Anda di halaman 1dari 16

Kuliah Pengadaan Tanah

Oleh; Dr. Azmi Fendri, SH.,M.Kn.

Dasar Hukum
UUPA UU No. 51 Prp Tahun 1960 tentang Larangan Pemakaian Tanah Tanpa Izin yang Berhak atau Kuasanya UU No. 20 Tahun 1961 tentang Pencabutan HakHak Atas Tanah dan Benda-Benda yang ada di Atasnya UU No. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang Perpres No. 36 Th 2005 jo Perpres No. 65 Tahun 2006 ttg pengadaan Tanah Untuk Pembangunan Kepentingan Umum

Pengertian Pengadaan Tanah


Psl 1 angka 3 Perpres No. 65 Tahun 2006; Pengadaan tanah adalah setiap kegiatan untuk mendapatkan tanah dengan cara memberikan ganti rugi kepada yg melepaskan atau menyerahkan tanah bangunan, tanaman, dan benda-benda yg berkaitan dengan tanah

Psl 2 ayat (1) Perpres No. 65 Tahun 2006; Pengadaan tanah untuk kepentingan umum oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah dilaksanakan dg cara pelepasan atau penyerahan hak atas tanah Psl 2 ayat (2) Perpres No. 65 Tahun 2006; Pengadaan tanah selain bagi pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah dilakukan dg cara jual beli, tukar menukar, atau cara lain yg disepakati oleh pihak-pihak yg bersangkutan Psl 3 Perpres No. 65 Tahun 2006; Pelepasan atau penyerahan hak atas tanah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 dilakukan berdasarkan prinsip penghormatan terhadap hak atas tanah.

Pembangunan untuk kepentingan umum (Psl 5 Perpres No. 65 Tahun 2006)


Jalan umum dan jalan tol, rel kereta api (diatas tanah, di ruang atas tanah, ataupun di ruang bawah tanah), saluran air minum/air bersih, saluran pembuangan air dan sanitasi; Waduk, bendungan, bendungan irigasi, dan bangunan pengairan lainnya; Pelabuhan, bandar udara, stasiun kereta api, dan terminal Fasilitas keselamatan umum, seperti tanggul penanggulangan bahaya banjir, lahar, dan lain-lain bencana Tempat pembuangan sampah Cagar alam dan cagar budaya Pembangkit, transmisi, distribusi tenaga listrik

Tata cata pengadaan tanah (Psl 6)


Pengadaan tanah untuk kepentingan umum di wilayah kabupaten/kota dilakukan dengan bantuan panitia pengadaan tanah kabupaten/kota yg dibentuk oleh bupati/walikota Panitian Pengadaan tanah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta dibentuk oleh Gubernur Pengadaan tanah yg terletak di dua wilayah kabupaten/kota atau lebih, dilakukan dg bantuan panitian pengadaan tanah provinsi yg dibentuk oleh Gubernur Pengadaan tanah yg terletak di dua wilayah provinsi atau lebih, dilakukan dengan bantuan panitia pengadaan tanah yg dibentuk oleh Menteri Dalam Negeri yg terdiri-dari unsur Pemerintah dan unsur Pemerintah Daerah terkait Susunan keanggotaan panitia pengadaan tanah terdiri-dari dari unsur perangkat daerah terkait dan unsur Badan Pertanahan Nasional

Tugas panitia pengadaan tanah (Psl 7 Perpres No. 65 Tahun 2006)


Mengadakan penelitian dan inventarisasi atas tanah, bangunan, tanaman dan benda-benda lain yg ada kaitannya dengan tanah yg haknya akan dilepaskan atau diserahkan Mengadakan penelitian mengenai status hukum tanah yg haknya akan dilepaskan atau diserahkan dan dokumen yg mendukungnya Menetapkan besarnya ganti rugi atas tanah yg haknya akan dilepaskan atau diserahkan Memberikan penjelasan atau penyuluhan kepada masyarakat yg terkena rencana pembangunan melalui tatap muka, media cetak dan media elektronik Mengadakan musyawarah dengan para pemegang hak atas dan instansi Pemerintah/Pemerintah Daerah yg memerlukan tanah dalam rangka menetapkan bentuk dan besaran ganti rugi Menyaksikan pelaksanaan penyerahan ganti rugi kepada pemegang hak atas tanah, bangunan, tanaman, benda-benda lain yg ada di atas tanah Membuat berita acara pelepasan atau penyerahan hak atas tanah Mengadministrasikan dan mendokumentasikan semua berkas pengadaan tanah yg menyerahkan kepada pihak yg berkompeten

Psl 10 ayat (1) Perpres No. 65 Tahun 2006; Dalam hal kegiatan pembangunan untuk kepentingan umum yg tidak dapat dialihkan atau dipindahkan secara teknis tata ruang ketempat lain, maka musyawarah dilakukan dalam jangka waktu 120 hari kelender terhitung sejak tanggal undangan pertama Pasal 10 ayat (2) Perpres No. 65 Tahun 2006; Apabila setelah diadakan musyawarah tidak tercapai kesepakatan, panitia pengadaan tanah menetapkan besarnya ganti rugi dan menitipkan ganti rugi uang kepada pengadilan negeri yg wilayah hukumnya meliputi lokasi tanah yg bersangkutan

Bentuk ganti rugi (Psl 11 Perpres No. 65 Tahun 2006)


Uang, dan/atau Tanah pengganti, dan/atau Pemukiman kembali, dan/atau Gabungan dari dua atau lebih bentuk ganti rugi Bentuk lain yg disetujui oleh pihak-pihak yg bersangkutan

Dasar perhitungan besarnya ganti rugi (Psl 15 Perpres No. 65 Tahun 2006)
Nilai jual Obyek Paja (NJOP) atau nilai nyata/sebenarnya dg memperhatikan NJOP Tahun berjalan berdasarkan penilaian Lembaga/Tim Penilai Harga Tanah yg ditunjuk oleh panitia Nilai jual bangunan yg ditaksir oleh perangkat daerah yg bertanggung jawab di bidang bangunan Nilai jual tanaman yg ditaksir oleh perangkat daerah yg bertanggung jawab di bidang pertanian

Penolakan ganti rugi oleh pemegang hak atas tanah


Apabila yg berhak atas tanah atau benda-benda yg ada di atasnya yg haknya dicabut tidak bersedia menerima ganti rugi sebagaimana ditetapkan dalam Keputusan Presiden, karena dianggap jumlahnya kurang layak, maka yg bersangkutan dapat mengajukan banding kepada Pengadilan Tinggi agar menetapkan ganti rugi sesuai dg UU No. 20 Tahun 1961, dan Peraturan Pemerintah No. 39 Tahun 1973 tentang acara Penetapan ganti kerugian oleh Pengadilan Tinggi Sehubungan dg Pencabutan Hak-Hak Atas tanah dan Benda-Benda yg ada di Atasnya

Tata Cara Mengajukan Banding


Permintaan banding diajukan kepada Pengadilan tinggi yg daerah kekuasaannya meliputi tanah dan benda-benda yg haknya dicabut, selambat-lambatnya 1 bulan terhitung sejak tgl Keputusan Presiden diterima atau disampaikan kepada yg bersangkutan Permintaan banding disampaikan dg surat atau dg lisan kepada Panitera Pengadilan Tinggi, yg kemudian panitera mencatat dalam buku catatan tentang permintaan banding yg diajukan Permintaan banding diterima apabila terlebih dahulu membayar biaya perkara yg ditetapkan oleh PT Selambat-lambatnya dalam waktu 1 bulan setelah diterimanya permintaan banding, perkara tersebut harus sudah diperiksa oleh PT yg bersangkutan untuk mendapatkan putusan yg secepatcepatnya Putusan PT diberitahukan kepada pihak-pihak ybs selambatlambatnya 1 bulan setelah tanggal putusan perkara

Pencabutan Hak Atas Tanah dapat dilakukan;


Dalam acara biasa Dalam keadaan mendesak

Dalam acara biasa


Yg berkepentingan mengajukan permintaan untuk melakukan pencabutan hak kepada Presiden, dg perantaraan Menteri Agraria, melaui Kepala Inspeksi Agraria ybs Oleh Kepala Inspeksi Agraria diusahakan supaya permintaan itu dilengkapi dg pertimbangan para Kepala Daerah ybs dan taksiran ganti rugi Kemudian permintaan itu bersama dg pertimbangan Kepala Daerah dilanjutkan oleh Kepala Inspeksi Agraria kepada Menteri Agraria Menteri Agraria mengajukan permintaan tadi kepada Presiden untuk mendapat keputusan disertai dg pertimbangannya dan pertimbangan Menkeh, serta menteri yg terkait dg dilakukanPencabutan Hak Atas Tanah

Dalam keadaan mendesak


Maka pencabutan hak, khususnya penguasaan tanah/atau benda-benda itu dapat diselenggarakan melalui acara khusus yg lebih cepat. Keadaan mendesak, misalnya; terjadi wabah atau bencana alam yg memerlukan penampungan korban dg segera, artinya Kepala Inspeksi agraria dapat mengajukan permintaan pencabutan hak kepada Menteri Agraria tanpa terlebih dahulu menilai dari Tim Penaksir dan tanpa pertimbangan Kepala Daerah

Subyek Pemohon untuk mengajukan permintaan pencabutan hak-hak atas tanah


Instansi-instansi pemerintah/badan-badan pemerintah Pihak swasta dimana rencana proyeknya harus disetujui oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah