Anda di halaman 1dari 23

Yosyi Oktahara Herti Perdana Putri Yasmien

Kongestif paru terjadi pada ventrikel kiri, karena ventrikel kiri tidak mampu memompa darah yang datang dari paru. Peningkatan tekanan dalam sirkulasi paru menyebabkan cairan terdorong ke jaringan paru. Manifestasi klinis : dispnu, batuk, mudah lelah, takikardi dengan bunyi S3, kecemasan dan kegelisahan. Gagal jantung kiri terjadi pada sumbatan, pembuluh darah sirkumfleksa, cabang dari arteri marginal kiri, dan cabang dari arteri koroner kanan. Gagal jantung kiri dapat menyebabkan gagal jantung kanan.

Bila venterikel kanan gagal memompakan darah, maka yang menonjol adalah kongestif visera dan jaringan perifer. Hal ini terjadi karena sisi kanan jantung tidak mampu mengosongkan volume darah dengan adekuat sehingga tidak dapat mengakomodasi semua darah yang secara normal kembali dari sirkulasi vena.

Manifestasi klinis meliputi edema ekstremitas bawah (edema dependen), yang biasanya pitting edema, pertambahan berat badan, hepatomegali (pembesaran hepar), distensi vena jugularis (vena leher), asites (penimbunan cairan di dalam rongga peritoneal), anoreksia dan mual, nokturia dan lemah.

Sebab-sebab terjadinya gagal jantung kanan : 1. jantung mendapat penambahan darah yang melebihi normal sehingga jantung harus bekerja lebih berat, contoh: ASD 2. jantung harus bekerja lebih berat daripada biasanya, sebab adanya tahanan yang lebih besar daripada tahanan normal,misalnya pada stenosis katup aorta atau katup pulmonal

3. Oleh karena kelemahan otot jantung sendiri, misalnya : a. Radang atau intoksikasi otot jantung pada penderita demam reumatik atau difteri b. Otot jantung kurang suplai gizi,seperti pada anemia berat c. Perubahan-perubahan patologis dalam struktur jantung, misal kardiomiopati, kelainan Jantung kongenital (ASD, VSD, PDA)

Periode Neonatus Disfungsi miokardium relatif jarang terjadi pada masa neonatus, dan bila ada biasanya berhubungan dengan asfiksia lahir, kelainan elektrolit atau gangguan metabolik lainnya. Lesi jantung kiri seperti sindrom hipoplasia jantung kiri, koarktasio aorta, atau stenosis aorta berat adalah penyebab penting gagal jantung pada 1 atau 2 minggu pertama.

Periode Bayi Antara usia 1 bulan sampai 1 tahun penyebab tersering ialah kelainan struktural termasuk defek septum ventrikel, duktus arteriosus persisten atau defek septum atrioventrikularis Gagal jantung pada lesi yang lebih kompleks seperti transposisi, ventrikel kanan dengan jalan keluar ganda, atresia tricuspid atau trunkus arteriosus biasanya juga terjadi pada periode ini.

Periode Anak Gagal jantung pada penyakit jantung bawaan jarang dimulai setelah usia 1 tahun. Di negara maju, karena sebagian besar pasien dengan penyakit jantung bawaan yang berat sudah dioperasi, maka praktis gagal jantung bukan menjadi masalah pada pasien penyakit jantung bawaan setelah usia 1 tahun.

Dalam mendiagnosis gagal jantung kanan pada anak harus memperhatikan tanda-tanda sebagai berikut : 1. Gejala nonspesifik : kelelahan pada waktu makan/ minum, anoreksia atau muntah muntah, pertumbuhan terlambat, dan iritabel 2. Tiga tanda pokok, yaitu : takipnea, takikardi, dan hepatomegali ( dengan / tanpa splenomegali)

3. a. Udem muka atau periorbital b. Ronkhi basah pada paru, terutama di daer ah basal c. Irama gallop d. Ekstremitas dingin dan lembab e. Keringat yang terus-menerus f. Kardiomegali g. Hipertrofi atrium kanan pada EKG

Tatalaksana gagal jantung kanan A. pengobatan terhadap Gagal jantung B. pengobatan terhadap penyakit yang mendasari C. pengobatan terhadap faktor pencetus Termasuk dalam pengobatan medikamentosa yaitu mengurangi retensi cairan dan garam, meningkatkan kontraktilitas dan mengurangi beban jantung.

TERIMA KASIH

Pengobatan umum 2,3,4 Istirahat. Pada gagal jantung akut yang berat, pasien perlu dirawat inap. Tirah baring dengan posisi setengah duduk sangat membantu pasien. Suhu dan kelembaban. Neonatus sangat rentan terhadap perubahan suhu lingkungan, khususnya suhu dingin. Oleh karena itu neonatus dengan gagal jantung perlu ditempatkan di inkubator dengan pengatur suhu dan kelembaban. Oksigen. Biasanya cukup dengan kateter naso-faringeal 2 liter/menit atau masker 5 liter/menit, harus secara rutin diberikan pada setiap pasien gagal jantung akut atau gagal jantung yang berat. Oksigen dapat menaikkan kadar oksigen darah arteri pada bayi dan anak dengan dekompensasi berkisar 10-20%, bergantung pada macam kelainannya. Pemberian cairan dan diet. Restriksi cairan 65-75 cc/kgBB. Pada pasien dengan gagal jantung berat seringkali masukan cairan dan makanan per oral tidak memadai, atau mengandung bahaya aspirasi. Oleh karena itu apada pasien tersebut seringkali diperlukan pemberian cairan intravena.

Mengingat terdapatnya kecenderungan terjadinya retensi cairan dan natrium pada pasien gagal jantung, dan kehilangan kalium bila diberikan diuretik, maka diberikan cairan tanpa natrium, dan jumlahnya perlu dikurangi menjadi kira-kira 75-80% kebutuhan rumat. Namun ini harus terus dipantau, mengingat kerja pernapasan yang meningkat akan menyebabkan meningkatnya kebutuhan cairan. Pemantauan klinis (turgor, pola pernapasan, balans antara masukan dan keluaran) serta laboratoris (analisis gas darah, elektrolit) menentukan pemberian jenis dan jumlah cairan selanjutnya. Pengaturan diet pada penderita penyakit jantung tidak kalah pentingnya dari penatalaksanaan secara medikamentosa. Tujuan memberikan diet pada penderita penyakit jantung adalah : 1. Untuk memberikan cukup makanan agar anak tumbuh dan berkembang optimal, tanpa memberatkan beban jantung. 2. Mengurangi dan mencegah retensi garam / air dalam jaringan tubuh dan menurunkan tekanan darah bila ada hipertensi. 3. Menyiapkan anak dengan kelainan jantung bawaan sehingga kondisinya memungkinkan untuk tindakan operasi.

Medikamentosa :3 Digitalis (digoksin) Sampai sekarang digoksin masih banyak digunakan d alam pengobatan gagal jantung pada bayi dan anak. Manfaat utamanya adala h akibat efek inotropiknya, yakni dalam menambah kekuatan dan k ecepatan kontraksi ventrikel. Digoksin juga mengurangi tonus simpatis, menurunkan resistensi sistemik dengan vasodilatasi perifer, serta menurunk an frekuensi denyut jantung.

Obat inotropik parenteral Dobutamin merupakan obat simpatomimetik yang berkhasiat inotropik, i a menambah kontraktilitas jantung tanpa meningkatkan frekuensi jantung dengan bermakna. Dobutamin meningkatkan curah jantung dan menuru nkan resistensi vaskular sistemik. 6 Akhir-akhir ini amrinon dikenal mempunyai efek inotropik yang poten se lain efek vasodilatasi. Berbeda dengan digitalis atau simpatomimetik, amrino n ini berkhasiat menghambat enzim fosfodiesterase hingga memacu cyclic AMP, yang meningkatkan kalsium intrasel sehingga memperkuat kontrak si miokardium. Namun amrinon diketahui memberi efek samping berupa trombositopenia dan gangguan faal hati, hingga penggunaannya memerlukan pemantauan ketat.

) Venodilator Cara kerja venodilator ialah menurunkan tekanan darah sistemik dan pulmonal, mengurangi bendungan vena, tetapi tidak meningkatk an curah jantung secara langsung. Efek obat berguna apabila terdapat pen inggian tekanan atau volume pengisian ventrikel. (2) Dilator Arteri Obat dilator arteri berkhasiat menurunkan afterload dengan akib at bertambahnya curah jantung tanpa meningkatkan konsumsi oksi gen. Akan terjadi penurunan tekanan pengisian ventrikel karena pengosong an ventrikel lebih baik.

Dilator Arteri-Vena Obat ini berkhasiat menurunkan preload dan afte rload sehingga menurunkan tekanan pengisian ventrikel dan penambahan cur ah jantung, karenanya ia berguna pada peninggian tekanan pengisian vent rikel yang disertai curah jantung yang rendah. Termasuk dalam golongan ini adalah penghambat enzim pengubah renin-angiotensin aldosteron (k aptopril) yang kini paling banyak dipakai.

Diuretik6 Golongan diuretik bermanfaat mengurangi gejala bendungan. Obat yang sering dipakai adalah golongan tiazid, asam etakrinik, furosemid, dan golongan antagonis aldosteron. Furosemid merupakan diuretik yang pali ng banyak digunakan karena efektif, aman, dan murah, namun menyebabka n ekskresi kalium bertambah. Sehingga pada dosis besar atau pemberian jangka lama diperlukan tambahan kalium (berupa KCl). Kombinasi antara furosemid dengan spironolakton adapat bersifat aditif, yakni menambah efek diuresis, dan oleh karena spironolakton bersifat menahan kalium, m aka pemberian kalium tidak diperlukan.

Pembedahan : Pada beberapa pasien gagal jantung kanan, bila terapi medikamentosa ti dak memadai, maka perlu dipikirkan terapi bedah. Hal ini misalnya dijumpai pada : (a) Defek septum ventrikel dengan pirau kiri ke kanan yang besar. Untuk keperluan ini dapat dilakukan banding a.pulmonalis, sehingga pirau dari kiri ke kanan berkurang, dan dengan sendirinya gejala gagal jantung berkur ang; (b) Operasi penggantian katup atau perbaikan katup yang mengalami kerusakan berat akibat penyakit jantung reumatik atau komplikasi endokarditis bakterialis; (c) Operasi pada duktus arteriosus persisten dengan gagal jantung dapat dipercepat sebelum umr 1 tahun; (d) Koreks i total kelainan jantung bawaan secepatnya oleh stenosis pulmonal, koarktasio aorta. 7

Komplikasi Pada bayi dan anak yang menderita gagal jantung yang lama bias anya mengalami gangguan pertumbuhan. Berat badan lebih terhambat daripada tinggi badan. Pada gagal jantung kiri dengan gangguan pemomp aan pada ventrikel kiri dapat mengakibatkan bendungan paru dan selanjut nya dapat menyebabkan ventrikel kanan berkompensasi dengan mengalam i hipertrofi dan menimbulkan dispnea dan gangguan pada sistem pernapasa n lainnya. Pada gagal jantung kanan dapat terjadi hepatomegali, ascites, be ndungan pada vena perifer dan gangguan gastrointestinal.

Prognosis Prognosis gagal jantung ditentukan oleh beberapa hal: (1) Pada umumnya prognosis pada bayi dan anak dengan gagal jantung lebih baik daripada orang dewasa. Tetapi saat timbulnya gagal jantung sangat mempengaruhi prognosis ini. Makin muda umur saat terkena gagal jantung, makin buruk prognosisnya. (2) Berat ringannya penyakit primer yang menyebabkan gagal jantung, yang dapat dinilai secara fisis, elektrokardografis maupun radiologis. (3) Lamanya gagal jantung, apakah akut atau menahun. (4) Cepat dan tepatnya pertolongan pertama, baik secara medikamentosa maupun secara pembedahan. (5) Hasil dan lamanya pengobatan digitalis dan diuretik, serta menetap atau tidaknya kardiomegali. (6) Adanya komplikasi penyakit paru, endokarditis bakterialis atau penyakit lainnya. (7) Keadaan umum pasien. (8) Sering atau tidak berulangnya (kambuh) gagal jantung.8 Pada sebagian kecil pasien, gagal jantung yang berat terjadi pada hari atau minggu-minggu pertama pasca lahir, misalnya sindrom hipoplasia jantung kiri, atresia aorta, koarktasio aorta atau anomali total drainase vena pulmonalis dengan obstruksi. Terhadap mereka, terapi medikmentosa saja sulit memberikan hasil, tindakan invasif diperlukan segera setelah pasien stabil. Kegagalan untuk melakukan operasi pada golongan pasien ini hampir selalu akan berakhir dengan kematian