetika opiat Tdk menekan pernafasan dan tdk pengaruh pd kardiovaskuler

dan motilitas lambung usus. Efek analgetik dari 120 mg tramadol = 30-60 mg morfin Digunakan untuk nyeri yang tdk terlalu hebat. Efek samping:

Berkeringat Pusing Mulut kering Mual dan muntah Gatal-gatal kemerahan Cephalgia Myalgia
Dewasa Anak2 : 3-4 dd 50-100 mg : 3-4 dd 1-2 mg/kg

Dosis :

TERIMA KASIH