Anda di halaman 1dari 24

Oleh Iva Novanie 12 158 005 Widia Sari 12 158 027

Dengan semakin dinamisnya perubahaan keadaan ekonomi dan bisnis, para pemangku kepentingan (stakeholder), khususnya para pelaku di pasar modal memerlukan informasi keuangan yang semutakhir mungkin. Sehubungan dengan itu disamping dengan laporan keuangan tahunan, entitas diminta dan untuk entitas yang terdaftar di bursa efek diwajibkan untuk menyusun laporan keuangan interim.

Pengertian Laporan Keuangan Interim Laporan keuangan interim adalah laporan keuangan yang disajikan untuk satu periode interim. Yang dimaksud dengan periode interim adalah suatu periode keuangan yang lebih pendek daripada periode satu tahun buku penuh. PSAK yang mengatur Laporan Keuangan Interim PSAK 3 mengatur mengenai standar penyusunan laporan keuangan interim untuk entitas yang diwajibkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, misalnya pasar modal dan bursa efek. Sedangkan untuk jenis usaha tertentu, seringkali diatur cara penyusunan dan pelaporan laporan interim tersendiri oleh regulator dibidang usaha tertentu, misalnya perbankan yang harus tunduk pada peraturan yang ditentukan oleh Bank Indonesia selaku bank sentral di Indonesia.

Konsep

Laporan Keuangan Interim Konsep laporan keuangan interim yaitu bagian integral atau tak terpisahkan dari laporan tahunan, berarti prinsip, metode pengakuan, pengukuran, penyajian, dan pengungkapan laporan keuangan interim haruslah sesuai dan berkisnambungan dengan laporan keungan tahunan.

Dalam menerapkan Konsep ini entitas perlu memperhatikan ketentuan ISAK 17 mengenai pelaporan keuangan interim dan penurunan nilai Suatu perusahaan harus menerapkan ISAK 17 untuk goodwill secara prospektif dari tanggal ketika perusahaan tersebut pertama kali menerapkan PSAK 48 (Penurunan Nilai Aset). Perusahaan harus menerapkan ISAK 17 untuk investasi dalam instrument ekuitas atau dalam asset keuangan yang dicatat pada biaya perolehan secara prospektif dari tanggal ketika perusahaan tersebut pertama kali menerapkan kriteria pengukuran PSAK 55 (istrumen keuangan: pengakuan dan pengukuran).

Yang Menyusun Laporan Keuangan Interim

PSAK 3 tidak mengatur entitas mana yang harus menyusun laporan keuangan interim. Jika suatu entitas memilih untuk menyampaikan laporan keuangan interim sesuai dengan SAK, maka manajemen entitas tersebut harus tunduk pada pengaturan mengenai penyampaian laporan keuangan interim dalam PSAK 3. Namun Bapepam dan LK sebagai regulator pasar modal, melalui peraturan Bapepam dan LK No. X.K.2 tentang Penyampaian Laporan Keuangan Berkala Emiten atau Perusahaan Publik, menetapkan bahwa setiap emiten atau perusahaan publik wajib menyampaikan Laporan Keuangan Tengah Tahunan (LKTT) atau Laporan Keuangan Interim ke Bapepam.

Format

dan Isi Laporan Keuangan Interim 1. Laporan Keuangan Interim Lengkap Laporan keuangan interim harus disusun sesuai dengan ketentuan dalam PSAK 1. Peraturan Bapepam dan LK X.K.2 menetapkan bahwa dalam menyajikan LKTT emiten wajib menyajikan laporan keuangan interim secara lengkap. Dengan demikian format dan isi laporan keuangan interim tersebut harus sesuai dengan pengaturan dalam dalam PSAK 1, kecuali terkait dengan periode perbandingan mengikuti pengaturan dalam PSAK 3

2. Laporan keuangan interim ringkas Komponen minimum laporan keuangan interim sebagai berikut Laporan posisi keuangan (neraca) ringkas Laporan laba rugi komprehensif ringkas Laporan perubahan ekuitas ringkas Laporan arus kas ringkas Catatan atas laporan keuangan pilihan atau tertentu

Periode

Laporan Keuangan Interim Yang Harus Disajikan


Agar laporan laba rugi komprehensif lebih informatif dan lebih berdaya guna untuk evaluasi dan prediksi, perlu diperbandingkan dengan periode sebelumnya. Perbandingan dengan periode mana akan memberikan makna informasi yang berbeda.

PSAK

3 mengatur periode perbandingan untuk laporan keuangan interim


Periode Berjalan Periode Komparatif

Laporan Keuangan

Laporan Posisi Keuangan

Pada akhir periode interim berjalan

Per akhir tahun buku sebelumnya

Laporan Laba Rugi Komprehensif

Periode interim berjalan dan kumulatif Periode interim yang sama untuk tahun untuk tahun buku berjalan sampai buku tanggal interim sebelumnya dan kumulatif

sampai tanggal interim untuk tahun buku sebelumnya

Laporan perubahan Ekuitas

Kumulatif untuk tahun buku berjalan Kumulatif sampai tanggal interim

sampai

tanggal

interim

untuk tahun buku sebelumnya sampai tanggal interim

Laporan Arus Kas

Kumulatif untuk tahun buku berjalan Kumulatif sampai tanggal interim

untuk tahun buku sebelumnya

Pengakuan dan Pengukuran Suatu perusahaan untuk menerapkan kebijakan akuntansi yang sama dalam laporan keuangan interimnya sebagaimana kebijakan yang diterapkan dalam laporan keuangan tahunannya. Pengukuran untuk tujuan laporan keuangan interim harus dilakukan dengan dasar periode awal tahun buku sampai dengan periode interim terakhir yang dilaporkan, karena laporan keuangan interim adalah bagian dari laporan keuangan tahunannya yang lebih luas dan juga agar frekuensi pelaporan interim suatu perusahaan (semesteran atau triwulanan) tidak memengaruhi pengukuran hasil tahunannya.

Pendapatan yang diterima secara musiman, berulang, atau berkala dalam satu tahun buku tidak diantisipasi atau ditangguhkan pada tanggal interim jika antisipasi atau penangguhan tidak akan sesuai pada akhir tahun buku perusahaan tersebut, sedangkan beban yang terjadi secara tidak beraturan selama tahun buku harus diantisipasi atau ditangguhkan untuk tujuan pelaporan interim, jika hanya jika, hal tersebut adalah tepat untuk mengantisipasi atau menangguhkan jenis beban tersebut pada akhir tahun buku. Berkenaan dengan valuasi persediaan dan biaya litbang agar pengukuran periode interim dilakukan seolah-olah seiap periode interim berdiri sendiri sebagai periode pelaporan independen. Prosedur pengukuran yang digunakan dalan laporan keuangan interim harus dibuat untuk menjamin bahwa informasi yang dihasilkan adalah andal serta pengungkapan yang sesuai untuk informasi keuangan material yang relevan untuk memahami posisi atau kinerja keuangan perusahaan diungkapkan secara memadai

Jika estimasi jumlah yang dilaporkan dalam satu periode interim diubah secara signifikan selama periode interim terakhir, sifat dan jumlah perubahan tersebut harus diungkapka dalam catatan atas laporan keuangan tahunan untuk tahun buku tersebut. Perubahan dalam kebijakan akuntansi harus dijelaskan dengan menyatakan kembali laporan keuangan periode interim sebelumnya dari tahun buku berjalan dan periode interim komparatif dari tahun buku sebelumnya. Hal ini untuk menjamin bahwa kebijakan akuntansi tertentu diterapkan pada kelompok transaksi tertentu untuk keseluruh tahun buku yang bersangkutan.

Pengertian Initial Public Offering (IPO) IPO merupakan Pasar Perdana bagi suatu perusahaan untuk menawarkan efeknya (saham, obligasi, dan surat-surat berharga lainnya) kepada publik. Proses IPO (Penawaran Umum Perdana) 1. Sebelum emisi, 2. Selama emisi dan 3. Sesudah emisi

Peraturan Bapepam LK Untuk IPO

Peraturan Nomor IX.A.1 mengenai ketentuan umum pengajuan pernyataan pendaftaran persyaratan penyampaian pendaftaran dalam rangka Penawaran Umum (IPO) oleh Emiten atau Perusahaan Publik Peraturan Nomor IX.A.2 mengenai tata cara pendaftaran dalam rangka penawaran umum (IPO) Peraturan Nomor IX.A.3 mengenai Tata cara untuk meminta perubahan dan atau tambahan informasi atas pernyataan pendaftaran (IPO) Peraturan Nomor IX.A.4 mengenai Prosedur penangguhan penawaran umum Peraturan Nomor IX.A.5 mengenai Penawaran yang bukan merupakan penawaran umum Peraturan Nomor IX.A.6 mengenai Pembatasan atas saham yang diterbitkan sebelum penawaran umum Peraturan Nomor IX.A.7 mengenai Tanggung jawab manajer penjatahan dalam rangka pemesanan dan penjatahan efek dalam penawaran umum

Peraturan Nomor IX.A.7 mengenai Tanggung jawab manajer penjatahan dalam rangka pemesanan dan penjatahan efek dalam penawaran umum Peraturan Nomor IX. A.8 mengenai Prospektus awal dan info memo Peraturan Nomor IX.A.9 mengenai Promosi pemasaran efek termasuk iklan, brosur, atau komunikasi lainnya kepada publik Peraturan Nomor IX. A.10 mengenai Penawaran umum sertifikat penitipan efek Indonesia (Indonesian Depositary Receipt). Peraturan Nomor IX. A. 11 mengenai Penawaran umum efek bersifat utang dalam denominasi mata uang selain rupiah Peraturan Nomor IX.A.12 mengenai penawaran umum oleh pemegang saham

Peraturan Nomor IX.A.13 mengenai penerbitan efek syariah Peraturan Nomor IX.A.14 mengenai akad-akad yang digunakan dalam penerbitan efek syariah di pasar modal Peraturan Nomor IX.C.1 merupakan pedoman mengenai bentuk dan isi pernyataan pendaftaran dalam rangka penawaran umum Peraturan Nomor IX.C. 2 merupakan pedoman mengenai bentuk dan isi prospectus ringkas dalam penawaran umum Peraturan Nomor IX.C. 3 merupakan pedoman mengenai bentuk dan isi prospectus ringkas dalam penawaran umum (peraturan revisi tahun 2000) Peraturan Nomor IX.C. 4 mengenai pernyataan pendaftaran dalam rangka penawaran umum reksa dana berbentuk persero Peraturan Nomor IX.C. 5 mengenai pernyataan pendaftaran dalam rangka penawaran umum reksa dana berbentuk kontrak investasi kolektif

Peraturan Nomor IX.C. 6 merupakan pedoman bentuk dan isi prospektus dalam rangka penawaran umum reksa dana Peraturan Nomor IX.C. 7 merupakan pedoman mengenai bentuk dan isi pernyataan pendaftaran dalam rangka penawaran umum oleh perusahaan menengah atau kecil Peraturan Nomor IX.C. 8 merupakan pedoman bentuk dan isi prospektus dalam rangka penawaran umum oleh perusahaan menengah atau kecil Peraturan Nomor IX.C. 9 merupakan pedoman mengenai bentuk dan isi pernyataan pendaftaran dalam rangka penawaran umum efek beragun asset (Asset Backed Securities) Peraturan Nomor IX.C. 10 merupakan pedoman bentuk dan isi prospektus dalam rangka penawaran umum efek beragun asset (Asset Backed Securities) Peraturan Nomor IX.C. 11 mengenai pemeringkatan efek bersifat utang dan/atau sukuk

Peraturan Bapepam LK lainnya untuk Emiten atau perusahaan Publik mengenai penyajian dan penyampaian laporan keuangan serta keterbukaan informasi 1. Peraturan Bapepam LK Mengenai Penyajian Laporan Keuangan (Peraturan Nomor: VIII.G.7) 2. Peraturan Bapepam LK X.K.2 Mengenai Penyampaian Laporan Keuangan Berkala Emiten atau Perusahaan Publik 3. Peraturan Bapepam LK X.K.6 Mengenai Penyampaian Laporan Tahunan Bagi Emiten atau Perusahaan Publik 4. Peraturan Bapepam LK X.K. 1 mengenai keterbukaan informasi yang harus segera diumumkan kepada publik

Right Issues (Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu) yaitu hak yang melekat pada saham yang memungkinkan para pemegang saham yang ada untuk membeli Efek baru, termasuk saham, Efek yang dapat dikonversikan menjadi saham dan waran, sebelum ditawarkan kepada Pihak lain. Peraturan mengenai Right Issues dan laporan yang harus disiapkan untuk Right Issues dimuat dalam peraturan Bapepam LK 1. Peraturan Bapepam LK No. IX.D.1 2. Peraturan Bapepam LK No. IX.D.2 3. Peraturan Bapepam LK No. IX.D.3 4. Peraturan Bapepam LK No. IX.D.4 5. Peraturan Bapepam LK No. IX.D.5

PSAK

56 Laba Per Saham 1. Saham Bonus 2 . Hak Beli Saham (Right Issues)

Kasus yang dialami oleh PT Perusahaan Gas Negara Tbk di indikasi bermula dari jatuhnya penjualan saham perusahaan tersebut dibursa efek dimana terjadi penurunan secara signifikan harga saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk di Bursa Efek Jakarta, yaitu dari Rp 9.650,00 (harga penutupan pada tanggal 11 januari 2006) menjadi Rp 7.400,00 per lembar saham pada tanggal 12 januari 2007.
Penurunan harga saham yang signifikan tersebut sangat erat hubungannya dengan siaran pers yang dilakukan manajemen PT Perusahaan Gas Negara Tbk sehari sebelum (11 januari 2007). Dalam siaran pers tersebut dinyatakan bahwa terjadi koreksi atas rencana besarnya volume gas yang akan dialirkan dalam proyek komersialisasi pemipaan gas PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) dari Sumatra Selatan sampai Jawa Barat, yaitu mulai dari (paling sedikit) 150 MMSCFD menjadi 30 MMSCFD. Dan terdapat Pernyataan bahwa tertundanya proyek gas in tersebut yang semula akan dilakukan pada akhir Desember 2006 tertunda menjadi Maret 2007.

Padahal informasi tentang adanya penundaan tersebut sebenarnya sudah diketahui oleh manajemen PT Perusahaan Gas Negara Tbk sejak tanggal 12 September 2006 (informasi tentang penurunan volume gas) dan sejak tanggal 18 Desember 2006 (informasi tentang tertundanya gas in). Ada dugaan bahwa beberapa pelaku pasar telah mengetahui informasi penting mengenai penundaan komersialisasi gas tersebut sebelum diumumkan secara resmi oleh manajemen PT Perusahaan Gas negara Tbk. Dan pelaku pasar yang mengetahui informasi penting tersebut, langsung mengambil langkah yang dapat menguntungkan mereka sendiri, dengan menjual saham PGN lebih dulu dibanding investor lainnya. Puncaknya pada tanggal 12 Januari 2007, para investor lainnya ikut-ikutan menjual saham PGN secara besar-besaran, yang mengakibatkan jatuhnya harga saham PGN 23,36% dari harga Rp 9.650,00 menjadi Rp 7.400,00.

Berdasarkan hasil pemeriksaan oleh Badan Pengawas Pasar Modal dan lembaga Keuangan (Bapepam-LK) adanya pelanggaran terhadap peraturan perundangundangan di bidang Pasar Modal yang di lakukan oleh PT Perusahaan Gas Negara (persero) Tbk. (PT PGN) a. Terdapat keterlambatan pelaporan keterbukaan informasi atas penundaan proyek pipanisasi yang dilakukan oleh PT PGN sebanyak 35 hari b. Terdapat pemberian keterangan yang secara material tidak benar, yakni memberikan keterangan tentang rencana volume gas yang dapat dialirkan melalui proyek SSWJ yang tidak sesuai dengan fakta bahwa telah terjadi perubahan awal tersebut. Fakta tersebut telah diketahui atau sepatutnya diketahui oleh direksi yang seharusnya disampaikan saat keterangan itu diberikan kepada publik