Anda di halaman 1dari 56

HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA

Bobot : 2 SKS Kode Mata Kuliah : MKI 302

POKOK BAHASAN
I. A. B. C.

ISTILAH, PENGERTIAN DAN PERKEMBANGAN PEMIKIRAN HAM Istilah dan Pengertian HAM Perkembangan Pemikiran HAM Kewajiban Negara terhadap HAM

II. SEJARAH PERKEMBANGAN PEMENUHAN HAM A. Perkembangan HAM dalam Hukum Internasional 1. Sebelum Perang Dunia II 2. Sesudah Perang Dunia II B. Perkembangan HAM di Indonesia 1. Sebelum Kemerdekaan 2. Sesudah Kemerdekaan

III. TEORI DAN PRINSIP HAM A. Teori- Teori 1. Teori Hak Kodrati 2. Teori Positivisme 3. Teori Universalisme 4. Teori Relativisme Budaya
B. Prinsip-Prinsip 1. Prinsip Kesetaraan 2. Prinsip Non Diskriminasi 3. Prinsip Kewajiban Negara

IV. INSTRUMEN HAM INTERNASIONAL A. Instrumen Utama : 1. Deklarasi Universal HAM (UDHR) 2. Kovenan Intl ttg Hak Sipil Politik (ICCPR) 3. Kovenan Intl ttg Hak Ekosob (ICESCR) 4. Kovenan Hak Anak (KHA) 5. Konvensi Menentang Penyiksaan (CAT) 6. Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi (CERD) 7. Konvensi Anti Diskriminasi terhadap Perempuan (CEDAW) B. Mekanisme Internasional Pemantauan HAM C. Deklarasi dan Program Aksi Wina tahun 1993

V. INSTRUMEN HUKUM NASIONAL HAM A. HAM dalam UUD 1945 B. HAM dalam Peraturan Perundang-undangan Lainnya 1. UU No. 39/ 1999 tentang HAM 2. UU No. 26/ 2000 tentang Pengadilan HAM 3. UU No. 3/ 1997 tentang Peradilan Anak 4. UU No. 23/ 2002 tentang Perlindungan Anak 5. UU No. 23/ 2004 tentang PKDRT 6. UU No. 13/ 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban

VI. MEKANISME PERLINDUNGAN DAN PENEGAKAN HAM DI INDONESIA A. Mekanisme Perlindungan & Penegakan HAM B. Lembaga-Lembaga Perlindungan HAM 1. Komnas HAM 2. Komnas Anti Kekerasan terhadap Perempuan 3. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) 4. Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban ( LPSK) C. Mekanisme Penegakan HAM 1. Pengadilan HAM 2. Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR)

ISTILAH HAM

ISTILAH LAIN : Human Rights, Fundamental Rights, Basic Rights SCR ETIMOLOGIS : 1. HAK : HAQQ HAQQA, YAHIQQU, HAQQAN : Kewenangan atau kewajiban utk melak sesuatu atau tdk melakukan sesuatu 2. ASASI : ASASIY ASSA, YAUSSU, ASASSAN : - membangun, mendirikan, meletakkan - asal, asas, pangkal, dasar dari sesuatu yg bersifat mendasar & fundamental HAM : HAK MENDASAR PD DIRI MANUSIA

Istilah Human Rights atau Hak Asasi Manusia (HAM) diciptakan oleh Eleanor Roosevelt sebagai Ketua Komisi HAM di PBB ketika merumuskan

Universal Declaration of Human Rights

PENGERTIAN HAM
JOHN LOCKE : SEMUA ORANG DICIPTAKAN SAMA & MEMILIKI HAK-HAK YANG MELEKAT DARI DIRINYA SBG MANUSIA HAK-HAK YG MELEKAT (INHERENT) HAM HAK FUNDAMENTAL SOETANDYO WIGNJOSOEBROTO : HAM ADL HAK2 MENDASAR (FUNDAMENTAL) YG DIAKUI SECARA UNIVERSAL SBG HAK2 YG MELEKAT PADA MANUSIA KARENA HAKEKAT DAN KODRATNYA SBG MANUSIA

MULADI : HAM ADALAH HAK YG MELEKAT SECARA ALAMIAH (INHERENT) PADA DIRI MANUSIA SEJAK MANUSIA LAHIR, DAN TANPA HAK TERSEBUT MANUSIA TIDAK DAPAT TUMBUH & BERKEMBANG SBG MANUSIA YG UTUH UU NO. 39 TH 1999 TTG HAM : SEPERANGKAT HAK YG MELEKAT PD MNS SBG MAKHLUK TUHAN YG WJB DIHORMATI, DIJUNJUNG TINGGI & DILINDUNGI OLEH NEG, HUKUM, PEMERINTAH & SETIAP ORG, DEMI KEHORMATAN SERTA PERLINDUNGAN HARKAT & MARTABAT MNS

SCR GARIS BESAR DPT DIPAHAMI : HAM adalah HAK yg sehrsnya diakui scr universal sbg hak-hak yg melekat pd manusia krn hakekat & kodrat kelahiran manusia itu sbg manusia

PENGERTIAN HAM MENGANDUNG 2 KONSEP :


Hak-hak moral : hak2 yg tidak dapat dipisahkan & dicabut adalah hak manusia karena ia manusia (INHERENT) Bertujuan : Menjamin martabat setiap manusia. Hak-hak menurut hukum : hak yang dijamin melalui aturan hk baik HI maupun HN (dibuat sesuai dgn proses pembentukan hukum dari masy intl maupun nas) persoalan PENEGAKAN HAM bukan hanya persoalan hukum tetapi juga moral. kewjbn menghormati, memajukan & menegakkan HAM merup kwjbn yg mendsr bg setiap pelaku dlm berhub baik dlm skala intl maupun nasional

SIFAT DASAR HAM

INHERENT SCR KODRATI MELEKAT PD DIRI MANUSIA (tdk diberi, tdk diwariskan & tdk diperoleh dgn cara apapun) UNIVERSAL BERLAKU UTK SEMUA TANPA DISKRIMINASI (tanpa dipengaruhi ras, jenis kelamin, agama, etnis, pand politik dll) INALIENABLE TDK DPT DIINGKARI SBG HAK YG DIMILIKI OLEH SEMUA MANUSIA

INDIVISIBLE TDK DPT DIBAGI (HAM didsrkan pd prinsip penghormatan thd martabat mns bhw smua org berhak atas kebebasan, keamanan & standar kehdpan yg layak pd wkt yg bersamaan oleh krn itu hak2 tsb saling berkaitan & tdk dpt dibagi atau dipisahkan) INTERDEPENDENT SALING TERGANTUNG (pemenuhan hak yg satu akan sgt tergantung dgn pemenuhan hak yg lainnya) HAK YG HRS DILINDUNGI, DIHORMATI & DIPERTAHANKAN HAK YG TDK BOLEH DIKURANGI/DIRAMPAS OLEH SIAPAPUN

PERKEMBANGAN PEMIKIRAN HAM

KAREL VASAK, MEMBG PERKEMB HAM DLM :


1. GENERASI PERTAMA : HAK SIPIL DAN POLITIK Intl Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR) dilandasi filosofi politik dari individualisme liberal & doktrin ekonomi & sosial laissez-faire mengartikan HAM dgn istilah yg lbh bersifat negatif (BEBAS DARI) : tdk ada campur tangan neg thd hak & kebebasan individual PS. 2 - 21 UDHR (hak hidup, keutuhan jasmani, kebebasan bergerak, perlindungan thd hak milik, kebebasan berpikir, beragama & berkeyakinan, kebebasan utk berkumpul, menyatakan pdpt dll)

2. GENERASI KEDUA : HAK EKONOMI, SOSIAL & BUDAYA

Intl Covenant on Economic, Social and Culture (ICESCR) diperjuangkan oleh neg2 sosialis didukung oleh neg dunia ketiga pd awal abad 19 agar neg menyediakan pemenuhan thd kebutuhan dasar setiap orang lbh bersifat POSITIF (HAK ATAS) : hak yg pemenuhannya sgt membutuhkan peran aktif negara DLM PS. 22 -27 UDHR (hak atas pekerjaan & upah yg layak, hak atas jaminan sosial, hak atas pendidikan, hak atas kesehatan dll) DASAR : TUNTUTAN BG PERSAMAAN SOSIAL

3. GENERASI KETIGA : HAK ATAS PERDAMAIAN & PEMBANGUNAN merup rekonseptualisasi dari kedua generasi sblmnya

dipengaruhi oleh kepentingan negara dunia ketiga (neg berkemb) tuntutan atas tatanan intl yg adil tuntutan atas hak kolektif & hak solidaritas

TERDPT 6 HAM YG DITUNTUT PS. 28 UDHR


1. PEMERATAAN KEKAYAAN, KEKUASAAN & NILAI YG PENTING SECARA GLOBAL 2. HAK MENENTUKAN NASIB SENDIRI DI BIDANG EKONOMI, SOSIAL, BUDAYA, POLITIK, HAK ATAS PEMBANGUNAN EKONOMI, SOSIAL DAN BUDAYA 3. PEMANFAATAN WARISAN BERSAMA UMAT MANUSIA 4. HAK ATAS PERDAMAIAN 5. LINGKUNGAN HIDUP DAN KESEIMBANGAN 6. BANTUAN BENCANA ALAM

Dgn adanya World Conference on Human Rights 1993, maka penggolongan tsb SDH TDK RELEVAN krn mnrt Deklarasi Wina 1993 bhw HAM itu universal, indivisible, interdependent and interrelated

Jimly Asshiddiqie : Perkemb konsepsi HAM, ada 4 generasi: 4. Persoalan HAM tdk cukup hanya dipahami dlm konteks hub kekuasaan yg vertikal ttpi juga dlm hub kekuasaan yg bersifat horisontal : - antar kelompok masy - antar golongan rakyat atau masy - antar satu kelomp masy di suatu neg dgn kelomp masy di neg lain

PRINSIP HAM UTAMA

KESETARAAN

Non diskriminasi Kesetaraan kesempatan Kesetaraan akses pada sumber daya publik Partisipasi Kebebasan Kebebasan untuk memilih Otonomi Penghormatan pada hak orang lain Saling menghormati Solidaritas

HARKAT DAN MARTABAT


KEMANUSIAAN

Diskriminasi
(Pasal 1 Angka 3 UU No.39/1999 tentang HAM)

setiap pembatasan, pelecehan atau pengucilan yg lgsg ataupun tak lgsg didsrkan pd pembedaan mns atas dasar agama, suku, ras, etnik, kelompok, golongan status sos, status ekonomi, jenis kelamin, bahasa, keyakinan, politik, yg berakibat pengurangan, penyimpangan atau penghapusan, pengakuan, pelaksanaan atau penggunaan HAM & kebebasan dasar dlm kehidupan baik individual maupun kolektif dlm bidang politik, ekonomi, hukum, sosial, budaya & aspek kehidupan lainnya

Kewajiban dan Tanggung Jawab Pemerintah dalam Penegakan HAM (UU No.39/1999 tentang HAM)

Pasal 71 Pemerintah wajib bertangungjawab menghormati, melindungi, menegakkan & memajukan HAM yang diatur dalam undang-undang, peraturan perundangundangan lain dan hk intl tentang HAM yang diterima oleh negara RI

Pasal 72 Kewajiban dan tanggung jawab pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 71 meliputi langkah implementasi yang efektif dalam bidang hukum, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan keamanan negara dan bidang lain

Melalui upaya :
Perumusan kebijakan nasional yang berlandaskan HAM Perumusan kebijakan hukum yang berorientasi pada HAM Perumusan hukum yang berorientasi pada HAM (legislatif dan eksekutif) Pelaksanaan hukum (eksekutif) Pengawasan hukum (yudikatif)

Kewajiban utk Menghormati HAM


Kewajiban ini menuntut negara & seluruh institusi beserta aparaturnya utk tidak membuat kebijakan & bertindak apapun yg melanggar integritas atau martabat kemanusiaan dari individu atau kelomp atau pelanggaran thd hak2 dsr yg dilindungi oleh hukum

Kewajiban untuk Melindungi HAM


Kwjban ini menuntut neg & seluruh institusi beserta aparaturnya utk membuat kebijakan & melakukan tindakan yg memadai, guna melindungi warga individu dari pelanggaran hak2 individu atau kelomp termasuk pencegahan atau pelanggaran atas hak dsr yg dilindungi oleh hukum

Kewajiban untuk Memenuhi HAM


Kwjban ini menuntut neg & seluruh institusi beserta aparaturnya utk melakukan tindakan yg memadai dlm menjamin setiap orang memperoleh haknya sesuai yg diamanatkan dlm instrumen HAM

Kewajiban untuk Memajukan HAM


Kewajiban ini menuntut negara & seluruh institusi beserta aparaturnya utk mengambil langkah-langkah dgn tujuan mencapai perwujudan penuh scr progresif dari HAM dgn segala cara yang layak

KEWAJIBAN UNTUK MENEGAKKAN HAM Kewajiban ini menuntut negara dan seluruh institusi untuk meningkatkan ketertiban dan kepastian hukum serta pemenuhan rasa keadilan masyarakat.

PERLINDUNGAN HAM OLEH NEGARA


1. FILSAFATI,

HAM adalah hak yang melekat atau inherent pada diri manusia, yang berasal dari Tuhan sejak manusia itu dilahirkan. Penghormatan & Penegakan HAM merupakan kewajiban Negara melindungi kepentingan umat manusia

(obligations erga omnes)

2. HUKUM

Kewajiban negara terhadap warganya adalah menjamin dan melindungi HAM warganya melalui hukum positif, dan mewujudkan ke dalam kehidupan nyata.

Dlm konteks hukum, maka ada tiga hal yang harus diperhatikan : substansi hukum substansinya hrs sesuai antara HI & HN struktur hukum pentaatan aturan2 HAM hrs dipenuhi oleh para pejabat neg budaya hukum kondisi nilai-nilai masyarakat setempat

3. POLITIK
Negara hrs memperhatikan etika dan peraturan dalam tata pergaulan internasional. Prinsip yang mendasari hubungan antara negara pada era globalisasi ini adalah penghormatan HAM. Penghormatan HAM dijadikan alat penekan politik dan ekonomi internasional.

Pada masa kini, penghormatan HAM dilakukan secara serius. Pemerintah otoriter yang melakukan pelanggaran HAM scr sistemik akan menghadapi SANKSI INTERNASIONAL Ada empat tahapan agar merubah perilakunya disesuaikan dengan standar HAM internasional.

Empat tahapan tsb dikenal dg SPIRAL MODEL (Thomas Risse, Stephen c Ropp dan Sikkink, 1999).
1. FROM REPRESSION TO DENIAL Pemerintah melak represi thd segala bentuk perlawanan, yang menyebabkan kelompok yg tertindas dlm masyarakat menyampaikan informasi kepada masyarakat intl (LSM atau negara-negara yg mempunyai komitmen terhadap HAM) hingga terbentuk jejaring

2.

FROM DENIAL TO TACTICAL CONCESSION

ketika pemerintah otoriter dikritik oleh masy intl atas pelanggaran HAM dgn menyandarkan pada norma-norma HAM intl, pemerintah otoriter selalu berlindung bahwa HAM adalah urusan domestik semata, shg setiap kritik dari negara lain atau pihak asing manapun merup bentuk campur tangan (intervensi) thd kedaulatan negara. Sering pula dikatakan bahwa HAM merupakan pemikiran Barat yang tidak sesuai dengan nilai-nilai luhur budaya bangsa.

3. FROM TACTICAL CONSESSION TO PRESCREPTIVE STATUS AND RULE-CONSISTENT BEHAVIOUR

Pemerintahan yang otoriter semakin didesak oleh masyarakat internasional dengan menggunakan kekuatan ekonomi. Di samping tekanan dari sisi domestik, negara-negara donor & lembaga-lembaga keuangan intl tampak tidak segan-segan utk mengurangi atau menghapuskan bantuan ekonominya apabila pemerintah tidak mengubah perilakunya dalam menghormati HAM warga negaranya.

4. INSTITUTIONALIZATION AND HABITUALIZATION


Tahap perilaku mentaati aturan, yaitu norma2 HAM intl diinstitusionalisasikan sepenuhnya & ketaatan thd norma-norma tsb dipraktekkan dlm keseharian oleh aparat terkait. Pada tahap ini umumnya ditandai dgn keadaan ketaatan petinggi-petinggi pemerintahan terhadap norma-norma HAM, tetapi dlm implementasinya msh ada hambatan, biasanya dari militer sebagai komponen domestik, dan masih ada tekanan-tekanan eksternal.

HAM dapat digolongkan ke dalam beberapa hak :


1. Hak-hak asasi pribadi (PERSONAL RIGHTS), meliputi hak kebebasan menyatakan pendapat, kebebasan memeluk agama, kebebasan bergerak dan seterusnya
2. Hak-hak asasi ekonomi (PROPERTY RIGHTS), hak untuk memiliki sesuatu, membeli dan menjual serta memanfaatkannya 3. Hak-hak asasi politik (POLITICAL RIGHTS), hak untuk ikut serta dalam pemerintahan, hak pilih, hak untuk mendirikan partai politik

4. Hak-hak asasi untuk mendapatkan perlakuan yang sama dalam hukum dan pemerintahan (RIGHTS OF

LEGAL EQUALITY)

5. Hak-hak asasi sosial dan kebudayaan (SOCIAL AND CULTURE), hak untuk memilih pendidikan, hak untuk mengembangkan kebudayaan dan sebagainya. 6. Hak-hak asasi untuk mendapatkan perlakuan tata cara peradilan dan perlindungan (PROCEDURAL RIGHTS). Misalnya peraturan dalam hal penahanan, penangkapan, penggeledahan dan sebagainya (Ramdlon Naning, 1983)

Dari hak-hak tsb, HAM dpt dikategorikan :


DEROGABLE RIGHTS

hak yang bersifat relatif atau dapat ditunda pemenuhannya


NON-DEROGABLE RIGHTS

hak yg bersifat mutlak yang tidak dapat ditunda pemenuhannya dalam kondisi darurat sekalipun, seperti hak untuk hidup; hak untuk tidak disiksa; bebas dari perbudakan; hak persamaan dalam hukum; kebebasan beragama dan bebas dari hukuman yang berlaku secara surut (retroactive).

PELAKSANAAN HAM
DEROGABLE RIGHTS

NON DEROGABLE RIGHTS :


HAM YG DPT DITUNDA PELAKSANAANNYA; ALASAN; - KEADAAN DARURAT/ - PERANG/ - KEPENTINGAN KEAMANAN NASIONAL

HAM YG TIDAK DPT DITUNDA PELAKSANAANNYA, BAIK DALAM KEADAAN DARURAT/PERANG/ DAMAI : - HAK UNTUK HIDUP, - LARANGAN PERBUDAKAN, - HAK UTK TDK DITUNTUT HK YG BERLAKU SURUT (REKTROAKTIF) - HAK PERSAMAAN DI DEPAN HUKUM, - HAK KEBEBASAN PRIBADI, - HAK KEBEBASAN BERAGAMA

PEMBATASAN HAM Pasal 29 ayat (2) UDHR 1948 : hak-hak dan kebebasan dasar manusia hanya dapat dibatasi oleh undang-undang dgn tujuan menghormati hak-hak & kebebasan org lain, moralitas, ketertiban umum & kesejahteraan umum di dalam masyarakat demokratik. Pembatasan dapat pula terjadi, - dlm rangka mempromosikan kesejahteraan umum (general welfare) dlm masy demokratis - atas dasar alasan kepentingan nasonal (national - dlm keadaan darurat yg sah (officially proclaimed public emergencies) yg membahayakan kehdpn bgs

security)

Pelanggaran HAM

(Pasal 1 angka 6 UU No.39 Tahun 1999)


Perbuatan seseorg atau kelomp org termasuk aparat negara Baik sengaja maupun tidak disengaja atau kelalaian yg scr melawan hk Mengurangi, menghalangi, membatasi & atau mencabut HAM seseorg atau kelomp org yg dijamin oleh UU No.39 Tahun 1999 ttg HAM tdk mendptkan atau dikhawatirkan tdk akan memperoleh penyelesaian hkm yg adil & benar, berdsrkan mekanisme hkm yg berlaku

PELANGGARAN HAM

SETIAP PERBUATAN SESEORANG ATAU KELOMP ORANG TERMSK APARAT NEGARA BAIK DISENGAJA MAUPUN TIDAK DISENGAJA ATAU KELALAIAN YG SCR MELAWAN HKM MENGURANGI, MENGHALANGI, MEMBATASI & ATAU MENCABUT HAK ASASI SESEORANG ATAU KELOMP ORG YG DIJAMIN OLEH UU INI, DAN TDK MENDPTKAN ATAU DIKHAWATIRKAN TIDAK AKAN MEMPEROLEH PENYELESAIAN HUKUM YG ADIL & BENAR, BERDSRKAN MEKANISME YG BERLAKU

PELANGGARAN HAM DPT DISEBABKAN OLEH 4 HAL


1.

2.

3.

4.

Kesewenangan (abuse of power) yaitu tindakan penguasa atau aparatur neg thd masy di luar atau melebihi batas2 kekuasaan & wewenangnya yg telah ditetapkan dlm UU Pembiaran pelanggaran HAM (violation by omission) yaitu tdk mengambil tindakan atas suatu pelanggaran HAM Sengaja melak pelanggaran HAM (violation by comission) yaitu melak tindakan yg menyebabkan pelanggaran HAM Pertentangan antar kelompok masyarakat

PELANGGARAN HAM TERDIRI DARI

Pelanggaran HAM berat (kejahatan genocida & kejahatan kemanusiaan)


Pelanggaran HAM biasa (pelanggaran yg tdk termsk dlm kategori pelanggaran HAM berat tsb)

PELANGGARAN HAM YG BERAT


UU NO 26/2000 TTG PENGADILAN HAM (PSL 7) MELIPUTI :

GENOCIDE (Pasal 8) KEJAHATAN THD KEMANUSIAAN (Pasal 9)

KEJAHATAN GENOCIDE

(Pasal 8 UU No.26 th. 2000)


KEJAHATAN GENOCIDE ADALAH SETIAP PERBUATAN YANG DILAKUKAN DENGAN MAKSUD UNTUK MENGHANCURKAN ATAU MEMUSNAHKAN SELURUH ATAU SEBAGIAN KELOMPOK BANGSA, RAS,KELOMPOK, ETNIS, KELOMPOK AGAMA, DENGAN CARA :

MEMBUNUH ANGGOTA KELOMPOK; MENGAKIBATKAN PENDERITAAN FISIK ATAU MENTAL YANG BERAT TERHADAP ANGGOTAANGGOTA KELOMPOK MENCIPTAKAN KONDISI KEHIDUPAN KELOMPOK YG AKAN MENGAKIBATKAN KEMUSNAHAN SECARA FISIK BAIK SELURUH ATAU SEBAGIANNYA MEMAKSA TINDAKAN-TINDAKAN YANG BERTUJUAN MENCEGAH KELAHIRAN DI DALAM KELOMPOK; MEMINDAHKAN SECARA PAKSA ANAK-ANAK DARI KELOMPOK TERTENTU KE KELOMPOK LAIN.

ELEMENT OF CRIME : KEJAHATAN GENOCIDE:

MELAKUKAN SALAH SATU PERBUATAN YG DIATUR DALAM PASAL 8 UU NO 26/2000 HURUF (A) S/D (E) PERBUATAN TSB DIMAKSUDKAN UNTUK MEMUSNAHKAN SEBAGIAN ATAU SELURUH KELOMPOK; YANG DIDASARKAN PADA KELOMPOK BANGSA, RAS, ETNIS DAN KEAGAMAAN ;

KEJAHATAN THD KEMANUSIAAN

KEJAHATAN TERHADAP KEMANUSIAAN SEBAGAIMANA DIMAKSUD PASAL 7 HURUF B ADALAH SALAH SATU PERBUATAN YANG DILAKUKAN SEBAGAI BAGIAN DARI SERANGAN YANG MELUAS ATAU SISTEMATIK YANG DIKETAHUI BAHWA SERANGAN TERSEBUT DITUJUKAN SECARA LANGSUNG TERHADAP PENDUDUK SIPIL BERUPA :

PEMBUNUHAN; PEMUSNAHAN; PERBUDAKAN; PENGUSIRAN ATAU PEMINDAHAN PENDUDUK SECARA PAKSA; PERAMPASAN KEMERDEKAAN ATAU PERAMPASAN FISIK SECARA SEWENANGWENANG YANG MELANGGAR (ASAS-ASAS) KETENTUAN POKOK HUKUM INTERNASIONAL PENYIKSAAN

PERKOSAAN, PERBUDAKAN SEKSUAL, PELACURAN, PEMAKSAAN KEHAMILAN, PEMANDULAN ATAU STERILISASI SECARA PAKSA ATAU BENTUK-BENTUK KEKERASAN SEKSUAL LAIN YANG SETARA; PENGANIAYAAN TERHADAP SUATU KELOMPOK TERTENTU ATAU PERKUMPULAN YANG DIDASARI PERSAMAAN PAHAM POLITIK, RAS, KEBANGSAAN,ETNIS, BUDAYA, AGAMA, JENIS KELAMIN ATAU ALASAN LAIN YANG TELAH DIAKUI SECARA UNIVERSAL SEBAGAI HAL YANG DILARANG MENURUT HUKUM INTERNASIONAL PENGHILANGAN ORANG SECARA PAKSA; KEJAHATAN APARTHEID

ELEMENT OF CRIME : KEJAHATAN THD KEMANUSIAAN

MELAK PERBUATAN YG DIATUR DLM PSL 9 UU NO 26/2000 HURUF (A) S/ D (j) PERBUATAN YG DILAK MERUP BAGIAN SERANGAN YG MELUAS ATAU SISTEMATIS DIKETAHUI BHW SERANGAN TSB DITUJUKAN PADA PENDUDUK SIPIL {PERBUTAN YG DILAKUKAN SBG KELANJUTAN DARI KEBIJAKAN PENGUASA /ORGANISASI}

PERBEDAAN PELANGGARAN BERAT HAM SBG DELIK EXTRA ORDINARY CRIME DENGAN DELIK KUHP SBG ORDINARY CRIME
PERBEDAAN
SIFAT DELIK KORBAN ALASAN PEMBENAR

DELIK ORDINARY CRIME


INCIDENTAL INDIVIDUAL ADA ALASAN PENGHAPUS PIDANA BERDASAR PERINTAH ATASAN TIDAK ADA

DELIK EXTRA ORDINARY CRIME


SISTEMATIK MASSAL (BERSIFAT MELUAS) TIDAK ADA ALASAN PENGHAPUS PIDANA BERDASAR PERINTAH ATASAN PENGECUALIAN ASAS NON REKTROAKTIF ASAS NE BIS IN IDEM DALUWARSA ADA PERTANGGUNGJAWABAN KOMANDAN PENGADILAN NASIONAL DAN INTERNASIONAL

PENGECUALIAN ASAS

TIDAK ADA

PROSES PERADILAN

PENGADILAN NASIONAL