Anda di halaman 1dari 51

PEREGANGAN OTOT DAN MOBILISASI SARAF SETELAH LATIHAN LEBIH EFEKTIF DIBANDINGKAN SEBELUM LATIHAN DALAM MENGURANGI GEJALA

DAN TANDA DELAYED ONSET MUSCLE SORENESS OTOT OTOT TUNGKAI ATAS

ARI SUDARSONO
0990361007

PROGRAM MAGISTER FISIOLOGI LATIHAN UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR

PENDAHULUAN

Delayed Onset Muscle Soreness adalah keluhan pegal otot yang paling banyak dikeluhkan olah orang yang berolahraga baik orang yang berolahraga untuk rekreasi ataupun atlet sekalipun Hampir selalu dalam berolahraga rangkaian latihan yang dilakukan berupa: Pemanasan, latihan inti dan pendinginan Setiap selesai latihan jika dirasa ada otot yang cedera, maka biasanya mereka yang berolahraga akan melakukan kompres es atau massage bagian yang cedera Gerakan pada olahraga permainan termasuk bola basket yang paling banyak adalah gerakan yang melibatkan otot-otot pinggang bawah, tungkai dan kaki sehingga lebih sering terkena cidera

1 Apakah pemberian peregangan dan mobilisasi saraf sebelum latihan


dapat mengurangi gejala dan tanda DOMS otot-otot tungkai atas? 2 Apakah pemberian peregangan dan mobilisasi saraf setelah latihan dapat mengurangi gejala dan tanda DOMS otot-otot tungkai atas? 3 Manakah dari kedua intervensi tersebut yang dapat mengurangi gejala dan tanda DOMS otot-otot tungkai atas

Tujuan Umum

Untuk mengetahui pengurangan gejala dan tanda DOMS bila dilakukan peregangan dan mobilisasi saraf setelah latihan sebagai program pendinginan. Untuk mengetahui pengurangan gejala dan tanda DOMS bila dilakukan peregangan dan mobilisasi saraf setelah latihan Untuk mengetahui pengurangan gejala dan tanda DOMS bila dilakukan peregangan dan mobilisasi saraf sebelum latihan. Untuk mengetahui perbedaan hasil pengurangan gejala dan tanda DOMS antara peregangan dan mobilisasi saraf setelah latihan dan sebelum latihan

Tujuan Khusus

Manfaat dalam teoritis: Sebagai rujukan bagi peneliti lain dan masyarakat yang ingin mengurangi gejala dan tanda DOMS setelah latihan Manfaat praktis: Bermanfaat sebagai bahan acuan dalam memilih intervensi yang diberikan setelah program latihan untuk mengurangi gejala dan tanda DOMS

Pengertian Delayed Onset Muscle Soreness:

Delayed Onset Muscle Soreness (DOMS) adalah gangguan pada jaringan otot berupa peningkatan tonus, rasa pegal dan nyeri serta penurunan kemampuan fungsi yang terjadi minimal 24 jam setelah latihan dengan intensitas tinggi

Cara mengetahui DOMS:


1. Kemampuan lompat (jump performance) 2. Pengukuran lingkar paha (thigh circumference) 3. Ambang Nyeri tekan/ Pressure pain threshold (PPT)

Faktor yang menyebabkan DOMS:

- Latihan dengan kontraksi eksentrik yang intensif - Tidak melakukan pemanasan sebelum latihan - Tidak melakukan pendinginan setelah latihan

Peregangan/ Stretching
Adalah teknik manual terapi berupa penguluran jaringan kontraktil dan jaringan lunak lain Ada berbagai macam teknik, antara lain - Pasif Streching; PNF Stretching, Forced Streching - Active Stretching; Ballistic Stretching Mobilisasi saraf/ Neural Mobilization Adalah teknik manual terapi berupa penguluran jaringan syaraf-syaraf tepi yang mensyarafi otot mulai dari akar syaraf yang keluar dari spinal sampai ujung yaitu di Neuro Muscular Junction

F. INTERNAL:
Inflamasi akut jaringan otot Genetik

LATIHAN BOLA BASKET

F. EKSTERNAL

BEBAN PADA JAR. OTOT


PEREGANGAN DAN MOBILISASI SYARAF SETELAH LATIHAN PEGAL OTOT YANG TERLAMBAT MUNCUL (DOMS) BERKUANG

Kurangnya pemanasan Kurangnya pendinginan Latihan yang tidak lazim atau fokus terus menerus pada grup otot tertentu

KEBUGARAN FISIK

1.

Ada pengaruh pemberian peregangan dan mobilisasi saraf sebelum latihan dalam mengurangi gejala dan tanda DOMS otot otot tungkai atas

2.

Ada pengaruh pemberian peregangan dan mobilisasi saraf setelah

latihan dalam mengurangi gejala dan tanda DOMS otot otot


tungkai atas
3.

Ada perbedaan pengaruh antara pemberian peregangan dan mobilisasi saraf setelah latihan dan sebelum latihan dalam mengurangi DOMS otot otot tungkai atas

O1

P1

O2

O3

P2

04

P = Populasi R = Randomnisasi S = Sampel O1 = Data Awal Streching & Neural Mobilization stlh latihan O3 = Data Awal Streching & Neural Mobilization sblm latihan P1 = Perlakuan Kelompok I: peregangan dan mobilisasi saraf sblm latihan P2 = Perlakuan Kelompok II: pere gangan dan mobilisasi saraf stlh latihan O2 = Data Akhir peregangan dan mobilisasi saraf sblm latihan O4 = Data Akhir peregangan dan mobilisasi saraf stlh latihan

Tempat Fitness Center Mandira RS.Dr. Suyoto, Bintaro Jakarta Selatan Waktu Dilakukan pada akhir bulan Nopember 2010

1.

Kriteria Inklusi
Berbadan sehat (tidak sedang cedera atau mendapatkan terapi akibat cedera) Berusia 18 35 tahun Bersedia menjadi sampel dalam penelitian Mampu mengerti instruksi yang diberikan.

2. Kriteria eksklusi

Menderita sakit atau cedera pada sistem muskuloskeletal Meminum obat pereda nyeri ketika dalam rentang penelitian

1.

2. 3.

Populasi : Adalah mereka yang biasa bermain bola basket di lingkungan kompleks Sawangan Regensi, Depok Pilih berdasarkan Kriteria inklusi & eksklusi Didapat sampel sesuai kriteria, jumlah dihitung dengan rumus Pocock dan didapatkan jumlah 8 orang setiap kelompok

1. Variabel bebas Peregangan dan Mobilisasi saraf/ Stretching & Neural mobilization

2. Varibel tergantung Pegal Otot yang terlambat muncul/ Delayed Onset Muscle Soreness
3. Variabel kontrol umur, tidak cedera.

Jenis Penelitian : Quasi eksperimen Desain : pre test post test control group design.

Stretching & Neural mobilization sebelum latihan

Subyek penelititan

Insiden DOMS

Stretching & Neural mobilization sebelum latihan

Subyek penelitian

Insiden DOMS

UJI NORMALITAS DATA 1. Untuk mengetahui apakah populasi terdistribusi normal maka digunakan uji normalitas dengan menggunakan uji Saphiro Wilk

Ho nilai P< nilai (0,05) Ha nilai P> nilai (0,05),

2. Untuk menguji homogenitas sampel digunakan Levenes Test, untuk mengetahui apakah data yang dianalisis bersifat homogen atau tidak.

3. Untuk menguji signifikasi dua sampel yang saling berpasangan pada kelompok pelakuan I dengan uji T-Test Related. Dengan penguji hipotesa Ho diterima bila nilai P> nilai (0,05), sedangkan Ho ditolak bila P< nilai (0,05).

Ho: Tidak ada perbedaan pengurangan gejala dan tanda DOMS sesudah latihan. Ha: Ada perbedaan pengurangan gejala dan tanda DOMS sesudah latihan.

Stretching atau peregangan merupakan tindakan yang bertujuan untuk memanjangkan struktur jaringan lunak yang memendek secara patologis maupun non patologis. Dilakukan dengan metode contract-relax yaitu peneliti/ fisioterapis memberikan tahanan ketika atlet mengkontraksikan otot yang akan diregang selama 10 detik setelah itu maka dilakukan gerakan yang berlawanan/ otot diregang lagi oleh fisioterapis selama 20 detik (dilakukan pada otot hamstring, quadriceps, illiotibial band/ tensorfaciae latae, glutei, dan adductors.

Mobilisasi saraf yang diberikan berupa gerakan slump test yaitu atlet duduk dengan posisi sedikit membungkuk, kedua tangan bertemu di belakang punggung dengan jari-jari tangan saling terjalin. Gerakan berikutnya yaitu tungkai diangkat 900 dengan lutut lurus dan pergelangan kaki dorsoflexi 900 lalu gerakan terakhir kepala ditundukkan pelanpelan sampai dagu menyentuh dada

Lingkar paha adalah diameter otot-otot tungkai atas yang diambil dari titik tengah Kemampuan lompat adalah kemampuan untuk melompat keatas dengan memanggul beban seberat 30% kemampuan Nyeri tekan adalah rasa tidak nyaman apapun yang dirasakan ketika otot diberi tekanan. Dilakukan dengan spuit 10 cc (yang sudah diambil jarumnya) dan diberi nilai dari 0 10 dimana bila semakin rendah sudah terasa nyeri maka NAB nyeri rendah

1. Prosedur Administrasi
Pengumpulan buku, jurnal baik melalui perpustakaan maupun internet sebagai sumber penelitian. Menyusun blangko isian data sampel. Mengundang sampel untuk mengisi blangko dan menjelaskan prosedur penelitian

2. Prosedur pengukuran awal


-

Membagi sampel dalam 2 kelompok Mengambil data karakteristik fisik Diberi perlakuan untuk merangsang munculnya DOMS Segera diukur post pelatihan dan intervensi

Mencatat identitas diri sampel nama, umur, dan jenis kelamin. Mengukur antropometri tinggi badan (m) dan berat badan (kg). Mengukur data awal lingkar paha, kemampuan melompat dan nyeri tekan

Timbangan badan - Antropometer tinggi badan - Mesin leg press - Stop wacth - Alat-alat tulis - Meteran
-

1.

2.
3. 4. 5.

Uji Deskripif untuk menganalisis varian umur, tinggi badan, berat badan dan parameter DOMS. Uji Normalitas dengan Shapiro Wilk Test untuk mengetahuai distribusi ketiga kelompok perlakuan. Uji Homogenitas antar kelompok dengan Levenes Test. Uji t-test paired/ wilcoxon untuk mengetahui perbedaan rerata hasil antar kelompok perlakuan Uji independent t-test/ mann whitney untuk mengetahui mana yang lebih baik antara perlakuan I dan II

1.Waktu penelitian yang terlalu mepet sehingga tidak bisa mendapatkan hasil seperti yang diasumsikan 2.Pekerjaan tidak sama sehingga mempengaruhi pola istirahat

Rerata + SD Karakteristik Subyek Umur (th) Berat badan Tinggi Badan Lingkar paha middle Kemampuan Lompat Nyeri tekan

Kelompok 1 (N=8)
32,75 6,49 65.75 7.978 169.63 2.669 51.588 6.5283 59.88 3.603 7.563 1.0836

Kelompok 2 (N=8)
30,75 3,45 72,54 10.056 170.75 5.548 47.825 5.7797 57.38 3.462 7.500 1.1019

Tests of Normality

Shapiro-Wilk Statisti c Lingkar Paha Sebelum Perlakuan Kelompok I Lingkar Paha Sesudah Perlakuan Kelompok I Lingkar Paha Sebelum Perlakuan Kelompok II Lingkar Paha Sesudah Perlakuan Kelompok II .924 df 8 Sig. .466

kETERANGAN

Normal

.926

.479

Normal

.928

.502

Normal

.928

.494

Normal

Shapiro-Wilk

kETERANGAN Sig. Normal

Statist ic
Kemampuan Lompat Sebelum Perlakuan Kelompok I Kemampuan Lompat Sesudah Perlakuan Kelompok I Kemampuan Lompat Sebelum Perlakuan Kelompok II Kemampuan Lompat Sesudah Perlakuan Kelompok II

df

.946

.673

.959

.796

Normal

.948

.691

Normal

.954

.754

Normal

Nyeri Tekan Sebelum Perlakuan Kelompok I Nyeri Tekan Sesudah Perlakuan Kelompok I Nyeri Tekan Sebelum Perlakuan Kelompok II Nyeri Tekan Sesudah Perlakuan Kelompok II

.938

.595

Normal

.920

.426

Normal

.904

.314

Normal

.923

.453

Normal

Shapiro-Wilk Statistic df Sig. Selisih nilai lingkar paha klp 1 Selisih nilai lingkar paha klp 2 Selisih nilai Kemampuan Lompat klp 1 Selisih nilai Kemampuan Lompat klp 2 Selisih nilai nyeri tekan klp 1 Selisih nilai nyeri tekan klp 2 .808 8 .035

Ket Tidak normal Normal Normal Tidak normal

.948
.858 .566 .665 .566

8
8 8 8 8

.690
.114 .000 .001 .000

Tidak Normal
Tidak Normal

Levene's Test for Equality of Variances F Lingkar Paha Midle Sebelum Perlakuan Equal variances assumed Equal variances not assumed .666 Sig. .428

Levene's Test for Equality of Variances F Kemampuan Lompat Equal variances assumed Equal variances not assumed .001 Sig. .977

Levene's Test for Equality of Variances F Nyeri Tekan Sebelum Perlakuan Equal variances assumed Equal variances not assumed .024 Sig. .879

Levene's Test for Equality of Variances F Lower Nilai lingkar paha Equal variances sesudah intervensi klp 1 assumed dan klp2 Equal variances not assumed Nilai kemampuan Equal variances lompat sesudah klp1 assumed dan klp2 Equal variances not assumed Nilai nyeri tekan Equal variances sesudah intervensi klp1 assumed dan klp2 Equal variances not assumed .736 Sig. Upper .406

Keterangan

Homogen

.200

.661

Homogen

.321

.580

Homogen

Levene's Test for Equality of Variances F Lower selisih lingkar paha klp I dan klp II Equal variances assumed Equal variances not assumed Equal variances assumed Equal variances not assumed Equal variances assumed Equal variances not assumed .026 Sig. Upper .874

KET

Homogen

selisih kemampuan lompat klp I dan klp II

11.667

.004

Tidak Homogen

selisih nyeri tekan klp I dan klp II

2.333

.149

Homogen

Paired Sam ples Te st Paired Dif f erences 95% Conf idence Interval of the Dif f erence Low er Upper -.4595 -.2405

Mean Pair 1 Lingkar Paha Sebelum Perlakuan Kelompok I Lingkar Paha Sesudah Perlakuan Kelompok I Lingkar Paha Sebelum Perlakuan Kelompok II Lingkar Paha Sesudah Perlakuan Kelompok II Kemampuan Lompat Sebelum Perlakuan Kelompok I Kemampuan Lompat Sesudah Perlakuan Kelompok I Kemampuan Lompat Sebelum Perlakuan Kelompok II Kemampuan Lompat Sesudah Perlakuan Kelompok II Nyeri Tekan Sebelum Perlakuan Kelompok I Nyeri Tekan Sesudah Perlakuan Kelompok I Nyeri Tekan Sebelum Perlakuan Kelompok II Nyeri Tekan Sesudah Perlakuan Kelompok II -.3500

Std. Deviation .1309

Std. Error Mean .0463

t -7.561

df 7

Sig. (2-tailed) .000

Pair 2

-.27500

.14880

.05261

-.39940

-.15060

-5.227

.001

Pair 3

.750

1.165

.412

-.224

1.724

1.821

.111

Pair 4

-1.250

.463

.164

-1.637

-.863

-7.638

.000

Pair 5

.2500

.2673

.0945

.0266

.4734

2.646

.033

Pair 6

.12500

.23146

.08183

-.06850

.31850

1.528

.170

b Tes t Statis tics

Mann-Whitney U Wilc oxon W Z A sy mp. Sig. (2-tailed) Ex ac t Sig. [2*(1-tailed Sig.)]

selisih lingkar paha klp I dan klp II 24.000 60.000 -.876 .381 .442
a

selisih kemampuan lompat klp I dan klp II 3.000 39.000 -3.203 .001 .001
a

selisih nyeri tekan klp I dan klp II 24.000 60.000 -1.000 .317 .442
a

a. Not c orrec ted f or ties . b. Grouping V ariable: group

Secara rata-rata umur kelompok satu adalah 32,75 tahun sedangkan rata-rata umur kelompok dua adalah 30,75 tahun. Selain itu penelitian ini juga mendapatkan data kebiasaan olah raga yang mana didapatkan bahwa bahwa 4 orang (25,0%) rutin menjalankan olah raga, 8 orang (50,0%) jarang olah raga dan 4 orang (50,0%) hampir tidak pernah olah raga sehingga memang dari kriteria umur dan kebiasan olahraga ini subyek memenuhi kriteria untuk melakukan tindakan pelatihan yang diberikan.

uji homogenitas (Levene-Test) menunjukkan ketiga parameter DOMS pada kedua kelompok sebelum pelatihan p > 0,05, yang berarti data adalah homogen. Sementara pada kedua kelompok sesudah pelatihan juga p > 0,05, yang berarti data adalah homogen. Artinya semua subyek pada kedua kelompok mempunyai karakter yang sama sehingga ketika terjadi perubahan maka penyebabnya lebih dikarenakan perlakuan

Hasil uji normalitas (Saphiro Wilk-Test) ketiga parameter gejala dan tanda DOMS sebelum pelatihan kedua kelompok berdistribusi normal (p < 0,05). Demikian juga dengan data setelah pelatihan pada kedua kelompok berdistribusi normal. (p < 0,05) namun data selisih hasil menunjukkan salah satu parameter yaitu lingkar paha klp I dan kemampuan lompat klp II tidak berdistribusi normal Karena data selisih berdistribusi tidak normal maka digunakan uji statistik non parametrik untuk membandingkan hasil antar kedua kelompok yaitu:

Mann-whitney U test

lingkar paha antara sebelum dan sesudah pelatihan pada kelompok I yang dianalisis dengan dengan uji Paired Samples Test menunjukkan bahwa peregangan dan mobilisasi saraf sebelum latihan menghasilkan perubahan lingkar paha yang bermakna (p < 0,05).

Lingkar Paha setelah pelatihan yang dipakai adalah lingkar paha yang diukur seketika begitu selesai pelatihan.

Kemampuan lompat antara sebelum dan sesudah pelatihan pada kelompok I menunjukkan bahwa peregangan dan mobilisasi saraf sebelum latihan tidak menghasilkan perubahan kemampuan lompat yang bermakna (p > 0,05) Demikian pula untuk nyeri tekan antara sebelum dan sesudah pelatihan pada kelompok I juga tidak menghasilkan penurunan nyeri tekan yang bermakna (p > 0,05).

Kemampuan lompat dan nyeri tekan setelah pelatihan yang dipakai adalah kemampuan lompat dan nyeri tekan yang diukur 48 jam setelah selesai pelatihan.

Lingkar paha antara sebelum dan sesudah pelatihan pada kelompok II yang dianalisis dengan dengan uji Paired Samples Test menunjukkan bahwa peregangan dan mobilisasi saraf setelah pelatihan menghasilkan perubahan lingkar paha yang bermakna (p < 0,05) Demikian juga untuk kemampuan lompat antara sebelum dan sesudah pelatihan pada kelompok II menunjukkan bahwa peregangan dan mobilisasi saraf setelah pelatihan menghasilkan perubahan kemampuan lompat yang bermakna (p < 0,05) Akan tetapi untuk nyeri tekan antara sebelum dan sesudah pelatihan pada kelompok II tidak menghasilkan penurunan nyeri tekan yang bermakna (p > 0,05).

Lingkar paha dan nyeri tekan antara sebelum dan sesudah pelatihan pada kelompok I dan II yang dianalisis dengan dengan uji Mann whitney U Test menunjukkan bahwa peregangan dan mobilisasi saraf yang diberikan sebelum atau setelah pelatihan tidak ada perbedaan yang bermakna (p > 0,05). Sedangkan untuk kemampuan lompat antara sebelum dan sesudah pelatihan pada kelompok I dan II menunjukkan bahwa peregangan dan mobilisasi saraf yang diberikan setelah pelatihan menghasilkan perubahan kemampuan lompat yang bermakna (p < 0,05) dibandingkan peregangan dan mobilisasi saraf yang diberikan sebelum pelatihan Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa peregangan dan mobilisasi saraf setelah latihan sebagai program pendinginan tidak mempunyai perbedaan yang signifikan daripada sebelum latihan (sebagai progeram pemanasan)

Peregangan dan mobilisasi saraf sebelum pelatihan sebagai pemanasan menghasilkan perubahan lingkar paha yang bermakna (p < 0,05) sebesar 0.000 akan tetapi kemampuan lompat tidak mengalami perubahan yang bermakna (p > 0,05) yaitu sebesar 0.111, demikian pula untuk nyeri tekan tidak mengalami penurunan nyeri tekan yang bermakna (p > 0,05) sebesar 0.033. Peregangan dan mobilisasi saraf setelah pelatihan sebagai pendinginan menghasilkan perubahan lingkar paha yang bermakna (p < 0,05) sebesar 0.001 juga kemampuan lompat menghasilkan perubahan kemampuan lompat yang bermakna (p < 0,05) sebesar 0.000 akan tetapi untuk nyeri tekan tidak menghasilkan penurunan nyeri tekan yang bermakna (p > 0,05) sebesar 0.170 Peregangan dan mobilisasi saraf setelah pelatihan sebagai pendinginan menghasilkan perubahan kemampuan lompat yang bermakna (p < 0,05) sebesar 0.005 jika dibandingkan dengan peregangan dan mobilisasi saraf sebelum pelatihan sebagai pemanasan akan tetapi untuk pengurangan nyeri tekan dan perubahan lingkar paha tidak memiliki perbedaan yang bermakna

Peregangan dan mobilisasi saraf setelah latihan dapat digunakan dalam meningkatkan kemampuan lompat sehingga dapat digunakan sebagai pilihan utama untuk program pendinginan setelah olahraga bagi guru olahraga, pelatih, fisioterapis atau orang awam yang melakukan olahraga Perlu diadakan penelitian lanjutan tentang Peregangan dan mobilisasi saraf dengan metode lain Pola istirahat perlu diseragamkan untuk mendapat hasil yang lebih baik