Anda di halaman 1dari 129

TABLET

Defenisi
Menurut FI ed III : Sediaan padat, kompak, dibuat secara kempa cetak dalam tabung pipih/sirkuler, kedua permukaannya rata/cembung mengandung satu jenis obat/lebih dengan atau tanpa zat tambahan Menurut FI ed IV : Sediaan padat mengandung bahan obat dengan/tanpa bahan pengisi

Zat tambahan yang digunakan dapat berfungsi sebagai: Zat pengisi Zat pengikat Zat pelicin Zat pengembang atau zat lain yang cocok

Tablet dapat memiliki bentuk silinder, kubus,

batang, dan bentuk cakram Garis tengah tablet pada umumnya 5 17 mm Bobot tablet 0,1 1 g mesin yang pertama digunakan untuk kompresi partikel partikel dan granul telah dipatenkan oleh Brockedon 1843 USA mesin ini digunakan untuk kompresi serbuk granul yang dijadikan pensil

Kelebihan sediaan tablet dibandingkan sediaan lainnya : 1. Takaran obat cukup teliti dan serba sama untuk setiap tablet 2. Pembebasan obat dapat diatur sesuai dengan efek terapi yang diinginkan 3. Rasa dan bau yang tidak menyenangkan dapat ditutupi dengan penyalutan 4. Bahan obat yang dapat rusak oleh cairan/enzim dalam saluran pencernaan dapat diatasi dengan penyalutan

5. Dapat menjamin kestabilan sifat fisik dan kimia

bahan obat 6. Mudah dalam pengemasan, pengepakan, transportasi dan penggunaannya 7. Biaya produksi relatif murah dibandingkan dengan bentuk sediaan lainnya

Kekurangan sediaan tablet : 1. Sukar diberikan pada anak anak dan penderita yang sukar menelan 2. Biasanya efek terapi yang diinginkan lebih lambat 3. Bentuk yang menarik dan rasa yang enak dapat menyebabkan anak anak memakan semaunya saja

Sifat sifat tablet yang baik : 1. Mempunyai dosis yang tepat 2. Mudah memberika bahan khasiatnya agar memberikan efek terapi seperti yang diramalkan dan diinginkan 3. Stabil secara kimia dan fisika 4. Tidak mengandung bahan penambah yang tidak duperlukan dan bahan penambah yang digunakan tidak merugikan 5. Mempunyai bentuk yang menarik dan bebas dari kecacatan fisik/warna serta bebas dari komtaminasi bakteri

Kriteria tablet Suatu tablet yang baik haruslah memenuhi persyaratan sebagai berikut : 1. Harus mengandung bahan obat dan bahan pembantu yg memenuhi persyaratan 2. Harus mengandung bahan obat yang homogen dan stabil 3. Keseragaman bobot dan penampilan harus memenuhi persyaratan 4. Keadaan fisik tablet harus cukup kuat terhadap gangguan fisik dan mekanik

5. Harus stabil terhadap udara dan suhu lingkungan 6. Waktu hancur dan laju disolusi harus memenuhi

persyaratan 7. Harus bebas dari kerusakan fisik 8. Stabilitas kimiawi (obat) maupun fisik (talet) stabil cukup lama dalam penyimpanan 9. Obat harusdilepaskan sc homogen dalam waktu tertentu

Jenis jenis tablet


Tablet biasa Tablet satu lapis hasil dari kompresi partikel partikel Tablet berlapis ganda meliputi lapisan yang sama pusatnya/lapisan sejajar yang diperoleh melalui kompressi berurutan partikel partikel yg komposisinya berlainan Tablet ini tidak mengalami proses lebih lanjut setelah pencetakan
1.

Tablet ini dimaksudkan untuk ditelan dalam

keadaan utuh Contoh : tab paracetamol ( satu lapis ) tab berlapis ganda decolgen

2. Tablet eferfecent Tablet ini tidak bersalut Kombinasi antara asam dan basa bereaksi dengan segera bila terkena air, dan membebaskan CO2 Contoh : CDR

Proses pembuatannya : 1. Komponen asam dan basa digranulasi sc terpisah setelah kering baru dicampur dan dicetak 2. Kompnen asam dan basa sc terpisah dikeringkan kemudian dicampur dan digranulasi dengan memakai pelarut organik spt isopropanolol 3. Komponen asam dan basa sc terpisah dikeringkan kemudian dicampur dan segera dicetak sc prekompresi 4. Komponen asam digranulasi basah kemudian komponen basa dicampur kedalamnya, dalam keadaan basah dikeringkan pada suhu 70 75oC ad mengeras

3. Tablet bersalut Penyalutan ( coating ) : menutupi dengan lapisan tipis bahan tertentu yang umumya inert, partikel bahan khasiat baik murni maupun dalam bentuk tercampur

Ditinjau dari bahan, proses dan peralatan yang digunakan penyalutan tablet dapat dibagi menjadi : Penyalutan dengan gula (sugar coating) Penyalutan lapisan tipis (film coating) baik untuk tujuan enterik maupun non enterik Penyalutan secara kompressi (compressing coating)

Tujuan penyalutan : Menutupi rasa dan bau yang kurang enak yang terkandung dalam sediaan farmasi Melindungi bahan khasiat terhadap pengaruh luar seperti O2 , kelembaban dan cahaya Memisahkan bahan khasiat yang tidak bercampur dimana salah satu bahan terdapat pada inti tablet dan bahan lainnya terdapat pada bagian penyalut Perlindungan terhadap pengaruh bentuk mekanik, karena tablet salut umumnya mempunyai daya tahan yang lebih baik terhadap benturan dibandingkan dengan tablet yang tidak disalut

Untuk memepermudah dan membantu identifikasi

sediaan Untuk mengontrol pelepasan bahan khasiat disaluran usus Untuk meningkatkan penampilan , karena dengan penyalutan dapat ditutupi inti tablet yang kurang menarik

Contoh : o Tab salut gula ( tab nystatin) o Tab salut film (tab oxprenol ) Syarat syarat tablet yang sudah disalut : Permukaan tablet yang disalut harus licin Lapisan penyalut harus stabil dan tidak boleh ada yang cacat Pewarnaan yang homogen pada lapisan penyalut yang berwarna dan tidak boleh terjadimigrasi zat warna

Lapisan penyalut tidak boleh menunjukkan sifat

mudah pecah dan retak Bentuk dan besar tablet yang disalut harus sedemikian ruapa agar mudah ditelan dan harus mempunyai resistensi yang baik Tablet yang disalut harus mempunyai takaran yang tepat untuk tablet penyalutan tipis/salut enterik, deviasi yang masih dapat diterima adalah max 5% sedangkan tablet dengan penyalutan gula 6,5%

4.Tablet kunyah Ditujukan untuk penderita yang mengalami kesulitan dalam menelan dimana proses pengunyahan membantu mempercepat hancurnya tablet sehingga memudahkan menelannya Tablet kunyah biasanya diproses dengan granulasi basah dan dipilih bahan pembentu yang memberikan efek menyenangkan dimulut Bahan pengikat yang digunakan metil selulosa, gelatin pasta pati dan PVP

Bahan penghancur tidak diperlukan. Bahan pelincir

yang digunakan dipertimbangkan terhadap rasa yang akan dihasilkan agar fungsi bahan pemanis dan pengharum tidak tertutupi Bahan pemanis yang sering digunakan : manitol, sorbitol, laktosa Bahan pengharum : granul spray dried karena lebih stabil dari larutan Contoh : antasida, multivitamin

5. Tablet yang digunakan didalam mulut Tablet diformulasi untuk memberikan efek lokal dan pelepasan bahan obat yang lambat atau dihisap yang dikenal tablet hisap Pelepasan dan penyerapan bahan obat yang dilakukan dibawah lidah ( tablet subligual ) Pelepasan dan penyerapan bahan obat dibagian mulut misalnya antara pipi dengan gusi ( tablet bukal )

Tablet hisap biasanya mengandung bahan yang

bersifat antiseptik Tablet bukal biasnya mengandung steroid yang dapat diserap langsung ke dalam peredaran darah tanpa melalui saluran pencernaan

6. Tablet pelepasan terkendali Biasanya bersalut atau tidak bersalut Mengandung bahan tambahan tertent atau disediakan melalui proses tertentu dengan cara terpisah atau bersamaan Tujuannya untuk mengendalikan konsentrasi pelepasan bahan obat, untuk memperpanjang terapi obat secara efek yang teratur, juga proses pelepasan obat diperlambat Contoh : tablet orfenadrin sitrat

7. Tablet implan Dibuat dengan cara kompresi yang atau dengan cara peleburan Implan diberikan dengan menyisipkan dibawah kulit (subkutan) melalui pembedahan ringan Implan diproses dan dibungkus satupersatu didalam wadah yang steril Contoh : deoksikortison asetat dan implan testosteron

Zat pembantu yang digunakan dalam tablet : 1. Zat pengisi (diluent ) : untuk memperbesar volume/memberi bobot ideal bagi bahan obat yang kecil beratnya dan memperbaiki sifat sifat bahan obat contoh : lactosa, sukrosa, lemak coklat 2. Zat pengembang (desintegrator) : agar tablet yang pecah bila kena air/ cairan lambung, sehingga zat aktif dapat teruraiatau larut contoh : amulum, CMC, agar

3. Zat pengikat : untuk merekatkan partikel-partikel campuran serbuk contoh : gelatin, gom arab, larutan amylum 4. Zat pelincir : untuk membuat aliran campuran jadi teratur agar jml bahan yang masuk dalam cetakan konstan sehingga bobot tablet sama

FORMULASI TABLET
PREFORMULASI Langkah awal pengembangan bentuk suatu sediaan dari suatu bahan obat secara rasional dengan memanfaatkan data-data fisikokimia Tahap awal yang dilakukan dalam mengumpulkan data fisikokimia : a. Struktur kimia Untuk menentukan metoda analisis yang tepat baik obat sendiri maupun hasil urainya (UV, TLC,HPLC)

Tujuannya mengurangi toksisitas, efek samping, memperbesar kelarutan b. Kelarutan Senyawa obat : 75% basa lemah, 20% asam lemah, 5% netral Basa lemah sukar larut dalam asam lambung terurai dalam bentuk ion, sedangkan yang diserap oleh tubuh dalam bentuk molekul Untuk mengatasinya digunakan dalam bentuk garam komplek

Jika kelarutan dipertimbangkan terlalu rendah/kecil maka maka usaha untuk mengubah dapat dilakukan: 1. Obat yang kelarutannya rendah dipilih bentuk garamnya cth: luminal luminal Na 2. Esterifikasi dapat dapat memperkecil kelarutan dan mencegah terurainya obat dalam suasana asam lambung, perlu dibuat prodrug, dimana ph yang lebih larut dan diserap dalam bentuk molekul Cth : erythromicin erythromicin stearat Prodrug : senyawa yang dalam bentuk ester tidak berkhasiat tapi bila terurai baru berkhasiat

c. Farmakologi umumnya obat yang terlarut dalam cairan pencernaan mucosa/membran dinding pencernaan darah melewati hati sirkulasi jantung target Contoh : Obat yang dapat mengiritasi lambung/terurai oleh asam lambung Maka harus dibuat tablet salut/lepas tunda pada ph yang sesuai dengan penyalut terlarut

Sistimatika desain sediaan tablet Penetapan bagian optimal pelepasan/adsorbsi obat di saluran cerna berdasarkan : 1. Tempat adsorbsi terbaik (optimal), berdasarkan pka, lingkungan saluran cerna 2. Metode pembuatan 3. Pemilihan bahan pembantu yang tepat

Perubahan sifat fisik zat aktif Obat dapat berbentuk kristal atau amorf Kristal : - bentuk stabil - kelarutan kecil Amorf : - tidak stabil, tidal teratur - kelarutan besar Amorf dapat berubah dalam bentuk kristal dalam sediaan cair, untuk mengatasinya dapat ditambahkan bahan bahan makromolekul spt : Na CMC, Na alginat

Komposisi umum dari formula tablet :


Bahan berkhasiat / obat

Bahan pengisi
Bahan penghancur dalam Bahan pengikat

Bahan pembasah ( jika perlu )


Bahan penyerap ( jika perlu ) Bahan penghancur luar

Bahan pelincir
Korigensia ( jika perlu )

Bahan berkhasiat Sebagian besar obat dapat diproses menjadi tablet, baik bahan tsb berbentuk serbuk (halus, kristal, kasar), cairan (tintur) dan kental (extrak)
Secara garis besar formula tablet yang digunakan untuk oral / peroral terdiri dari bahan : a. Bekerja lokal Obat sukar larut kerjanya sangat ditentukan oleh fenomena sifat permukaan, oleh sebab itu dalam menyusun formula, tablet yang dirancang harus mudah pecahdan terdispersi dengan cepat menjadi

partikel halus dengan luas permukaan yang besar melalui mukosa permukaan lambung b. Bekerja sistemik obat harus dapat terlarut, sesuai dengan ph bagian saluran cerna tempat terjadinya penyerapan tablet yang dirancang harus memperhatikan sifat obat ( stabiilitas, iritasi lambung )

Bahan pengisi Tablet mengandung bahan obat berkisar antara 0,05 70% dari bobot total tablet Membutuhkan bahan pembantu yang menjamin homogenitas obat dan kualitas tablet ditentukan oleh bahan pembantu Bahan pengisi harus dapat memperbaiki kekurangan/kelemahan sifat bahan obat disamping memperbaiki daya kompresi dari bahan obat juga berfungsi untuk mendapatkan bobot ideal

Bahanyang cukup kuat pengisi berasal dari

senyawa turunan karbohidrat karena kemampuannya untuk menghasilkan tablet yang cukup kuat dan cukup resisten terhadap pengaruh gesekan, tidak beracun, rasa yang cocok dan kelarutan yang baik a. Laktosa Kombinasinya dengan sebagian besar bahan obat sangat stabil Digunakan dalam bentuk hidrat dan anhidrat Dipasaran terdapat dalm partikel kasar (60-80 mesh) dan partkel halus (80-100 mesh) ukuran partikel laktosa dapat mempengaruhi kecepatan pembebasan obat

Bila dikombinasikan dengan senyawa amin base dan

lubrikan yang bersifat alkalis warna laktosa berubah gelap (coklat) b. Amylum Juga berfungsi sebagai bahan pengikat, penghancur dan stabilisator untuk bahan obat yang rusak karena pengaruh lembab Tablet yang mengandung amylum dalam jml besar sering kali lunak dan mengalami kesulitan dalam pengeringan

c. Starch 1500 Modifikasi secara dari pati jagung, yang mempunyai sifat aliran yang baik dan digunakan untuk tablet cetak langsung sebagai pengikat kering d. Sukrosa Jarang digunakan sebagai bahan pengisi, sering digunakan sebagai penyalut pada tablet salut gula atau bahan pengikat Kekurangannya dapat memyerap lembab sehingga dapat menimbulakan kesulitan saat pencetakan

Warna cendrung berubah bila kontak dengan

senyawa asam/basa Tidak disarankan untuk pasien diabetes

e. Manitol Digunakan pada tablet kunyah karena memberikan rasa enak pada mulut Sifat aliran jelek sehingga membutuhkan lubrikan dan glidan dan lebih besar 3-6x dibandingkan bahan pengisi lainnya f. sorbitol

Bahan pengikat Pemilihannya didasarkan pada besarnya daya ikat yang diinginkan untuk membentuk granul dan kompatibel dengan bahan lain khususnya dengan bahan aktif Kriteria bahan pengikat : Mudah larut (dalam keadaan dingi) Tidak higroskopis Viskositas kecil Mudah pada waktu membasahi campuran komponen tablet

a. Gom arab Larutan/mucilagonya 10-25%, tablet yang dihasilkan cukup keras Larutan harus dibuat baru kemungkinan terkontaminasi dengan bakteri menyebabkan pamakaiannya diragukan b. Tragacan Ditambahkan dalam bentuk kering dan diaktifasi dengan air

c. Sukrosa Dalam bentuk sirup 50-75% Sifat alir baik Tablet yang dihasilkan cukup kuat, keras dan agak rapuh
d. Gelatin Bahan pengikat yang kuat, konsentrasi yang dipakai 5-10% Penambahan kedalam campuran harus dalam keadaan panas karena bila larutan dingn akan terbentuk gel yang sulit dituang

Pada penyimpanan lama menyebabkan tablet

bertambah keras

e. Pati Tablet yang dihasilkan umumnya rapuh dan kurang keras Meningkatkan daya ikatnya dikombinasi dengan gelatin 1-2% dimana larutan panas gelatin ditambahkan kedalam suspensi pati

f. Selulosa Menghasilkan tablet cukup keras Digunakan dalam bentuk larutan atau dalam bentuk kering kemudian diaktifkan dengan air g. Polyvinylpyrolidon (PVP) Pemakaian khusus pada pembuatan tablet multivitamin yang sensitif terhadap kelembaban Penggunaannya dalam bentuk larutan atau kering kemudian diaktifkan dengan penambahan pelarut

Bahan penghancur ( desintegrator ) Tujuannya : agar tablet dapat pecah dengan segera bila terjadi kontak dengan cairan lambung atau air, menjadi partikel-partikel halus sehingga terjadi pelepasan bahan aktif a. Pati Yang paling umum digunakan sebagai panghancur dalam dan luar Mempunyai aktivitas sebagai penghancur dengan membentuk ikatan hidtogen waktu di kompresi dan segera lepas bila kelembaban berlebihan Derivat pati : explotab, gom, asam alginat

Bahan pelincir Ditambahkan kedalam masa tablet sebelum atau sesudah digranulasi Bahan pelincir dibagi atas : 1. Lubrikan Berfungsi untuk mengurangi/mencegah gesekan antara dua permukaan yang relatif bergerak Contoh : Lubrikan yang tidak larut air (as stearat, talkum) Lubrikan yang larut air (as borat, Na bennzoat)

2. Anti adherent Berfungsi mencegah melekatnya sebagian masa tablet pada permukaan pencetakan tablet Contoh : talk, Na lauryl sulfat 3. Glidant Berfungsi memperbaiki sifat karakteristik aliran granul dengan memperkecil gesekan sesama partikel dan juga menutupi permukaan partikel yang tidak beraturan Contoh : talk, aerosil

Bahan penyerap Tujuannya : Melindungi bahan obat dari pengaruh lembab Mendistribusikan bahan obat Bahan yang bersifat higroskopis mempunyai kecendrungan mengikat air, dengan adanya adsorben dapat menghalangi kemampuan bahan untuk menarik air Contoh : aerosil

Bahan pembasah Dapat mempercepat penetrasi air kedalam tablet, akibatnya tablet lebih cepat hancur Contoh : Na lauryl sulfat
Bahan pengharum Ditambahkan pada proses lubrikasi disebabkan sensitifitas bahan ini terhadap lembab dan cendrung menguap pada pamanasan Bahan pengharum kering lebih mudah penangannya dibandingkan dalam bentuk minyak dimana minyak tersebut terlebih dahulu diencerkan dalam alkohol kemudian disemprotkan ke granul

Bahan pemanis Digunakan mannitol, laktosa dan sukrosa untuk tablet kunyah Tujuan pemakaian pangharum dan pemanis dalam tablet : 1. Menutupi bau dan rasa bahan obat yang tidak menyenangkan 2. Memberikan bau dan rasa yang menyenangkan pada tablet tertentu

Bahan pemanis Tujuaanya : 1. Meningkatkan nilai estetik tablet (penampilan) 2. Membedakan suatu produk dengan produk yang lain 3. Memudahkan kontrol selama pembuatan

Pembuatan tablet
Cara kering : 1. cetak langsung 2. granulasi kering/prekompresi : 1. granulasi basah 2. granulasi biasa

Cara basah

Hal hal yang perlu diperhatikan untuk menentukan metode mana yang digunakan : 1. Sifat fisikokimia dari obat 2. Peralatan 3. Bahan pembantu 4. fluiditas 5. Biaya produksi

Cetak langsung : proses pembuatan tablet yang dilakukan dengan mencetak langsung bahan obat dengan atau tanpa bahan pembantu
Dapat mencetak senyawa berbentuk kristal biasanya

garam organik seperti NaCl, NaBr, dan KBr Cara ini dapat dilakukan untuk bahan aktif yang mempunyai sifat mudah mengalir, dapat dimampatkan ( kompresibilitas ), dan mudah dibasahi

Secara umum pembuatannya :

bahan obat + eksipien campur homogen + catak Sifat eksipien yang akan digunakan untuk prose pembuatan tablet cetal langsung : 1. Bahan harus mempunyai sifat alir yang baik 2. Sangat mudah dicetak 3. Secara fisiologis inert 4. Tersatukan dengan semua jenis bahan aktif 5. Tidak berwarna dan tidak berbau

6. Tidak mengalami perubahan fisik dan kimia selama penyimpanan dan stabil dari pengaruh udara, kelembaban dan panas 7. Dapat menerima zat warna secara merata 8. Harganya relatif tidak mahal 9. Menunjukan rasa yang menyenangkan dimulut apabila digunakan untuk tablet hisap 10. Distribusi ukuran partikel ekivalen dengan kebanyakan ukuran partikel bahan obat 11. Dapat dilakukan pencetakan ulang tablet, tanpa kehilangan sifat aliran dan mudah dicetak dengan baik

12. Tidak mempengaruhi ketersediaan biologis bahan obat 13. Harus menunjukan profil yang baik hubungan antara tekanan pada waktu pencetakan dan kekerasan tablet yang dihasilkan

Contoh bahan pembantu : starch 1500, laktosa spray dried, avicel

Keuntungan cetak langsung : a. Pertimbangan ekonomi, cara ini lebih cepat dan tidak memerlukan energi panas, menggunakan ruangan, tenaga kerja, peralatan yang lebih ekonomis b. Tidak mengganggu stabilitas zat aktif c. Waktu hancur lebih cepat

Kerugian cetak langsung : Akan terbentuk muatan elektrostatika yang menyebabkan bubuk tidak bercampur secara homogen Perbedaan BJ yang menyolok antara zat aktif dengan bahan pembantu juga mungkin menyebabkan terjadinya pemisahan masa bubuk dalam wadah penampung bubuk sebelum dicetak selama proses pencetakan berlangsung

Prekompresi/slugging/ granulasi kering


: proses pembuatan granul tanpa melibatkan air sama sekali, dimana campuran serbuk dicetak menjadi tablet besar ( slug ) diayak menjadi granul yang diinginkan
Sangat cocok untuk bahan aktif yang sifat alirannya

kurang baik, peka terhadap panas dan lembab Secara umum pembuatannya : bahan obat + eksipien campur homogen dan cetak slig kemudian lakukan pengayakan untuk mendapatkan granul dan cetak

Keuntungan granulasi kering : Peralatan lebih sedikit, ruangan dan waktu lebih singkat Bahan aktif yang sensitif terhadap panas dilakukan dengan cara ini karena tidak ada proses pengeringan Waktu hancur lebih cepat Dapat mengjasilkan tablet efervecent, dimana senyawa asam dan basa dapat bereaksi sempurna bila dimasukkan kedalam air

Perbandingan tahap tahap proses pembuatan tablet a.Cetak langsung Menghaluskan bahan aktf dan eksipien Mencampur semua komponen untuk tablet Pencetakan tablet
b. Prekompresi Menghaluskan bahan aktif dan eksipien Mencampur bahan komponen tablet yang sudah dihaluskan

Pengayakan slug menjadi granul Mencampur granul dengan bahan penghancur dan

pelicin Pencetakan tablet c. Granulasi basah Mengahaluskan bahan aktif dan eksipien Mencampur bahan komponen tablet yang telah halus Membuat larutan pengikat

Mencampur larutan pengikat dengan campuran

bahan komponen obat, untuk membentuk masa yang basah Mengayak sacara kasar masa basah, dengan ayakan ukuran 6 12 mesh Mengeringkan granul basah Mengayak granul kering melalui ayakan ukuran 14 20 mesh Mencampur granul kering yang sudah diayak dengan bahan pelincir dan desintegrator luar Pencetakan tablet

Granulasi basah
Cara yang paling banyak dilakukan karena hampir

semua jenis bahan aktif dapat diproses secara granulasi basah Granulasi : suatu proses pembesaran ukuran partikel individual atau campuran serbuk untuk menghasilkan campuran obat dan eksipien dalam bentuk granul yang dapat mengalir dengan baik dan mudah dicetak, baik dengan cara basah dan kering

Tujuan granulasi : meningkatkan BJ bulk secara keseluruhan, mendapatkan campuran yang mempunyai sifat alir yang baik mengurangi debu dari serbuk halus yang digunakan mencegah terjadinya segresi meningkatkan dan mengontrol kecepatan disolusi

Cara granulasi basah disukai karena : Dapat dilakukan untuk bahan obat dalam dosis besar, cara kering akan membutuhkan eksipien jumlah besar akibatnya tablet besar Menghasilkan tablet yang kuat karena bahan obat dan eksipien direkat oleh bahan pengikat Bahan obat lebih stabil karena kandungan air dalam tablet < 5%, pada cara kering eksipien adakalanya mengandung lembab > 5% Disribusi zat warna merata karena dilarutkan pada pelarut bahan pengikat

Granulasi basah mencegah terjadinya segresi atau

pemisahan Untuk menjamin disolusi bahan obat hydropobik dipilih pengikat dan pelarut yang tepat

Tahap proses pembuatan tablet secara granulasi basah a. penghalusan Tujuan utamanya : 1. Memperbesar luas permukaan partikel 2. Material kasar dapat menjadi partikel dengan besar dan distribusi partikel yang lebih menguntungkan untuk proses selanjutnya 3. Agar mempunyai kelarutan yang lebih baik 4. Untuk dapat merubah senyawa, misalnya bentuk senyawa yang berbentuk kristal menjadi bentuk amorf

Mekanisme penghalusan : Proses mekanik dimulai dengan membuka celah yang terdapat pada partikel/kristal Partikel yang besar dengan celah yang lebih banyak akan pecah lebih cepat dibandingkan dengan partikel kecil dengan celah yang sedikit Untuk mendapatkan hasil yang halus (ukuran diameternya ) memerlukan banyak energi, karena disamping bertambahnya permukaan baru juga lebih banyak lagi energi yang diperlukan untuk membuka celah pada partikel

Teori hancurnya partikel Melibatkan gaya tekan, gaya bentur, gaya gesek dan gaya geser Dengan menggunakan dasar gaya ini terjadi kontak baik antar partikel sesamanya, antar partikel yang berdekatan atau partikel dengan bagian peralatan yang digunakan sebagai penggerus Gaya atau daya yang ditimbulkan oleh kontak patikel tersebut akan merubah partikel dan terjadinya tegangan, dimana tegangan pada partikel ini tersebar secara ruang dan akan sangat bergantung pada sifat perubahan tersebut

Untuk memilih jenis penggiling untuk menghaluskan material tergantung pada : 1. Kekerasan 2. Elastisitas 3. Viskositas 4. Kerapuhan Ukuran partikel bahan yang digiling dan produk akhir yang dikehendaki

b. Pencampuran Pada proses ini cendrung terjadi proses segresi (pemisahan ), demixing (tak tercampur) dan mixing disebabkan oleh perbedaan ukuran partikel Cara mencegah terjadinya segresi : Semua komponen yang dicampur mempunyai ukuran partikel yang sama Menggunakan bahan yang cukup halusuntuk mengurangi aliran bebas, partikel >40 mikron segresi dapat diabaikan

Bila salah satu komponen sangat halus beberapa

mikron kecil akan menutupi permukaan partikel besar dan tiodak membentuk partikel besar Selama pencampuran dihindarkan terjadinya permukaan yang miring 3. Membuat larutan pengikat Tujuannya : Untuk memperbaiki keseragaman ukuran granul, kekerasan granul, dan kemudahan pencetakan

Kombinasi : Gelatin + gom Pasta pati + sukrosa ( sebagai sirup ) Pati + sukrosa (sebagai sirup) + sorbitol Pati + sorbitol 4. Pembuatan masa granul Campuran bubuk dibasahi dengan larutan pengikat sampai didapatkan distribusi bahan pengikat yang homogen membentuk konsistensi yang diinginkan

Bahan pengikat yang ditambahkan kering, setelah

dicampur merata ditambahkan pelarut yang sesuai untuk alkohol dan pelarut organik lainnya, pengeringan granul dilakukan dengan udara mengalir 5. Pembuatan granul Masa basah diayak dengan oscilating granulator untuk mendapatkan granul dengan ukuran yang sama Ukuran ayakan tergantung bobot tablet Hasilnya ditampung pada nampan yang dilapisi perkamen

6. Pengeringan granul Dilakukan pada suhu 50o 60o C dalam lemari pengeringkan Lama dan suhu pengeringan harus dikontrol karena akan berpengaruh terhadap kandungan air dalam granul kering Sisa air ini berfungsi untuk mengaktifkan kembali sifat/fungsi bahan pengikat disamping untuk mencegah timbulnya muatan elektrostatika selama pencetakan

9. Lubrikasi Mekanisme : Permukaan granul yang kasar dapat ditutupi/diisi oleh lubrikan shg menjadi lebih licin dan granul akan lebih mudah mengalir Permukaan granul akan mengadsorbsi partikel lubrikan dan membentuk lapisan tipis yang dapat mencegah timbul daya kohesi antar granul 10. pencetakan

Granulasi dasar Untuk bahan obat yang tidak stabil dengan adanya air/terurai karena panas, sifat alir dan kompresibilitasnya jelek Bahan obat tidak digranulasi bersama sama bahan pembantu ( pengisi, paenghancur dalam ) ttp ditambahkan pada tahap lubrikasi bersama penghancur luar dan bahan lubrikasi

Masalah yang sering dijumpai pada tablet : 1.Capping : terpisahnya sebahagian atau keseluruhan permukaan atas atau permukaan bawah tablet dari tubuh tablet, yang biasanya terjadi setelah pencetakan berlangsung tetapi adakalanya terjadi setelah beberapa jam atau beberapa hari setelah pencetakan

Terjadinya capping dapat disebabkan oleh faktor teknis dan faktor formulasi : a. Bahan pengikat yang digunakan baik jenis maupun jumlahnya tidak tepat daya kohesifitas granul tidak cukup besar B.O hidrofob lebih baik menggunakan bahan pengikat yang memiliki daya ikat besar (selulosa/gom arab ) jadi untuk mengatasi capping harus mengganti jenis bahan pengikat / menambahkan dalam jumlah yang cukup

b. Jumlah partikel halus atau fine yang berlebihan Merupakan serbuk yang sangat halus, memiliki luas permukaan yang sangat besar maka pada permukaan fine banyak terdapat udara yang terabsorpsi dimana udara akan terjebak diantara granul masa cetak sewaktu pencetakan berlangsungdan mempunyai tekanan yang cukup besar, setelah tekanan dihilangkan udara ini akan mendesak keluar Mengatasinya dengan cara melakukan proses slugging atau mengulang kembali proses granulasinya

c. Masa cetak yang masih basah Terpisahnya permukaan atas atau bawah tablet disebabkan oleh bagian tablet menempel pada permukan punch Mengatasinya dengan mengeringkan nya kembali sampai diperoleh kadar granul yang tepat d. Tekanan yang berlebihan Mengatasinya dengan cara mengatur kembali besarnya tekanan pada mesin cetak

e. Granul terlalu kering Kadar air dalam granul berguna untuk mengaktifkan bahan pengikat yang digunakan sehingga mampu memberikan daya kohesif yang dibutuhkan dalam kompaknya tablet mengatasinya dengan menambahkan kedalam formula tablet salah satu bahan higroskopis (sorbitol, metil selulosa atau PEG 4000)

f. Bentuk fisik bahan obat Sulfanilamid yang berbentuk anhidrat akan mengalami capping sewaktu dicetak sedangkan bentuk hidratnya tidak mengalami peristiwa tersebut

2. Laminating : terpisahnya tablet menjadi 2 lapisan atau lebih 3. Picking dan sticking : terkelupasnya permukaan tablet akibat melengket atau menempelnya bagian tablet tersebut pada permukaan punch

Faktor faktor yang menyebabkan terjadinya picking dan sticking : a.Jumlah lembab yang berlebih Lembab dapat meninggikan daya kohesifitas dan adhesifitas masa cetak sehingga pada waktu pencetakan berlangsung dapat menempel pada punch ataupun dies Mengatasinya dengan cara mengeringkan kembali sampai diperoleh kadar air granul yang tepat

b. Jumlah lubrikan yang tidak tepat Kurangnya jml lubrikan dapat menyebabkan lengketnya masa cetak diruang cetak Mengatasinya dengan cara menambahkan lubrikan ( antiadheren ) dalam jumlah efektif c. Pengaruh bahan pembantu dengan titik leleh yang rendah Asam sitrat dan PEG akan meleleh pada pada kondisi pencetakan Mengatasinya dengan cara mencampurkan bahan tesebut dengan bahan pembantu lainnya yang memiliki titik leleh tinggi

d. Kekeliruan dalam pemilihan bahan pengikat Mengatasinya dengan cara menggunakan bahan pengikat yang tidak meningkatkan daya adhesifitas walaupun mempertinggi daya kohesifitas granul e. Permukaan punch yang kasar mengatasinya dengan melapisi permukaan punch dengan kromium

f. Humadity relatif ruang cetak Humadity relatif ruang cetak akan berbeda pada saat pagi, siang maupun sore hari, dimana jumlah lembab akan sangat berpengaruh terhadap pencetakan bahan obat yang sifatnya higroskopis Mengatasinya dengan cara menggunakan humadifier untuk mempertahankan kadar lembab tertentu didalam ruangan pencetakan, atau dengan menambahkan adsorben kedalam fomula

4. Motling : tidak meratanya distribusi bahan pewarna sehingga tabelet tampak bertotol totol, sedangkan pada bagian permukaan tablet lainnya pewarna itu merata

Faktor faktor yang menyebabkan : a.Hasil urai bahan obat Terutama diberikan oleh bahan obat yang berwarna akibat pengaruh suhu dan tekanan

mengatasinya dengan jalan memberikan warna kedalam granulasi bahan obat tersebut sesuai dengan warna hasil urai bahan obat b. Warna bahan obat yang tidak sama denagan bahan pembantu c. Migrasi bahan pewarna terjadi pada saat pengeringan granul berlangsung sehingga permukaan granul tidak memiliki intensitas warna yang sama, akibat ini akan kelihatan setelah proses pencetakan berlangsung

mengatasinya dengan cara menggantikan sistim pelarut dari bahan pewarna tersebut atau menurunkan suhu pengeringan 5. Whiskering : adanya misai atau serabut yang tipis pada permukaan atas maupun permukaan bawah tablet

Faktor faktor yang menyebabkan : a.Presisi punch dengan dies yang tidak sesuai lagi fine yang ada pada masa cetak akan menyusup diantara punch dan dies kemudian ikut tercetak mengatasinya dengan cara menggantikan punch dan dies yang masih memiliki presisi yang diperkenankan b.Kasarnya permukaan punch pada bagian sisi punch sebelah atas mengatasinya punch diganti dengan presisi yang tepat

5. Variasi bobot tablet


Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor : a.Ukuran dan distribusi granul yang dicetak Terlalu banyaknya granul ukuran besar akan memengaruhi pengisian rongga yang terdapat diantaranya pasa saat granul granul tersebut mengisi dies Meskipun vol awal selalu sama pada dies tetapi dapat memberikan bobot yang berbeda setelah dicetak

Mengatasinya dengan mengayak kembali pada ayakan yng lebih halus untk memperoleh granul yang lebih kecil b. Aliran yang buruk Menyebabkan pengisian masa cetak kedalam dies tidak seragam Mengatasinya dengan cara menambahkan bahan lubrikan spt talk atau koloidal silika ataupun dengan melengkapi mesin cetak dengan vibrator

c. Pencampuran yang tidak baik Beberapa lubrikan sulit untuk didistribusikan didalam masa cetak sehingga aliran yang diharapkan tidak dapat tercapai, akibatnya pengisian masa cetak kedalam dies menjadi tidak merata Mengatasinya dengan cara mencampurkan lubrikan kedalam sedikit masa cetak kemudian sedikit demi sedikit sisa masa cetak dicampurkan kedalam campuran yang sudah homogen

7. Variasi kekerasan Tergantung dari bobot bahan obat dan jarak antara permukaan punch atas dengan permukaan punch bawah pada saat terjadinya pencetakan

Evaluasi tablet jadi 1.Bobot rata- rata tablet : sejumlah 20 tablet yang telah dibersihkan dari debu ditimbang satu persatu , hitung bobot rata ratanya Menurut FI ed III : Tidak lebih dari 2 tablet mempunyai penyimpangan yang lebih besar dari kolom A dan tidak boleh ada 1 tablet pun yang mempunyai penyimpangan lebih besar dari kolom B

Bobot rata rata < 25 mg 26 mg 150 mg 151 mg 300 mg > 300 mg

A(%) 15 10 7,5 5

B(%) 30 20 15 10

2. Kekerasan tablet

Dilakukan terhadap 5 tablet memakai alat seperti strong cobb, stokes pengukuran ini dilakukan saat proses pencetakan sedang berjalan untuk mendapatkan tablet dengan kekerasan tertentu, yaitu dengan mengatur tekanan mesin tablet

Cara penentuan kekerasan tablet dengan alat pfizer : - Letakkan sebuah tablet diantara anvil dan punch, tablet dijepit dengan cara menjepit alat tersebut sampai tablet pecah atau retak - Pada saat tablet pecah angka yang ditujukan oleh jarum pada skala dicatat, maka kekerasan tablet adalah bilangan yang ditujukan oleh jarum penunjuk pada skala tersebut

3.Perbandingan diameter dengan tebal tablet Kecuali dinyatakan lain garis tengah tablet tidak lebih dari 3 kali dan tidak kurang dari 1 1/3 kali tebal tablet Perbandingan ini ada kaitannya dengan penampilan yang menarik sebagai hasil perkiraan bobot per tablet sesuai dengan jumlah bahan yang dikandungnya

4. Tes kerapuhan : tes untuk menentukan kemampuan dan daya tahan tablet terhadap gesekan dan guncangan selama prosesing, packing, transportasi sampai kepada konsumen Alatnya : roche friabilator yang mampu berputar 25 kali permenit

Cara : 1. 20 tablet bebas debu ditimbang bersama ( W1 g ), kemudian dimasukkan ke dalam alat 2. Jalankan alat, biarkan berputar selam 4 menit (100 x putaran) 3. Bersihkan kembali ke 20 tablet dari debu dan timbang ( W2 g ) 4. Hitung kerapuhan tablet : W1 W2 x 100 % W1

Batas kerenyahan : 0,8 % sampai 1 %


Tes ini tidak dapat dilakukan terhadap terhadap

yang tidak utuh Kerapuhan tablet ada kaitannya dengan keutuhan tablet sampai ketangan konsumen Karena : Selama proses packing maupun transportasi tablet akan mengalami benturan sesamamya atau benturan yang terjadi antara tablet dengan dinding wadahnya sehingga apabila tes kerapuhan ini tidak terpenuhi maka keutuhan tablet sebelum digunakan konsumen tidak dapat dijamin kadarnya

5. Waktu hancur tablet Berakaitan dengan ketersediaan biologis obat Menurut FI, tablet tidak bersalut waktunya tidak lebih dari 15 menit dan tablet bersalut gula 60 menit Dipengaruhi oleh ; Faktor formulasi Sifat fisik bahan obat Bahan pembantu Tekanan saat pencetakan Tekanan yang berlebihan dan kekerasan yang besar akan memperpanjang waktu hancur tablet

Cara : a. Isi bejana dengan cairan yang cocok seperti cairan lambung buatan/usus buatan sesuai dengan tablet yang diukur waktu hancurnya b. Larutan yang digunakan diatur suhunya sampai 37o C c. Jumlah cairan ini sedemikian rupa sehingga pada saat keranjang turun permukaannya tidak tenggelam dalam cairan dan pada saat keranjang ini naik, permukaan sebelah bawahnya tidak melebihi permukaan cairan d. Tablet yang diukur waktu hancurnya dimasukkan satu persatu pada 6 tabung yang ada,

Setelah itu kedalam masing masing tabung dimasukkan pula cakram yang terbuat dari plastik 6. Tombol ditekan untuk menjalankan alat dan catat waktu tablet telah melewati saringan yang terdapat pada setiap tabung kecuali sisa sisa tablet yang tidak larut dalam caieran yang digunkan 7. Ulangi 5x percobaan dan setiap pengulangan cairan selalu diganti dengan cairan yang baru

6.Disolusi : suatu proses melarutnya bahan padat kedalam suatu medium pelarut Tujuan : Meramalkan pelepasan obat, pegangan dalam pengembangan suatu produk obat serta untuk mengawasi keseragaman suatu produk obat Prinsip : penentuan jumlah bahan obat terlarut dalam selang waktu tertentu

Hukum fick II dC = k ( Cs-Ct ) dt dC dt k Cs Ct = Laju disolusi obat = Konstanta = konsentrasi maksimum ( g/cm3 ) = konsentrasi pada waktu t ( g/cm3 )

Faktor faktor yang mempengaruhi disolusi 1.Faktor lingkungan selama percobaan a. Laju pengadukankan mempengaruhi tebal lapisan difusi. Jika pengadukan cepat maka tebal lapisan difusi kecil, sehingga laju disolusi bertambah b.Suhu medium Kelarutan zat aktif sangat dipengaruhi oleh suhu medium disolusi

Jika suhu tinggi maka viskositas akan turun, sehingga koefisien difusi akan naik. Kenaikan koefisien difusi akan menaikkan laju disolusi, karena itu suhu harus dikontrol pada rentang waktu 0,50C dari suhu yang diinginkan c. Viskositas medium Viskositas akan memberikan koefisien difusi yang kecil, sehinggadisolusi menjadi berkurang

d. pH medium Laju disolusi senyawa yang bersifat asam lemah akan naik dengan naiknya pH dan laju disolusi basa lemah akan turun dengan naiknya pH Untuk zat yang kelarutannya tidak tergantung pH, perubahan pH medium disolusi tidak akan mempengaruhi laju disolusi e. Tegangan permukaan Penambahan surfaktan dengan konsentrasi tinggi akan meningkatkan laju disolusi

hal ini terjadi karena surfaktan menurunkan tegangan permukaan antara senyawa dengan medium disolusi, sehingga laju disolusi menjadi besar. 2. Sifat fisikokimia zat aktif a.Ukuran partikel Makin kecil ukuran partikel, maka luas permukaan semakin besar, sehingga laju disolusi semakin besar b. Kelarutan zat aktif Kelarutan zat aktif berbanding lurus dengan laju disolusi

3. Faktor formulasi Bahan pembantu yang digunakan dalam formula akan mempengaruhi laju disolusi zat aktif dalam sediaan itu. Bila bahan tambahan hidrofil, maka laju disolusi akan bertambah dan sebaliknya jika hidrofob maka laju disolusi berkurang Penambahan surfaktan akan meningkatkan kelarutan senyawa hidrofob sehingga dapat mempercepat disolusi

Metode penentuan laju disolusi a.Metode basket Terdiri dari : Penangas air, labu tertutup, motor penggerak, dan silinder basket Cara : Medium disolusi dimasukkan kedalam labu tertutup, kemudian diatur suhunya 37oC dengan bantuan penangas air. Sediaan dimasukkan kedalam silinder basket, kemudian dicelupkan kedalam medium disolusi, putar dengan motor penggerak pada laju 50 125 rpm. Kemudian ditentukan berapa banyak zat aktif yang terlarut dalam medium disolusi

2. Metode paddle Metode ini membutuhkan peralatan yang hampir sama dengan metode basket tetapi silinder basket diganti dengan paddle ( pendayung ) 3. Metode metode lainnya a. Modifikasi dari alat waktu hancur b. Metode roating flask c. Metode flow trough

Evaluasi granul Dilakukan karena sifat sifat granul yang dihasilkan akan menentukan kualitas dari tablet yang akan dicetak 1.Porositas Berbanding lurus dengan waktu hancur dan berbanding terbalik dengan kekerasan tablet a.Penetuan bj benar Menggunakan piknometer dan pelarut dimana bahan pembentuk granul tidak larut didalamnya

b. Penentuan bj nyata dan bj benar Bj benar : Massa granul dibagi dengan volume granul tanpa vol rongga antar granul dan vol pori pori pada granul Bj nyata : Massa granul dibagi vol granul tanpa vol rongga antar granul

2. Volume Volume pemampatan merupakan vol total serbuk sendiri beserta vol pori-pori dan vol ruang antar partikel setelah mengalami pemampatan sampai vol tetap yang dilakukan dengan alat pemampatan ( kp 500 = 500 x ketukan Kp 500 = 1 V500 x 100% V0 V500 : vol sblm pemampatan V0 : vol setelah pemapatan dari 500 ketukan

3. Sifat aliran Menentukan sudut istirahat dan waktu yang dibutuhkan sejumlah serbuk untuk melalui suatu lubang pada permukaan horizontal dan membentuk tumpukan kerucut. Sudut antara permukaan kerucut dan bidang horizontal disebut sudut istirahat

Cara corong: Kedalam corong dengan diameter, panjang dan diameter tangkai corong tertentu dimasukkan sjmlh granul dan ratakan permukaannya. Sebelumnya mulut corong bawah ditutup, kemudian lubang dibuka biarkan granul mengalir dengan bebas. Jarak ujung tangkai corong sedemikian rupa sehingga ujungnya menyentuh puncak dari tumpukan granul

Cara menghitung sudut istirahat : Tangens alpha = tingginya puncak timbunan diameter Hubungan sudut istirahat dengan aliran : Sudut > 60o serbuk sangat kohesif Sudut < 250 serbuk non kohesif Harga alpha yang tinggi biasanya memperlihatkan sifat aliran serbuk jelek dan ukuran partikel biasanya antara 75 dan 100 mikron

Harga alpha yang rendah memperlihatkan sifat

aliran yang baik dan ukuran partikel biasanya lebih besar dari 60 / 250 mikron Tangen dari alpha merupakan gesekan dari partikel dan biasanya dihubungkan dengan sifat aliran serbuk contoh : sudut alpha 65o koefisien gesekannya adalah tangen 65o = 2,14

4. Penentuan kadar fine (> 100mikron ) Timbang 10g granul dan ayak diatas pengayak no 140 selama 5 menit diatas shaker dan timbang fine yang terdapat diatas wadah penampung 5. Distribusi ukuran granul 6. Penetuan kekerasan granul

Anda mungkin juga menyukai