Anda di halaman 1dari 20

Titrasi Pengendapan

Pembahasan dibatasi pada garam perak Buat grafik hub antara pCl vs mL AgNO3 dengan kelarutan AgCl = 1 x 10-5 jika diketahui 50 mL NaCl 0,1 M ditambah/dititrasi dengan 0,1 AgNO3 (penambahan volume AgNO3 adalah 0; 10; 49,9; 50; dan 60 mL Catatan pCl = -log [Cl-] dan pAg = -log [Ag+] Ksp = 1,56 x 10-10

Tipe-tipe titrasi pengedapan yang melibatkan perak


Metode Mohr menggunakan ion kromat sebagai indikator dapat digunakan untuk menentukan kandungan Cl-, Br- dan CN Metode Volhard didasarkan pada pengendapan perak tiosianat ion besi (III) mendeteksi kelebihan tiosianat. Metode Fajans Menggunakan indikator adsorpsi

Metode Mohr
Digunakan indikator Na2CrO4 Terbentuk Ag2CrO4 warna merah bata Kondisi harus netral Terlalu basa AgO2 Terlalu asam titik akhir tidak terlihat karena konsentrasi CrO42-, terjadi reaksi antara H dan CrO42- membentuk HCrO4-

Jika larutan Ag+ ditambahkan ke dalam larutan Cl- yang mengandung sedikit CrO42maka AgCl akan mengendap lebih dulu, sementara itu Ag2CrO4 belum terbentuk, dan [Ag+] naik hingga hasilkali kelarutan melampaui Ksp Ag2CrO4 (2,0 x10-12) sehingga terbentuk endapan merah

Metode Volhard

Dasar reaksi

Reaksi harus dalam kondisi asam, kenapa???????

Video ini menunjukkan titrasi pengendapan klorida menggunakan perak nitrat dan diklorofluoresein sebagai indikator, proses atau dikenal sebagai metode Fajans

Metode Fajans
Titrasi Fajans menggunakan indikator adsorpsi, yakni senyawa organik yg teradsorpsi ke permukaan padat endapan (koloidal) selama proses titrasi berlangsung. Contoh : Fluoresens sbg anion fluoresenat (hijau kuning) bereaksi dg Ag+ membentuk endapan merah intensif yg teradsorpsi ke permukaan endapan koloidal krn adanya pasangan muatan ion.

Adsorpsi senyawa organik berwarna pada permukaan endapan dapat menginduksi pergeserana elektronik intramolekuler yang mengubah warna. Gejala tsb digunakan untuk mendeteksi titik akhir titrasi pengendapan garam-garam perak

Fluoresein adalah asam organik lemah, membentuk anion fluoreseinat yang tidak dapat diadsorpsi oleh endapan koloidal AgCl selama Cl- berlebih. Akan tetapi saat Ag+ berlebih akan terjadi adsorpsi anion fluoreseinat ke lapisan Ag+ yang melapisi endapan, diikuti dengan perubahan warna menjadi pink

Faktor-faktor yang dipertimbangkan dalam memilih indikator adsorpsi


Pada TE jangan dibiarkan AgCl menggumpal menjadi partikel besar, karena akan menurunkan dengan tajam daya adsorpsi permukaan endapan terhadap indikator. Adsorpsi indikator harus mulai terjadi sesaat sebelum TE dan makin cepat pada TE. Indikator yang jelek performansinya akan teradsorpsi kuat sehingga mensubstitusi ion-ion yang telah teradsorpsi sebelum TE pH larutan harus terkontrol agar dapat mempertahankan konsentrasi ion dari indikator asam lemah ataupun basa. Misalnya, fluoresein (Ka = 10-7) dalam larutan yang lebih asam dari pH 7 melepas fluoreseinat sangat kecil sehingga perubahan warna tidak dapat diamati. Fluoresein hanya dapat digunakan pada pH 7-10, sedangan difluoresein (Ka=10-4) digunakan pada pH 4-10.

Sebaiknya dipilih ion indikator yang muatannya berlawanan dengan ion penitrasi. Adsorpsi indikator tidak terjadi sebelum terjadi kelebihan titran. Pada titrasi Ag+ dengan Cl- dapat digunakan metil violet (garam klorida dari suatu basa organik) sebagai indikator adsorpsi. Kation tidak teradsorpsi sebelum terjadi kelebihan Cl-dan koloid bermuatan negatif

Metil Violet

Flouresen

COO-

HO

O +

OH

DIKLOROFLORESEIN

EROSIN

COO-

COO-

Cl

Cl

Br

Br

HO

O +

OH

HO Br

O + Br

OH

Contoh
Larutan perak nitrat distandarisasi dengan menggunakan NaCl murni. Sebanyak 31,20 mL larutan perak nitrat digunakan untuk titrasi NaCl sejumlah 0,1550 g (BM = 58,44 g/mol). Larutan perak nitrat yang sama juga digunakan untuk titrasi campuran NaCl dan KCl (BM = 74,56 g/mol). Sebanyak 0,1400 g campuran NaCl dan KCl dititrasi dengan 24,70 mL larutan AgNO3 untuk mencapai titik akhir titrasi.
1. Berapakah konsentrasi larutan AgNO3 ? 2. Berapakah berat NaCl dalam sampel campuran ?