Anda di halaman 1dari 37

American Psychiatric Association (1964) Rasa cemas didefinisikan sebagai kekhawatiran, ketegangan atau ketidaktenangan yang mendasari antisipasi

terhadap bahaya yang sumbernya tidak diketahui atau dikenali. Terutama yang bersumber dari intrapsychic (timbul, terjadi, atau terdapat didalam pikiran), dibedakan dari rasa takut yang merupakan respon emosional terhadap pengenalan secara sadar dan biasanya ancaman atau bahaya eksternal. Rasa cemas dan rasa takut diiringi dengan perubahan fisiologis yang sama. Dianggap sebagai patologik ketika mengganggu keefektifan hidup, keinginan mencapai tujuan atau kepuasan atau kenyamanan emosional yang layak.

Rasa Cemas
Reaksi antisipasi terhadap ancaman yang tidak realistis atau nyata Tidak terikat dengan objek Perasaan ketakutan lebih nonspesifik Menggambarkan keadaan dimana seseorang bersiap-siap menghadapi sesuatu yang akan terjadi Berhubungan dengan kondisi yang abnormal

Rasa Takut
Emosi natural berdasarkan pada persepsi ancaman yang nyata Berhubungan dengan objek speisifik Menggambarkan reaksi terhadap stimulus ancaman spesifik dari luar Reaksi emosional natural terhadap stimulus ancaman pada situasi perawatan dental

FRANK (1962) Skala 1 : Sangat Negatif (--) Menolak perawatan Menangis keras Ketakutan Perilaku lain yang sangat negatif Skala 2 : Negatif (-) Ragu-ragu menerima perawatan Tidak kooperatif Sikap negatif lain tapi tidak diungkapkan, diam, cemberut, dan tidak mau

LABELING PERILAKU KOOPERATIF ANAK (MENURUT WRIGHT)


1. Kooperatif Sebagian besar anakanak kooperatif dengan suasana dental Anak-anak kooperatif akan merasa rileks Ketakutan minimal Bergairah dan bersemangat Anak anak kooperatif dapat diberikan pendekan TSD Dokter gigi dapat melakukan perawatan secara efektif dan efisien

a. Perilaku Tidak Terkontrol Pada anak usia 3-6 tahun Terutama pada kunjungan 3. Potensial Kooperatif pertama kali ke drg Bisa pada anak-anak Ciri : yang sehat atau kelainan - Menangis keras (berkebutuhan khusus / - Berteriak handicapped) tapi mungkin untuk kooperatif - Sangat ketakutan - Bentuk perilaku infantil / jika dimodifikasi kekanak-kanakan perilakunya Terkadang ditemukan pada anak-anak lebih tua (usia sekolah), karena mencontoh perilaku orang dewasa atau saudara kandung yang lebih tua

b. Perilaku Menentang Pada semua usia, paling sering usia sekolah Sering mengatakan saya tidak mau Perilaku = dirumah, karena orang tua kurang tegas / memberi batasan Juga disebut keras kepala, anak manja Juga bisa berupa menentang pasif

Biasanya pada anak yang lebih tua, menginjak remaja, karena di rumah memiliki kebebasan untuk mengatakan suka atau tidak suka Tidak mau merespon secara verbal Miskomunikasi dengan drg Menolak saat dilakukan pemeriksaan Bahasa tubuhnya menggambarkan perilaku menentang Menghindari kontak mata dengan drg

c. Perilaku Malu / Takut Perilaku negatif yang paling ringan Biasanya berlindung dibelakang orang tua Terkadang merengek dan mengusap tangan ke mata untuk menahan airmata Beberapa alasan anak pemalu : - Keluarga overprotektif terhadap anak di rumah - Anak-anak yang tinggal di pedalaman, jarang bertemu orang asing

e. Perilaku Merengek Memperbolehkan drg melakukan perawatan Anak merengek selama perawatan, mis : walaupun sudah diberi anestesi lokal (ketakutan terhadap sesuatu dapat menurunkan ambang nyeri sumber frustasi dan iritasi)

Pertumbuhan dan perkembangan Sosial budaya Keluarga Pengalaman medis dan gigi sebelumnya Tempat praktek drg Persiapan anak sebelum perawatan gigi Sumber tingkah laku tidak kooperatif dalam keluarga Penularan tingkah laku orangtua / saudara Orangtua menggunakan drg sbg ancaman Pembicaraan mengenai perawatan gigi yang terdengan oleh anak Kecemasan anak yang berasal dari internal maupun

Anak-anak Prasekolah Takut dipisahkan dari orangtua Timbul rasa takut terhadap situasi yang asing bagi dirinya Dokter gigi yang memakai jas putih Ruang tunggu yang hening (pada anak dengan kondisi di rumah yang penuh aktifitas dan ribut) Dokter gigi atau asisten yang terlalu bersemangat

Usia 8-14 Tahun (analisa dan Usia 7 Tahun (berfikir logis) berfikir logis) Mulai sanggup mengatasi Anak telah mengerti dan rasa takut walaupun reaksi mempelajari keadaan sering berubah-ubah kurang menyenangkan dan (kadang kooperatif, berkeinginan menjadi kadang tidak) dan sangat pasien yang baik penting peran dari Anak tidak suka orang keluarga. memandang ringan sakit Dapat mengatasi rasa yang dideritanya baik itu takut pada prosedur oleh temannya atau drg perawatan karena drg sendiri. dapat menjelaskan pada Emosionalnya sudah anak tindakan yang terkontrol dilakukan.

Anak Usia Belasan Tahun Khususnya perempuan menjadi lebih peduli terhadap penampilannya Mereka senang melakukan sesuatu yang atraktif Tertarik terhadap efek alat kecantikan sehingga dokter gigi dapat mempengaruhi untuk motivasi anak tersebut Masalah pada manajemen tingkah laku hanya terjadi pada belum dapat menyesuaikan diri

Perkembangan Fisik Perkembangan Intelektual Perubahan yang terjadi sesuai Pengukuran dilakukan awal 1900 dengan usia anak dalam hal : ukuran, Kelas khusus untuk anak yang kekuatan, koordinasi motorik stamina tidak mampu megikuti kelompok dan keterampilan menggunakan otot. anak yang seusianya. Perkembanagn fisik tergantung pada Dokter gigi melakukan secara perkembangan lain misalnya relatif membandingkan usia perkembangan sosial dengan kelas di sekolah Perkembangan Sosial Prinsip PERKEMBANGAN ANAK : Proses pertumbuhan anak kearah Rangkaian perubahan progresif, fungsi mandiri. teratur, berkesinambungan Ketergantungan pada arang lain. Respon umum khusus Kemampuan memelihara diri (funsi Merupakan kesatuan yang otonomi). mempunyai kaitan aspek fisik, Proses osialisasi anak yang meliputi motorik, intelektual social pola hubungan antar orang lain : pasti Makhluk penerima Berlangsung berantai universal Dewasa memberi dan menerima Dipengaruhi oleh faktor dalam dan luar. Mampu bertanggung jawab

Behavior Shaping (Pembentukan perilaku) Metode sederhana dalam pendekatan terhadap anak yang dilakukan secara bertahap untuk mencapai tingkah laku yang diinginkan oleh dokter gigi selama perawatan Metode TSD (tell-show-do) Addelston (1959)

Metode TSD (Tell-ShowDo)


Drg menjelaskan kepada anak megenai perawatan yang akan dilakukan dengan bahasa yang mudah dimengerti anak tersebut (dijelaskan secara pelan dan berulang sampai anak tersebut benar2 mengerti)

TELL

SHOW

Drg menunjukkan kepada anak bagaimana prosedur perawatan yang akan dilakukan, bisa langsung mendemonstrasikan pada anak tersebut atau pada benda mati agar anak benar2 mengerti
Drg melakukan perawatan kepada anak tersebut sesuai dengan apa yang telah dijelaskan atau didemonstrasikan sebelumnya

DO

Behavior Modification (Modifikasi Perilaku) 2. Desensitisasi 1. Modelling or Imitation Desensitisasi sistemik Proses meniru perilaku model suatu bentuk terapi yang disediakan desentisisai yang pasiennya diajar untuk Meniru perilaku model secara cepat dipelajari, jadi modelling tenang dan kemudian efisien digunakan sebagai dipaparkan pertama metode pembelajaran terhadap rangsangan yang membangkitkan kecemasan Tujuan: untuk mengurangi yang hampir tidak ada dan menghilangkan rasa takut dan cemas yang tinggi sampai yang paling ringan melalui imajinasi ; bila Komponen proses belajar pengobatan ada kemajuan melalui model (Bandura; pemaparan dilakukan thd 1969) : memperhatikan, mencamkan, memproduksi rangsangan yang lebih kuat gerak motorik dan ulangan sampai dpt bertahan thd penguatan dan motivasi rangsangan yang paling

Terdiri 3 tahapan : 1. Lihatlah pasien agar santai dan rileks. 2. Susunlah secara berurutan hal-hal yang membuat pasien cemas dan takut 3. Memberi rangsang dari hal yang begitu tidak menakutkan sampai anak tidak merasa takut lagi dan ransang ini ditingkatkan menurut ukuran yang telah disusun.

Reinforcement Jika suatu respon yang dilakukan mencapai tujuan tertentu, perlu dihadiahi atau diperkuat responnya Begitu juga, jika respon yang diberikan tidak sesuai, maka perlu diperkuat agar tejadinya respon yang diharapkan

Aversive Conditioning (Restraint) HOME (Hand-Over-MouthExercise) Indikasi : Anak dengan intelegensi normal Tidak untuk anak usia <3th dan tahap prekooperatif Efektif untuk anak usia 3-6 th Tidak menggunakan sedasi, anak harus sadar sepenuhnya

Teknik : Drg harus mengontrol perilaku anak (drg mengerti dan menguasai metode ini dan mampu mengontrol dengan baik emosionalnya) Berbicara dengan suara lembut dan monoton (jangan ditekan suaranya) Diawali dg meletakkan tangan drg di atas mulut anak Asisten menjaga agar

Sedasi N2O2 Digunakan untuk : Mengurangi atau menghilangkan rasa takut, kecemasan, dan kegelisahan pada anak Mengurangi gerakan dan reaksi yang tidak baik thd prosedur perawatan Membuat keadaan semihypnotic dengan pasien sadar sepenuhnya Peningkatan kesabaran anak untuk perawatan dengan waktu lama Alat bantu dalam perawatan secara mental atau fisik pada

Ambang nyeri anak rendah Mengurangi rasa cema dan tegang drg dan asisten berhubungan dg perawatan anak tsb Tidak digunakan untuk : Mengendalikan perilakku menentang atau histeris pada anak Menggantikan teknik yang salah dari manajemen anak Mengendalikan nyeri yang berhubungan dengan prosedur perawatan atau

Anestesi Umum Bennet (1974) mendefinisikan sbg : pemantauan timbal balik thdp ketidakaturan kelumpuhan sel sistem saraf pusat Anastesi umum dapat diterapkan pada pasien anak dengan 5 kriteria : 1. Pasien: apakah ada kelainan fisik/ persoalan perilaku yg cukup serius & seringkali menghambat anak untuk berperilaku positif 2. Prosedur: apakah pekerjaan perawatan akan dpt selesai

3. Tempat: fasilitas penyembuhan pasca anastesi 4. Personal: apakah drg dan staf cukup berpenggalaman utk melakukan anastesi dan mampu utk menangulangi pra, selama, dan pasca pemberian anastesi 5. Persiapan: apakah pasien tlh dipersiapkan emosi dan fisiknya (pemeriksaan fisik dan laboratorium).

Menciptakan Komunikasi that the first objective in the successful management of the young child involving a child in a conversation not only enables the dentist to learn about the patient but also may relax the child effectiveness of these approaches differs with the age of the child Generally, verbal communication with younger children is best initiated with complimentary comments,

Membentuk Komunikator The dental assistant roles when communicating with a pediatric patient. He talks with the child during the transfer from reception room to operatory and during preparation of the child in the dental chair When the dentist arrives, he usually takes a more passive role to make a communication from a single source When both dentist and dental assistant provide directions, child will becomes confused

Kejelasan Pesan Communication is a complex, multisensory process. It includes a transmitter, a medium, and a receiver The dentist or dental health team is the transmitter, the spoken word frequently is the medium, and the pediatric patient is the receiver. The message must be understood in the same way by both the sender and the receiver very often, to improve the clarity of messages to young patients, dentists use euphemisms to explain procedures

Kontrol Suara Sudden and firm commands are used to get the childs attention or to stop the child from whatever is being done Another form of voice control is a slow and deliberate cadence that can function like music set to a mood. Considering the use of loud commands as a punishment technique, they compared the effects of loud and normal voice commands given to 40 children with potential behavior problems. Their findings demonstrated that loud commands reduced disruptive behaviors

Komunikasi Multisensoris Nonverbal messages also can be sent to patients or received from them. Body contact can be a form of nonverbal communication, ex : The dentists simple act of placing a hand on a childs shoulder while sitting on a chairside stool conveys a feeling of warmthand friendship Helped children to relax, especially those 7 to 10 years of age Eye contact is also important. The child who avoids it often is not fully prepared to

Problem Ownership In difficult situations, dentists sometimes forget that they are guiding the behavior of children They begin by sending you messages. For example, You must sit still! These are negative messages and only undermine the rapport between a pediatric patient and dentist You messages carry the implication that the child is wrong An alternative is to send I messages. These messages establish the focus of the

Respon Yang Tepat The appropriateness of the response depends primarily on Aktif Mendengarkan the extent and nature of the Listening also is important in relationship with the child, the the treatment of children age of the child, and evaluation However, listening to the of the motivation of the childs spoken words may be more behavior important in establishing An inappropriate response would rapport with the older child be a dentists displaying extreme than guiding the behavior of a displeasure with an anxious younger child, for whom young child on the first visit when attention to nonverbal there has been insufficient time behavior often is more crucial to establish a good rapport. The patient is stimulated to If a dentist has made inroads express feelings, and the with a child, who then displays dentist does the same, as unacceptable behavior, a dentist necessary processes in may well express disapproval communication. without losing personal control.

Stimulus Dan Respon (S-R) Belajar adalah persatuan antara stimulus dan respon seorang anak yang memasuki ruang tunggu (stimulus) dan menasosiasikan tindakan ini dengan pengalaman dental sebelumnya. Pikirannya merupakan respon internal yang bertindak sebagai stimuli atau isyarat untuk membayangkan dokter gigi dengan explorer yang dapat lebih mudah untuk menyakitinya. Respon internal anak adalah takut dan cemas. Respon eksternalnya adalah menangis.

Diskrimination dan Extinction (Perbedaan dan Pemunahan) Pada mulanya, generalisasi pada anak apakah itu mediasi atau bukan sangat luas. Secara berangsurangsur, anak belajar untuk membatasi dengan tepat generalisasinya. Kemampuan belajar ini disebut diskriminasi Contoh : anak belajar bahwa praktik dokter gigi berbeda dengan praktik dokter umum, dan dokter gigi yang satu berbeda dengan lainnya Respon belajar tidak selalu terpelihara kuat. Jika respon terjadi dan tidak diperkuat, kekuatan respon secara progresif menurun dan lama-kelamaan hilang. Ini disebut respon ekstinsi Tingkah laku yang tidak diinginkan sering dapat dihilangkan dari daftar tingkah laku dengan cara ini.

Modifikasi Perilaku Modifikasi perilaku atau terapi perilaku didefinisikan sebagai usaha untuk mengubah perilaku dan emosional seseorang menjadi baik dan berkenaan dengan hukum teori belajar Ketetapan hukum bahwa perilaku yang diberi penghargaan cenderung akan terlihat meningkat dan perilaku yang diberi hukuman atau tanpa penghargaan cenderung akan menghilang atau tidak terlihat.