Anda di halaman 1dari 17

PEMBUATAN BIODIESEL

DISUSUN OLEH : Leedsey Hosanna (53081003001) Dwi Aprillia Kristiana (53081003021) Risma Arqomah (53081003022) Mutia Yurida (53081003024) Dosen Pengasuh : David Bahrin, ST, MT

Kerangka Presentasi
Latar Belakang Sejarah Manfaat Biodiesel Proses Pembuatan Biodiesel Pemilihan Proses Sifat Fisik dan Kimia Deskripsi Pembuatan Kesimpulan

Latar Belakang
Biodiesel secara umum adalah bahan bakar mesin diesel yang terbuat dari bahan terbarukan atau secara khusus merupakan bahan bakar mesin diesel yang terdiri atas ester alkil dari asam-asam lemak. Biodiesel dapat dibuat dari minyak nabati, minyak hewani atau dari minyak goreng bekas/daur ulang. Bahan baku biodiesel yang berpotensi besar di Indonesia untuk saat ini adalah minyak mentah kelapa sawit (Crude Palm Oil atau CPO), dimana produksi kelapa sawit sangat tinggi di Indonesia.

Sejarah
Gagasan awal dari perkembangan biodiesel adalah dari kenyataan yang terjadi di Amerika pada pertengahan tahun 80-an. Pada tahun tersebut petani kedelai kebingungan memasarkan kelebihan produk kedelainya dan anjlok, harga kedelai di pasar. Dengan bantuan pengetahuan yang berkembang saat itu, serta dukungan pemerintah setempat, petani mampu membuat bahan bakar sendiri dari minyak kedelai menjadi bahan bakar diesel yang lebih dikenal dengan biodiesel. Produk biodiesel dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk alat-alat pertanian dan transportasi mereka.

Manfaat Biodiesel
Dihasilkan dari sumber daya energi terbarukan dan ketersediaan bahan

bakunya terjamin
Cetane number tinggi (bilangan yang menunjukkan ukuran baik tidaknya

kualitas solar berdasar sifat kecepatan bakar dalam ruang bakar mesin)
Viskositas tinggi sehingga mempunyai sifat pelumasan yang lebih baik

daripada solar sehingga memperpanjang umur pakai mesin


Dapat diproduksi secara lokal Mempunyai kandungan sulfur yang rendah Menurunkan emisi gas buang Pencampuran biodiesel dengan petroleum diesel dapat meningkatkan

biodegradibility petroleum diesel sampai 500 %

Proses Pembuatan Biodiesel


Proses Pyrolisis Micro-Emulsification Proses Esterifikasi-Transesterifikasi

Proses Pyrolisis

Pyrolisis merupakan perubahan reaksi secara kimia dengan memanfaatkan energi panas (thermal energy). Biodiesel (fatty acid methyl ester) yang dihasilkan dari proses secara pyrolisis memiliki angka cetane yang tinggi, viskositas yang rendah. Namun, pyrolisis trigliserida dari minyak sayur menghasilkan sulfur air dan sediment yang merugikan (Syah, 2006).

Micro-Emulsification

Merupakan proses pembentukan emulsi dengan menggunakan solvent seperti metanol, etanol, 1 butanol. Proses ini ditujukan untuk mengatasi tingginya nilai viskositas minyak nabati sehingga mendekati nilai viskositas bahan bakar motor diesel yang berasal dari produk minyak bumi. Beberapa kekurangan dari proses emulsifikasi ini diantaranya seperti terjadinya deposit karbon yang tinggi, pembakaran (combustion) yang tidak memuaskan, dan peningkatan nilai viskositas pada pemberian minyak (lubricating oil).

Proses Esterifikasi-Transesterifikasi

1) Proses Esterifikasi Prinsip utama proses ini adalah reaksi esterifikasi adsorbsi methanol dan desorbsi air secara simultan. Reaksi berlangsung pada tekanan udara atmosfer dengan temperatur berkisar antara 200250oC. Reaksi esterifikasi merupakan reaksi kesetimbangan, sehingga air hasil reaksi harus dibuang secara terus menerus untuk mendapatkan Methyl Ester dengan yield yang tinggi. Reaksi berlangsung di kolom reaksi yang counter-current setelah bahan baku fatty acid dipanaskan terlebih dahulu dan melewati kolom destilasi. Methyl Ester yang dihasilkan memiliki nilai asam (acid value) sekitar 0,5.

2) Proses Transesterifikasi Transesterifikasi dengan golongan alkohol rendah menjadi proses pembuatan biodiesel yang ideal. Reaksi antara Trigliserida dengan alkohol menghasilkan gliserol dan ester asam lemak (Fatty Acid Methil Ester) pertama kali dijelaskan pada tahun 1852. Reaksi berlangsung pada temperatur 80180oC dengan tekanan antara 1 - 30 atm (Duffy, 1852).

Pemilihan Proses
Beberapa pertimbangan sbb :
1. Proses transesterifikasi mempunyai konversi yang

tinggi (>99%), sedangkan pada proses esterifikasi memiliki konversi lebih kecil dari 99 %.
2. Reaksi berlangsung pada temperatur tidak terlalu

tinggi, yaitu 60o-180o C.


3. Proses transesterifikasi tidak diperlukan pendahuluan

untuk menghilangkan kemungkinan masih terkandungnya asam lemak bebas pada bahan baku.

Sifat Fisik dan Kimia


Bahan Baku

1. Fatty Acid Trigliserida (Crude Palm Oil) Rumus Molekul : C3H5(COO)3C49H92(COOH)3 Berat Molekul: 836 Kg/kmol Titik Lebur : 339,55 K Titik Didih : 571,15 K Wujud : Cair pada suhu kamar Density : 880 kg/m3 Hf(298) : -504,5 kJ/kmol SPGR: 0,890(80/4C) Sifat kelarutan : Tidak larut dalam air

Produk

1. Fatty Acid Methyl Ester (FAME) Rumus Molekul : C49H92(COOH)3(COOCH3)3 Berat Molekul: 280 Kg/Kmol Titik Lebur : 313,15 K Titik Didih : 485,15 K Wujud : Cair pada suhu kamar Density : 880 kg/m3 Hf(298) : -665,253 kJ/kmol Tkritis Pkritis : 850 K : 65,69 atm

Deskripsi Proses
Bahan baku CPO dari tangki (T-01) dipanaskan terlebih dahulu dengan Preheater (PH-01) dan Metanol dari tangki (T-02) dipanaskan terlebih dahulu dengan Preheater (PH-02) sampai mencapai temperatur operasi dan kemudian dialirkan ke Reaktor (R-01) yang berisi katalis CaO. Reaksi berlangsung secara eksotermis pada suhu 60 oC dan tekanan 1 atm dengan konversi 80,66 %. Campuran produk dari Reaktor (R-01) dialirkan menuju Dekanter (DC-01). Pada Dekanter (DC-01) terjadi pemisahan campuran produk utama dengan gliserol. Campuran produk utama akan keluar pada bagian atas kolom Dekanter (DC-01) dan menuju Reaktor (R-02) yang berisi katalis CaO, sedangkan gliserol akan keluar dari bagian bawah kolom Dekanter (DC-01) yang didinginkan terlebih dahulu dengan Cooler (C01) dan selanjutnya menuju ke Tangki (T-03). Pada Reaktor (R-02), ditambahkan metanol dari Tangki (T-02) yang dipanaskan terlebih dahulu dengan Preheater (PH-03). Campuran produk dari Reaktor (R-02) dialirkan menuju Dekanter (DC-02). Pada Dekanter (DC-02) terjadi pemisahan campuran produk utama dengan gliserol. Campuran produk utama akan keluar pada bagian atas kolom Dekanter (DC-02) dan menuju Kolom Distilasi (KD-01), sedangkan gliserol akan keluar dari bagian bawah kolom Dekanter (DC-02) yang didinginkan terlebih dahulu dengan Cooler (C-02) dan selanjutnya menuju ke Tangki (T-04). Sebelum masuk Kolom Distilasi (KD-01), campuran produk keluaran bagian atas kolom Dekanter (DC-02) dipanaskan terlebih dahulu dengan Preheater (PH-04). Pada Kolom Distilasi (KD-01) terjadi pemisahan antara metanol dan FAME (produk). Metanol akan keluar pada bagian atas Kolom Distilasi (KD-01) yang didinginkan terlebih dahulu dengan Cooler (C-03) dan selanjutnya di ditampung ke Tangki metanol (T-05) sedangkan FAME (produk) akan keluar dari bagian bawah kolom distilasi (KD-01) yang didinginkan terlebih dahulu dengan Cooler (C-04) dan Cooler (C-05) kemudian dialirkan menuju Tangki (T-06).

Kesimpulan

Biodiesel secara umum adalah bahan bakar mesin diesel yang terbuat dari bahan terbarukan atau secara khusus merupakan bahan bakar mesin diesel yang terdiri atas ester alkil dari asam-asam lemak. Biodiesel dapat dibuat dari minyak nabati, minyak hewani atau dari minyak goreng bekas/daur ulang. Bahan baku biodiesel yang berpotensi besar di Indonesia untuk saat ini adalah minyak mentah kelapa sawit (Crude Palm Oil atau CPO). Biodiesel memiliki Cetane number tinggi (bilangan yang menunjukkan ukuran baik tidaknya kualitas solar berdasar sifat kecepatan bakar dalam ruang bakar mesin). Ada Tiga proses pembuatan biodiesel yaitu pyrolysis, mikroemulsifikasi, dan esterifikasi-transesterifikasi. Bahan Baku pembuatan Biodiesel yaitu Fatty Acid Trigliserida (Crude Palm Oil), Methanol, Kalsium Klorida, Silika, Air dan Produk yang dihasilkan Fatty Acid Methyl Ester (FAME) dan gliserol.

TERIMA KASIH...!