Anda di halaman 1dari 22

PARASITOLOGI

Wenny Ayu Lestari 08111006027 FMIPA FARMASI UNIVERSITAS SRIWIJAYA

TREMATODA DARAH
Beberapa dari Trematoda Darah: a) Schistosoma atau Bhilarzia b) Schistosoma Mansoni c) Schistosoma Haematobium

Schistosoma atau Bhilarzia


Hospes dan Nama penyakit Hospesnya manusia. Nama penyakit skistosomiasis atau bilharziasis. b. Distibusi Geografik ditemukan di RRC, Jepang, Filipina, Taiwan, Muangthai, Vietnam, Malaysia, dan Indonesia.Di Indonesia hanya ditemukan di Sulawesi Tengah yaitu daerah danau Lindu, dan Lembah Napu.
a.

c.

Morfologi dan Daur Hidup


Hidup di dalam pembuluh darah vena-vena usus, vesikalis dan prostatika. Di bagian ventral cacing jantan terdapat canalis gynaecophorus, tempat cacing betina.

Telur tidak mempunyai operkulum dan berisi mirasidium, mempunyai duri dan letaknya tergantung spesies. Telur dapat menembus keluar dari pembuluh darah, bermigrasi di jaringan dan akhirnya masuk ke lumen usus atau kandung kencing Telur menetas di dalam air mengeluarkan mirasidium

d. Patologi dan gelaja klinis

Perubahan yang terjadi disebabkan oleh 3 stadium cacing yaitu serkaria, cacing dewasa dan telur.Perubahan-perubahan pada skistosomiasis dibagi dalam 3 stadium:
1.

Masa tunas biologik Gejala kulit dan alergi : eritema, papula disertai rasa gatal dan panas hilang dalam 2-3 Mulai sejak cacing bertelur Efek patologis tergantung jumlah telur yang dikeluarkan dan jumlah cacing . Keluhan : demam, malaise, berat badan menurun Pada infeksi berat Sindroma disentri Hepatomegali timbul lebih dini disusul splenomegali; terjadi 6-8 bulan setelah infeksi.

2. Stadium Akut

3. Stadium menahun :

Penyembuhan dengan pembentukan jaringan ikat dan fibrosis Hepar kembali mengecil karena fibrosis. Hal ini disebut sirosis sirosis sirosis periportal Gejala : splenomegali, edema tunbgai bawah dan alat kelamin, asites dan ikterus. Stadium lanjut sekali dapat terjadi hematemesis.

e. Diagnosis
Menemukan telur dalam tinja, urin atau jaringan

biopsi Reaksi serologi

f. Pengobatan Umumnya tidak ada yang aman atau agak toksik. Semuanya mempunyai risiko. Pengaruh obat anti schistosoma dapat menyebabkan terlepasnya cacing dari p. darah dan mengakibatkan tersapunya cacing ke dalam hati oleh sirkulkasi portal disebut hepatic shift. Obat-obat anti schistosoma :
Emetin (tartras emetikus) Fuadin stibofen, Reprodal, neo-antimosan

Astiban TW 56
Lucanthone-HCl, Miracil D. Nilodin Niridazol Prazikuantel

g. Epidemiologi
Penyakit skistosomiasis merupakan masalah kesehatan masyarakat di berbagai negara. Di Indonesia hanya skistomiasis japonikum ditemukan endemik di Sulawesi Tengah.Berhubungan erat dengan air dari irigasi dengan adanya fokus keong sebagai hospes perantara. Infeksi berlangsung pada orang yang bekerja di sawah.Kelompok usia yang terkena 5 50 tahun.

Schistosoma Mansoni
Hospes dan Nama penyakit Hospes definitif adalah manusia dan kera baboon di Afrika sebagai hospes reservoar. Pada manusia cacing ini menyebabkan skistosomiasis usus. b. Distribusi Geografik Cacing ini ditemukan di Afrika, berbagai negara Arab(Mesir), Amerika Selatan dan Tengah.
a.

c. Daur hidup dan morfologinya

S.Mansoni didalam Usus

Telur S. mansoni pada jaringan usus (pd lapisan mukosa dan submukosa)

d. Patologi dan Gejala Klinis Kelainan dan gejala yang ditimbulkannya sama seperti pada S.japonicum, akan tetapi lebih ringan. Pada penyakit ini splenomegali dapat menjadi berat sekali

e. Diagnosis Menemukan telur dalam tinja atau jaringan biopsi Reaksi serologi :

COPT (circumoral precipitin test) IHT (Indirect haemagglutinination test) CFT (complement fixation test) FAT (Fluorescense antibody test) ELISA(Enzyme linked immunos

f. Pengobatan Obat Niridazol (1-Nitro-2, thiazoyl-2 imidazolidnone) (Ambilhar, Ciba-32, 644, Ba) Obat Prazikuantel (Embay 8440; Droncit, Biltricide) Bayer, A.G. dan Merck Darmstadt

g. Epidemiologi Di Indonesia penyakit ini ditemukan endemi di dua daerah di Sulawesi Tengah, yaitu di daerah danau Lindu dan lembah Napu. Sebagai sumber infeksi, selain manusia ditemukan pula hewan-hewan lain sebagai hospes reservoar; yang terpenting adalah berbagai spesies tikus sawah (rattus). Selain itu rusa hutan, babi hutan, sapi, dan anjing dilaporkan juga mengandung cacing ini.

Schistosoma Haematobium
Hospes dan Nama Penyakit Hospes definitif adalah manusia. Cacing ini menyebabkan skistosomiasis kandung kemih. Baboon dan kera lain dilaporkan sebagai hospes reservoar. b. Distribusi Geografik Cacing ini ditemukan di Afrika, Spanyol, dan berbagai negara Arab (Timur Tengah, Lembah Nil); tidak ditemukan di Indonesia.
a.

c. Morfologi dan daur hidup

Cacing dewasa berada dalam vena kandung kemih. Telur dikeluarkan bersama urin dan tinja. Telur dalam air menetas menjadi mirasidium. Mirasidium masuk ke dalam tubuh keong (hospes perantara). Mirasidium berkembang menjadi serkaria. Serkaria menginfeksi manusia dalam air . serkaria menjadi skistosomula. Kemudian menjadi cacing dewasa dalam hati.

d. Patologi dan gejala klinis Ditemukan pada dinding kandung kemih. Gejala yang ditemukan adalah hematuria dan disuria bila terjadi sistitis. Sindroma disentri ditemukan bila terjadi kelainan di rekrum.

e. Diagnosis Menemukan telur dalam tinja atau jaringan biopsi 9 Sama seperti pada skistosomiasis lainnya.) f. Pengobatan Astiban TW 56 (Stibocaptate atau antimonydimercaptosuccinate, garam Na dan K)

Telur S.Haematobium

Telur S. haematobium pada jaringan kandung kencing, terlihat telur terkalsifikasi