Anda di halaman 1dari 92

SEMESTER VII

Two Credit Hours

By: Drs. Purwo Haryono, M.Hum.


Discourse Analysis 1

References

Brown, Gillian. And Yule, George. 1996. Discourse Analysis. Cambridge: Cambridge University Press. Coulthard, Malcolm. 1998. Advances in Written Text Analysis. New York: Routledge. Coulthard, Malcolm. 1979. An Introduction to Discourse Analysis. London: Longman Group Limited. Lubis, A. Hamid Hasan. 1991. Analisis Wacana Pragmatik. Bandung: Angkasa. Tarigan, Henry Guntur. 1987. Pengajaran Wacana. Bandung: Angkasa. Sumarlam (ed.). 2003. Teori dan Praktik Analisis Wacana. Surakarta: Pustaka Cakra.

Discourse Analysis

The Meaning of Discourse

Norman Fairclough (1995/1999: 7): Discourse is the use of language seen as a form of social practice, and discourse analysis is analysis of how texts work within sociocultural practice. David Crystal (1987: 116): Discourse analysis focuses on the structure of naturally occurring spoken language, as found in such discourses as conversation, interviews, commentaries, and speeches. Text analysis focuses on the structure of written language, as found in such text as essays, notices, road signs, and chapters.
Discourse Analysis 3

Willis Edmondson (1981: 4): a discourse is a structured event manifest to linguistics (and other) behavior. A text is a structured sequence of linguistic expressions forming a unitary whole.
Harimurti Kridalaksana (2000: 231): Wacana (discourse) adalah satuan bahasa terlengkap, dalam hirarkhi gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar. Wacana ini direalisasikan dalam bentuk karangan yang utuh (novel, buku, seri ensiklopedia, dsb.), paragraf, kalimat, atau kata yang membawa amanat yang lengkap.
Discourse Analysis 4

A. Hamid Hasan Lubis (1994: 20): Kesatuan bahasa yang lengkap sebenarnya bukanlah kata atau kalimat, sebagaimana dianggap beberapa kalangan dewasa ini, melainkan wacana atau discourse.

Abdul Chaer (1994: 267): Wacana adalah satuan bahasa yang lengkap, sehingga dalam hirarkhi gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar.
Discourse Analysis 5

Tarigan (1987: 27): Wacana adalah satuan bahasa yang terlengkap dan tertinggi atau terbesar di atas kalimat atau klausa dengan kohesi dan koherensi tinggi yang berkesinambungan yang mempunyai awal dan akhir yang nyata disampaikan secara lisan atau tertulis. Definisi wacana ini mengandung unsur-unsur penting sebagai berikut: satuan bahasa, terlengkap/tertinggi/ terbesar, di atas kalimat/klausa, kohesi dan koherensi tinggi, berkesinambungan, mempunyai awal dan akhir, dan lisan atau tulis.
Discourse Analysis 6

Language Functions Finocchiaro (1974:5):


1. Personal Function: language is used to express ones emotion, needs, thoughts, desires, attitudes, etc. 2. Interpersonal Function: language is used to maintain good social relations with individuals and groups expressions of praise, sympathy, joy at anothers success, inquiries about health, etc.
Discourse Analysis 7

3. Directive Function: language is used to control the behavior of others through advice, warnings, requests, persuasion, discussion, etc. 4. Referential Function: language is used to talk about objects or events in the immediate setting or environment or in the culture.
Discourse Analysis 8

5. Metalinguistic Function: language is used to talk about language. 6. Imaginative Function: language is used creatively in rhyming, composing poetry, etc.

Discourse Analysis

Halliday:
1. Instrumental Function: language is used to manipulate and control the environment. He calls this I want function. 2. Interactional Function: language is used to define and consolidate the group. This is a Me and you function.
Discourse Analysis 10

3. Regulatory Function: language is used to control others: the language of rules and instructions. This is the Do as I tell you function. 4. Personal Function: language enables the users to identify and realize their own personality. This is called Here I come function.
Discourse Analysis 11

5. Heuristic Function: language as a means of learning about things. This is the Tell me why function. 6. Imaginative Function: language is used to create ones own environment. This is a Lets pretend function.

Discourse Analysis

12

7. Representational or Informative Function: language is used to convey messages about the real world. This is Ive got something to tell you 8. Play Function: language is used to rhyme and make up nonsense words trying out the responsibilities of the language system being acquired. This is the Billy pilly function.
Discourse Analysis 13

9. Ritual Function: language is used to define social group, language as good manners. This is How do you do function.

Discourse Analysis

14

Stewart:
1. Group Function: used primarily for communication within a particular speech community, identifying it as a specific sociocultural group in the country. 2. Official Use: designated legally as official or used for government purposes at the national level.
Discourse Analysis 15

3. Language of wider communication: or lingua franca, used within a given country for interethnic communication. 4. Educational Use: used in education beyond the first year of primary school, with textbooks published in it. 5. Religious Purpose: language is used to pray for religious needs.

Discourse Analysis

16

6. International Use: for communication with other nations. 7. School Subject Function: widely studied as a subject at schools rather than being used as a medium of instruction. 8. Provincial Function: indicating official use at the level of some political division smaller than a country as a whole.
Discourse Analysis 17

9. Capital Function: indicating that the language variety is the dominant means of communication in the area of the national capital. 10. Literary Function: the use of language mainly for literary and scholarly work.

Discourse Analysis

18

Jenis-jenis Wacana
Berdasarkan bahasa yang dipakai: 1. Wacana bahasa nasional (Indonesia) 2. Wacana bahasa lokal atau daerah. 3. Wacana bahasa internasional 4. Wacana bahasa lainnya, spt bahasa Belanda, Jerman, Perancis, dll.

Discourse Analysis

19

Berdasarkan Media yang digunakan


Wacana lisan Wacana tulis

Discourse Analysis

20

Berdasarkan sifat atau jenis pemakaiannya:

Wacana monolog (monologue discourse): disampaikan seorang diri tanpa melibatkan orang lain untuk ikut berpartisipasi secara langsung (bersifat searah/noninteractive communication). Wacana dialog (dialogue discourse): dilakukan oleh dua orang atau lebih secara langsung (interactive communication)
Discourse Analysis 21

Berdasarkan bentuknya:

Wacana prosa: wacana yang disampaikan dalam bentuk prosa (Jawa: gancaran) tulis/ lisan spt cerpen, cerbung, novel, artikel, khotbah, dan kuliah. Wacana puisi: wacana yang disampaikan dalam bentuk puisi (Jawa: geguritan) seperti puisi dan syair, deklamasi dan lagu.

Discourse Analysis

22

Wacana drama: wacana yang disampikan dalam bentuk drama, dalam bentuk dialog baik tulis maupun lisan seperti naskah drama, sandiwara, percakapan antar pelaku, dsb.

Discourse Analysis

23

Berdasarkan cara dan tujuan pemaparan:


Wacana Wacana Wacana Wacana Wacana

Narasi Deskripsi Eksposisi Argumentasi Persuasi

Discourse Analysis

24

Wacana Narasi/wacana penceritaan disebut juga wacana penuturan: wacana yang mementingkan urutan waktu, dituturkan oleh persona pertama atau ketiga dalam waktu tertentu. Berorientasi pada pelaku dan seluruh bagiannya diikat secara kronologis. Pada umumnya terdapat pada berbagai fiksi.
Discourse Analysis 25

Contoh:
Rini memang cantik. Apalagi jika bersama Ida teman karibnya, yang juga tidak kalah jelitanya. Keduanya bagaikan bidadari turun dari langit. Karenanya lelaki yang tidak bertampang lumayan dan tidak tebal dompetnya tidak berani mendekatinya. Padahal, kedua gadis itu sama sekali tidak pernah sombong dan angkuh kepada siapa pun. Apalagi dalam hal berteman, tak ada satu pun yang diistimewakan. Semuanya dianggap sama asal mereka tidak kurang ajar saja.
Discourse Analysis 26

Wacana di atas dinarasikan oleh persona ketiga (penulis) dan berorientasi pada pelaku atau tokoh dalam cerita tersebut, yaitu Rini (dan Ida) seorang gadis cantik, tidak sombong, dan tidak pernah membedabedakan dalam berteman.
Discourse Analysis 27

Wacana deskriptif: bertujuan melukiskan, menggambarkan atau memerikan sesuatu menurut apa adanya.

Discourse Analysis

28

Contoh:
Secara administratif Kota Surakarta atau yang lebih dikenal sebagai Kota Sala dibatasi oleh daerah kabupaten yang lain. Di sebelah utara dibatasi oleh daerah Kabupaten Karanganyar dan Boyolali. Di sebelah timur dibatasi oleh Kabupaten Sragen dan Karanganyar. Di sebelah selatan dibatasi oleh Kabupaten Sukoharjo, dan di sebelah barat dibatasi oleh daerah Kabupaten Sukoharjo dan Karanganyar.
Discourse Analysis 29

Wacana eksposisi atau wacana pembeberan: wacana yang tidak mementingkan waktu dan pelaku. Berorientasi pada pokok pembicaraan, dan bagian-bagiannya diikat secara logis.

Discourse Analysis

30

Membicarakan masalah-masalah perempuan selalu aktual dan menarik karena tidak akan kehabisan isu. Sepanjang peradaban manusia, perempuan hanya memainkan peran sosial, ekonomi maupun politik yang tidak signifikan, dibandingkan dengan peran laki-laki. Secara struktural maupun fungsional mereka selalu terpinggirkan. Sebaliknya, peran domestik perempuan lebih menonjol sebagai istri maupun ibu rumah tangga. Pertanyaannya adalah sampai kapan kondisi seperti itu akan terus berlangsung?, padahal upaya-upaya bahkan terobosan-terobosan baru untuk mengubahnya sudah sekian lama diperjuangkan oleh banyak kalangan khususnya kaum feminis.
Discourse Analysis 31

Wacana argumentasi berisi ide atau gagasan yang dilengkapi dengan datadata sebagai bukti, dan bertujuan meyakinkan pembaca akan kebenaran ide atau gagasannya.

Discourse Analysis

32

Keluarga berencana adalah salah satu cara yang harus kita tempuh agar tercipta keluarga kecil yang sejahtera dan bahagia. Dengan hanya punya anak dua orang berarti lebih mudah mendidiknya, lebih mudah mencarikan segala kebutuhannya, sehingga dengan penuh optimisme kita dapat mengharapkan masa depan yang cemerlang. Ibu dan ayah tidak cepat tua, dan terhindar dari segala rongrongan kesulitan hidup dibandingkan dengan punya anak banyak. Maka agar tiap keluarga dapat menciptakan kesejahteraan dan kebahagiaan lahir batin, cara yang paling tepat adalah turut serta mensukseskan program keluarga berencana.
Discourse Analysis 33

Wacana persuasi: bersifat ajakan atau nasihat. Biasanya ringkas dan menarik, serta bertujuan untuk mempengaruhi secara kuat pada pembaca atau pendengar agar melakukan nasihat atau ajakan tersebut.
Discourse Analysis 34

Beberapa hal yang harus kamu perhatikan sungguh-sungguh pada saat sekarang dan seterusnya di dalam meniti hidup berumah tangga. Kamu harus bersikap hati-hati dan bijaksana serta membina kemampuan berdiri sendiri. Orang tuamu telah melepasmu dan meletakkan seluruh tanggung jawabnya kepadamu sepenuhnya. Mereka tidak dapat lagi bertindak sebelum saat ini berlangsung. Binalah rumah tanggamu dengan baik, tekun dan saling percaya. Pandanglah kedua mertuamu sebagai orang tuamu sendiri.
Discourse Analysis 35

Llamzon dalam Discourse Analisis (1984) menyebutkan jenis-jenis wacana:


Naratif Prosedural Hortatorik Ekspositorik Deskriptif

Discourse Analysis

36

Wacana Naratif

Rangkaian tuturan yang menceritakan atau menyajikan suatu hal atau kejadian melalui penonjolan tokoh atau pelaku (orang pertama atau ketiga) dengan maksud memperluas pengetahuan pendengar atau pembaca. Kekuatan wacana ini terletak pada urutan cerita berdasarkan waktu dan cara-cara bercerita yang diatur melalui alur (plot).
Discourse Analysis 37

Wacana Prosedural:

Rangkaian tuturan yang melukiskan sesuatu secara berurutan yang tidak boleh dibolak-balik unsur-unsurnya karena urgensi unsur terdahulu menjadi landasan unsur berikutnya. Disusun untuk menjawab pertanyaan bagaimana sesuatu bekerja atau terjadi. Misalnya, bagaimana membongkar dan memasang mesin mobil atau bagianbagian tertentu yang memerlukan prosedur seperti itu.
Discourse Analysis 38

Wacana Hortatorik

Tuturan yang isinya bersifat ajakan atau nasihat. Kadang-kadang tuturan itu bersifat memperkuat keputusan agar lebih meyakinkan. Tokoh penting di dalamnya adalah orang. Tidak disusun berdasarkan urutan waktu, tetapi hasil/produksi suatu waktu.
Discourse Analysis 39

Wacana Ekspositoris

Rangkaian tuturan bersifat memaparkan pokok pikiran. Pokok pikiran lebih dijelaskan lagi dengan cara menyampaikan uraian bagian-bagian atau detilnya. Tujuannya: tercapainya tingkat pemahaman thd sesuatu secara lebih jelas, mendalam, dan luas. Kadang-kadang berbentuk ilustrasi dengan contoh, perbandingan, dan penentuan identifikasi dengan orientasi pokok pada masalah, bukan pada tokohnya.
Discourse Analysis 40

Wacana Deskriptif

Rangkaian tuturan yang memaparkan atau melukiskan sesuatu, baik berdasarkan pengalaman maupun pengetahuan penuturnya. Tujuannya: tercapainya pengamatan yang agak imajinatif terhadap sesuatu, shg pendengar/pembaca seolah-olah mengalami atau mengetahuinya scr langsung.
Discourse Analysis 41

Aspek Gramatikal dlm Analisis Wacana


1. 2. 3.

4.

Pengacuan (reference) Penyulihan (substitution) Pelesapan (ellipsis) Perangkaian (conjunction)

Discourse Analysis

42

Pengacuan (reference)
Berdasarkan tempatnya: 1. Pengacuan endofora: acuannya (satuan lingual yang diacu) berada di dalam teks wacana itu. 2. Pengacuan eksofora: acuannya terdapat di luar teks wacana.

Discourse Analysis

43

Endophoric Reference

Anaphoric reference (p. anaforis): mengacu pada satuan lingual lain yang mendahuluinya, atau mengacu pada anteseden di sebelah kiri atau mengacu pada unsur yang telah disebut terdahulu. Cataphoric reference (p. kataforis): mengacu pada satuan lingual lain yang mengikutinya, atau mengacu pada anteseden di sebelah kanan atau mengacu pada unsur yang baru disebut kemudian.
Discourse Analysis 44

Endophoric Reference

Pengacuan persona Pengacuan demonstratif Pengacuan komparatif

Discourse Analysis

45

Pengacuan Persona
(1)

(2)

(3)

Pak RT, saya terpaksa minta berhenti, kata Agus bendaharaku yang pandai mencari uang itu. Hai, Sri! Aku kemarin melihat kamu boncengan dengan Djati, ke mana? tanya Dewi ingin sekali tahu. Namun, sepertinya Bu Tlasih tidak mau menerima, ia pergi tanpa pamit.
Discourse Analysis 46

Persona
I II III

Tunggal:
Aku, saya, hamba, gua/gue

Jamak:
Kami, kami semua, kita

Tunggal:
Kamu, anda, ente

Jamak:
Kamu, kamu semua, kalian

Tunggal:
Ia, dia, beliau

Jamak:
Mereka, mereka semua

Discourse Analysis

47

Pengacuan Demonstratif
Waktu Kini: kini, sekarang, saat ini Lampau: kemarin, dulu, yang lalu y.a.d.: besok, depan, yang akan datang Netral: pagi, siang, sore, pukul 12 Tempat

Dekat: sini, ini


Agak dekat: situ, itu Jauh: sana

Menunjuk secara eksplisit: Sala, Yogya


Discourse Analysis 48

(1)

(2)

(3)

(4)

Peringatan 62 tahun Indonesia merdeka pada tahun 2007 ini akan diramaikan dengan pergelaran pesta kembang api di ibu kota Jakarta. Pada tanggal 21 April 2006 kurang lebih genap setahun yang lalu, di Gedung Wanita ini juga sudah pernah diadakan seminar mengenai kewanitaan tingkat nasional. Minggu depan penyanyi kondang yang tak pernah berhenti melancarkan kritik sosial, Iwan Fals, bakal manggung di Stadion Sriwedari Solo bersama penyanyi kondang Sawung Jabo dan Kyai Zainudin MZ. Setiap malam, kurang lebih jam dua malam, ibuku selalu melakukan shalat tahajut, memohon kepadaNya agar saya segera lulus dan mendapatkan pekerjaan.
Discourse Analysis 49

Ya di Kota Sala sini juga ayah dan ibumu mengawali usaha batik, kata Paman sambil menggandeng saya. (2) Surat dari sekolahan tadi mana, Bu? Tadi rasanya ibu taruh di atas meja situ, jawab Bu Partono sambil membetulkan kaca matanya yang sudah tiga mili tebalnya. (3) Pardi ke mana, Pak?, tanya Lastri kepada ayahnya. Mancing di sungai sana, Jawab Pak Marto sambil menggantungkan baju yang baru saja dilepas karena kotor dari sawah.
(1)
Discourse Analysis 50

Pengacuan Komparatif

Membandingkan dua hal atau lebih yang mempunyai kemiripan atau kesamaan dari segi bentuk, sikap, sifat, watak, perilaku, dsb. Kata-kata yang digunakan: seperti,

bagai, bagaikan, laksana, sama dengan, tidak berbeda dengan, persis seperti, dan persis sama dengan.
Discourse Analysis 51

(1)

Tidak berbeda dengan ibunya, Nita itu


orangnya cantik, ramah, dan lemah lembut. Apa yang dilakukan hanya dua: jika tidak membaca buku, ya melamun entah apa yang dipikirkan, persis seperti orang yang terlalu banyak utang saja.
Discourse Analysis

(2)

52

Penyulihan (Substitusi)

Substitusi Substitusi Substitusi Substitusi

nominal verbal frasal klausal

Discourse Analysis

53

Substitusi Nominal
(1) Agus sekarang sudah berhasil mendapat gelar Sarjana Pendidikan. Titel kesarjanaannya itu akan digunakan untuk mengabdi kepada nusa dan bangsa melalui pendidikannya. (2) Hanya saja, jangan sampai lupa: derajat yang sudah kita peroleh sekarang ini sedapat mungkin bawalah sebagai bekal untuk meraih tingkat yang lebih tinggi. Pilihlah sekolah yang murid-muridnya sudah menjadi berpangkat.
Discourse Analysis 54

Substitusi verbal
(1)

(2)

Budi mempunyai hobi mengarang cerita pendek. Dia berkarya sejak masih di bangku sekolah menengah pertama. Kita kadang berusaha dengan setengah hati, padahal jika kita mau berikhtiar dengan sungguh-sungguh tentu akan menjadi lebih baik hasilnya.

Discourse Analysis

55

Substitusi frasal
(1)

Aku tidak meneruskan pertanyaanku. Ibuku juga tidak berbicara. Dua orang sama-sama diam.
Maksud hati mau menengok orang tua. Mumpung hari Minggu, senyampang hari libur.

(2)

Discourse Analysis

56

Substitusi Klausal
S: Jika perubahan yang dialami oleh Anang tidak bisa diterima dengan baik oleh orang-orang di sekitarnya; mungkin hal itu disebabkan oleh kenyataan bahwa orang-orang itu banyak yang tidak sukses seperti Anang. T: Tampaknya memang begitu.
Discourse Analysis 57

Pelesapan (Ellipsis)
Fungsinya: 1. Menghasilkan kalimat yang efektif 2. Efisiensi 3. Mencapai aspek kepaduan wacana 4. Bagi pembaca/pendengar berfungsi untuk mengaktifkan pikirannya 5. Untuk kepraktisan berbahasa terutama dalam berkomunikasi secara lisan.
Discourse Analysis 58

(1)

Budi seketika itu terbangun. menutupi

(2)

matanya karena silau, mengusap muka dengan saputangannya, lalu bertanya, Di mana ini? Budi seketika itu terbangun. Budi menutupi matanya karena silau, Budi mengusap muka dengan saputangannya, lalu Budi bertanya, Di mana ini?
Discourse Analysis 59

(1)

Aku dan dia sama-sama mahasiswa.

(2)

berangkat bersama-sama, pulang juga bersama-sama. Aku dan dia sama-sama mahasiswa. Aku dan dia berangkat bersamasama, aku dan dia pulang juga bersama-sama.
Discourse Analysis 60

Perangkaian
1 2 3 4 5 6 7 8 Sebab akibat Pertentangan Kelebihan Perkecualian Konsesif Tujuan Penambahan Pilihan : sebab, karena, maka, makanya : tetapi, namun : malah : kecuali : walaupun, meskipun : agar, supaya : dan, juga, serta : atau, apa
Discourse Analysis 61

Aspek Leksikal dalam Analisis Wacana


Repetisi (Pengulangan) Sinonimi (Padan Kata) Antonimi (Lawan Kata) Kolokasi (Sanding Kata) Hiponimi (Hub. Atas-Bawah) Ekuivalensi (Kesepadanan)
Discourse Analysis 62

Repetisi

Pengulangan satuan lingual (bunyi, suku kata, kata, atau bagian kalimat) yang dianggap penting untuk memberi tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai. Berdasarkan tempat satuan lingual yang diulang dalam baris, klausa atau kalimat, repetisi dibedakan menjadi: repetisi epizeuksis, tautotes, anafora, epistrofa, simploke, mesodiplosis, epanalepsis, dan anadiplosis (lihat Gorys Keraf, 1994: 127128).
Discourse Analysis 63

1. Repetisi Epizeuksis

Pengulangan satuan lingual (kata) yang dipentingkan beberapa kali secara berturutturut. Sebagai orang beriman, berdoalah selagi ada kesempatan, selagi diberi kesehatan, dan selagi diberi umur panjang. Berdoa wajib bagi manusia. Berdoa selagi kita sehat tentu lebih baik daripada berdoa selagi kita butuh. Mari kita berdoa bersama-sama selagi Allah mencintai umat-Nya.
Discourse Analysis 64

2. Repetisi Tautotes

Pengulangan satuan lingual (sebuah kata) beberapa kali dalam sebuah konstruksi. Aku dan dia terpaksa harus tinggal berjauhan, tetapi aku sangat mempercayai dia, dia pun sangat mempercayai aku. Aku dan dia saling mempercayai.

Discourse Analysis

65

3. Repetisi Anafora

Pengulangan satuan lingual berupa kata atau frasa pertama pada tiap baris atau kalimat berikutnya. Pengulangan pada tiap baris biasanya terjadi pada puisi, sedangkan pada tiap kalimat terjadi dalam prosa.

Bukan nafsu, bukan wajahmu, bukan kakimu, bukan tubuhmu, Aku mencintai karena hatimu.
Discourse Analysis 66

4. Repetisi Epistrofa

Pengulangan satuan lingual kata/frasa pada akhir baris (dalam puisi) atau akhir kalimat (dalam prosa) secara berturut-turut.

Bumi yang kaudiami, laut yang kaulayari, adalah puisi. Udara yang kauhirupi, air yang kauteguki, adalah puisi. Kebun yang kautanami, bukit yang kaugunduli, adalah puisi. Gubug yang kauratapi, gedung yang kautinggali, adalah puisi. (Gorys Keraf, 1994: 128).
Discourse Analysis 67

5. Repetisi Simploke

Pengulangan satuan lingual pada awal dan akhir beberapa baris/kalimat berturut-turut.

Kamu bilang hidup ini brengsek. Biarin. Kamu bilang hidup ini nggak punya arti. Biarin. Kamu bilang nggak punya kepribadian. Biarin. Kamu bilang nggak punya pengertian. Biarin. (Gorys Keraf, 1994: 128, dengan modifikasi)
Discourse Analysis 68

6. Repetisi Mesodiplosis

Pengulangan satuan lingual di tengah-tengah baris atau kalimat secara berturut-turut.

Pegawai kecil jangan mencuri kertas karbon. Babu-babu jangan mencuri tulang-tulang ayam goreng. Para pembesar jangan mencuri bensin. Para gadis jangan mencuri perawannya sendiri.
Discourse Analysis 69

7. Repetisi Epanalepsis

Pengulangan satuan lingual, yang kata/ frasa terakhir dari baris/kalimat itu merupakan pengulangan kata/frasa pertama.

Minta maaflah kepadanya sebelum dia datang minta maaf. Kamu mengalah bukan berarti dia mengalahkan kamu. Berbuat baiklah kepada sesama selagi bisa berbuat baik.
Discourse Analysis 70

8. Repetisi Anadiplosis

Pengulangan kata/frasa terakhir dari baris/kalimat itu menjadi kata/frasa pertama pada baris/kalimat berikutnya.

dalam hidup ada tujuan tujuan dicapai dengan usaha usaha disertai doa doa berarti harapan harapan ialah perjuangan perjuangan adalah pengorbanan
Discourse Analysis 71

Sinonimi (Padan Kata)

Nama lain untuk benda atau hal yang sama; atau ungkapan yang maknanya kurang lebih sama dengan ungkapan lain. Berdasarkan wujud satuan lingualnya, dapat dibedakan menjadi: sinonimi antara morfem (bebas) dengan morfem (terikat), kata dengan kata, kata dengan frasa atau sebaliknya, frasa dengan frasa, klausa/kalimat dengan klausa/kalimat.
Discourse Analysis 72

1. Sinonimi Morfem (bebas) dengan Morfem (terikat)


a. b.

c.

Aku mohon kau mengerti perasaanku. Kamu boleh main sesuka hatimu. Dia terus berusaha mencari jatidirinya.

Discourse Analysis

73

2. Sinonimi Kata dengan kata


Meskipun capeg, saya sudah terima bayaran. Setahun menerima gaji 80%. SK pegnegku keluar. Gajiku naik.

3. Sinonimi Kata dengan frase atau sebaliknya


Kota itu semalam dilanda hujan dan badai. Akibat adanya musibah itu banyak gedung yang runtuh, rumah-rumah penduduk roboh, dan pohon-pohon pun tumbang disapu badai.
Discourse Analysis 74

4. Sinonimi Frase dengan Frase


Tina adalah sosok wanita yang pandai bergaul. Betapa tidak. Baru dua hari pindah ke sini, dia sudah bisa beradaptasi dengan baik.

5. Sinonimi Klausa/Kalimat dengan Klausa/Kalimat Gunakan landasan teori yang tepat untuk memecahkan masalah tersebut. Pendekatan yang digunakan untuk menyelesaikan persoalan itu pun juga harus akurat.
Discourse Analysis 75

Antonimi (Lawan Kata)

Satuan lingual yang maknanya berlawanan/beroposisi dengan satuan lingual lain. Antonimi disebut juga oposisi makna yang mencakup konsep yang betul-betul berlawanan sampai kepada yang hanya kontras makna saja. Berdasarkan sifatnya dibedakan menjadi: oposisi mutlak, oposisi kutub, oposisi hubungan, oposisi hirarkial, oposisi majemuk.
Discourse Analysis 76

1. Oposisi Mutlak

Pertentangan makna secara mutlak, misalnya oposisi antara kata hidup dengan kata mati, bergerak dengan diam.

Hidup dan matinya perusahaan tergantung dari usaha kita. Jangan hanya diam menunggu kehancuran, mari kita mencoba bergerak dengan cara lain.
Discourse Analysis 77

2. Oposisi Kutub

Oposisi makna yang tidak bersifat mutlak, tetapi bersifat gradasi. Artinya, terdapat tingkatan makna pada kata-kata tersebut. >< >< >< >< >< miskin kecil pendek sempit susah
Discourse Analysis 78

kaya besar panjang lebar senang

Memasuki era globalisasi sekarang ini, meningkatkan kualitas sumberdaya manusia sangatlah penting. Semua warga negara berhak untuk mendapatkan pendidikan dan pengajaran, baik itu orang kaya maupun orang miskin. Semua mempunyai hak yang sama untuk mengenyam pendidikan. Kata kaya dan miskin dikatakan beroposisi kutub sebab terdapat gradasi di antara oposisi keduanya, yaitu adanya realitas sangat kaya, agak kaya, agak miskin, miskin, sangat miskin.
Discourse Analysis 79

3. Oposisi Hubungan

Oposisi makna yang bersifat saling melengkapi, maka makna kata yang satu dimungkinkan ada kehadirannya karena kehadiran kata yang lain yang menjadi oposisinya;atau kehadiran kata yang satu disebabkan oleh adanya kata yang lain. >< >< >< >< >< ibu murid mahasiswa pasien beli
Discourse Analysis 80

bapak guru dosen dokter jual

Ibu Rini adalah seorang guru yang cantik dan cerdas. Selain itu, beliau juga pandai dalam menyampaikan materi pelajaran di kelas, sehingga semua murid senang kepadanya. Pak Rahmat bekerja sebagai dokter di sebuah rumah sakit swasta di Solo. Beliau sangat ramah kepada semua pasiennya tanpa memandang kaya atau miskin. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila beliau mendapat predikat dokter teladan.
Discourse Analysis 81

4. Oposisi Hirarkial

Oposisi makna yang menyatakan deret jenjang atau tingkatan. Biasanya terjadi pada kata-kata yang menunjuk nama-nama satuan ukuran (panjang, berat, isi), nama satuan hitungan, penanggalan, dan sejenisnya.

milimeter >< sentimeter >< meter >< kilometer kilogram >< kuintal >< ton detik >< menit >< jam >< hari >< minggu SD >< SLTP >< SMA >< PT
Discourse Analysis 82

Ketika di TK, Silvy adalah anak yang periang, pemberani dan cerdas, sehingga setelah masuk SD dia menjadi anak yang paling pintar dan selalu menjadi bintang kelas. Hal itu terus berlangsung hingga dia masuk di SMP. Namun, setelah dia masuk SMA sifatnya yang periang itu hilang semenjak ayah dan ibunya bercerai. Akhirnya ia pun terpaksa tidak bisa melanjutkan kuliah di PT karena ibunya tidak mampu lagi membiayainya. Sudah berminggu-minggu, bahkan berbulanbulan Shinta menunggu kabar dari kekasihnya yang sedang bertugas di negeri orang. Setelah bertahun-tahun tak ada kabar darinya, maka Shinta pun memutuskan untuk menikah dengan kenalan barunya.
Discourse Analysis 83

5. Oposisi Majemuk

Oposisi makna terjadi pada beberapa kata (lebih dari dua).

berdiri >< jongkok >< duduk >< berbaring diam >< berbicara >< bergerak >< bertindak berlari >< berjalan >< melangkah >< berhenti

Discourse Analysis

84

Ia berlari karena takut dimarahi ibunya. Setelah agak jauh dari ibunya, ia berjalan menuju temannya. Sampai di rumah itu lalu ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Mendadak ia berhenti dan terkejut karena ternyata yang tampak di depan mata Adi adalah ibunya sendiri.

Discourse Analysis

85

Kolokasi (Sanding Kata)

Asosiasi tertentu dalam menggunakan pilihan kata yang cenderung digunakan secara berdampingan. Kata-kata yang berkolokasi adalah kata-kata yang cenderung dipakai dalam suatu domain atau jaringan tertentu.

Guru, murid, buku, sekolah, pelajaran, alat tulis, misalnya, cenderung dipakai secara
berdampingan dalam domain sekolah atau jaringan pendidikan.
Discourse Analysis

86

Waktu aku masih kecil, ayah sering mengajakku ke sawah. Ayah adalah seorang petani yang sukses. Dengan lahan yang luas dan bibit padi yang berkualitas serta didukung sistem pengolahan yang sempurna maka panen pun melimpah. Dari hasil panen itu pula keluarga ayahku mampu bertahan hidup secara layak.

Discourse Analysis

87

Hiponimi (Hubungan Atas-Bawah)

Satuan bahasa (kata, frasa, kalimat) yang maknanya dianggap merupakan bagian dari makna satuan lingual yang lain. Unsur atau satuan lingual yang mencakupi beberapa unsur atau satuan lingual yang berhiponim disebut hipernim atau superordinat.

Discourse Analysis

88

Binatang melata termasuk kategori hewan reptil. Reptil yang hidup di darat dan di air ialah katak dan ular. Cicak adalah reptil yang biasa merayap di dinding. Adapun jenis reptil yang hidup di semak-semak dan rumput adalah kadal. Sementara itu, reptil yang dapat berubah warna sesuai dengan lingkungannya ialah bunglon.

Discourse Analysis

89

REPTIL

Hipernim Hiponimi

Cicak

Ular

Kadal

Katak

Bunglon

Hiponim

Kohiponim

Discourse Analysis

90

Ekuivalensi (Kesepadanan)

Hubungan kesepadanan antara satuan lingual tertentu dengan satuan lingual lain dalam sebuah paradigma. Sejumlah kata hasil proses afiksasi dari morfem asal yang sama menunjukkan adanya hubungan kesepadanan. Misalnya, hubungan makna antara kata membeli, dibeli, membelikan, dibelikan dan pembeli dibentuk dari bentuk asal yang sama yaitu beli.
Discourse Analysis 91

Andi memperoleh predikat pelajar teladan. Dia memang tekun sekali dalam belajar. Apa yang telah diajarkan oleh guru pengajar di sekolah diterima dan dipahaminya dengan baik. Andi merasa senang dan tertarik pada semua pelajaran.
Fatimah rajin sekali membaca buku. Baik buku pelajaran maupun buku bacaan lainnya. Ia mempunyai perpustakaan kecil di rumahnya. Hampir semua buku yang dikoleksi sudah dibaca. Fatimah bercita-cita ingin menjadi pembaca berita televisi agar semua orang mengenalnya.
Discourse Analysis 92